Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: PENYELAMATAN & BERTEMU MAYA
#
Bayu dapat telepon jam sepuluh malam. Dari Wahyu.
"Budi ditangkep."
Tiga kata itu bikin jantung Bayu langsung berdegup keras.
"Kapan? Di mana?"
"Tadi sore. Kata orang yang lihat, ada mobil polisi. Tiga orang. Mereka setrum Budi terus bawa."
"Sial..."
Bayu menutup matanya. Otaknya berputar cepat.
Kalau Budi ditangkap... kalau dia disiksa... dia bakal ngomong. Bakal kasih nama-nama. Kasih lokasi arena. Kasih semua info.
Dan Valerie... akan tau semuanya.
"Gue harus selamatin dia," kata Bayu.
"Lu gila?!" teriak Wahyu dari telepon. "Dia di kantor polisi! Ada puluhan polisi di sana! Lu mau bunuh diri?!"
"Kalau gue nggak selamatin dia, kita semua mati."
Hening sebentar.
"Tekong udah tau?"
"Belum. Gue telepon lu dulu."
"Kumpulin yang lain. Satu jam lagi. Arena."
"Bayu..."
"Satu jam. Nggak ada tawar."
Telepon ditutup.
Bayu duduk di kasur. Napas dalam. Tangannya gemetar sedikit.
Ini gila. Ini bunuh diri.
Tapi... dia nggak punya pilihan.
***
Satu jam kemudian. Ruang belakang arena.
Lima orang berkumpul. Bayu. Tekong. Wahyu. Sari. Rizki.
Budi nggak ada. Ditahan di kantor polisi.
"Ini rencananya," kata Bayu sambil buka peta digital di laptop. "Kantor Polisi Wilayah Pusat. Tiga lantai. Tahanan ada di lantai bawah tanah."
Rizki menatap layar. "Keamanan?"
"Ketat. Ada dua puluh polisi jaga malam. CCTV di setiap sudut. Pintu besi elektronik. Alarm otomatis."
"Mustahil," gumam Sari.
"Nggak ada yang mustahil." Bayu menatap mereka satu per satu. "Kita masuk dari samping. Rizki matiin CCTV dan alarm. Wahyu dan Sari beresin penjaga. Tekong dan gue turun ke tahanan. Ambil Budi. Keluar cepat."
"Berapa lama?" tanya Tekong.
"Maksimal lima belas menit. Kalau lebih... polisi dari kantor lain bisa dateng."
Wahyu menggaruk kepala. "Lu tau ini gila, kan?"
"Gue tau."
"Tapi lu tetep mau lakuin?"
"Gue harus."
Wahyu menatapnya lama. Lalu tersenyum tipis. "Oke. Gue ikut. Budi mungkin brengsek, tapi dia tim kita."
Sari mengangguk. "Gue juga."
Rizki angkat tangan pelan. "Eh... gue... gue tetep dari van, kan?"
"Lu tetep dari van."
"Oke. Gue ikut."
Tekong menepuk bahu Bayu. "Lu gila. Tapi gue suka."
Bayu tersenyum tipis. "Ambil senjata. Kita berangkat."
***
Jam dua belas malam. Van hitam parkir di gang gelap. Dua ratus meter dari kantor polisi.
Rizki buka laptop. Jari-jarinya menari cepat di keyboard.
"Signal dapet. Gue lagi cari celah..."
Tiga menit kemudian. "Masuk. CCTV mati dalam tiga... dua... satu... mati."
"Alarm?"
"Tunggu..." Rizki ketik lagi. "Disable. Tapi kalau ada yang pencet tombol darurat manual, gue nggak bisa apa-apa."
"Kita nggak kasih mereka waktu." Bayu cek pistolnya. Peluru penuh. "Bergerak."
Mereka keluar van. Empat orang. Bayu. Tekong. Wahyu. Sari.
Bergerak senyap di kegelapan. Seperti bayangan.
Kantor polisi berdiri megah. Tiga lantai. Lampu terang. Bendera berkibar di depan.
Tapi malam ini... jadi target.
Wahyu dan Sari ke pintu samping. Pintunya dikunci. Wahyu keluarin alat pembuka kunci. Lima detik. Pintu terbuka.
Mereka masuk.
