Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 **Ganis Nakal**
"Heh?!" Bryan dan Zeline tersentak kaget, mata mereka membulat sempurna mendengar umpatan kasar keluar dari bibir mungil putri mereka yang suci itu.
"Hahahah!" Tawa Elzion pecah seketika, ia terbahak-bahak hingga memegangi perutnya mendengar umpatan kasar yang keluar dengan nada paling menggemaskan dari bibir adiknya. Sementara itu, Alzian hanya bisa terkekeh kecil sembari menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kepolosan Ila.
"Terus apa lagi yang dia ajarkan?" tanya Zeline penasaran, sekaligus ingin menyelidiki lebih dalam apa saja yang dilakukan mendiang putri menteri itu kepada putrinya selama di sekolah.
Ila nampak berpikir sejenak, matanya bergerak ke atas seolah sedang memutar kembali rekaman kejadian bersama Bianka di koridor sekolah tadi. "Hm, Kak Bianka genggam dagu Ila kuat banget, soalnya Ila sebut dia bangsatt," adunya dengan wajah tanpa dosa.
Bryan menghela napas panjang. Sebagai orang tua, ia bisa membayangkan betapa murkanya Bianka saat itu karena dipanggil dengan sebutan kasar oleh anak kelas sepuluh. Namun ia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Ila; putrinya itu terlalu polos dan benar-benar tidak memahami makna di balik kata yang ia ucapkan. Bagi Ila, itu mungkin hanya sekadar kata "gaul" yang sering ia dengar dari Liam.
"Terus?" tanya Bryan lagi, ingin tahu kelanjutan 'permainan' itu.
"Karena Ila sakit digenggam dagunya, jadi Ila cubit kencang tangannya!" sahut Ila lagi dengan nada bangga, seolah sedang menceritakan kemenangannya dalam sebuah lomba.
Zeline dan Bryan saling berpandangan, lalu mengembuskan napas lega sekaligus prihatin. "Kamu nggak apa-apa kan, Sayang? Nggak ada yang sakit?" tanya Zeline memastikan. Ila pun mengangguk mantap.
"Tapi lain kali, nggak boleh bicara kasar atau mencubit orang sembarangan lagi ya," nasihat Zeline lembut, berusaha menanamkan sopan santun kembali pada putrinya.
"Loh, nggak bisa gitu dong, Bun! Ila berhak melawan orang yang mau bully dia..." protes Elzion tidak setuju. Ia merasa tindakan Ila mencubit Bianka adalah bentuk pertahanan diri yang sudah sangat tepat.
"Bully?" tanya Zeline dan Bryan bersamaan. Atensi mereka kini sepenuhnya beralih pada Elzion.
Elzion mengangguk serius, lalu ia mulai menceritakan detail kejadian di sekolah tadi—tentang bagaimana Bianka yang merupakan ratu perundungan di DHS mencoba mengintimidasi Ila. Mendengar cerita tersebut, perasaan Zeline seketika diselimuti rasa bersalah karena sempat menegur putrinya tadi. Ternyata, si kecil Ila sedang mempertahankan diri dari gangguan orang jahat.
"Kamu benar-benar nggak ada yang luka kan, Sayang?" tanya Zeline sekali lagi, suaranya kini terdengar lebih khawatir. Ia menarik tangan Ila dan memeriksanya dengan teliti.
Ila memiringkan kepalanya dengan gerakan yang sangat lucu. "Luka kenapa, Bunda?" tanyanya balik, benar-benar tidak mengerti arti dari kekhawatiran orang tuanya.
"Maksud Bunda, kamu nggak diapain-apain kan sama Kak Bianka itu? Nggak dipukul atau ditendang?" cecar Zeline yang masih merasa was-was.
Ila menggeleng kecil, wajahnya kembali ceria. "Nggak, dia cuma pegang dagu sama tangan Ila aja kok. Terus dia pergi karena kesal Ila cubit," sahutnya enteng.
