NovelToon NovelToon
Doctor Mafia

Doctor Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duniahiburan / Mafia / Dark Romance / Enemy to Lovers / Obsesi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.

Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Pertemuan yang diatur

“Apa kau senggang akhir pekan ini?” Tanya Mia.

“Seharusnya, tapi kau tahu sendiri profesor Alan selalu ada panggilan tak terduga.” Jawab El.

“Ah ya. Dia mentor mu. Beruntung aku tidak bertemu dengannya.”

“Bertahanlah Eil. Kita akan mengarungi nasib menyedihkan kita bersama-sama.” Ucap Gia salah satu rekan residennya.

“Tapi kan kau bersama Profesor Dani.” Balas Rui, senior mereka.

“Sebenarnya profesor Alan itu cukup menyenangkan, kalian hanya melihatnya dari luar saja selama ini.” Bela Elaine dan disambut setuju oleh Zayn seniornya.

Mereka berlima saat itu tengah makan siang bersama di kantin pegawai rumah sakit. Tak lama sayup-sayup suara bisik mulai terdengar saat beberapa jajaran direksi rumah sakit bergabung makan siang di kantin tersebut.

(Kantin Rumah Sakit Malice)

“Apa mereka baru kali ini makan disini?” Bisik El pada Zayn.

“Mereka jajaran direksi. Apa menurutmu mereka akan sering berada disini?” Bisik Zayn kembali, “Kehadiran mereka membuat tidak nyaman El. Baru ini mereka bergabung.”

“Apa disini kosong?” Tanya Hansen seketika pada mereka.

Mia dan Zayn mengangguk mempersilahkan, sedangkan El semakin terperanjat saat ternyata pria yang duduk di hadapannya terlihat tak asing. Killian Vane.

Seketika nafsu makannya hilang saat itu, terlebih saat Killian menatapnya dengan tajam.

“Apa aku mengganggu untuk disini?” Tanya Killian.

“Tentu tidak pak.” Ucap Zayn sedikit terdengar gugup dan mulai makan sesuap demi sesuap buburnya.

“Mulai saat ini dewan direksi dan jajaran petinggi lainnya akan makan dikantin bersama staff lainnya.”

“Ya, sepertinya untuk mencairkan status disini.”

Suara-suara halus terdengar Elaine dari belakang sana. El sama sekali tidak menyuap kembali buburnya, ia hanya mengaduk dengan sesekali mencuri pandang ke Killian yang duduk di hadapannya. Bahkan pria itu bisa santai memakan sarapannya.

BIP BIP BIP

“Ya… Prof.” El mengangkat panggilan masuk dari profesor Alan. Seperti biasa pria tua itu tidak kenal waktu untuk memperdaya timnya sendiri.

Terdengar profesor Alan membentak dirinya. Marah tak karuan.

“Kami segera kesana prof.” Tutup El, “Kemana handphone mu.” Bisik kesal El pada Zayn.

Saat Zayn mengecek panggilan masuk ada sekitar 3 panggilan tak terjawab dari profesor Alan. Wajah Zayn seketika langsung pucat.

“Maaf. Kami permisi duluan.” Ujar Elaine menarik lengan Zayn.

“Bersabarlah.” Bisik Gia.

“Semangat.” Ucap Mia.

El dan Zayn segera berlari meninggalkan ruangan itu, sorot mata Killian tidak lepas menatap El sedari tadi. Dan kini saat El hendak berbelok ke lorong luar, ia menoleh sebentar untuk menatap pria itu. Killian masih duduk disana menenggak air minumnya.

“Kalau begitu kami juga permisi duluan.” Ujar Hansen diiringi Killian yang beranjak berdiri.

Bahkan tidak ada setengah mangkuk dihabiskan olehnya. Pria itu memang sengaja ingin menemui Elaine dan sarapan bersama.

“Kau ingin aku atur bertemu dengannya?” Tawar Hansen saat Killian menatap El dari jauh. Wanita itu sedang sibuk bekerja dibawah arahan professor Alan.

Lian tak menjawab. Ia berlalu begitu saja. El menyadari kedatangan Lian saat itu. Namun ia tak mengetahui jika Lian sedari tadi menatapnya. Begitu pula Lian tak menyadari bahwa El menatapnya dari kejauhan.

“Kau menyukainya?” Tanya Zayn menyenggol lengan El.

“Siapa?” El kembali sibuk menulis laporan pasien.

“Ayolah. Aku melihatmu saat di kantin tadi.” Tegur Zayn masih menggoda El, “Dia pemilik rumah sakit ini. Berhati-hatilah pesan ku.” Ucap Zayn.

