NovelToon NovelToon
Little Fairy Tale

Little Fairy Tale

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Karir / PSK
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Baginda Bram

Luka.

Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.

Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.

Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.

Luka adalah bukti.

Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.

Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.

Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.

*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan konyol

Renata melangkah melalui lorong belakang kelas setelah menyimpan beberapa barang dalam tasnya. Langkahnya beritme cepat, matanya awas—beberapa kali menoleh ke belakang untuk memastikan tak ada siapapun.

Ketika orang-orang sedang menikmati jalannya acara, ia justru menghampiri gerbang belakang.

Ia sengaja memilih gerbang itu, bukan hanya karena waktu pulang belum tiba, tapi juga karena ingin menghindari masalah.

Matanya belum kendur mengawasi sekitar. Setelah tak didapatinya seorang pun, barulah ia membuka sedikit pagar yang tak tergembok itu tanpa ragu: keluar dengan langkah yang terburu-buru.

Ia baru bisa menghela napas panjang saat sekolahnya sudah jauh di belakang. Langkahnya baru bisa memelan.

Pandangannya tersita pada cahaya jingga yang menyilaukan matanya sesaat. Mentari senja yang seakan menyapanya itu membuatnya mengangkat tangan untuk meneduhkan matanya.

Saat melihat ke arah depannya, ia menangkap sebuah kios bahan makanan. Barulah ia ingat kalau stok bahan makanan di rumahnya mulai menipis. Sekalian saja ia mampir, pikirnya.

Di kios itu, ia memesan beberapa barang. Saat menunggu pesanannya diambilkan, ia melihat beberapa bahan mentah—yang tidak ada dalam daftarnya— yang menarik perhatiannya.

Selagi ada di sana, sekalian ia membeli bahan-bahan itu. Membuat gemuk barang bawaannya. Sampai di rumah, nyeri pada kedua pergelangan tangan mungilnya tak dapat terhindarkan.

Setelah meletakkan barang-barang itu di dapur, ia pun segera masuk ke kamarnya. Ia tak lagi terkejut dengan kehadiran dua anak kecil di kamar yang sedang melompat-lompat di atas tempat tidurnya.

"Adek, jangan lompat-lompat! Nanti jatuh loh!" larangnya dengan lembut.

Mereka segera berhenti sembari meringis. Sejurus kemudian langsung berlari ke arah kakaknya. Merangkulnya bergantian.

Bukan kali pertama, kamarnya dijajah oleh kedua adiknya. Ia tak bisa marah saat menatap wajah mereka meski keadaannya seperti sehabis diterpa badai.

Justru ia tersenyum melihat kedua adiknya itu ceria.

Setelah membujuk mereka untuk bermain di tempat lain, ia segera merapikan kamarnya. Termasuk merapikan isi dalam tasnya.

Ia menyusun buku dalam rak. Menaruh pakaian yang dipakai untuk tampil tadi ke keranjang pakaian kotor.

Ia juga mengeluarkan sebuah benda yang terlipat rapi. Lalu membuka lipatannya. Mengembalikannya ke bentuk aslinya menjadi sebuah topi.

Ia taruh topi putih itu di bagian rak paling atas bersama beberapa topi lainnya.

Ternyata ada juga waktu di mana ia mengenakan topi eksentrik itu yang selama ini hanya menjadi pajangan dalam kamarnya—tak pernah terpikir sebelumnya kalau harinya akan tiba.

Topi-topi berbentuk aneh itu adalah koleksi pribadi milik mendiang sang ibu. Karena itu, ia tidak sanggup membuangnya meski ia sendiri tidak ingin memakainya.

Setelah kamarnya kembali seperti semula, kini giliran mengembalikan kesegaran tubuhnya yang sudah kelelahan itu.

Itulah resiko yang harus ia pikul setelah dua kali naik panggung. Meski satunya hanya sebagai pemeran sampingan, namun yang satunya lagi adalah hasil dari keputusannya setelah pikir panjang.

Ia yang paling paham akan resikonya, tetap melakukan hal itu.

Saat Renata mengingat kembali, ia merasa konyol. Tapi, ia juga tidak bisa membiarkan orang seperti Bagas dipermalukan di hadapan orang banyak.

Bagas adalah orang yang ia yakini sudah melewati banyak hal yang tidak seharusnya dirundung.