"Hm, kalau ada bagian tubuh yang terasa sakit atau ada yang jahat lagi, langsung bilang Bunda atau Abang ya," pinta Zeline sembari mengecup kening putrinya. Ila pun mengangguk lucu, lalu kembali asyik melihat tayangan TV, tidak menyadari bahwa orang yang ia bicarakan baru saja dikirim ke liang lahat oleh "calon pelindungnya".
Bryan tidak berbicara lagi, tatapannya lekat memperhatikan setiap gerak-gerik putri bungsunya. Pikirannya kini berkelana, sama persis dengan apa yang mengusik benak Alzian dan Elzion saat di sekolah tadi. Ia membatin bahwa putrinya benar-benar berbeda; ada perubahan besar yang menyelimuti kepribadian Ila saat ini, pikir Bryan dengan sejuta tanya yang belum terjawab.
"Dek, mau ke kamar sekarang? Abang mau ke atas nih," tawar Elzion memecah keheningan.
Ila menoleh, lalu mengangguk antusias. Ia segera merentangkan kedua tangan mungilnya ke arah Elzion, sebuah kode khas minta digendong. Elzion terkekeh dan baru saja hendak berdiri untuk menyambut adiknya, namun tiba-tiba saja Alzian menyenggol bahu kembarannya itu dengan sengaja. Elzion terhuyung kembali terduduk, sementara Alzian dengan gerakan sigap lebih dulu menyambar dan menggendong Ila ke dalam pelukannya.
"Ck, dasar tukang cari kesempatan!" decak Elzion kesal melihat tingkah kembarannya. Namun, ia tak bisa marah saat melihat Ila sudah nyaman di gendongan Alzian sembari melambaikan tangan berpamitan kepada Ayah dan Bunda mereka.
Bryan dan Zeline hanya bisa terkekeh melihat tingkah kedua putra kembar mereka. Dalam hati, mereka merasa sangat bersyukur melihat betapa Alzian dan Elzion begitu menyayangi adiknya. Dulu, mereka memang sayang, tapi karena sosok Aqila yang lama cenderung pendiam dan tertutup, si kembar pun lebih sering menjaga jarak dan tidak menunjukkan kasih sayang secara terang-terangan seperti yang mereka lakukan pada Ila sekarang.
...****************...
Sesampainya di lantai atas, Alzian membawa Ila masuk ke dalam kamarnya yang bernuansa nyaman.
"Tidur sekarang, hm?" tanya Alzian lembut sembari mendudukkan Ila di tepi tempat tidur yang empuk.
Ila menggeleng lucu, rambutnya yang mulai berantakan bergoyang lembut. "Ila mau main HP dulu sebentar, boleh?" tanya Ila dengan tatapan memohon yang sulit ditolak.
Alzian tersenyum tipis, tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala adiknya. "Boleh. Tapi ingat, jangan telepon Ayah atau Bunda lagi ya... kan mereka ada di bawah. Dan jangan lama-lama main HP-nya, nanti matanya sakit," pesan Alzian mengingatkan.
"Oke, Abang!" sahut Ila riang dengan senyum manis yang menampakkan deretan giginya.
Cup!
"Abang ke kamar Abang dulu ya." Alzian mendaratkan satu kecupan sayang di pipi chubby Ila sebelum berbalik menuju pintu.
"Oke, papayyy Abang Al..." ujar Ila sembari melambaikan tangan.
Setelah pintu tertutup rapat dan menyisakan Ila sendirian di kamarnya, ia segera meraih ponsel pintar barunya dengan antusias. Dengan jemari kecilnya yang masih kaku mengoperasikan layar sentuh, ia mulai mencari kontak untuk mengirimi Luna dan Galenio pesan singkat, sekadar ingin memamerkan bahwa ia sudah bisa menggunakan fitur chatting.
