NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 SWMU

Suasana di dalam mobil menuju jalan pulang terasa lebih mencekam daripada pengejaran maut tadi. Tidak ada suara sirene, tidak ada teriakan. Hanya ada suara deru mesin dan napas berat Bramantya yang duduk tepat di sebelah Nadia. Pria itu tidak melepaskan cengkeramannya pada tangan Nadia, seolah-olah jika ia melonggarkannya satu milimeter saja, Nadia akan menguap menjadi asap.

Nadia hanya bisa menatap kosong ke luar jendela. Tubuhnya gemetar, bajunya kotor karena tanah dan robek di beberapa bagian akibat ranting hutan. Namun, yang paling hancur adalah jiwanya. Ia telah gagal. Pak Hendra tertangkap, dan harapan terakhirnya untuk hidup bebas telah musnah di tepi tebing tadi.

Sesampainya di mansion, Bramantya tidak membawanya kembali ke kamar lamanya. Ia menyeret Nadia menuju sayap kanan bangunan, sebuah area yang sebelumnya selalu terkunci dan terlarang bagi Nadia. Itu adalah kamar pribadi Bramantya.

"Paman, lepaskan... kau menyakitiku," rintih Nadia saat mereka memasuki ruangan luas yang didominasi warna hitam dan abu-abu itu.

Bramantya membanting pintu kayu jati yang berat itu hingga berdentum keras, lalu menguncinya. Ia berbalik, wajahnya merah padam. Matanya yang biasanya dingin kini berkilat dengan kegilaan yang murni. Topeng kesabaran yang ia kenakan selama berminggu-minggu telah pecah berkeping-keping.

"Menyakitimu?" suara Bramantya rendah namun bergetar hebat. "Kau tidak tahu apa itu rasa sakit, Nadia. Rasa sakit adalah saat aku memberimu segalanya—kemewahan, perlindungan, kasih sayang—tapi kau justru memilih lari ke pelukan pria tua itu dan mengkhianati kepercayaanku!"

"Itu bukan perlindungan! Itu penjara!" teriak Nadia, mencoba mencari sisa keberaniannya.

Bramantya melangkah maju, memangkas jarak hingga Nadia terdesak ke ujung tempat tidur besar di tengah ruangan. "Aku mencintaimu, Nadia! Aku mencintaimu lebih dari ayahmu mencintaimu, lebih dari siapa pun! Aku menjaga setiap embusan napasmu melalui layar itu karena aku tidak bisa membiarkan satu detik pun terlewati tanpa memastikan kau milikku!"

"Kau tidak mencintaiku! Kau mencintai bayangan ibuku! Kau gila, Bramantya!"

Kata 'gila' dan penyebutan ibunya seolah menjadi pemantik ledakan di dalam diri Bramantya. Obsesi yang telah ia pendam selama puluhan tahun, luka lama karena penolakan Althea, dan kemarahan karena pelarian Nadia malam ini bergabung menjadi satu badai emosi yang menghancurkan nalar sehatnya.

Bramantya menerjang maju. Ia mencengkeram kedua bahu Nadia dan mendorongnya hingga jatuh terlentang di atas kasur.

"Jangan... Bram, jangan!" Nadia meronta, kakinya menendang-nendang, namun kekuatan Bramantya terlalu besar. Pria itu menindih tubuh Nadia, mengunci kedua tangan gadis itu di atas kepala dengan satu tangan besarnya.

"Kau sangat mirip dengannya saat sedang ketakutan," bisik Bramantya di depan wajah Nadia. Napasnya memburu, aromanya yang biasanya menenangkan kini terasa sangat mengintimidasi. "Ibumu menolakku. Dia lari dariku. Tapi kau... kau tidak akan pernah bisa pergi. Aku akan menandaimu sebagai milikku, sedalam-dalamnya, sehingga tidak ada satu pun pria di dunia ini yang berani menyentuhmu lagi."

"Bram, tolong... sadarlah! Aku keponakanmu!" Nadia menangis histeris. Ia bisa merasakan air matanya mengalir masuk ke telinganya.

"Kau adalah takdirku yang tertunda," ujar Bramantya gelap.

Pria itu benar-benar kehilangan kendali. Logikanya telah kalah oleh rasa haus akan kepemilikan yang mutlak. Ia mulai mencium leher Nadia dengan kasar, mengabaikan rintihan dan perlawanan gadis itu. Nadia merasa dunianya runtuh. Langit-langit kamar Bramantya yang megah seolah perlahan jatuh menimpanya.

