Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengintai
Di luar desa, dua motor berhenti di pinggir jalan utama. Dua pria turun, berpakaian biasa. Tidak mencolok. Mata mereka mengamati papan kayu bertuliskan Desa Sumberjati.
“Orang terluka,” kata salah satunya pelan. “Tinggal di rumah pria pincang.”
“Dengan seorang gadis.”
Mereka saling pandang.
“Laporkan ke Valenport.”
Di dalam rumah, Jovan tiba-tiba menegakkan punggung.
Ada sesuatu.
Instingnya berteriak.
Ia menoleh ke arah jalan, jantungnya berdetak lebih cepat. Mika mengikuti arah pandangnya.
“Ada apa?”
“Tidak apa-apa,” jawab Jovan, terlalu cepat.
Namun di kepalanya, satu nama bergaung pelan.
Levis.
Dan di Desa Sumberjati, hari ketiga Jovan tinggal bukan lagi tentang penyembuhan.
Melainkan tentang waktu yang mulai habis.
.
Levis selalu menyukai malam di Valenport.
Kota itu tidak pernah benar-benar tidur, lampu-lampu gedung tinggi menyala seperti urat nadi, kendaraan melintas tanpa henti, dan manusia bergerak seolah waktu adalah sesuatu yang bisa dibeli. Dari jendela ruangannya di lantai tertinggi, Valenport tampak hidup… dan patuh.
Levis berdiri dengan segelas minuman di tangan, menatap layar ponsel yang baru saja mati.
Laporan itu singkat.
Target hidup.
Desa mulai dicurigai. Seorang gadis terlibat. Ayahnya pincang.
Levis tersenyum kecil.
“Seperti yang kuduga,” gumamnya. Ia tidak marah karena Jovan selamat. Ia sudah memperhitungkan kemungkinan itu. Sepupunya terlalu keras kepala untuk mati hanya karena satu ledakan. Terlalu berbahaya. Terlalu penting. Yang menarik justru pilihan Jovan.
Desa.
Tempat paling tidak logis bagi seorang pria yang dibesarkan dengan darah dan senjata.
Levis berbalik, berjalan menuju meja besar yang dipenuhi peta dan berkas lama keluarga De Luca. Ia membuka satu map foto-foto lama, laporan aset, jalur pelarian.
Levis mengamati lama.
“Jadi ini,” katanya pelan. “Tempatmu bersembunyi… dan celahmu.”
Ia duduk, mengetukkan jari ke meja satu kali, dua kali. Irama berpikirnya selalu tenang. Tidak tergesa. Tidak emosional.
“Jovan selalu kuat,” katanya pada dirinya sendiri. “Terlalu kuat untuk dijatuhkan dengan senjata.”
Ia mencondongkan tubuh ke depan. “Tapi manusia sekuat apa pun… runtuh oleh satu hal yang sama.”
Ia menekan tombol interkom. “Panggil Marco.”
Beberapa detik kemudian, asistennya masuk. “Ya, Tuan.”
“Desa Sumberjati,” ujar Levis. “Aku tidak mau kekerasan dulu.”
Marco mengangguk. “Instruksi?”
“Amati. Dengarkan. Biarkan desa bekerja untuk kita.”
“Dan kalau target mencoba pergi?”
Levis tersenyum, kali ini lebih tipis. “Jangan halangi.”
Marco terdiam sejenak. “Bukankah itu berisiko?”
“Tidak,” jawab Levis tenang. “Karena dia tidak akan pergi.”
Ia berdiri, berjalan kembali ke jendela.
“Orang seperti Jovan tidak kabur saat ia mulai peduli,” lanjutnya. “Ia akan bertahan. Dan semakin lama ia bertahan, semakin dalam ia terikat.”
Marco menunduk. “Dan gadis itu?”
Levis menoleh, tatapannya dingin. “Dia bukan target,” katanya. “Dia kunci.”
Marco mengangguk, lalu pergi.
Levis mengangkat gelasnya, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca, wajah pria yang tidak pernah ragu mengambil apa pun yang ia anggap miliknya.
“Tenanglah, sepupuku,” gumamnya. “Nikmati desa kecilmu.”
Karena baginya, permainan terbaik bukan tentang siapa yang paling cepat menarik pelatuk. Melainkan siapa yang paling sabar menunggu
sampai lawannya memiliki sesuatu untuk kehilangan.
.
Mika tengah berada di kebun buah siang itu.
Perasaan itu datang tanpa suara.
Bukan langkah kaki. Bukan bayangan jelas. Hanya sensasi tipis di tengkuk, seperti udara yang tiba-tiba berubah arah.
Mika menghentikan langkahnya.
Keranjang di lengannya sudah setengah penuh. Matahari siang menggantung tepat di atas kepala, membuat ladang tampak terang dan terbuka.
Tidak ada tempat bersembunyi yang jelas. Tidak ada siapa pun yang berdiri terlalu dekat.
Namun perasaan itu tetap ada.
Ia menoleh ke belakang.
Hanya sawah. Deretan pohon. Jalan tanah yang sepi.
