Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Harga Sebuah Prinsip
Reza memarkirkan mobilnya di garasi. Tak lama kemudian ia masuk ke dalam rumah.
Langkahnya melambat saat melihat Ayza dan Fahri duduk berhadapan. Tubuh Ayza sebagian terhalang punggung Fahri, tapi dari sudut pandangnya, posisi mereka terlihat intim. Dan entah mengapa, Reza tak menyukainya.
“Sedang apa kalian?” tanyanya.
Ayza mengangkat wajah. Fahri sama sekali tak menoleh. Wajahnya datar, bahkan dingin, begitu mendengar suara Reza.
“Apa yang kalian lakukan?” Reza melangkah mendekat. “Kalian hanya mahram sementara. Tak seharusnya berduaan, apalagi malam-malam begini.”
“Aku sedang mengobati tangan Fahri,” jawab Ayza tenang, sambil menyelesaikan balutan di luka itu.
Reza menatap tangan adiknya. Ada sedikit lega menyusup, dan ia membencinya.
“Ngapain aja kamu sampai terluka?” tanyanya datar.
“Bukan urusan lo,” sahut Fahri ketus.
Tatapan Reza mengeras. “Semakin lama kamu semakin ngelunjak, Fahri.”
“Ngelunjak kayak mana maksud lo?” potong Fahri dingin, akhirnya berdiri. “Karena gue gak hormat sama lo?"
Fahri tertawa pendek. Sinis. "Apa lo pantas gue hormati?"
Reza mengepalkan tangannya. "Aku kakak--"
"Orang yang tahu agama," potong Fahri. "tapi kenapa justru lo yang melanggar batas?”
Ayza menatap Fahri da Reza bergantian. Kata "melanggar batas" membuat keningnya berkerut.
Rahang Reza mengeras. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan suara rendah, menekan.
Tapi entah mengapa ia menyesali pertanyaannya barusan, setelah mengingat kata "batas" yang diucapkan Fahri. Ada firasat tak enak karena kata itu.
Fahri menatap kakaknya lurus. "Jangan pura-pura bodoh. Lo tahu pasti apa yang lo lakuin di tepi pantai tadi."
DEG!
Jantung Reza terasa di pukul. Di tepi pantai? Tadi?
"Apa Fahri lihat aku sama Zahra..." batinnya bahkan tak berani melanjutkan dugaan itu. Sepersekian detik wajahnya nampak pias, tapi dengan cepat ia kembali memasang wajah datar.
“Lo udah jauh ngelanggar batas, tapi lo menceramahi gue kayak lo orang paling tahu batas."
Kata-kata itu menohok, membuat dada Reza terasa seperti dihantam palu godam.
Tapi Fahri belum selesai.
"Kalau lo gak mau gue berduaan sama bini lo, pulang setelah kerja. Jangan kelayapan sama perempuan lain. Jangan lewati batas yang lo sendiri hafal dalilnya.”
Napas Fahri berat.
“Atau sekalian cari ART. Biar kami gak berduaan setiap kali lo lupa pulang, lupa punya istri, dan lupa posisi lo sebagai suami… dan hamba Allah.”
Fahri berbalik.
“Dan satu lagi. Jangan jadiin bini lo pembantu. Jangan menafsirkan kedekatan kami dengan pikiran kotor. Gak semua orang kayak lo.”
Ia melangkah menuju kamarnya. Tak lama pintu kamar dibanting keras.
Reza masih terdiam di tempatnya. Ia menatap Ayza sekilas, lalu berbalik menuju kamarnya. Ia tahu, kalau ia tinggal lebih lama, mereka akan terlibat pembicaraan. Lalu pembicaraan akan berakhir dengan debat. Dan ia tahu, setiap berdebat ia selalu kalah.
Ayza menatap dua pintu tempat kakak beradik itu menghilang. Dadanya terasa tak enak.
Tentang kedekatan dengan perempuan lain. Terutama tentang kata-kata Fahri, tentang batas.
"Dengan perempuan lain? Apa itu Zahra?" batinnya penuh tanya. "Dan batas… batas apa yang sampai Fahri berani menegur seperti itu?"
Ayza menghela napas. Ia tak berani menebak, karena satu kata itu terasa terlalu dalam… dan terlalu berbahaya untuk ia sentuh.
Reza menyandarkan punggung ke dinding kamar. Rahangnya mengeras.
"Fahri membenciku." Reza tahu itu. Terlihat jelas dari tatapan dingin, dari nada bicara yang tak lagi berusaha sopan.
Kelayapan dengan wanita lain. Menjadikan Ayza pembantu. Dan kata itu, "batas" terngiang seperti tuduhan.
Ia mendengus kasar.
"Pulang ke rumah hanya membuatku lelah. Bicara dengan Ayza selalu berakhir sama, aku yang kalah. Aku yang terlihat salah."
Ia bisa saja mempekerjakan pembantu. Tapi ia tidak mau.
