Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Di Hati
Putri tertegun, kata-kata ibunya merasuk ke dalam jiwanya, membangkitkan sisi lain dirinya yang selama ini tertidur. Sisi yang ingin melawan, sisi yang ingin diakui.
"Tapi aku sakit, Bu..."
"Sakit itu akan menjadi kekuatanmu, ibu merestuimu. Ibu akan selalu ada di nadimu. Sekarang, bangunlah!"
Sang ibu mengecup kening Putri untuk terakhir kalinya.
"Bangun, Putri!"
Cahaya keemasan itu perlahan memudar, berganti menjadi silau putih yang menyakitkan. Tubuh Putri terasa ditarik mundur dengan cepat.
"Ibu!" teriak Putri, tangannya menggapai-gapai udara kosong.
Bunyi monitor EKG yang tadinya lemah dan lambat, tiba-tiba meningkat temponya.
"Dokter! Tekanan darah pasien naik! Detak jantungnya stabil!" seru seorang perawat kaget.
Brahma yang tertidur di kursi sambil memegang tangan Putri, tersentak bangun. Devan yang baru saja masuk ke ruangan dengan wajah kusut, langsung terpaku melihat monitor.
Jari-jari Putri yang berada dalam genggaman Brahma bergerak.
Kelopak matanya bergetar hebat, dan perlahan mata itu terbuka.
Bukan tatapan sayu dan pasrah seperti sebelumnya. Meski lemah, ada sorot kehidupan yang baru di sana. Sorot mata seorang wanita yang baru saja berjanji pada ibunya untuk tidak menyerah.
"Putri? Nak, kamu dengar ayah?" tanya Brahma panik bercampur bahagia.
Putri mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya. Ia melihat wajah tua ayahnya yang sembab, lalu matanya bergulir menatap Devan yang berdiri kaku di ujung ranjang.
Putri teringat pesan ibunya.
"Jangan biarkan dia jatuh ke pelukan Tamara lagi."
Putri menarik napas panjang lewat masker oksigennya. Rasa sakit di tubuhnya kembali menyerang, tapi kali ini, ia menyambutnya sebagai tanda bahwa ia masih hidup, dan... selagi ia masih hidup, ia akan berjuang.
"A-air," bisik Putri parau.
Devan tersadar dari keterpakuannya, dengan gerakan cepat, ia menyambar gelas air dan sedotan di meja. Menyerobot tempat di samping ranjang, bahkan sedikit mendorong pak Brahma.
"Ini, minum pelan-pelan," ucap Devan, tangannya gemetar saat mengarahkan sedotan ke bibir Putri.
Putri minum sedikit, lalu menatap Devan lurus-lurus. Tatapan yang membuat Devan merinding karena intensitasnya.
"Mas..." panggil Putri, suaranya lemah tapi tegas.
"Iya? Kamu butuh apa? Dokter? Obat sakit?" tanya Devan bertubi-tubi, rasa bersalah membuatnya siap melakukan apa saja.
Putri menggeleng pelan. Tangan kurusnya terangkat, meraih tangan Devan, dan menggenggamnya erat. Jauh lebih erat dari yang Devan duga bisa dilakukan oleh orang sekarat.
"Jangan pergi!" ucap Putri, matanya mengunci manik mata Devan, seolah sedang menanamkan mantra. "Jangan temui dia lagi. Aku bakal sembuh, dan kalau aku sembuh... Mas nggak akan punya alasan lagi buat cari dia."
Devan terhenyak, ia tidak menyangka kalimat itu yang akan keluar pertama kali. Bukan keluhan sakit, bukan tangisan, tapi sebuah klaim kepemilikan.
Di ambang pintu kematian, Putri yang penurut telah mati. Dan Putri yang baru, yang siap mempertahankan haknya telah lahir kembali.
Devan tertegun, genggaman tangan Putri yang lemah namun menuntut itu seolah meremas jantungnya.
Sorot mata istrinya bukan lagi sorot mata memohon yang menyedihkan, melainkan sorot mata seorang wanita yang sedang mempertaruhkan nyawanya demi sebuah kepastian.
"Mas nggak akan punya alasan lagi buat cari dia..."
Kalimat itu menampar Devan telak, selama ini Putri tahu bahwa ia kembali menemui Tamara, dan gadis itu diam saja menahan lukanya sendiri.
Devan menelan ludah yang terasa pahit. Di bawah tatapan pak Brahma yang penuh penyesalan dan Putri yang menanti jawaban, Devan perlahan mengangguk.
"Oke," jawab Devan, suaranya serak namun terdengar jelas di ruangan sunyi itu. "Aku pegang omongan kamu."
Devan mendekatkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke dalam mata Putri.
"Buktikan, Put. Sembuh dulu. Kalau kamu bisa bertahan, kalau kamu bisa kembali sehat..." Devan memberi jeda, jempolnya tanpa sadar mengusap punggung tangan Putri yang penuh bekas infus. "Aku janji, aku nggak akan kemana-mana. Aku akan tetap di sini, jadi suami kamu."
