NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Tiri

Obsesi Sang Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Enemy to Lovers / Saling selingkuh / Ibu Tiri / Konflik etika
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lalalati

Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.

Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.

Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'

Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Akhir Pekan Menyebalkan

Rasanya baru beberapa menit Theo terlelap di salah satu kamar yang terdapat di penthouse Julia di Singapura. Tidurnya terusik karena seseorang tengah melmat bibirnya. Kesadaran Theo pun terkumpul dan benar saja, Julia berada di atas tubuhnya, tengah asyik mencumbunya.

Theo sedikit mendorong kepala Julia agar menjauh. "Mah, tolong. Aku mau tidur."

"Sebentar aja, Sayang. Aku kangen." Julia kembali mencium Theo.

Posisi dan tempat mereka bercumbu kali ini, membuat Julia berada di luar kontrolnya. Gaun tidurnya yang pendek tersingkap saat ia duduk di atas perut Theo. Tali pundaknya melorot ke samping, nyaris menampakkan kedua pyudranya. Nafasnya semakin tak terkontrol.

Theo memutar otak. Ia ingin menghentikan aktivitas ini. Ia melihat Julia sudah semakin tak terkendali.

"Mah," jeda Theo dari lmtan bibir Julia. Ia memegang kedua pipi Julia, sehingga wajah Julia menjauh darinya. Meskipun demikian mereka masih berada pada jarak yang cukup dekat. "Aku mau nanya, kenapa di depan orang lain, kayak tadi pas ada Pak Sandy, Mama kembali jadi Mama yang aku kenal?"

Julia tersenyum gemas. Diusapnya wajah Theo. "Orang lain gak boleh tahu tentang kita. Di depan orang lain, kita hanyalah sebatas ibu dan anak. Sama seperti sebelumnya."

"Tapi kenapa?" tanya Theo penasaran dan juga ingin terus mengulur waktu.

"Karena semua orang udah berpikir kita seperti itu. Aku juga gak mau orang lain tahu kalau kamu hanya anak yang aku adopsi dulu. Semuanya akan kacau kalau itu terjadi." Julia mengecup bibir Theo di tengah-tengah perbincangan mereka. "Karena pada akhirnya, semua harta yang aku miliki, perusaahan, aset, akan aku wariskan pada kamu."

Theo tertegun mendengarnya. Ia tak pernah menyangka hal itu. Apa Julia serius memberikan semuanya yang dimilikinya kepada Theo suatu hari nanti?

Julia beralih ke sisi Theo dan berbaring menatap langit-langit. "Sejak mengadopsi kamu, aku melihat bagaimana kamu tumbuh menjadi anak yang aku harapkan. Aku gak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Dan aku menyayangi kamu sebagai anak, tapi aku juga mencintai kamu sebagai seorang pria. Jadi gak ada alasan lain untuk gak menjadikan kamu pewarisku. Dan orang lain gak akan mengusik kamu kalau mereka tahu kamu adalah anak kandung aku."

Sungguh perasaan Julia begitu rumit. Theo baru mengetahuinya. Julia bukan tak menyayanginya sebagai anak, tapi rasa cinta yang kerap datang tanpa permisi ternyata hinggap begitu saja di hati Julia, tanpa bisa Julia cegah.

"Apa Mama gak mau menikah lagi dengan pria lain? Siapa tahu Mama akan bisa melupakan cinta yang Mama rasain sama aku," bujuk Theo. Ia mencoba untuk mengubah pikiran Julia agar lebih realistis.

Julia tertawa mendengarnya. Ia memeluk tubuh Theo mencari rasa nyaman. "Gak ada pria lain yang bisa buat aku kayak gini selain kamu, Sayang. Teguran dalam kepalaku yang bilang kalau ini salah aja aku abaikan. Aku gak butuh pria lain. Aku hanya butuh kamu. Selamanya."

Ucapan Julia membuat Theo tak bisa berkata apa pun lagi. Setidaknya Julia tahu bahwa ini salah. Theo akan mencari kesempatan lain lagi untuk kembali menggoyahkan perasaan Julia terhadapnya.

Julia masuk ke dalam pelukan Theo, menjadikan lengan Theo bantalnya dan memeluk erat tubuhnya. "Peluk aku, Sayang. Aku ingin tidur dalam pelukanmu malam ini."

...***...

"Kenapa sih lo, Bi? Muka lo asem banget," komentar Kay.