El terdiam. Ia melihat sebuah berkas dimeja perawat, terlihat tanda tangan dan nama petinggi tertera disana. Killian Vane memegang beberapa saham rumah sakit dan salah satu nya rumah sakit Malice.

...****************...

Beberapa hari telah berlalu. Dan Elaine masih disibukkan dengan residen dan tugas kuliahnya. Ia juga sering lembur karena tekanan dari profesor Alan. Jika Killian berada dirumah sakit itu, sesekali ia suka mencuri pandang pada pria itu. Begitu juga sebaliknya. Bahkan Elaine diam-diam pernah memotret pria itu dari lantai atas saat Killian berjalan di lobby rumah sakit.

“Kau akhir-akhir ini begitu semangat berangkat kerja?” Sahut Glenn saat ia mengantar Elaine siang itu, “Kalau kau masih betah, tinggal dan menginap lah dirumah sakit ini.”

“Ck…” Ketus El, “Kenapa?! kau merasa kerepotan untuk mengantar jemput ku?” El bergegas keluar dari mobil itu.

“El nanti aku tidak bisa menjemputmu.” Ujar Glenn mengejar adiknya.

“Apa?! Kau serius aku merepotkan mu?” Shock El.

“Aku sudah bilang bukan pagi tadi. Aku ada jadwal latihan malam ini.”

“Tau begitu tadi aku bawa mobil sendiri.”

“Salah mu langsung masuk ke dalam mobil ku.”

El beringsut berlalu begitu saja. Ia lupa jika Glenn mengatakan hal itu saat sarapan, ia sibuk menatap ponselnya. Ia sangat semangat hari itu karena Killian akan ada dirumah sakit hingga malam hari,  ia sibuk mencari rekan yang dapat ditukar jadwal shiftnya.

Dari lantai atas Killian bisa melihat kedekatan Glenn dan Elaine. Sama seperti Damian, ia merasa tatapan Glenn pada El berbeda. Glenn menyukai wanita itu. Sama halnya seperti perasaan Araya pada Killian, namun ia memilih mengabaikannya.

“Apa kau yakin mereka adik kakak?” Tanya Lian pada Hansen.

“Dari data yang aku dapat seperti itu. El memiliki seorang kakak kandung laki-laki.” Jawab Hansen dengan yakin, “Kenapa? Kau merasa aneh dengan hubungan mereka?”

Killian terdiam.

“Jangan khawatir. Tidak akan ada jenjang lebih serius dalam status saudara kandung.” Ucap Hansen menangkan.

“Bukannya jadwal dia masuk pagi? Kenapa baru sampai siang ini?”

“Mungkin…”

BRUUUKK

Namun belum sempat Hansen menjawab, tepat di tikungan lorong rumah sakit, Elaine tak sengaja menabrak tubuh Killian saat berlari.

Sorot mata dingin Lian berubah hangat saat menatap wanita itu ada dihadapannya, terjatuh. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri. Wanita itu menyambut uluran tangannya. Tanpa disadari keduanya saling menggenggam erat.

“Terimakasih.” Ucap El membetulkan jas dokternya, “Maaf… maafkan aku.” Ucap El yang tak berani menatap pria dihadapannya.

“Kau tidak apa?”

El mendongakkan kepalanya, ia terperanjat menatap wajah tampan yang sedari pagi hanya ia tatap melalui ponselnya.

“Li…an…” Sebut El hampir tak terdengar, “A-aku… maafkan saya pak.” Ucap El langsung dengan konyolnya mencoba mengembalikan kesadarannya.

Killian tersenyum tipis. Beberapa detik lalu ia menyadari bawah El menyebut nama kecilnya. Dan kini dengan gugup justru memanggilnya dengan segan.

“Saya permisi duluan.” Pamit El kembali.

Entah kenapa Killian merasa diabaikan. Padahal ia merasa saat kebakaran waktu itu, El sangat hangat dan mempedulikannya.

“Ini…” Ucap Hansen menyerahkan sebuah kunci pada Killian.

“Kenapa kau mengambilnya?” Killian tidak habis pikir dengan tindakan Hansen mengambil kunci loker El yang terjatuh tadi.

“Sama-sama, tidak perlu sungkan.” Canda Hansen berlalu begitu saja. “Aku dewa cinta mu.”

“Panggil dia keruangan mu atau temui dia di lantai 3, ruang jaga dokter penyakit dalam disayap kiri gedung ini.” Sahut Hansen lagi yang kini menghilang setelah berbelok ke lorong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!