NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Peperangan di Mulai

"Temui gue di gedung belakang sekolah. Ada yang harus gue omongin."

Sebuah pesan yang di tulis Arslan pada Abel. Setelah selesai membereskan buku-bukunya, Abel segera berjalan menuju belakang sekolah.

Sesampainya di sana, Abel membuka pintu gudang tersebut. Debu-debu beterbangan di antara celah cahaya matahari sore yang masuk melalui kusen besar. Di sana, di tengah kesunyian yang mencekam, Arslan berdiri mematung. Begitu Abel muncul dengan langkah terburu-buru dan wajah cemas, Arslan langsung menariknya ke dalam dekapan yang sangat erat—terlalu erat, seolah-olah dunia akan berakhir detik itu juga.

Abel bisa merasakan napas Arslan di ceruk lehernya, namun ia tidak bisa melihat seringai tipis yang muncul di wajah laki-laki itu di balik bahunya.

"Arslan? Ada apa? Kenapa kamu minta ketemu di sini?" bisik Abel, tangannya ragu-ragu membalas pelukan itu.

Arslan melepaskan pelukannya perlahan, namun kedua tangannya tetap bertengger di bahu Abel. Matanya terlihat merah—hasil dari akting mengucek mata berkali-kali sebelum Abel datang.

"Bel... kita nggak bisa lanjutin ini," suara Arslan bergetar, terdengar sangat hancur. "Kak Reno... dia benar. Gue bukan siapa-siapa dibanding dia. Dia mengancam gue, Bel. Tapi yang paling bikin gue takut bukan ancamannya buat gue, tapi ancamannya bahwa dia bakal bikin hidup lo menderita kalau gue tetap ada di samping lo."

"Nggak mungkin! Kak Reno nggak mungkin sejahat itu sama aku!" Abel menggeleng kuat, air mata mulai menggenang di balik kacamata bulatnya.

"Dia melakukan itu karena dia sayang sama lo, Bel. Dan karena gue juga sayang lo... gue nggak mau lo jadi korban kebencian kakak lo sendiri," Arslan menunduk, melepaskan tangannya dari bahu Abel dengan gerakan dramatis seolah ia sedang menyerah pada takdir. "Lebih baik kita berakhir di sini. Demi kebahagiaan lo. Demi kedamaian persaudaraan lo dengan Kakak lo."

"Nggak! Aku nggak mau!" Abel histeris, ia mencengkeram jaket Arslan. "Aku sayang kamu, Arslan! Kamu satu-satunya yang mengerti aku. Kenapa Kak Reno harus seegois ini? Aku bakal temuin dia sekarang, aku bakal bilang kalau dia nggak punya hak buat ngatur perasaan aku!"

Abel berbalik, hendak berlari keluar dari gudang untuk mengonfrontasi Reno, namun dengan sigap Arslan menarik pergelangan tangannya.

"Jangan! Tolong, jangan, Abel!" Arslan memohon dengan nada yang sangat memelas, nyaris bersimpuh di depan gadis itu. "Kalau lo nemuin dia sekarang, dia bakal makin marah sama gue. Dia bakal mikir gue yang menghasut lo. Lo cuma bakal nambah masalah buat gue, Bel. Gue nggak sanggup kalau harus berurusan sama dia lagi."

Abel membeku. Melihat Arslan yang lemah dan ketakutan seperti itu menghancurkan hatinya berkeping-keping. Ia merasa Arslan adalah korban dari sikap diktator kakaknya.

"Lalu aku harus gimana?" tanya Abel lirih di sela isaknya.

Arslan perlahan berdiri, mengusap air mata di pipi Abel dengan ibu jarinya. "Jangan lawan dia secara terbuka. Kita harus lebih rapi. Kalau dia pikir kita sudah putus, dia bakal berhenti mengawasi gue. Tapi sebenarnya..." Arslan merendahkan suaranya, "Kita tetap milik satu sama lain di belakang dia. Lo mau, kan, berjuang sama gue secara rahasia? Meski itu artinya lo harus pura-pura membenci gue di depan Kak Reno?"

Abel mengangguk mantap. "Apa pun, Arslan. Apa pun asal aku nggak kehilangan kamu."

Arslan tersenyum dalam hati. Perangkapnya telah sempurna. Abel kini bukan hanya mencintainya, tapi juga mulai memandang Reno sebagai musuh dalam selimut.

Arslan kembali memeluk Abel sesaat, ia menatap wajah Abel lekat, tersenyum manis dan mengusap wajah Abel lembut. Ia menatap kedua mata hazel Abel yang indah, melepaskan kacamata itu dan menyimpannya di saku seragam Abel. Merapikan rambut Abel yang tak beraturan ke belakang daun telinga gadis itu.

"Gue sayang lo, Abel." Bisik Arslan dan mencium bibir Abel dengan lembut.

Abel terpaku, darah di tubuhnya berdesir hebat melaju menuju otaknya. Wajahnya seketika merah padam. Abel mendorong Arslan menjauh darinya.