Keempat cewek cantik itu tengah berada di area kolam renang rooftop di sebuah hotel. Keempatnya berbikini ria sambil berjemur di bawah sinar matahari sore. Rere pun ikut menatap ke arah Bian yang bukannya membaringkan tubuhnya pada kursi malas, tapi malah duduk dengan lemas. Sedangkan Dinda sedang menerima telepon di ujung area.

"Gue batal ngedate sama Theo. Dia diajakin Mamanya ke Singapura," dumel Bian.

"Ya ampun kirain apaan," ujar Kay seraya kembali membaringkan tubuhnya dan menggunakan kacamata hitamnya.

"Lo kok gitu sih, Kay? Gue bete banget tahu!"

"Hey, lo mesti pahamin cowok lo. Dia juga butuh kali quality time bareng nyokapnya yang sibuk itu. Lo tahu sendiri nyokapnya Theo jarang di rumah. Dia sibuk bulak-balik Jakarta-Singapura buat ngurusin bisnisnya."

Bian semakin cemberut karena ia pun setuju dengan yang Kayra katakan. Selama ini yang Bian tahu, Theo jarang bertemu ibunya. Theo sendiri pernah mengeluhkan itu. Ia sering kali ingin menghabiskan waktu dengan sang ibu yang super sibuk itu.

"Iya, Bi. Lo gak usah bete. Senin 'kan lo bakal ketemu Theo lagi," hibur Rere.

"Sejak kapan temen kita yang satu ini jadi bucin banget sama cowok yang dulu cuma dibilang atm berjalan," goda Dinda yang kini sudah kembali bergabung dengan ketiga sahabatnya.

Bian tersipu. "Abis ternyata Theo sebaik itu, seromantis itu, seganteng itu, setajir itu, se se se yang lain deh. Pokoknya lo gak akan ngerti gimana perfectnya cowok gue."

"Tajirnya harus banget disebutin?" komentar Kay.

"Harus dong. Itu nilai plus plus plus banget dari dia. Gara-gara dia gue jadi gak insecure jalan bareng kalian bertiga."

"Gitu banget sih lo, Bi. Apa adanya lo udah bikin kita ngerasa lo bagian dari kita kali," timpal Dinda.

"Mana ada. Cuma gue yang biasa-biasa aja. Nyokap gue cuma karyawan biasa. Bokap gue juga cuma ngelola kafe yang gak seberapa. Beda sama kalian. Bokapnya Kay punya hotel. Bokapnya Rere punya maskapai. Bokapnya Dinda punya mall," keluh Bian.

"Bi, tapi penghasilan dari modeling, yang paling gede itu lo di antara kita. Jadi lo lebih keren dari kita. Gak ada ah insecure kayak gitu," hibur Rere.

Bian tersenyum tenang, senang rasanya memiliki sahabat seperti mereka yang tak pernah melihatnya dari harta keluarganya.

"Tapi lo sekarang udah tajir juga kali, Bi. Bokap nyokap lo 'kan udah nikah sama konglomerat Mahameru Group," ujar Kay nimbrung.

Seketika senyum Bian memudar. "Gak usah ngingegin itu deh, Kay."

"Kenapa emangnya, Bi? Lo gak seneng sekarang tinggal di mansion mewah? Tadi aja lo dianter sama supir dan pakai MVP keluaran terbaru. Belum lagi lo punya kakak yang ganteng abis kayak Pak Saga. Lo beruntung banget, Bi." Kay begitu hebohnya mengungkapkan betapa beruntungnya Bian karena menjadi orang kaya mendadak.

"Beruntung apanya," sanggah Bian tidak setuju.

"Bener. Pak Saga 'kan baik banget dan humoris," tambah Dinda.

"Kalau gue jadi lo, gue gak akan sia-siain kesempatan. Apalagi sekarang cuma ada lo berdua 'kan sama Pak Saga? Bisa kali lo lakuin 'aktivitas panas' sama dia." Kay mulai dengan pemikiran 'dewasa'nya.

"Ya ampun, Kay. Mulai deh lo," komentar Rere.

"Tahu nih. Mereka 'kan udah jadi saudara, masa bikin aneh-aneh," komentar Rere juga.

Bian hanya bisa terdiam mendengar komentar-komentar itu. Mereka tidak tahu saja bahwa 'aktivitas panas' yang Kay katakan memang sudah dimulai dan semakin hari semakin panas. Bian malah berpikir, fiks, Kayra adalah Sagara versi wanita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!