Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 RTJ
Cahaya lampion yang bergoyang di Aula Naga Emas menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas genangan arak dan darah. Lin Xi berdiri mematung, Segel Militer Wilayah Barat terasa dingin dan berat di tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih menggenggam erat Pedang Es Jiwa. Matanya terpaku pada sosok renta yang gemetar di bawah ancaman pisau Lin Mei.
"Pengasuh Han..." bisik Lin Xi, suaranya bergetar karena rasa tidak percaya yang mendalam.
"Xi'er... Lari, Nak! Jangan pedulikan wanita tua ini!" teriak Pengasuh Han dengan suara parau. Ia mencoba meronta, namun bilah pisau di lehernya justru semakin menekan, menggores kulit keriputnya hingga mengeluarkan tetesan darah merah.
Lin Mei tertawa melengking, suara yang penuh dengan keputusasaan dan kegilaan. "Hahaha! Lihat dirimu, Lin Xi! Sang Tabib sakti, sang dewi pembalas dendam, ternyata hanyalah seorang gadis cengeng yang masih terikat pada babu tua ini!"
Lin Tian, yang terkapar di lantai sambil memuntahkan darah hitam akibat teknik Tujuh Bintang Pemutus Nadi, berusaha bangkit dengan bertumpu pada lututnya. Ia menyeringai keji ke arah Lin Xi.
"Letakkan... segel itu... dan pedangmu," perintah Lin Tian dengan napas tersengal. "Atau kau akan melihat kepala wanita itu menggelinding di kakimu, sama seperti ibumu dulu."
Lin Xi mengeritkan giginya hingga rahangnya terasa sakit. "Kau benar-benar iblis, Lin Tian. Dia adalah orang yang mengurusmu selama puluhan tahun, dan kau membiarkan putrimu mengancam nyawanya?"
"Dalam perang, tidak ada ruang untuk kesetiaan rendahan seperti itu!" balas Lin Tian kasar. "Mei'er, jangan ragu! Jika dia bergerak satu inci saja, iris tenggorokan wanita tua itu!"
"Dengan senang hati, Ayah!" Lin Mei menatap Lin Xi dengan tatapan berbisa. "Ayo, Kakak Kedua yang agung! Buat keputusanmu! Nyawa babu ini, atau ambisimu?"
Long Chen, yang sedang mengawasi Garda Bayangan membekuk utusan Utara, melangkah maju. "Lin Mei, letakkan pisaumu. Kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup. Seluruh kediaman ini sudah terkepung."
"Diam kau, Pangeran cacat!" teriak Lin Mei tanpa menoleh. "Jangan pikir aku tidak tahu kau bekerja sama dengan mayat hidup ini! Kalian semua akan mati bersamaku jika aku mau!"
Lin Xi menatap mata Pengasuh Han. Di sana, ia melihat kasih sayang yang sama yang ia terima sepuluh tahun lalu—sebuah cinta murni di tengah sarang ular ini. Dalam pikirannya, Kakek Bai berseru dengan nada mendesak.
"Xi'er, jangan biarkan emosimu mengacaukan aliran Qi-mu! Jika kau melepaskan pedang itu, Lin Tian akan membunuhmu dalam sekejap begitu racunnya sedikit mereda!"
"Aku tidak bisa membiarkan Pengasuh Han mati lagi, Kek. Tidak untuk kedua kalinya," balas Lin Xi dalam hati.
Lin Xi perlahan menurunkan Pedang Es Jiwa hingga ujungnya menyentuh lantai yang membeku. "Baik. Aku akan melepaskannya. Tapi lepaskan Pengasuh Han terlebih dahulu."
"Jangan bodoh!" bentak Lin Mei. "Letakkan segel itu di lantai dan dorong ke arah Ayah! Sekarang!"
Lin Xi melirik Satu yang berdiri di balik pilar, siap untuk bergerak. Namun, Lin Xi memberi isyarat halus agar dia tetap diam. Posisi Lin Mei terlalu berisiko; satu gerakan salah akan berakibat fatal bagi Pengasuh Han.
Lin Xi membungkuk, perlahan meletakkan Segel Militer di atas lantai marmer yang retak. "Ini yang kalian inginkan, bukan? Benda perunggu tak bernyawa yang kalian sembah lebih dari nyawa manusia?"
Mata Lin Tian berbinar penuh nafsu saat melihat segel itu. "Ya... kemari... milikku..."
Tepat saat Lin Xi melepaskan segel itu, Pengasuh Han tiba-laki melakukan sesuatu yang tak terduga. Dengan sisa tenaga tuanya, ia menghentakkan kepalanya ke belakang, menghantam hidung Lin Mei, dan berteriak, "SEKARANG, XI'ER!"
Lin Mei menjerit kesakitan, pegangannya pada pisau goyah sekejap. Dalam waktu kurang dari satu kedipan mata, Lin Xi bergerak. Ia tidak menggunakan pedangnya, melainkan jarum perak yang tersembunyi di balik lidahnya.
Wusss!
Jarum itu melesat secepat kilat, mengenai pergelangan tangan Lin Mei yang memegang pisau.
"ARGH!" Lin Mei melepaskan pisaunya, tangannya mendadak lumpuh.
Satu melompat dari balik pilar dan segera menarik Pengasuh Han ke area yang aman di belakang Garda Bayangan. Sementara itu, Lin Xi melesat ke arah Segel Militer. Namun, Lin Tian, didorong oleh adrenalin terakhirnya, menerjang ke depan dengan tangan gemetar.