Ila menatap layar ponselnya dengan serius, jemari kecilnya lincah mengetik pesan untuk sahabat dan abangnya.
( Luna tau gak, kak Bianka mati lohh ) — isi pesan Ila ke Luna.
Tak puas hanya mengirim pesan ke satu orang, ia membuka kontak lain dan mengetik pesan singkat yang sangat acak untuk Galenio.
( Abang Ila mau tidur ) — lapornya secara tiba-tiba lewat pesan teks.
Ila menunggu beberapa saat dengan wajah penuh harap, namun layar ponselnya tetap statis. "Ihh, kok gak dibalas?" gumamnya sembari mencebikkan bibir. Ia merasa cemberut karena merasa diabaikan, padahal ia tidak paham bahwa pesannya baru menunjukkan tanda centang satu, yang berarti ponsel penerima mungkin sedang tidak aktif atau tidak ada sinyal. Mana paham si kecil Ila dengan urusan teknis seperti itu.
Karena kesal tidak ada balasan, Ila meletakkan ponselnya dengan sedikit kasar ke atas nakas. Ia menarik selimut dan merebahkan tubuhnya, berniat untuk segera menjemput mimpi.
Drrttt...
Drrttt...
Drrttt...
Baru saja Ila hendak memejamkan matanya, getaran dan nada dering nyaring dari ponselnya memecah keheningan kamar. Dengan gerakan secepat kilat, ia kembali menyambar ponsel itu dengan wajah sumringah.
"Woahh, HP Ila bunyi!" serunya takjub. Ia malah asyik mengagumi fitur nada dering dan getaran ponsel barunya daripada melihat siapa yang sedang mencarinya. Setelah puas mengagumi suara itu, barulah ia melirik layar dan matanya langsung berbinar.
"Bang Lankaaa!" seru Ila riang begitu tombol hijau digeser dan wajah tampan itu muncul dalam panggilan video.
Lanka di seberang sana terkekeh pelan melihat wajah ceria gadis kecilnya yang memenuhi layar. "Belum tidur, hm?" tanya Lanka lembut, menatap lekat wajah Ila melalui layar ponselnya.
"Ila tadi udah mau tidur, terus dengar HP Ila bunyi, jadi Ila gak jadi tidur deh," sahutnya polos dengan mata yang masih segar.
"Mau tidur sekarang?" tanya Lanka lagi, memastikan kondisi gadisnya.
"No, Ila mau lihat Bang Lanka!"
Lanka tersenyum, hatinya terasa menghangat. "Kenapa? Pengin lihat wajah Abang?" godanya.
"Bang Lanka ganteng, hihi," celoteh Ila jujur sambil tertawa kecil.
Seketika wajah Lanka memerah tipis karena tersipu mendengar pujian spontan itu. Ia melihat Ila di layar ponselnya sedang cekikikan, kebiasaan lucu gadis itu jika sedang membicarakan hal-hal yang menurutnya mengesankan seperti kata "cantik" atau "ganteng".
"Gadis nakal," ucap Lanka mencoba menutupi rasa salah tingkahnya.
Mendengar itu, Ila langsung melototkan matanya, berpura-pura marah. "No! Ila gak nakal!" sahutnya dengan nada yang sok garang, meski jatuhnya tetap terlihat menggemaskan.
"Kamu nakal," goda Lanka lagi, benar-benar ingin melihat reaksi Ila yang lebih jauh.
Ila semakin mengerucutkan bibirnya. "Ila ngambek sama Bang Lanka!" ucapnya kesal.
Tut!
Tanpa aba-aba, Ila langsung mematikan panggilan video tersebut secara sepihak. Lanka yang ditinggalkan dengan layar hitam hanya bisa terkekeh geli membayangkan wajah cemberut gadisnya di kamar sana.
"So cute, little girl," gumam Lanka dengan senyum lebar yang masih terpatri di wajahnya.
......................