NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:624
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Neraca Perlindungan dan Aset Tak Terwujud

Mesin motor yang bersahutan dan teriakan riuh rendah para siswa di gerbang utama. Namun bagi Sarendra, pagi ini memiliki frekuensi yang berbeda. Di pergelangan tangan kirinya, di bawah manset seragam putihnya, benang merah yang dililitkan Vema kemarin terasa berdenyut lembut. Setiap kali ia mendekat ke area Gedung TKJ, denyutan itu menguat, seolah menjadi kompas yang menuntunnya pada satu titik koordinat: keberadaan Vema.

Rendra tidak lagi menunggu di kantin. Ia tahu, setelah kejadian di rumah Netta, Vema akan semakin merasa bersalah. Vema adalah tipe orang yang akan menarik diri ke dalam cangkangnya saat ia merasa kehadirannya membahayakan orang lain. Karena itu, Rendra memutuskan untuk menjadi orang pertama yang dilihat Vema saat gadis itu menginjakkan kaki di sekolah.

Tepat pukul 06.30, Sarendra sudah berdiri di dekat pos satpam belakang, tempat jalan pintas yang sering dilalui Vema agar tidak berpapasan dengan banyak orang. Postur bungkuknya terlihat lebih santai hari ini, bersandar pada pilar beton sambil memegang dua kotak susu cokelat dingin.

Saat sosok Vema muncul dari balik tikungan gang, langkah gadis itu sempat terhenti. Ia melihat Rendra, dan secara refleks, ia mencengkeram erat tali tas hitamnya. Ada ketakutan di matanya, sebuah antisipasi bahwa Rendra akan memarahinya atau menuntut penjelasan. Namun, yang ia dapati hanyalah senyum tipis dan kacamata yang sedikit melorot.

"Pagi, Vem. Mau susu cokelat?" Rendra menyodorkan kotak itu tanpa banyak bicara.

Vema mendekat dengan ragu, mengambil kotak itu. "Dra... kamu nggak perlu nunggu di sini setiap hari. Nanti kalau ada yang lihat—"

"Kalau ada yang lihat, mereka cuma bakal lihat anak Akuntansi yang lagi haus," potong Rendra dengan nada bercanda. Ia mulai berjalan di samping Vema, memberikan jarak sekitar setengah meter—ruang yang cukup agar Vema tidak merasa terintimidasi, namun cukup dekat untuk memberikan rasa aman.

"Gimana tidurmu semalam? Benang ini... dia sempat hangat sekitar jam dua pagi. Kamu terbangun ya?"

Vema menatap Rendra dengan terkejut. "Kamu merasakannya? Iya... aku mimpi buruk. Aku mimpi benang-benang itu melilit seluruh sekolah ini dan aku nggak bisa memutusnya."

"Mulai sekarang, kalau kamu merasa takut, pegang saja pergelangan tanganmu sendiri," ucap Rendra sambil menepuk pergelangan tangannya yang tertutup seragam. "Bayangkan aku ada di sebelahmu sambil bawa buku jurnal besar. Bayangan-bayangan itu benci sama hal-hal yang teratur dan logis. Mereka cuma kuat kalau kita panik."

Sepanjang hari itu, Rendra melakukan serangkaian "usaha kecil" yang dirancang secara sistematis untuk membuat Vema merasa tenang. Di sela-sela jam pelajaran, Rendra sering mengirimkan pesan singkat yang tidak berisi pertanyaan berat, melainkan fakta-fakta akuntansi yang konyol atau sekadar memberitahu bahwa Netta sudah mulai membaik di rumah.

“Vem, tahu nggak? Dalam akuntansi, perasaan takut itu dianggap sebagai 'biaya yang tidak terduga'. Tapi kalau kita hadapi bareng, dia berubah jadi 'investasi keberanian'. Semangat ya pelajaran praktikumnya!”

Vema yang sedang berada di tengah pelajaran perakitan komputer, tersenyum kecil menatap layar ponselnya. Nadin yang duduk di sebelahnya menyenggol lengan Vema.

"Cie, dari Sarendra ya? Dia beneran protektif banget ya sekarang. Tadi pas istirahat dia nanya ke aku, apa suhu di lab ini dingin banget atau nggak. Katanya kalau terlalu dingin, aku disuruh kasih tahu dia biar dia bisa samperin," goda Nadin.

Vema mengangguk pelan, wajahnya sedikit memerah. "Dia... dia beda, Din. Dia nggak nanya 'kamu kenapa' atau 'cerita dong', tapi dia justru bikin aku ngerasa kalau dunia ini masih normal."

Saat istirahat kedua, Rendra mengajak Vema ke sebuah tempat yang ia sebut sebagai "Safe Zone". Tempat itu adalah ruang arsip lama di lantai dua Gedung Akuntansi yang jarang dikunjungi karena semua dokumen sudah digitalisasi. Ruangan itu penuh dengan rak-rak kayu tinggi, bau kertas tua, dan cahaya matahari yang masuk melalui celah ventilasi atas.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Vema sambil melihat sekeliling.