Lorong panjang. Sepi. Cuma lampu emergency yang nyala redup.
Lalu... suara. Suara sepatu boot. Dua polisi jaga ronde.
Wahyu kasih signal. Sari mengangguk.
Polisi lewat. Nggak sadar ada bahaya.
Wahyu loncat dari belakang. Cekik satu polisi. Leher patah.
Sari tusuk polisi satunya dari belakang. Pisau masuk ke ginjal. Tutup mulutnya. Tusuk lagi. Ke leher.
Dua mayat jatuh pelan.
"Aman," bisik Wahyu lewat radio.
Bayu dan Tekong masuk. Mereka bergerak ke tangga menuju basement.
Pintu basement dijaga dua polisi lagi. Bersenjata.
Bayu nggak kasih waktu. Pistolnya angkat.
DOR! DOR!
Dua tembakan. Dua kepala tembus peluru.
Alarm langsung berbunyi.
WIIING WIIING WIIING!
"SIAL!" teriak Bayu. "Cepet! Mereka tau kita di sini!"
Mereka lari turun tangga. Basement gelap. Bau lembap.
Ada deretan sel. Pintu besi. Kunci ganda.
"BUDI!" teriak Bayu.
"DI SINI!" suara Budi lemah dari salah satu sel.
Bayu lari ke sana. Lihat Budi lewat jeruji. Wajahnya babak belur. Darah di mana-mana. Tangan-kakinya terikat.
"Tahan! Gue keluarin lu!"
Bayu tembak kunci sel. DOR! DOR! Kunci hancur. Pintu terbuka.
Tekong masuk. Lepas ikatan Budi. "Lu masih bisa jalan?"
"Gue... gue coba..."
Budi bangkit dengan bantuan Tekong. Kakinya lemas.
"AYO! KELUAR!"
Mereka lari balik ke tangga.
Tapi di atas... udah ada polisi menunggu. Banyak. Mungkin sepuluh orang. Senjata teracung.
"JANGAN BERGERAK!"
Bayu berhenti. Menatap mereka.
Lalu... dia tersenyum dingin.
"Rizki. Matiin semua lampu. Sekarang."
"Siap!"
Lima detik kemudian... gelap total.
Semua lampu di kantor polisi mati.
"APA... APA INI?!"
"NYALAIN LAMPU! CEPET!"
Kekacauan.
Bayu aktifkan mode pembunuh.
**[MODE PEMBUNUH: AKTIF]**
Matanya menyesuaikan kegelapan. Lebih cepat dari mata normal.
Dia maju. Cepat.
Pistolnya menembak. DOR! DOR! DOR!
Tiga polisi jatuh.
"DI SANA! TEMBAK!"
Polisi-polisi nembak sembarangan. Peluru berterbangan. Kena dinding. Kena plafon.
Tapi nggak kena Bayu.
Dia bergerak seperti hantu. Cepat. Tak terprediksi.
DOR! DOR!
Dua polisi lagi jatuh.
Wahyu dan Sari join dari samping. Mereka juga tembak. Chaos total.
Lima menit kemudian... sepuluh polisi tumbang. Mati semua.
"KELUAR! SEKARANG!"
Mereka lari keluar kantor polisi. Masuk ke gang gelap.
Tapi... sirene polisi terdengar dari kejauhan. Banyak. Dari semua arah.
"Sial! Mereka panggil bantuan!" teriak Sari.
"Van masih jauh! Kita nggak akan sampe!" teriak Wahyu.
Mereka lari terus. Tapi sirene makin deket.
Lalu... bunyi mesin motor. Keras. Cepat.
Dari gang sebelah, motor besar meluncur. Warna hitam. Plat nomor ditutupi.
Pengendaranya pakai helm full face. Jaket kulit. Tubuh kecil. Wanita.
Motor berhenti tepat di depan Bayu.
Wanita itu buka helm sedikit. Wajahnya kelihatan. Muda. Cantik. Mata tajam.
"IKUT GUE!"
Suaranya keras. Tegas.
Bayu menatapnya bingung. "Siapa lu?!"
"Nggak ada waktu! Lu mau mati atau ikut?!"
Sirene makin deket. Lampu merah biru udah kelihatan.
Bayu nggak mikir lama. Dia naik motor. Peluk pinggang wanita itu dari belakang.
