Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbanding Terbalik
Rendra sama sekali tak dapat memahami apa yang sedang dipikirkan oleh ayahnya. Alih-alih memarahinya karena sudah menyatakan cinta pada seorang guru, ayahnya malah memberi nasehat bagaimana cara agar guru incarannya memandang ke arahnya.
'Show her my pride? My value?' pikir Rendra.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Rendra hanya memikirkan bagaimana cara menunjukkan nilai dan harga diri seperti yang ayahnya katakan.
"Sudah sampai, Mas Rendra," kata Pak Iman, membuyarkan pikiran Rendra.
Rendra segera keluar dari mobil. Dilihatnya beberapa meter dari mobilnya, mobil Disa terparkir. Dawai terlihat turun dari mobil diikuti Disa. Rendra berjalan perlahan sambil menatap ke arah Dawai dan Disa yang masih berdiri di samping mobil jeep Disa.
Dawai terlihat acuh, sama sekali tak memperhatikan Rendra yang sedang berjalan ke arahnya. Disa, seperti biasa, mengacak pelan rambut Dawai yang tergerai rapih.
"Hih! Kebiasaan!" kata Dawai gemas sambil membenahi rambutnya yang sedikit berantakan.
"Gemes," kata Disa sambil meringis.
"Boneka emang?"
"Sebelas dua belas,"
"Disaaa!" Dawai berusaha menahan agar tak berteriak. Disa terkekeh.
"Ya udah. Ntar gue jemput," kata Disa sambil membuka pintu mobilnya. Dawai mengangguk, lalu berjalan menuju gerbang sekolah. Rendra berjalan di belakangnya.
Seperti biasa, beberapa siswi berjalan mengiringi Dawai sambil mengobrol santai. Rendra memperhatikan Dawai. Entah mengapa, matanya tak bisa lepas dari guru imut satu itu.
"Ren!" teriak Reno sambil berlari. Rendra berhenti, menoleh.
"Pinjem PR matematika dong," kata Reno.
"Kebiasaan," kata Rendra sambil berjalan dan masih memperhatikan Dawai yang sesaat tadi menoleh saat Reno memanggilnya.
"Ehee... Nyerah gue kalo matematika," kata Reno.
"Heran gue. Bisa-bisanya lo masuk IPA," kata Rendra.
"Nah. Itu. Gue aja heran apalagi elo," kata Reno. Rendra mendengus.
Dawai sudah berjalan sendirian. Siswi-siswi yang berjalan bersamanya sudah berbelok ke koridor yang lain menuju kelas mereka. Rendra memberikan tasnya pada Reno.
"PRnya di dalem," kata Rendra sambil terus membuntuti Dawai. Reno menerima tas Rendra sambil melongo.
"Orang kalo lagi jatuh cinta emang suka jadi aneh," gumam Reno sambil melihat Rendra yang berjalan mengikuti Dawai.
Dawai waspada. Dia tak mau kejadian seperti yang terakhir kali terulang. Dawai berusaha berjalan secepat mungkin, meskipun susah baginya berjalan cepat dengan menggunakan sepatu berhak.
"Miss," panggil Rendra. Dawai mengacuhkannya. Rendra berlari kecil mengejar Dawai.
"I need to talk to you," kata Rendra mencegat Dawai.
"Saya nggak butuh ngomong sama kamu," kata Dawai lalu melangkah pergi.
"Sorry," kata Rendra. Langkah Dawai terhenti. Dawai menoleh.
"Sorry?" tanya Dawai memastikan dia tak salah dengar. Rendra mengangguk.
"About?" tanya Dawai. Rendra berjalan perlahan menghampiri Dawai.
"Everything. Tentang saat di lobi, tentang saat di kedai es krim, tentang kemarin. I'm sorry," kata Rendra. Dawai mengerutkan kedua alisnya.
Dawai merasa ada yang salah dengan Rendra. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada kamera tersembunyi atau apalah yang menjebak dirinya. Dawai menatap Rendra. Dia terlihat tak seperti Rendra yang biasanya tempramen.
'Ini anak salah makan? Kesambet apa di jalan? Atau dia lagi ngeprank aku?'
***
Ryan mengerutkan kedua alisnya saat mendengar Rendra meminta maaf pada Dawai. Dia tahu benar, Rendra bukan tipe orang yang mudah mengatakan maaf, meskipun dia salah. Ryan merasa Rendra sedang merencanakan sesuatu.
"Well. It's okay. Lain kali jangan diulangi lagi," kata Dawai setelah cukup lama diam.
"Saya akan ulangi lagi," kata Rendra pada Dawai. Dawai kembali mengerutkan alisnya.
