Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Kolam Katak
Sorak-sorai ribuan penonton mengguncang fondasi arena utama Nancheng. Bau keringat manusia beradu dengan energi qi yang meledak-ledak di udara. Adapun di tengah panggung batu yang luas, Tie Kuang berdiri gagah dengan kepala botak yang memantulkan cahaya matahari. Di bawah kakinya, seorang petarung dari klan lokal terkapar dengan dada yang mengeluarkan asap. Pakaian lawan itu hangus, menunjukkan jejak teknik Tinju Pijar Pemecah Tulang yang baru saja mendarat telak.
“Siapa lagi?!” teriak Tie Kuang, suaranya menggelegar mengalahkan kebisingan tribun.
Penonton pun segera berbisik-bisik dengan wajah penuh kengerian. Nama Sekte Tianhuo menjadi buah bibir di setiap barisan kursi. Semua kecemasan itu muncul karena fakta di Benua Dongzhou, Tianhuo adalah predator puncak, sebuah sekte dari alam tinggi yang ambisinya tidak pernah terpuaskan. Rumor yang beredar mengatakan bahwa Tie Kuang hanyalah salah satu “anjing” paling lemah dalam hierarki sekte tersebut, namun kekuatannya di sini terasa seperti monster yang tidak tertandingi. Ia rutin menghancurkan lawan hanya dengan satu pukulan, menunjukkan loyalitas buta pada perintah Hong Xiaoshi untuk mendominasi panggung ini.
“Selanjutnya, Ji Zhen dari Sekte Qingyun! Harap segera naik ke arena!” seru panitia melalui pengeras suara bertenaga qi.
Kebisuan pun membanjiri pelataran arena turnamen. Nama Qingyun cukup terpandang di wilayah perbatasan, dan banyak orang menantikan aksi pemuda yang katanya telah bangkit dari status sampah. Namun, hingga panggilan ketiga, gerbang peserta tetap tertutup rapat.
Alhasil Tie Kuang tertawa mengejek. “Qingyun? Mungkin tikus kecil itu sudah lari terbirit-birit begitu mendengar namaku. Dasar pengecut!”
Setelah menanti beberapa menit tanpa hasil, panitia akhirnya mengangkat tangan Tie Kuang. “Ji Zhen dianggap mengundurkan diri! Pemenang turnamen Nancheng kali ini adalah Tie Kuang dari Sekte Tianhuo! Pemenang berhak mendapatkan hadiah utama: Pedang Pusaka Penstabil Energi!”
Di sudut tribun yang penuh sesak, Yun Xia dan Shi Shu saling pandang dengan raut kebingungan, menjulur-julurkan leher mereka seperti angsa. Shi Shu meremas jemarinya, matanya menyisir pintu keluar arena. “Ke mana pemuda itu? Padahal aku sudah menyiapkan taruhan besar untuknya,” gumam Shi Shu kecewa. Yun Xia sendiri tidak menjawab, namun tatapannya tajam menatap hutan di pinggiran kota, merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang menahan langkah Ji Zhen.
Jauh dari kebisingan kota, di sebuah rumah pohon besar yang tersembunyi di dalam hutan lebat, suasana justru sangat mencekam. Ji Zhen berdiri di tepi kolam yang sangat indah. Airnya jernih, dipenuhi bunga teratai yang mekar sempurna dan ikan-ikan hias yang berenang tenang. Namun, wajah Ji Zhen sama sekali tidak tenang. Ia pucat pasi, pelipisnya dibanjiri keringat dingin, dan napasnya tersengal seolah baru saja berlari mendaki gunung tanpa henti.
Sudah tiga hari ia terjebak di sini. Tiga hari yang membuatnya kehilangan jadwal turnamen dan peluang mendapatkan artefak incarannya.
Adapun di sampingnya, Yang Huiqing berada dalam kondisi yang lebih mengenaskan. Wajahnya sudah berubah warna menjadi ungu karena menahan napas terlalu lama. Di depannya, seekor katak hijau besar duduk diam di atas daun teratai, menatapnya dengan mata yang menonjol. Setiap kali katak itu bergerak sedikit atau melompat mendekat, Huiqing terlihat ingin menjerit sejadi-jadinya.
“Tahan… jangan sampai bersuara,” desis Ji Zhen dengan nada jengkel yang tertahan. “Apa kau ingin membuat kita terbunuh oleh pria itu?”