Abel berlari meninggalkan Arslan sendiri di gedung tua itu, ia berlari menyusuri lorong sekolah dengan napas yang memburu. Sentuhan bibir Arslan masih terasa membekas, meninggalkan sensasi panas yang menjalar hingga ke seluruh tubuhnya. Di satu sisi, ia merasa terbang ke langit ketujuh karena pangeran mimpinya baru saja memberikan ciuman pertama. Namun, di sisi lain, ada nurani kecil yang berbisik bahwa ini tidak benar—tidak di tengah ancaman Reno, dan tidak di tempat kumuh seperti gudang ini.

Sementara itu, di dalam gudang yang temaram, Arslan tidak sedikit pun terlihat merasa bersalah. Ia justru terkekeh pelan, mengambil ponselnya dengan gerakan santai, dan mengetik pesan di grup "🏀 EAGLES TEAM 🏀".

Arslan (07): Update: First kiss secured. Gampang banget, sumpah. Dia bener-bener udah ada di genggaman gue sekarang. 30 juta kalian mending mulai disiapin dari sekarang, Bro. 😎💸

Bimo (Point Guard): GILA! Si Kapten bener-bener nggak ada lawan!

Raka (Small Forward): Tapi hati-hati, Lan. Kakaknya anak IT. Jangan sampai jejak digital lo bocor.

Arslan hanya mendengus meremehkan komentar Raka. Ia merasa sudah menang segalanya.

Abel sampai di depan gerbang dengan wajah yang masih merah padam. Ia berusaha mengatur napas dan merapikan rambutnya sebelum mendekati Reno yang sudah menunggu di atas motornya.

Reno tidak menyapa. Matanya yang tajam langsung menangkap keanehan pada adiknya. Kacamata Abel tidak terpasang dengan sempurna, dan ada binar ketakutan sekaligus kebingungan di matanya.

"Lama banget lo. Ngapain aja?" tanya Reno dingin.

"Tadi... ada tugas tambahan di perpustakaan, Kak," bohong Abel, lagi-lagi.

Reno terdiam sejenak. Ia merogoh saku jaketnya, menggenggam sebuah perangkat kecil yang terhubung dengan laptop di rumahnya. "Yaudah, naik."

Sepanjang perjalanan pulang, Abel memeluk Reno dengan erat, namun pikirannya melayang pada Arslan. Ia merasa bersalah telah membohongi Reno, tapi ia juga merasa Reno adalah penghalang cintanya. Ia tidak tahu bahwa Reno sedang menahan amarah yang luar biasa.

Reno melajukan motornya dengan cepat, ia memegang stang motor dengan erat. Rahangnya mengeras menahan emosinya.

Sesampainya di rumah, Abel langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Namun, di ruang tengah, Reno membuka laptopnya. Ia mengakses data dari spyware yang diam-diam ia tanam di ponsel Abel saat ia meminjamnya untuk memesan makanan tadi malam.

Reno memasang earphone. Ia mendengarkan rekaman suara yang tertangkap di gudang tadi.

"...Lebih baik kita berakhir di sini. Demi kebahagiaan lo..." (Suara Arslan yang memelas).

"...Aku sayang kamu, Arslan! Aku bakal temuin Kak Reno!" (Suara Abel yang terisak).

Suara gesekan kain... keheningan yang panjang... dan suara napas yang memburu.

Reno membanting earphone-nya ke meja. Pembuluh darah di lehernya menonjol. Ia tidak hanya mendengar upaya Arslan mengadu domba dirinya dengan Abel, tapi ia juga menyadari bahwa laki-laki itu baru saja melampaui batas dengan adiknya yang polos.

"Lo bener-bener cari mati, Arslan," desis Reno.

Reno tidak berhenti di situ. Dengan kemampuan hacking-nya, ia masuk ke server penyedia layanan pesan singkat dan mulai menarik data percakapan terbaru dari nomor Arslan. Dan di sanalah ia menemukannya: Pesan tentang taruhan 30 juta dan ejekan "first kiss" di grup basket.

Reno berdiri, berjalan menuju kamar Abel dan menggedor pintunya dengan keras.

"ARABELLA! BUKA PINTUNYA!"

Abel yang sedang tersenyum menatap cermin langsung terlonjak kaget. "Ada apa, Kak?"

"BUKA ATAU GUE DOBRAK!"

Saat pintu terbuka, Reno langsung menyodorkan layar laptopnya tepat di depan wajah Abel. Di sana, terpampang jelas tangkapan layar percakapan grup WhatsApp Arslan.

"Ini 'pangeran' yang lo bela mati-matian? Ini cowok yang lo tangisin di gudang tadi?" teriak Reno murka. "Lo cuma bahan taruhan, Bel! Lo cuma dihargai 30 juta sama dia dan temen-temennya!"

Dunia Abel seketika runtuh. Ia menatap layar itu dengan mata membelalak. Kata-kata Arslan tentang "tergila-gila" dan "si culun" terpampang nyata. Rasa panas di bibirnya yang tadi terasa manis, kini berubah menjadi rasa pahit yang menjijikkan.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!