“Tenang,” gumamnya pelan, lebih pada diri sendiri. “Kau hanya lelah.”
Ia melanjutkan langkah, tapi kali ini lebih pelan. Setiap suara daun bergeser membuatnya menoleh. Setiap angin yang lewat terasa seperti napas orang lain.
Di kebun, Mika berjongkok memeriksa buah. Tangannya bekerja otomatis, tapi pikirannya tidak. Ia teringat tatapan orang-orang desa beberapa hari terakhir. Terlalu lama. Terlalu sering.
Dan dua pria itu.
Ia belum melihat mereka, tapi ia tahu, desa tidak berbohong ketika bisikannya mulai muncul.
Saat ia berdiri kembali, ia merasa itu lagi.
Tatapan.
Bukan dari depan.
Dari samping.
Mika menahan napas, lalu berpura-pura membenahi keranjangnya. Dengan sudut mata, ia menyapu sekitar. Di balik pohon jati di ujung kebun, ada bayangan bergerak, sekilas saja. Terlalu cepat untuk dipastikan. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia tidak berteriak. Tidak berlari. Nalurinya mengatakan itu justru kesalahan.
Mika memutuskan pulang.
Langkahnya tetap teratur, tapi bahunya menegang. Ia merasakan punggungnya terbuka, seperti sasaran. Setiap detik terasa lebih panjang dari seharusnya.
Ketika rumah akhirnya terlihat, Mika menghela napas lega.
Karena Jovan berdiri di teras.
Dan saat mata mereka bertemu, Mika tahu… ia tidak salah merasa.
Jovan memperhatikannya sejak ia muncul di tikungan jalan. Cara jalannya berbeda. Bahunya kaku. Tatapannya sesekali menyapu sekitar.
“Kau kenapa?” tanya Jovan ketika Mika mendekat.
Mika menelan ludah. “Aku… merasa ada yang melihat.”
Jovan tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menoleh ke arah kebun. Matanya menyempit, tajam, seperti pria yang kembali ke dunia yang sangat ia kenal.
“Masuk,” katanya singkat. “Sekarang.”
Nada itu tidak keras. Tapi tidak memberi ruang untuk bantahan.
Di dalam rumah, Mika duduk, tangannya masih gemetar.
Jovan berdiri dekat jendela, memeriksa setiap sudut luar dengan tenang yang terlalu terlatih untuk dianggap biasa.
“Kau yakin?” tanyanya.
Mika mengangguk. “Aku tidak melihat wajahnya. Tapi… aku tahu perasaan ini bukan kosong.”
Jovan menutup jendela perlahan. “Perasaanmu benar.”
Mika menatapnya. “Kau tahu siapa mereka?”
Jovan diam sejenak. Lalu berkata jujur, “Aku tahu mereka akan datang.”
Keheningan jatuh.
“Apakah aku dalam bahaya?” tanya Mika pelan.
Jovan menoleh padanya. Untuk sesaat, ia ingin berbohong. Ingin berkata tidak. Ingin mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Namun ia tidak pernah dibesarkan untuk berbohong tentang risiko.
“Selama aku di sini,” katanya akhirnya, “bahaya itu mendekat.”
Mika menarik napas dalam-dalam. “Kalau begitu,” ujarnya lirih tapi tegas, “jangan biarkan aku sendirian lagi.”
Jovan mengangguk.
Dan di luar rumah, dari kejauhan, seseorang mencatat:
Gadis mulai sadar. Target mulai protektif.
Ancaman itu tidak datang dengan teriakan.
Ia datang bersama senyum.
Sore itu, Mika sedang menyapu halaman ketika Pak Lurah berhenti di depan pagar rumah.
Motornya tua, suaranya sengaja dimatikan sebelum masuk halaman. Cara orang yang tidak ingin kedatangannya terdengar mencolok.
“Assalamualaikum,” sapanya ramah.
“Waalaikumsalam,” jawab Mika, sedikit terkejut. Ia melirik ke dalam rumah. Jovan sedang di dapur bersama Pak Raka.
Pak Lurah tersenyum, matanya menyapu rumah itu pelan. Terlalu pelan. “Ayahmu ada?”
“Ada. Saya panggilkan.”
“Tidak perlu,” katanya cepat. “Aku hanya mau bicara sebentar.”
Mika berhenti menyapu.
“Desa ini akhir-akhir ini ramai dibicarakan,” lanjut Pak Lurah santai. “Orang luar masuk. Orang desa jadi banyak tanya.”
Mika menggenggam gagang sapu lebih erat. “Kami hanya menolong orang yang terluka.”
“Ya, tentu,” kata Pak Lurah, mengangguk-angguk. “Itu niat baik. Tapi… niat baik kadang membawa masalah.”
Ia melirik ke arah jalan, memastikan tidak ada orang lain di sekitar.
“Ada tamu dari kota yang bertanya-tanya,” katanya lebih pelan. “Mereka tidak kasar. Tidak mengancam. Hanya… penasaran.”
Mika menahan napas. “Tentang siapa?”