"Kalian ke van! Sekarang!" teriak Bayu ke timnya.
Motor meluncur cepat. Ngebut. Belok-belok di gang-gang sempit.
Polisi mencoba kejar. Tapi motor terlalu cepat.
Lima menit kemudian. Motor berhenti di area parkiran tua. Sepi. Gelap.
Bayu turun. Menatap wanita itu yang juga turun dan buka helmnya sepenuhnya.
Wajahnya... familiar. Tapi Bayu nggak inget dari mana.
"Siapa lu? Kenapa lu bantu gue?" tanya Bayu waspada. Tangannya di pistol.
Wanita itu tersenyum tipis. "Maya. Maya Kusuma. Hacker."
Bayu mengernyit. "Hacker? Lu... lu yang kemarin coba lacak gue waktu gue bobol server Samudera?"
Maya mengangguk. "Iya. Tapi gue nggak kerja buat mereka. Gue cuma... kebetulan lagi monitor sistem mereka."
"Kenapa?"
"Karena gue juga... punya dendam sama keluarga Samudera."
Bayu terdiam.
Maya menatapnya tajam. "Gue tau siapa lu sebenernya."
Jantung Bayu berdegup keras. "Apa maksud lu?"
"Kenzo yang baru." Maya melangkah maju. "Lu bukan Kenzo asli. Jiwa lu... berbeda. Mata lu... berbeda. Tapi lu pake tubuh dia."
Bayu mundur sedikit. "Lu... lu ngomong apa..."
"Gue nggak bodoh." Maya tersenyum pahit. "Gue kenal Kenzo. Dia... teman masa kecil gue. Satu-satunya teman yang dia punya."
Memori Kenzo tiba-tiba muncul. Seorang gadis kecil. Rambut panjang. Senyum manis. Main bareng di taman.
"Maya..."
Nama itu keluar dari mulut Bayu tanpa sadar.
Maya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kenzo... dia sering cerita ke gue. Dia bilang... suatu hari dia akan lawan balik. Akan buat keluarganya menyesal."
Air mata mengalir.
"Tapi dia... dia nggak kuat. Dia terlalu lemah. Terlalu takut."
Maya menatap Bayu.
"Tapi sekarang... ada yang berbeda. Ada yang... lebih kuat di dalam tubuhnya."
Bayu nggak tau harus jawab apa.
Maya tersenyum sedih. "Gue nggak peduli lu siapa. Gue nggak peduli lu dari mana. Yang gue peduli... lu lanjutin apa yang Kenzo nggak bisa lakuin."
Dia ulurin tangan.
"Gue mau bantu lu. Gue punya skill hacking. Gue punya koneksi. Dan gue... punya dendam yang sama."
Bayu menatap tangan itu.
Lalu... dia jabat.
"Kenapa lu mau bantu?"
Maya menatapnya dengan mata yang dalam.
"Karena Kenzo... dia satu-satunya orang yang pernah sayang ke gue. Waktu semua orang tinggalin gue... dia yang tetap ada."
Suaranya bergetar.
"Tapi gue... gue nggak bisa bantu dia waktu itu. Gue terlalu pengecut. Dan sekarang..."
Air mata makin deras.
"Dia udah mati. Dan gue nggak sempet bilang... gue sayang dia."
Bayu merasakan sesuatu di dadanya. Bukan dadanya. Dada Kenzo.
Memori mengalir. Kenzo dan Maya. Duduk di taman. Kenzo nangis. Maya peluk dia.
"Aku nggak punya siapa-siapa, Maya..."
"Kau punya aku, Kenzo. Selalu."
Tapi... mereka terpisah. Valerie larang Kenzo ketemu Maya lagi.
Dan mereka... nggak pernah ketemu lagi.
Sampai sekarang.
Bayu menatap Maya yang menangis.
Dan entah kenapa... dia peluk dia.
Maya tersentak. Lalu... dia peluk balik. Erat. Nangis di dada Bayu.
"Maaf... maaf gue nggak bisa bantu lu waktu itu..."
Bayu nggak tau harus bilang apa.
Tapi dia tau... Kenzo pasti senang.
Akhirnya... seseorang ingat dia.
Seseorang... sayang sama dia.