"Di sini nggak ada bayangan yang aneh-aneh, Vem. Aku sudah cek. Ruangan ini penuh dengan catatan sejarah sekolah yang membosankan. Makhluk gaib itu biasanya bosan sama tempat yang isinya cuma kertas berdebu," jawab Rendra sambil membersihkan sebuah meja kayu panjang.

Ia mengeluarkan sebuah kotak bekal yang dibawakan ibunya. "Ibu masak nasi goreng lebih hari ini. Katanya buat temen bungkukku yang misterius itu. Begitu kata Ibu."

Vema tertawa kecil mendengar sebutan "temen bungkuk". Ia duduk di depan Rendra, meletakkan tas hitamnya di lantai, jauh dari jangkauan tangan mereka. Di ruangan yang sunyi itu, untuk pertama kalinya, Vema merasa bisa bernapas lega. Tidak ada tatapan curiga dari siswa lain, tidak ada hawa dingin yang mengejar, hanya ada Sarendra dan aroma nasi goreng yang hangat.

"Dra, kenapa kamu sejauh ini buat aku?" tanya Vema pelan sambil mengaduk nasi gorengnya. "Padahal ibuku sudah peringatin, dan kamu juga sudah lihat sendiri bahayanya."

Rendra meletakkan sendoknya, menatap Vema dengan serius. "Vem, di akuntansi ada istilah internal control. Itu adalah sistem yang dibuat supaya nggak ada kecurangan atau kesalahan dalam sebuah organisasi. Aku merasa, selama ini kamu hidup tanpa internal control. Kamu nanggung semuanya sendirian, dihantui rahasia keluargamu, dan nggak ada yang jaga kamu dari dalam."

Rendra menunjuk dadanya sendiri. "Aku mau jadi bagian dari sistem itu. Aku mau jadi orang yang mastiin kalau saldo mentalmu tetap seimbang. Kalau kamu mulai merasa 'rugi' atau sedih, aku yang bakal jadi 'aset' yang nutupin kerugian itu. Kedengarannya konyol ya?"

Vema menggeleng, matanya berkaca-kaca. "Nggak konyol. Itu hal paling indah yang pernah aku dengar, Dra. Selama ini orang cuma takut sama aku, atau manfaatin aku buat dapet tas-tas itu. Nggak ada yang pernah mikirin perasaanku."

"Sekarang ada," ucap Rendra mantap.

Usaha Sarendra untuk mendekati Vema tidak hanya soal kata-kata. Sore harinya, saat awan hitam mulai menggantung di atas Surabaya, Rendra menyadari sesuatu melalui benang merah di tangannya. Benang itu terasa tajam, seperti ditarik oleh kekuatan besar dari arah kantor pusat sekolah.

Vema yang sedang berjalan menuju parkiran bersamanya tiba-tiba berhenti. Tubuhnya gemetar. "Dra... dia ada di sana."

Vema menunjuk ke arah jendela besar di lantai tiga Gedung Administrasi. Di sana, bayangan bahu lebar yang pernah Rendra lihat di jendela kelas muncul kembali. Kali ini, bayangan itu tidak bergerak, ia hanya berdiri tegak, memegang sehelai kain merah yang sangat panjang yang menjuntai jatuh ke lantai bawah—secara gaib, kain itu tampak seperti aliran darah yang membeku.

Secara refleks, Rendra melangkah ke depan Vema. Ia tidak lari. Ia justru merentangkan tangannya, menutupi pandangan Vema ke arah jendela tersebut.

"Jangan lihat ke atas, Vem. Lihat aku saja," perintah Rendra dengan suara yang sangat tenang namun otoriter.

Rendra memegang kedua pundak Vema, memutar tubuh gadis itu agar membelakangi gedung tersebut. Ia menatap mata Vema, memaksa gadis itu untuk fokus pada manik matanya yang berada di balik lensa kacamata tebalnya.

"Hitung mundur dari seratus, Vem. Seratus, sembilan puluh tujuh, sembilan puluh empat... lakuin sekarang," bisik Rendra.

Vema mulai menghitung dengan suara bergetar. "Seratus... sembilan puluh tujuh... sembilan puluh empat..."

Setiap kali Vema menyebutkan angka, Rendra mulai merapalkan doa-doa perlindungan di dalam hatinya. Ia bisa merasakan hawa dingin dari lantai tiga itu mencoba merayap turun, mencoba menembus pertahanannya. Namun, benang merah di pergelangan tangannya memancarkan panas yang luar biasa, menciptakan sebuah perisai energi yang tidak bisa dilewati oleh bayangan tersebut.

"Terus hitung, Vem. Jangan berhenti," ucap Rendra sambil menggenggam tangan Vema. Tangannya hangat, berlawanan dengan tangan Vema yang sedingin es.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, denyutan di benang merah itu mereda. Rendra melirik sekilas ke arah jendela lantai tiga. Bayangan itu sudah hilang. Kain merah misterius itu juga lenyap seolah tidak pernah ada.

Vema lemas, ia menyandarkan kepalanya di dada Rendra yang bidang meski sedikit membungkuk. Napasnya mulai teratur. "Terima kasih... Dra. Aku hampir saja 'tertarik' masuk ke sana tadi."

