NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:891
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FLASHBACK — MALAM SAAT TAKDIR BERTEMU

Hujan lampu mengguyur halaman rumah besar keluarga Santoso.

Gedung megah itu berkilau oleh lampu kristal, suara musik mengalun dari aula utama, tawa para tamu berbaur dengan denting gelas dan gaun-gaun mahal yang berkilau di bawah cahaya chandelier.

Pesta ulang tahun ke-19 Elisabet Santoso.

Sekaligus malam pengalihan kekuasaan bisnis keluarga.

Namun jauh dari kemewahan itu.Di atap gedung seberang jalan, seorang pria berdiri dalam bayangan.Memperhatikan semuanya dari balik kegelapan.

Armand.

Tubuhnya menyatu dengan gelap, teropong kecil di matanya, headset komunikasi terpasang. Tatapannya dingin, fokus, terlatih.

“Target utama: keluarga Santoso,” gumamnya pelan.

“Tidak ada pergerakan mencurigakan sejauh ini…”

Ia menggeser lensa.

Menangkap sosok seorang gadis bergaun putih gading di tengah aula. Rambutnya tergerai rapi, senyumnya lembut, tapi matanya menyimpan kecerdasan dan keberanian.

Elisabet.

“Anak tunggal Jonatan Santoso,” bisik Armand.

“Calon pewaris.”

Ia menghela napas pelan.

Misi hanya pengintaian. Tidak ada intervensi.

Namun takdir tidak pernah peduli pada rencana, ia pikir tidak ada kan ada yang terjadi namun setelah lama mengamati kejadian tak terduga terjadi.

KERUSUHAN

Sebuah pintu samping terbuka terlalu cepat.

Tiga pria berpakaian hitam masuk dengan langkah agresif.

Armand langsung menegang.

“Kontak mencurigakan. Tiga arah barat. Senjata terlihat,” lapornya cepat.

Detik berikutnya—

Dor! Dor! Dor!

Tembakan memecah musik dan tawa.

Panic meledak.

Tamu-tamu berteriak, berhamburan, gelas pecah, lampu jatuh.

Jonatan Santoso langsung menarik tangan putrinya.

“Elisabet! Ikut Ayah, sekarang!”

“Ayah, ada apa?!” teriak Elisabet panik.

Tidak ada jawaban.

Mereka berlari menuju pintu belakang. Satu pengawal setia mengiringi, menembakkan balik ke arah penyerang.

Armand mengikuti dari kejauhan melalui jalur atap dan lorong-lorong sempit.

“Ini bukan sekadar gangguan,” gumamnya.

“Ini pembunuhan terencana.”

Mobil melesat keluar halaman.

Lampu malam membelah jalan.

Namun dari belakang, dua mobil lain mengejar.

Peluru menghantam bodi kendaraan.

Kaca pecah.

Elisabet menjerit, memeluk ayahnya.

“Ayah, aku takut!”

Jonatan menggenggam bahunya. “Tunduk! Jangan lihat apa pun!”

Pengawal menembak keluar jendela, menahan kejaran.

Namun tiba tiba

BRAK!

Sebuah ledakan kecil menghantam ban.

Mobil oleng.

Mereka terpaksa berhenti di kawasan semi-hutan.

“Keluar! Kita lanjut lari!” teriak Jonatan.

Mereka berlari masuk kegelapan.

Sepatu hak Elisabet menyulitkan langkahnya. Gaun putihnya tersangkut ranting. Napasnya tersengal.

Musuh semakin dekat.

Dor!

Jonatan terhuyung.

Peluru menembus pahanya.

“Elisabet—!” ia menahan jatuh.

Elisabet menjerit. “Ayah! Apa .. Apa sebenarnya yang terjadi hiks hiks..."'

Ia mencoba menahan ayahnya berdiri, tapi langkah mereka semakin lambat.

Pengawal tersisa menahan musuh, terdengar tembakan dan teriakan di belakang.

Namun jumlah musuh terlalu banyak.

Jonatan tiba-tiba terhentak.

Dor!

Peluru menghantam dadanya.

Darah menyembur.

Gaun putih Elisabet ternodai merah.

“Ayah! Jangan! Tolong!” tangis Elisabet pecah.

Jonatan terengah, tangannya menggenggam tangan putrinya dengan sisa tenaga.

“Elisabet…” suaranya bergetar.

Ia menarik putrinya mendekat, membisikkan sesuatu di telinganya.

“Percaya… hanya pada pria bermata gelap itu… dia… di bayangan…”

Elisabet tidak mengerti.

“Apa maksud Ayah…?”

Namun mata Jonatan mulai meredup.

