NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekad Baru

 Sudah banyak waktu yang berlalu,Latihan selesai dengan tubuh penuh keringat dan memar di sekujur tubuh ketiga adik kakak itu.

Namun mata mereka bersinar, seakan mendapatkan tujuan hidup baru serta tanggung jawab untuk mencari keberadaan ayah dan ibu mereka.

Safira mengepalkan tangannya dan dengan satu tarikan nafas mantap ia berkata.

“Aku tidak mau hanya berdoa.”

Clarissa yang mendengar itu tersenyum bangga ia mengangguk mantap.

“Aku mau bisa melindungi.” ujar Clarissa juga yang ingin terus melindungi adik adik nya sebagai anak pertama dan sebagai kakak yang selalu ada di depan untuk menjaga.

Adrian yang mendengar perkataan kedua kakak perempuan nya itu tersenyum kecil.

“Aku mau menemukan mereka.” ujar nya mantap menatap ke arah kedua kakak perempuan nya dan menatap langit. Ketiganya pun tersenyum bangga satu sama lain mereka bertumbuh dan berkembang bersamaan sangat indah.

Setelah itu ketiganya pun bercanda ringgan mengabaikan luka luka atau memar yang mereka dapat kan pada saat latihan berlangsung, sesekali ketiga nya tertawa lepas mengingat hal lucu yang awal nya mereka tidak tau apa apa kini harus belajar semuanya agar tetap bertahan hidup.

 Ketiga kakak beradik itu seakan sibuk dengan dunia mereka.Di kejauhan, Nara menatap mereka dengan senyum tipis.

“Api mereka baru menyala.”. Ujar nya pelan Lalu berjalan menjauh.

...****************...

API DI DALAM DIRI SAFIRA

Lapangan latihan mulai sepi tidak seperti di awal yang di penuhi senjata berbahaya dan orang orang yang memiliki kekuatan di dunia bawah.

Para pelatih sudah pergi dan mulai sibuk dengan kesibukan masing masing Karena sesi latihan mereka hari ini telah usai.

Raven sudah pergi membersihkan senjata.

Kael menghilang ke gudang untuk memantau semua pergerakan yang ada ,jika saja musuh tiba tiba muncul entah dari arah mana.

Nox lenyap seperti bayangan.

Atlas berdiskusi pelan dengan Adam.

Varga sibuk mengatur kembali peralatan.

Hanya satu yang masih berdiri di tengah lapangan.

Safira.

Napasnya berat. Kaosnya basah oleh keringat. Tangan kirinya sedikit gemetar, bekas jatuh saat latihan tadi masih terasa perih di tulang rusuknya.

Namun matanya belum mau menyerah.

Ia menatap katana Nara yang berkilau terkena cahaya pagi.

Ada sesuatu di dalam dadanya yang berdenyut pelan campuran takut, marah, dan… rindu.

Wajah ibunya dalam mimpi semalam kembali muncul.

“Safira… tetap kuat…” gumam nya mencoba menenangkan diri.

Safira menatap ke atas langit untuk beberapa detik ia kemudian mengusap wajahnya, menarik napas panjang.

"I can’t stay weak,"batinnya.

"Not anymore.''

Nara yang melihat Safira masih berada di arena latihan pun berjalan perlahan dan berdiri tidak terlalu jauh dah tidak terlalu dekat dengan safira ia kemudian meliriknya.

“Kau belum selesai?”

Safira menggeleng.

“Aku mau ulang. Sekali lagi.”

Nara mengangkat alis.

“Tulang rusukmu memar.” ujar Nara khawatir Safira memaksakan diri nya

Safira melangkah maju.

“Kalau di luar sana peluru nunggu, rasa sakit ini nggak ada artinya.” ujar Safira mantap dan penuh tekat.

Ada jeda hening.

Nara tersenyum kecil. Bukan senyum lembut tapi senyum seorang petarung yang menghormati keberanian.ia kemudian menatap Safira dan berjalan beberapa langkah mundur dari posisi nya.