Nadia mencoba berteriak, namun suaranya tertahan oleh ciuman paksa yang mematikan segala harapannya. Kekerasan itu bukan hanya tentang fisik, tapi tentang penghancuran martabat. Bramantya tidak lagi melihat Nadia sebagai manusia; ia melihatnya sebagai piala yang harus direbut kembali, sebagai simbol kemenangan atas masa lalunya yang gagal.

Dalam kegelapan kamar itu, di tengah rintik hujan yang kembali turun di luar, kehormatan Nadia dirampas oleh pria yang seharusnya menjadi pelindungnya. Setiap sentuhan terasa seperti duri yang menusuk jiwanya, dan setiap bisikan kepemilikan dari bibir Bramantya terasa seperti vonis mati bagi masa depannya.

Jam di dinding terus berdetak, namun bagi Nadia, waktu seolah berhenti di titik yang paling menyakitkan.

Ketika segalanya berakhir, Bramantya bangkit dengan napas yang perlahan mulai teratur. Ia berdiri di samping tempat tidur, merapikan kemejanya yang berantakan. Kegilaan di matanya perlahan memudar, digantikan oleh kesadaran akan apa yang baru saja ia lakukan. Namun, tidak ada penyesalan di sana. Yang ada hanyalah rasa tenang yang ganjil, rasa puas karena tujuannya telah tercapai.

Nadia terbaring diam, meringkuk seperti janin di tengah tempat tidur yang luas itu. Pakaiannya terkoyak, rambutnya kusut masai, dan tatapan matanya kosong—seolah jiwanya telah pergi meninggalkan raganya di sana. Ia tidak lagi menangis. Air matanya telah kering, menyisakan jejak asin yang perih di pipinya.

Bramantya duduk di tepi tempat tidur, mencoba menyentuh bahu Nadia yang terbuka. Nadia tersentak kecil, sebuah reaksi otomatis dari trauma yang baru saja dialaminya, namun ia tidak menghindar lebih jauh. Ia sudah terlalu lelah untuk melawan.

"Sekarang kau mengerti, bukan?" bisik Bramantya, suaranya kembali lembut, namun kali ini kelembutan itu terdengar jauh lebih mengerikan daripada teriakannya tadi. "Tidak ada lagi jalan kembali, Nadia. Kau sudah menjadi bagian dariku. Selamanya."

Bramantya menarik selimut dan menutupi tubuh Nadia dengan sangat hati-hati, sebuah gerakan yang sangat kontras dengan kekejaman yang ia tunjukkan sebelumnya. Ia mengecup kening Nadia yang dingin.

"Tidurlah. Mulai besok, kau tidak akan pernah perlu merasa takut lagi. Karena tidak ada lagi yang bisa merampasmu dariku. Aku sudah mengikatmu, di sini, di bawah atap ini, untuk sisa hidupmu."

Bramantya berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap kegelapan malam dengan senyum tipis. Ia merasa telah memenangkan pertempuran yang telah ia mulai sejak dua puluh tahun yang lalu.

Di atas tempat tidur, Nadia perlahan memejamkan matanya. Namun, ia tidak tidur. Di balik kelopak matanya yang tertutup, ia membayangkan wajah ibunya. Ia membayangkan rumah mereka yang mungil. Ia menyadari bahwa gadis yang keluar dari pom bensin tadi sudah mati. Yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang kini menjadi tawanan abadi di Mansion Mahendra.

Ia telah ternoda. Bukan hanya tubuhnya, tapi seluruh kepercayaannya pada kemanusiaan. Di dalam sangkar emas yang sesungguhnya ini, Nadia Clarissa menyadari bahwa pelarian adalah hal yang mustahil. Namun, di tengah kehancurannya, sebuah pemikiran baru mulai tumbuh di sudut gelap pikirannya.

Jika ia tidak bisa lari, maka ia akan menjadi racun di dalam rumah ini. Jika Bramantya menginginkan "Althea" yang baru, maka Nadia akan memberikan sesuatu yang jauh lebih mematikan daripada sekadar penolakan.

Malam itu, di Mansion Mahendra yang sunyi, satu-satunya yang terdengar hanyalah suara detak jam yang dingin. Sang predator telah mendapatkan mangsanya, namun ia tidak sadar bahwa mangsa yang terluka adalah mangsa yang paling berbahaya.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!