Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Getaran di Gerbang Giok
Berita tentang pengembara misterius yang mengajari Tuan Lu bermain catur menyebar seperti api di Kota Seribu Gerbang.
Namun, Tian Shan tidak mempedulikan ketenaran sesaat itu.
Langkah kakinya yang santai membawanya menuju distrik tertinggi di kota tersebut, tempat berdiri megah sebuah gerbang giok yang menjulang—markas dari Sekte Awan Abadi, sekte terbesar yang menguasai wilayah Timur.
Tian Shan melangkah dengan tenang, caping barunya sedikit menunduk menutupi sorot matanya yang dingin.
Ia datang bukan untuk bertarung, melainkan untuk mencari jawaban atas sebuah simbol kuno yang ia temukan di catatan gurunya.
"Berhenti, pengembara!" teriak seorang murid penjaga berpakaian sutra biru muda. "Ini adalah wilayah suci Sekte Awan Abadi. Rakyat jelata tidak diizinkan mendekat lebih dari sepuluh langkah dari gerbang ini."
Tian Shan berhenti, namun tidak mundur. "Aku datang untuk bertemu dengan tetua perpustakaan kalian. Ada hal yang ingin kutanyakan."
Mendengar itu, para penjaga tertawa meremehkan. "Bertemu tetua? Kau pikir siapa dirimu? Bahkan pejabat kota harus membuat janji sebulan sebelumnya. Pergilah sebelum kami menyeretmu keluar dengan paksa."
Tian Shan tidak bergeming. Keheningan yang ia bawa mulai terasa menekan, seolah-olah udara di sekitar gerbang itu mendadak menjadi lebih berat.
"Aku tidak punya waktu sebulan." ucap Tian Shan datar.
Seorang murid senior yang sedang melatih teknik pedang di dekat sana mendekat.
Namanya Gao Lu, seorang Pendekar Inti yang sombong. "Kau keras kepala juga. Mari kita lihat apakah ketenanganmu ini bisa menahan ujung pedangku!"
Gao Lu menghunuskan pedangnya, memicu kilatan Qi yang cukup kuat untuk mengintimidasi orang biasa.
Warga yang mengikuti Tian Shan dari kejauhan mulai bergidik ketakutan, mengira pengembara bijak itu akan berakhir tragis di tangan pendekar sekte.
Saat Gao Lu hendak melesat maju, sebuah suara yang menggetarkan seluruh kompleks sekte terdengar dari balik dinding tinggi.
"BERHENTI! JANGAN ADA YANG BERGERAK!"
Sesosok pria tua dengan rambut putih panjang dan jubah keemasan meluncur turun dari puncak menara utama.
Gerakannya begitu cepat hingga menciptakan riak di udara—seorang Pendekar Langit tahap menengah. Ia adalah Grandmaster Yun, pemimpin tertinggi Sekte Awan Abadi.
Para murid seketika membungkuk dengan hormat. Gao Lu segera menarik pedangnya dan berlutut. "Guru Agung! Maafkan kami karena pengembara kotor ini telah mengganggu ketenangan Anda, biar saya segera membe—"
"DIAM, BODOH!" teriak Grandmaster Yun. Suaranya bergetar, namun bukan karena marah, melainkan karena ketakutan yang amat sangat.
Warga dan murid sekte terbelalak saat melihat pemimpin tertinggi mereka, orang yang paling dihormati di kota itu, tiba-tiba mendarat dan gemetar hebat.
Grandmaster Yun menatap sosok bercaping di depannya.
Meskipun Tian Shan tidak membawa pedang naga dan hanya mengenakan pakaian sederhana, aura yang memancar darinya—aura yang mampu meruntuhkan Puncak Naga—terasa sangat nyata bagi seseorang di ranah yang sama.
"Tuan... Sang Legenda..." suara Grandmaster Yun tercekat. Ia segera membungkuk sangat rendah, hampir menyentuh tanah. "Mohon maafkan ketidaktahuan murid-murid saya. Mereka adalah semut yang tidak tahu bahwa naga sedang bertamu."
Suasana seketika menjadi hening yang mencekam.
Murid-murid sekte yang tadi meremehkan Tian Shan kini pucat pasi, wajah mereka hampir menyentuh lantai karena ketakutan.
Warga kota yang menyaksikan itu saling berpandangan, menyadari bahwa orang yang bermain catur dengan santai tadi adalah sosok legendaris yang namanya hanya berani mereka bisikkan.
Tian Shan perlahan mengangkat capingnya sedikit, menatap Grandmaster Yun. "Yun... kau sudah banyak berubah sejak pertemuan terakhir kita di perbatasan Utara."
"Benar, Tuan. Saya tidak menyangka Anda akan sudi menginjakkan kaki di sekte rendah saya." jawab Yun dengan nada yang sangat hormat, seolah-olah ia sedang bicara dengan dewa.
"Aku hanya ingin melihat catatan tentang Klan Bayangan Langit," ucap Tian Shan. "Bawa aku ke dalam. Dan suruh muridmu ini untuk belajar bahwa pedang tidak berguna jika tidak diiringi dengan mata yang bisa melihat kebenaran."
Grandmaster Yun segera berdiri dan memberi jalan. "Segala yang kami miliki adalah milik Anda, Tuan. Silakan masuk."
Tian Shan berjalan melewati gerbang giok itu dengan langkah santai yang sama seperti saat ia berjalan di jalan setapak gunung.
Semua orang di sekte itu berdiri mematung, menatap punggung pengembara hampa yang ternyata memegang kendali atas nasib mereka semua.
Hari itu, Sekte Awan Abadi mendapatkan pelajaran paling berharga: bahwa kekuatan sejati tidak perlu berteriak untuk diakui.