"Aku gak mau dia terlalu santai, terlalu bebas."
Dan terlalu bebas berarti… Ayza bisa melakukan hal-hal yang tak lagi bisa ia kendalikan.
***
Keesokan harinya, mereka sarapan dalam diam. Lagi.
Tapi kali ini, keheningan itu lebih dingin. Lebih tajam. Seolah ada jarak tak terlihat yang sengaja diciptakan di antara mereka.
Ayza hanya menatap kakak beradik itu sekilas, tanpa mengatakan apa pun.
Setelahnya, mereka pergi tanpa banyak kata. Reza berangkat ke kantor. Fahri keluar rumah dengan langkah cepat.
Ayza tinggal sendiri. Ia menatap meja makan, lalu sekeliling rumah. Hanya ada perabotan, suara deru AC dan detik jam yang terdengar terlalu keras dari seharusnya.
"Rumah ini kembali sunyi, namun bukan sunyi yang menenangkan," gumamnya lirih.
Ia menghela napas panjang, lalu menatap meja makan yang masih hangat oleh bekas kebersamaan yang tak pernah benar-benar ada.
“Ini nggak bagus,” gumamnya lirih.
Bukannya membaik, tapi merasakan keadaan yang semakin menegang.
***
Bengkel itu dipenuhi aroma oli dan suara besi dipukul pelan. Fahri duduk di bangku kayu, bersandar, menatap motor yang sedang dibongkar setengah badan. Bagus dan Fikri berdiri tak jauh darinya.
“Ri,” kata Bagus akhirnya, suaranya lebih hati-hati, “yang kemarin nyamperin kita di kafe itu siapa, sih?”
Fahri menjawab tanpa menoleh, “Model.”
Fikri mengangguk kecil. “Pantes. Cara jalannya, pakaiannya… kelihatan beda.”
Bagus menyilangkan tangan. “Tapi kok kayaknya lo nggak suka sama dia?”
Fikri menimpali, setengah bercanda, setengah serius, “Padahal kemarin dia nawarin jalan ke masa depan. Balapan legal, Ri.”
Fahri akhirnya menoleh. Tatapannya datar. “Kalau kalian mau,” katanya pelan, “gue nggak bakal ngelarang.”
Bagus mengernyit. “Maksud lo?”
“Masalah gue sama dia, itu urusan gue,” lanjut Fahri. “Nggak ada sangkut pautnya sama lo berdua.”
Fikri terdiam. “Jadi… lo nggak tertarik?”
Fahri tersenyum tipis, tapi bukan senyum senang. “Gue tertarik.”
Bagus dan Fikri refleks menoleh bersamaan.
“Tapi gue gak mau kalau jalurnya lewat dia,” sambung Fahri.
Bagus menghela napas pelan. “Jelas dia datang ke kita karena lo. Bukan karena kita.”
Bagus menatap Fikri, lalu kembali ke Fahri. “Kalau lo nggak mau, masa iya kita mau.”
Fahri menggeleng. “Jangan salah paham. Gue nggak mau karena alasan gue. Kalian kehilangan peluang.”
Ia berdiri, mendekat ke motor, menyentuh setangnya pelan.
“Balapan legal itu mimpi,” lanjutnya. “Tapi mimpi juga punya harga. Dan gue nggak mau bayarnya pakai hal yang bikin gue kehilangan respek sama diri gue sendiri.”
Fikri mengangguk pelan. “Jadi lo mau nyari jalur lain?”
Fahri menatap mereka berdua. Untuk pertama kalinya, sorot matanya tegas tapi tenang.
“Gue mau sampai ke sana dengan cara yang bersih,” katanya. “Kalau memang rezeki, pasti ada jalan lain.”
Bagus tersenyum kecil. “Lo ribet, Ri.”
Fahri mengangkat bahu. “Mungkin.”
Lalu ia menatap mereka bergantian. “Tapi gue nggak mau jadi orang yang sukses, tapi ngerasa kotor tiap ngaca.”
Bengkel itu kembali sunyi, hanya diisi suara mesin yang mendingin.
***
Sementara itu di sebuah kafe, Zahra duduk berhadapan dengan seorang pria.
"Kamu yakin anak itu berbakat?" tanya pria itu.
Zahra tersenyum tipis. “Bukan cuma berbakat. Dia tipe yang langka.”
...🔸🔸🔸...
...“Yang paling berbahaya bukan orang yang tak tahu batas, tapi orang yang tahu… lalu sengaja melanggarnya.”...
..."Ia tak membenci. Ia hanya kehilangan rasa hormat. Dan itu tak bisa diminta kembali.”...
...“Mimpi punya harga. Dan ia tak mau membayarnya dengan kehilangan dirinya sendiri.”...
...“Rumah bisa sunyi, bukan karena kosong, tapi karena tak ada kejujuran di dalamnya.”...
...“Kontrol bukan cinta. Dan agama bukan tameng untuk melanggar batas.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