Keduanya meraih segel itu di saat bersamaan. Benturan energi terjadi, menciptakan ledakan kecil yang melemparkan puing-puing meja ke segala arah.
"Kau... tidak akan... menang!" raung Lin Tian, tangannya mencengkeram leher Lin Xi. "Aku akan mencekikmu dengan tanganku sendiri!"
Lin Xi merasakan pasokan udaranya menipis, namun wajahnya tetap dingin. Ia menatap langsung ke mata Lin Tian yang memerah.
"Kau tahu, Lin Tian? Racun 'Napas Naga Tidur' yang kau hirup tadi... ia memiliki satu efek samping yang tidak aku beritahukan," bisik Lin Xi di tengah sesak napasnya. "Ia akan meledakkan pembuluh darahmu jika kau memaksakan emosi yang terlalu kuat."
Mata Lin Tian membelalak. Ia merasakan denyut yang menyakitkan di pelipisnya. Tiba-tiba, pembuluh darah di matanya pecah, membuatnya buta seketika.
"TIDAK! MATAKU! AKU TIDAK BISA MELIHAT!" Lin Tian melepaskan cengkeramannya dan berguling di lantai sambil memegangi wajahnya.
Lin Xi berdiri dengan tenang, merapikan jubah putihnya yang kini ternoda sedikit darah. Ia memungut Segel Militer Wilayah Barat dan menggenggamnya kuat-kali.
Lin Mei, yang bersimpuh sambil memegangi tangannya yang lumpuh, merangkak ke arah ayahnya. "Ayah! Tolong aku! Ayah!"
"Ayahmu tidak bisa menolong siapa pun lagi, Mei'er," ucap Lin Xi sambil berjalan mendekat. Langkah kakinya yang ringan terdengar sangat menakutkan di tengah aula yang kini mulai dipenuhi asap dari kebakaran gudang di samping.
"Kau... kau monster!" teriak Lin Mei sambil menangis. "Kau seharusnya tetap mati di jurang itu!"
"Mungkin aku memang monster yang diciptakan oleh kebencian kalian," balas Lin Xi. Ia menoleh ke arah Long Chen. "Yang Mulia, tugas hamba merebut segel ini sudah selesai. Sisanya adalah urusan hukum Kekaisaran."
Long Chen mendekat, wajahnya yang pucat kini tampak lebih segar setelah pengaruh racun di tubuhnya berkurang berkat pengobatan Lin Xi sebelumnya. "Lin Tian, atas nama Kaisar, kau ditahan atas tuduhan pengkhianatan negara, konspirasi kudeta, dan kerja sama terlarang dengan musuh Utara."
Garda Bayangan segera meringkus Lin Tian yang sudah tidak berdaya dan Lin Mei yang terus meracau. Pengasuh Han berlari ke arah Lin Xi dan memeluknya erat.
"Xi'er... kau selamat... syukurlah," isak wanita tua itu.
Lin Xi merasakan air mata hangat membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, dinding es di hatinya sedikit mencair. "Semua sudah berakhir, Pengasuh. Kita tidak perlu bersembunyi lagi."
Namun, di tengah suasana kemenangan itu, Jenderal Boru dari Utara, yang sedari tadi terdiam, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Kalian pikir ini sudah berakhir?" Boru berdiri, tubuh raksasanya memancarkan aura hitam yang pekat. "Lin Tian hanyalah pion kecil. Kalian baru saja mengaktifkan 'Perangkap Darah' yang ditanam di bawah kediaman ini!"
Tiba-tiba, tanah bergetar hebat. Retakan besar muncul di tengah aula, mengeluarkan cahaya merah darah yang menyilaukan.
"Xi'er! Lari! Formasi penghancur diri ini sedang diaktifkan!" teriak Kakek Bai di dalam kepalanya. "Seluruh tempat ini akan rata dengan tanah dalam hitungan detik!"
Lin Xi menatap ke sekeliling. Sepuluh prajurit bayangannya, Pengasuh Han, dan Long Chen—semuanya berada dalam bahaya besar.
"Satu! Bawa Pengasuh Han keluar sekarang!" perintah Lin Xi. "Yang Mulia, perintahkan Garda Bayangan untuk mundur!"
"Bagaimana denganmu?!" tanya Long Chen, mencoba menarik tangan Lin Xi.
Lin Xi menatap retakan merah itu. Ia bisa merasakan Segel Militer di tangannya beresonansi dengan formasi di bawah tanah. "Benda ini... ia adalah kuncinya. Aku harus menetralisirnya dari sini, atau seluruh kota ini akan terkena ledakan energinya!"
"Jangan gila, Lin Xi! Itu bunuh diri!" seru Long Chen.
Lin Xi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat indah namun penuh kesedihan. "Aku sudah pernah mati sekali, Yang Mulia. Menyelamatkan ibu kota adalah harga yang pantas untuk penebusan namaku."
Dengan satu sentakan, Lin Xi melepaskan tangan Long Chen dan melompat ke tengah retakan cahaya merah, mengangkat Segel Militer tinggi-tinggi ke udara sambil mengalirkan seluruh energi Qi-nya ke dalam pedang Es Jiwa.
"LIN XI!" teriakan Long Chen menggema, bersamaan dengan ledakan cahaya putih yang menelan seluruh pandangan.