Huiqing hanya menggeleng cepat, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia menahan jeritan yang sudah sampai di ujung lidah. Ujian Han Kong sangat sederhana namun menyiksa: mereka harus berdiri diam di tepi kolam tanpa memicu riak air sedikit pun, sementara ribuan katak beracun di tempat itu bebas melompat ke tubuh mereka.
“Perjalanan hebatmu akan berakhir di sini tanpa sebab yang jelas, Bocah,” gerutu Zulong di dalam batin Ji Zhen. “Kau kehilangan pedang itu, kau kehilangan reputasi, dan sekarang kau malah bermain dengan katak di tengah hutan. Benar-benar naga yang memalukan.”
“Diamlah!” balas Ji Zhen, giginya terkatup rapat. “Kau pikir aku senang berada di sini? Pria ini bisa menghancurkanku hanya dengan satu tatapan. Aku harus mengikuti permainannya sampai ada celah!”
Tiba-tiba, seekor katak melompat tepat ke hidung Huiqing. Jeritan yang sedari tadi ditahan akhirnya lolos. “Aaaaaa!”
Huiqing terjatuh ke belakang, memicu riak besar di permukaan kolam yang tadinya tenang seperti cermin. Ji Zhen memejamkan mata, hatinya mencelos. Gagal lagi.
Han Kong, yang sedari tadi duduk bersila di dahan pohon besar sambil merapatkan capingnya, perlahan melompat turun. Gerakannya seringan kapas, mendarat di atas permukaan air tanpa membuat gelombang sedikit pun. Ia menatap Ji Zhen dengan mata yang jernih namun dingin.
Sementara Ji Zhen terengah, lalu bangkit sambil mengusap wajahnya yang kotor. “Ahh sudahlah! Aku sudah kehilangan turnamen. Aku sudah kehilangan segalanya demi ujian tidak jelas ini. Katakan padaku, apa tujuanmu sebenarnya memaksaku ikut dan mencoba merekrut kami sebagai murid?”
Han Kong menyipit, lalu menjawab singkat, “Tidak tahu.”
Segera saja Ji Zhen mengernyit, urat di lehernya menegang karena emosi yang memuncak. “Tidak tahu? Kau menyulik kami, membuat kami berdiri seperti patung selama tiga hari, dan kau bilang tidak tahu? Kau benar-benar gila!”
Ji Zhen pun segera berbalik, menyambar lengan Huiqing yang masih gemetar. “Ayo pergi, Huiqing. Kita tidak punya waktu untuk meladeni orang aneh ini. Masih ada cara lain untuk mendapatkan kekuatan tanpa harus menjadi pelayan di rumah pohon ini.”
Namun, saat Ji Zhen baru melangkah dua meter, sebuah suara ledakan keras mengejutkannya.
Sebuah batu besar setinggi manusia di depan Ji Zhen hancur berkeping-keping. Bukan karena pukulan, melainkan karena sebuah kerikil kecil yang baru saja melesat dari belakang, dikirim oleh sentilan jari Han Kong yang santai. Debu batu beterbangan di sekitar Ji Zhen, membuat wajahnya kembali pucat.
Han Kong memperbaiki posisi capingnya hingga menutupi sebagian wajahnya. “Apakah kau benar-benar ingin menjadi yang terkuat?” tanyanya datar. “Jika iya, aku bisa mengajarimu sedikit. Selama kau tidak lebih merepotkan daripada katak-katak di kolam ini.”
Ji Zhen hanya bisa mematung di tempat, menatap puing-puing batu yang hancur hanya karena satu sentilan kerikil. Itu bukan kekuatan kultivator biasa, itu adalah kendali energi tingkat tinggi yang bahkan belum pernah ia lihat di Sekte Qingyun. Meski adapun yang bisa melakukannya hanyalah Patriark Fei Wang.
Huiqing mencengkeram lengan baju Ji Zhen, matanya memohon untuk pergi, namun kakinya tidak berani melangkah, memaksa Ji Zhen menatap Han Kong, lalu menatap telapak tangannya sendiri. Rasa haus akan kekuatan bertarung dengan rasa takutnya. Ia tahu, mengikuti pria ini berarti memasuki neraka baru, tapi menolaknya berarti kehilangan kunci menuju puncak yang sesungguhnya.
“Ajari aku,” ucap Ji Zhen, suaranya ragu namun penuh ketetapan hati.
Han Kong tidak menjawab, ia hanya berbalik menuju rumah pohonnya, meninggalkan Ji Zhen dan Huiqing dalam ketegangan yang menyesakkan di bawah bayang-bayang hutan Nancheng.