"Dia cuma gertak, Vem. Dia tahu aku ada di sini," ucap Rendra sambil mengusap lembut kepala Vema—sebuah tindakan yang dilakukan secara spontan untuk memberikan ketenangan maksimal.

"Pelanggan Besar itu... dia mulai sadar kalau pengaruhnya ke kamu mulai berkurang karena keberadaanku."

Perjalanan pulang sore itu dilakukan dengan lebih lambat. Rendra kembali membonceng Vema dengan motor Supranya. Kali ini, Vema tidak lagi duduk di ujung jok dengan kaku. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Rendra, menyandarkan wajahnya di punggung pemuda itu.

Rendra merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Baginya, ini adalah "audit" tersulit namun paling memuaskan yang pernah ia lakukan. Ia tidak hanya sedang menyelidiki misteri, ia sedang menyelamatkan seseorang dari kegelapan yang sudah mendarah daging.

Sesampainya di depan gang rumah Vema, suasana kembali sunyi. Rendra tidak langsung mematikan mesin motornya. Ia menoleh ke belakang.

"Vem, besok aku bakal bawain kamu sesuatu," ucap Rendra.

"Apa itu, Dra?"

"Buku jurnal akuntansi yang baru. Tapi isinya bukan buat nyatat utang piutang. Aku mau kamu nyatat satu hal baik yang terjadi setiap hari di sana. Kita bakal sebut itu 'Jurnal Kebahagiaan'. Aku bakal periksa setiap pagi, dan kalau saldonya kurang, aku bakal pastiin hari itu kamu dapet hal baik dari aku."

Vema tersenyum lebar, senyum yang kali ini benar-benar menghilangkan aura misterius dari wajahnya. "Kamu beneran mau audit hidupku ya, Dra?"

"Sampai tuntas, Vem. Sampai neracanya benar-benar seimbang," jawab Rendra mantap.

Saat Vema berjalan masuk ke gang, ia sempat berbalik dan melambaikan tangan. Rendra membalasnya dengan klakson motornya yang khas. Namun, saat Rendra hendak memutar motornya, ia melihat sosok Ibu Vema berdiri di balik pohon besar di seberang jalan.

Wanita itu tidak membawa selang air. Ia membawa sebuah gunting jahit yang sangat besar yang berkilauan di bawah cahaya lampu jalan. Matanya menatap tajam ke arah pergelangan tangan Rendra yang terikat benang merah.

Ibu Vema tidak mendekat, ia hanya menggumamkan sesuatu yang terbawa angin ke telinga Rendra.

"Satu simpul yang kamu ikat, Sarendra... adalah satu nyawa yang kamu pertaruhkan. Kamu pikir doa bisa memutuskan benang yang sudah ditenun sejak sebelum kamu lahir?"

Rendra merinding, namun ia tidak memacu motornya dengan panik. Ia membetulkan kacamatanya, menatap balik Ibu Vema dengan keberanian yang kini sudah mengakar. Ia menyentuh benang merah di tangannya, merasakan kehangatan dari Vema yang masih tersisa di sana.

"Mungkin aku nggak bisa mutus benang itu, Tante," bisik Rendra pada kegelapan malam, "tapi aku bisa menjahit benang baru yang lebih kuat dari rasa takut."

Rendra melaju pergi, meninggalkan bayangan Ibu Vema yang masih mematung. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa kedekatannya dengan Vema telah memicu alarm di "pusat kendali" kegelapan tersebut. Tapi bagi Sarendra, tidak ada jalan kembali. Angka sudah dimasukkan, jurnal sudah diposting, dan sekarang ia hanya perlu mengawal proses ini sampai laporan akhir yang menentukan segalanya.

Di sisi lain kota, di sebuah ruangan mewah yang penuh dengan piala dan penghargaan sekolah, sosok "Pelanggan Besar" sedang duduk di meja kerjanya. Di depannya terdapat sebuah foto kelas X Akuntansi 1.

Ia mengambil sebuah spidol merah dan memberikan tanda silang tepat di atas wajah Sarendra.

"Anomali," gumamnya. "Anomali seperti ini harus segera dihapuskan dari sistem sebelum merusak hasil akhir."

Ia kemudian mengambil tas hitam di mejanya, memasukkan selembar kertas berisi nama-nama siswa yang prestasinya sedang menurun, termasuk Riko dan Netta. Dengan gerakan cepat, ia menjahit kertas itu ke dalam lapisan dalam tas menggunakan benang yang ia ambil dari laci khusus.

Permainan baru saja naik ke level yang lebih berbahaya. Sarendra tidak hanya sedang menghadapi hantu tembus pandang, tapi ia sedang berhadapan dengan sistem yang sudah terstruktur rapi untuk menghancurkan siapa pun yang berani membawa cahaya ke dalam kegelapan SMK Pamasta.

Namun bagi Sarendra dan Vema, malam itu adalah malam pertama mereka tidur tanpa rasa takut yang mencekik. Karena mereka tahu, di pergelangan tangan masing-masing, ada "tanda" yang menghubungkan dua jiwa yang siap bertarung demi keseimbangan yang seharusnya.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!