Sebagai orang yang bisa memahaminya, ia merasa tak bisa mengabaikan hal ini. Karena itu, kesimpulan untuk membantunya dengan naik ke atas panggung adalah satu-satunya hal yang terlintas dalam benaknya.

Namun, ide memakai topi adalah ide dadakan. Meski ia merasa ragu terhadap kehadiran fobianya, memakai topi adalah cara yang baik agar ia tidak langsung melihatnya.

Dandanan ketika menjadi Rena dan topi itu memanglah kombinasi sempurna untuk menyembunyikan identitas aslinya.

Renata berharap di antara kesusahan yang terjadi pada lelaki itu, ia berharap bisa menguranginya meski hanya sebagian kecil saja.

Meski rasa yang ada bercampur aduk, pada akhirnya ia merasa lega. Keputusan konyolnya tidak malah memperburuk keadaan.

...----------------...

Renata bangun pagi-pagi setelah tidur panjangnya semalam. Sudah lama ia tidak tidur delapan jam penuh.

Meski ada kepuasan, ia juga merasa ada yang hilang dari dirinya. Delapan jam adalah waktu yang terlalu lama untuknya.

Belum lagi tak ada panggilan sama sekali kemarin. Membuatnya mendapat libur secara tidak langsung.

Sisi baiknya, tubuhnya mendapat jatah untuk dimanjakan. Namun tidak dengan dompetnya. Jangankan diberi asupan, bahkan isinya baru saja dikeluarkan.

Ya sudahlah. Nikmati saja hari ini.

Ia baru ingat kalau ada hal yang ingin sekali ia lakukan. Kebetulan, hari ini weekend, panggilan pun baru ada sore nanti.

Bahan mentah yang baru ia beli pun kebetulan sudah siap ia gunakan.

Setelah dapur selesai dipakai oleh tante Lala untuk menyiapkan sarapan, Renata barulah bisa mengambil alih.

Sebelum memulai, ia mencari dulu referensi untuk hal yang ingin ia lakukan.

Tutorial membuat donat rumahan.

Ketiknya dalam kolom pencarian. Beberapa video muncul. Ia pun mengabiskan hampir setengah jam menatapi ponselnya tanpa henti.

Saat ia merasa cukup dan tahu apa yang harus ia lakukan, ia baru bisa mengambil bahan-bahan yang diperlukan.

Ia mencampur beberapa bahan. Mengaduknya hingga menjadi adonan. Ia bentuk adonan itu layaknya donat pada umumnya.

Setelah didiamkan selama setengah jam, barulah ia menyiapkan minyak panas. Ia baru menggorengnya ketika merasa waktunya tepat.

Ia merasa janggal saat meniriskannya. Hanya dengan melihatnya, ia bisa tahu kalau teksturnya memadat. Kecurigaannya terbukti ketika mencicipinya.

Sensasi aneh justru memenuhi mulutnya. Ia yakin donat itu adalah donat bertekstur renyah pertama yang ia makan dalam hidupnya.

Tidak ada kata yang layak disematkan kecuali gagal.

Ia pun menyimpan percobaannya itu lalu mengambil kembali bahan-bahan untuk membuat adonan kedua. Diulanginya proses yang sama dengan sedikit penyesuaian.

Renata merasa letak kesalahannya terdapat pada suhu api yang terlalu tinggi. Karena itu, kali ini ia mengecilkannya.

Setelah matang, barulah ia mencobanya lagi.

Tak ada yang janggal dari bentuknya. Saat gigitan pertama barulah terasa kalau bagian dalamnya melumer karena belum matang.

Percobaan keduanya pun masih sama persis dengan yang pertama dan sesuai ekspektasinya.

Ia memang tidak berharap langsung berhasil. Tapi, ia juga merasa kalau membuat donat tidaklah sulit. Ia mencoba memikirkan ulang. Mencari di mana letak kesalahannya.

Namun, ketika ia ingin membuat untuk yang ketiga kalinya, bahannya tidak cukup. Terpaksa ia menundanya ke lain waktu.

Kini ia kebingungan dengan hasil percobaannya. Tidak mungkin ia biarkan masuk ke dalam perut adik-adiknya.

Kalau pun diberikan, pasti mereka ogah memakannya. Ia sendiri baru dua buah saja sudah enek, apalagi adik-adiknya?

Terpaksa buatan tangannya harus berakhir di dalam kotak sampah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!