“Elisabet… lari… hidup… Jangan biarkan kan siapa pun menangkap mu nak”

Tangannya terjatuh.

Elisabet menjerit histeris.

"TIDAK AYAH KEMBALI.."

Langkah kaki mendekat.

Lampu senter menyorot semak.

Elisabet berdiri terpaku, tubuhnya gemetar, gaun berlumur darah ayahnya.

Ia tidak sanggup bergerak.

Air mata menutup pandangannya.

Tiba-tiba..

Sebuah tangan kuat menarik lengannya.

“Diam. Ikut aku.”

Suara rendah. Tegas.

Elisabet terkejut dan memberontak. “Lepaskan aku! Ayahku—!”

“Kalau kau tidak ikut sekarang, kau mati.”

Pria itu bertubuh tegap, berpakaian hitam taktis, wajah setengah tertutup bayangan.

Mata tajam.

Armand.

Ia menarik Elisabet menjauh, menyelinap di antara pepohonan.

Tembakan menyambar di belakang mereka.

Elisabet menangis, tersandung, hampir jatuh.

“Berhenti! Aku tidak bisa! Lepaskan aku!” teriaknya histeris.

Armand berhenti kasar.

“Apa kau mau mereka menangkapmu?!” bentaknya.

Elisabet mendorong dadanya. “Aku mau Ayahku! Kau tidak tahu apa-apa!”

Amarah, takut, dan kehilangan bercampur menjadi satu.

Armand menatapnya beberapa detik.

Lalu… ia melepaskan genggamannya.

“Baik,” katanya dingin.

“Kalau begitu mati di sini.”

Ia berbalik melangkah pergi.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tangis Elisabet makin pecah.

Ia terduduk, tubuhnya gemetar, benar-benar sendirian.

Untuk beberapa saat Armand yang kesal berjalan sendiri menyusuri hutan dan hendak pergi, namun bayangan gadis yang baru saja ia tolong terlintas.

"'Oh.sial bagaimana jika orang orang itu menangkap nya, ayo lah Armand seharusnya kau mengerti gadis itu terpukul kehilangan ayahnya , Tapi dia sangat menyebalkan Sial sial...'' guman Armand

Armand berhenti.

Ia menutup mata sejenak.

Menghela napas panjang.

Rasa bersalah menekan dadanya.

Ia berbalik kembali.

"Ia pun dapat melihat bahwa gadis yang ia tinggalkan tadi masih meringkuk dan menangis."

Ia berjongkok di depan Elisabet.

Nada suaranya melembut.

“Aku tidak bisa menyelamatkan ayahmu,” katanya pelan.

“Tapi aku bisa menyelamatkanmu.”

Elisabet menatapnya dengan mata penuh air mata.

“Kau… siapa…?”

“Orang yang kebetulan lewat,” jawab Armand tipis.

Ia mengulurkan tangan.

"Ayo ku antarkan kan kau pulang dengan selamat Nona'' ujar Armand dengan suara yang lebih halus

Elisabet ragu… lalu menggenggamnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa tidak sendirian dan ada yang menolong nya,

Armand pun menggenggam tangan Elisabet dan dengan hati hati menyusuri hutan agar jejak mereka tak ketahuan.

Di sepanjang perjalanan tidak terlalu banyak percakapan antara keduanya, mereka sibuk dengan pikiran masing masing namun genggaman Elisabeth semakin erat, kadang Elisabet ingin terjatuh saat menyusuri hutan. Armand yang melihat itu pun berjalan mendahului Elisabet dan tiba tiba ia berjongkok di depan nya.

'Apa ..apa yang kau lakukan ?'' tanya Elisabet

"Naik lah! Aku tau kau sudah kelelahan " ujar Armand. Namun Elisabet hanya diam mematung entah apa yang ia pikirkan. Armand hanya membuang napas nya perlahan dan dengan gerakan cepat ia pun menarik tubuh Elisabet dan mengendong nya di punggung nya.

"Aikss apa yang kau lakukan , tidak perlu aku berat " ujar Elisabet yang takut jika merepotkan pria yang ada di depan nya itu

" Diam saja nona kau sama sekali tidak berat bahkan alat latihan ku lebih berat dari tubuh mu, dan jangan terlalu banyak bergerak aku terkadang mempunyai sifat gila" ujar Armand bohong ia hanya menakuti Elisabet saja.

Dan benar saja setelah mengatakan itu Elisabet langsung diam dan ia pun mengalungkan tangannya di leher Armand dan tak terasa rasa nyaman itu membuat nya tertidur. Armand hanya tersenyum tipis sembari berkata.

'' Dasar gadis cerewet "

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!