Itu bukan pernyataan cinta yang romantis, tapi bagi Putri, itu adalah sebuah kontrak kehidupan. Sebuah alasan baginya untuk terus bernapas.
Putri tersenyum tipis, air mata haru menetes dari sudut matanya. "Janji ya, Mas..."
"Janji," bisik Devan.
Suasana haru yang melingkupi mereka tiba-tiba terpecah oleh suara keributan kecil dari luar pintu kamar rawat.
"Den Rian, jangan lari-lari! Den Rian baru sembuh!" suara panik seorang wanita terdengar.
Pintu ruang ICU terbuka dengan kasar. Seorang anak laki-laki dengan wajah pucat dan napas terengah-engah berdiri di sana. Dia masih mengenakan piyama tidur yang dibalut jaket tebal.
"Kak Putri!" teriak anak itu.
Itu Rian, di belakangnya, menyusul seorang asisten rumah tangga tua, Mbok Sumi.
Mbok Sumi tampak ketakutan dan serba salah. Ia membungkuk hormat pada pak Brahma dan Devan.
"Maaf Tuan, Den Devan... Saya nggak bisa nahan Den Rian. Dia ngamuk mau ketemu Non Putri setelah denger Tuan Brahma telepon di rumah tadi," jelas mbok Sumi gemetar.
Rian tidak mempedulikan ayahnya ataupun Devan. Ia berlari menuju ranjang Putri, lalu tangisnya pecah seketika melihat kondisi kakaknya yang mengenaskan.
Tubuh kurus, kepala botak tertutup topi, dan selang-selang mengerikan itu membuat Rian semakin sedih.
"Kakak..." isak Rian, tangannya ingin memeluk tapi takut menyakiti. "Kak Putri kenapa jadi begini? Kakak bohong... Kakak bilang cuma sakit biasa..."
Hati Putri terasa hangat sekaligus perih melihat adik kesayangannya. Dengan susah payah, ia menggerakkan tangan kirinya untuk menyentuh pipi Rian.
"Hei jagoan... kakak nggak apa-apa kok," bisik Putri lemah. "Rian kok ke sini? Kan baru sembuh demamnya. Mama mana?"
Rian menggeleng kuat-kuat, air matanya berderai membasahi sprei.
"Rian kabur, Kak. Mama nggak bolehin Rian ke sini. Mama jahat!" adu Rian dengan emosi meluap-luap.
Pak Brahma tersentak mendengar ucapan anak bungsunya. "Rian... jaga bicara kamu tentang Mamamu."
"Biarin!" Rian berbalik menatap ayahnya dengan nyalang. "Papa juga sama aja! Papa tau kan Kak Putri diusir Mama pas ujan-ujanan kemarin? Rian denger Mama teriak-teriak nuduh Kak Putri nyuri kalung. Padahal kalungnya ketemu setelah Kakak pergi di bawah meja rias, jatuh keselip karpet!"
Bagai disambar petir di siang bolong, pak Brahma, Devan, dan Putri terbelalak.
Apa?" tanya Devan kaget, "kalungnya ketemu?" lanjutnya bertanya.
Rian mengangguk terisak. "Iya! mbok Sumi yang nemuin pas nyapu. Mama tau itu! Tapi Mama diem aja, Mama nggak mau minta maaf sama Kak Putri. Mama malah ngelarang Rian telepon Kakak. Mama jahat, Pa! Kak Putri sakit gara-gara diusir Mama!"
Mbok Sumi menunduk dalam-dalam, tidak berani membantah karena itu kebenarannya.
Rahang Devan mengeras hingga terdengar bunyi gemeretak gigi, tangannya mengepal kuat. Jadi, tuduhan pencurian itu fitnah? Istrinya diusir, kehujanan, dan hampir mati di jalanan karena fitnah yang bahkan tidak mau diklarifikasi oleh ibu tirinya?
Pak Brahma terduduk lemas di kursinya, wajahnya pucat pasi. Rasa bersalah yang tadi sudah besar, kini berubah menjadi rasa muak pada dirinya sendiri dan istrinya. Ia membiarkan putrinya difitnah dan diusir dari rumahnya sendiri.
"Maafin Rian, Kak..." Rian kembali memeluk lengan Putri, menangis tersedu-sedu. "Kalau Rian nggak sakit, Kakak nggak akan disuruh pulang. Kakak nggak akan dituduh maling..."
Putri tersenyum lembut, meski hatinya sakit mengetahui fakta itu. Ternyata Anggun tahu Putri tidak bersalah, tapi memilih diam demi egonya.
"Bukan salah Rian," hibur Putri, "kakak senang Rian di sini. Rian obat kakak."
Devan menatap pemandangan itu dengan dada bergemuruh. Ia melihat Rian yang begitu tulus mencintai Putri, beda dengan dirinya yang selama ini buta.