“Good. Serang.” ujar Nara

Safira yang melihat itu pun tersenyum tipis, kedua nya pun bersiap di posisi masing masing dan Pertarungan Kedua nya kembali terjadi.

Safira maju.

Kali ini ia tidak ragu.

Langkahnya lebih rendah, pusat berat tubuhnya stabil. Tangannya mengepal, matanya fokus pada bahu Nara, bukan mata seperti yang diajarkan Nox tentang membaca gerak lawan.

Ia mulai menyerang.

Nara dengan gerakan cepat menangkis serangan, memutar pergelangan Safira.

Namun Safira tidak panik.

Ia mengingat suara Atlas:

“Jangan melawan tenaga. Putar arah.”

Safira menutup sejenak mata nya kemudian memutar tubuh, melepaskan diri, lalu menendang ringan ke arah paha Nara.

Tidak kuat. Tidak sempurna.

Tapi… tepat.

Nara melangkah mundur setengah langkah. Itu cukup membuat Safira terkejut.

“Aku kena?” Safira terengah engah hampir saja tanggan nya patah jika gerakan yang di lakukan salah

“Sedikit,” jawab Nara.

“Dan itu kemajuan.” ujar nya kembali

Mereka bertukar serangan lagi, pukulan , tendangan adu kekuatan dan kelincahan terjadi untuk waktu yang tidak sebentar.

Safira jatuh. Bangkit. Jatuh lagi.

Tangannya lecet. Lututnya nyeri. Napasnya terbakar.

Namun ia terus bangkit dan melanjutkan latihan nya ia tidak ingin menjadi orang lemah, ia ingin berkembang bukan hanya untuk diri nya tapi untuk Adrian, Carissa, ibu dan ayah nya tekat nya terlalu besar untuk menyerah dan ia berjanji apa pun yang terjadi tidak akan ada kata menyerah.

Clarissa yang menonton dari jauh mengepalkan tangan. Melihat kegigihan adik perempuan nya itu, badan nya sudah sangat berantakan banyak luka memar di sekujur tubuh nya dan Carissa juga melihat seberapa sering adiknya itu jatuh lalu bangkit lagi padahal ini mereka hati pertama mereka latihan.

“Dia memaksakan diri…” ujar Clarissa

Adrian menelan ludah, kau benar kak Clarissa. Safira memaksakan diri gumam nya pada diri sendiri Karena ia juga menyaksikan latihan yang di lakukan kakak keduanya itu.p

“Tapi matanya beda, Kak.” ujar Adrian melihat perubahan tatapan Safira.

Adam mengangguk pelan.

“Itu mata orang yang sudah memilih jalannya.” ujar Adam yang juga memperhatikan semuanya sejak awal. Ia merasa bangga sekaligus sedih melihat itu semua namun ia tak bisa berbuat apa apa ini merupakan kehidupan asli mereka. Bahkan lebih banyak bahaya di depan sana yang menunggu mereka untuk bertarung atau pun mati.

Adrian dan Clarisa yang melihat kegigihan Safira pun seakan mendapatkan semangat juga mereka jika akan melakukan yang terbaik di latihan berikut nya, agar apa yang telah mereka perjuangkan tidak sia sia dan mereka bisa saling menjaga satu sama lain.

Sampai mereka dapat bertemu dengan kedua orang tua mereka dan menyelesaikan permasalah yang ada, meskipun mereka sendiri belum sepenuhnya mengerti apa yang akan di hadapi kedepannya. Yang mereka tau saat ini adalah harus menjalani latihan dengan sungguh-sungguh dan mampu melawan musuh yang terus mengintai mereka.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄
Lanjut ....
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄
Hadir untuk mendukung ceritamu, Thor ...😊
SAF.A.NAPIT: okay Thor makasih yah love deh buat kamu 😍
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!