"Pernyataan cinta itu. Saya akan ulangi lagi," kata Rendra. Dawai menaikkan alisnya, terkejut.
"But not now. Or tomorrow," lanjut Rendra. Dawai menghela nafas panjang. Dia sudah akan mengatakan sesuatu saat Rendra berbalik dan pergi.
'Hah? What? Aku bener-bener nggak paham,' pikir Dawai lalu berbalik, berjalan menuju kantor guru dengan rasa bingung yang menggantung.
Ryan tersenyum tipis. Dia merasa kini Rendra mulai paham maksudnya untuk mengganti metode.
'It's getting interesting,'
Jam pelajaran terus berlalu seperti biasa hingga jam istirahat pertama tiba. Guru-guru terlihat sibuk di kantor saat Dawai tiba di kantor setelah mengajar kelas X-7.
"Ada apa ya, Pak Adit?" tanya Dawai pada Adit.
"Oh. Itu, ketua komite akan datang," kata Adit santai.
"Ketua komite?" tanya Dawai.
"Bapak Raharja, ayahnya Rendra," jawab Adit sambil tersenyum.
"Eh? Apa gara-gara yang kemarin?" tanya Dawai dengan nada berbisik. Adit tersenyum.
"Entah, Miss. Katanya hanya kunjungan biasa. Kepala sekolah juga tidak memanggil saya ataupun Miss Dawai terkait kejadian kemarin kan?" kata Adit, lagi-lagi dengan nada santai.
"Iya sih,"
"Sudah. Ketua komite tidak semenyeramkan itu kok," kata Adit menenangkan Dawai yang terlihat takut.
"Pak Adit kenal?" tanya Dawai pura-pura tak tahu hubungan Adit dengan Pak Raharja. Adit tersenyum.
"Kurang lebih begitu," kata Adit.
Kepala sekolah memasuki ruang guru diikuti seorang pria paruh baya yang terlihat sangat berwibawa dan tegas. Dawai seketika tercekat. Adit tampak tenang. Kepala sekolah berjalan lurus menuju meja Dawai dan Adit.
"Ini dua guru baru yang kami rekrut, Tuan. Miss Dawai dan Pak Adit," kata kepala sekolah sambil menunjuk Dawai dan Adit. Dawai seketika berdiri lalu menundukkan kepalanya, memberi hormat.
"Pak kepala. Panggil saya Pak Raharja saja. Yang boleh memanggil saya Tuan itu cuma sekretaris sama bawahan saya saja," kata Pak Raharja sambil terkekeh. Pak kepala sekolah mengangguk kikuk. Adit tersenyum.
"Miss Dawai," kata Pak Raharja sambil tersenyum menatap Dawai. Dawai mengangguk. Tak tahu harus mengatakan apa.
"Saya dengar Anda mengikuti program pertukaran mahasiswa di Harvard," kata Pak Raharja sambil tersenyum. Dawai mengangguk. Mata Adit membulat.
"Saya merasa sangat tenang ketika ada guru berkwalitas yang mengajar di sekolah kita," kata Pak Raharja. Dawai tersenyum kikuk.
"Jangan terlalu tegang begitu, Miss," kata Pak Raharja sambil menepuk-nepuk bahu Dawai pelan. Lagi-lagi, Dawai tersenyum kikuk.
"Pak Adit sudah terbiasa mengajar disini?" tanya Pak Raharja pada Adit.
"Sudah, Pak," kata Adit mantap sambil tersenyum. Dawai mengawasi dua pria di hadapannya. Keduanya tak terlihat seperti pernah tinggal serumah.
"Syukurlah. Kalau begitu saya lanjutkan berkeliling sekolah dulu," kata Pak Raharja ketika mendengar bel masuk tanda istirahat pertama usai. Dawai dan Adit mengangguk, memberi hormat.
Pak Raharja diikuti kepala sekolah keluar dari ruang guru. Suasana kantor guru kembali cair ketika Pak Raharja telah meninggalkan kantor.
"Tidak seseram kelihatannya kan, Miss?" tanya Adit pada Dawai.
"Eh? Mmm... Dari yang saya tangkap, sepertinya Pak Raharja bukan orang yang sombong," kata Dawai. Adit tersenyum.
Menurut Dawai, Pak Raharja sangat berbeda dengan Rendra yang tempramen. Pak Raharja memiliki pembawaan yang tenang dan down to earth, serta ramah dan terlihat tidak suka merendahkan orang lain.
'Kenapa anaknya bisa berbanding terbalik gitu?'
***
semngaatt ya thorrr