NovelToon NovelToon
Santa, The Reedemed Killer

Santa, The Reedemed Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Horror Thriller-Horror / TKP / Psikopat / Pembunuhan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.

"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"

"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."

"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."

Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?

note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Mati Untuk Semua—Pesan Kematian Seorang Gadis

NOTE: Bab ini penuh adegan kasar, yang nggak kuat silahkan lompat. Yang kuat, silahkan dihayati, dinikmati, dibayangkan, tapi nggak boleh dicontoh ya😁.( Adegan hanya dilakukan oleh profesional🥴)

..........

Rey duduk di depan meja, di ruangan mewah itu. Kemudian mengatur cahaya lampu sedemikian rupa, sehingga hanya menerangi sosok wanita lemah yang terbaring terikat di atas meja. “Kalian buka mata lebar-lebar, dan saksikan bagaimana aku menghias kemudian membungkus kado natal ini!” serunya disertai senyum licik yang menakutkan.

Rey memegang sebuah pisau yang telah selesai ia asah. Matanya yang dingin memandang ke dalam bilik-bilik, memastikan para gadis itu duduk menatap ke arahnya, kemudian beralih menatap gadis yang tubuhnya menggigil ketakutan di atas meja.

Pria berparas tampan namun menekankan garis wajah yang keras, mulai bekerja. Tangan yang terampil memainkan ujung pisau, untuk membuat empat goresan vertikal di sepanjang punggung wanita itu, tanpa emosi, tanpa keraguan. Hanya seperti sebuah pekerjaan yang harus diselesaikan.

Rintihan kesakitan dari gadis yang lemah itu, bagaikan alunan lagu yang merdu di telinganya, seolah justru semakin memacu adrenalinnya.

Rey mengambil sebuah botol minuman beralkohol, kemudian menyiramkan sebagian di punggung wanita itu, disertai dengan tawa penuh kepuasan. “Bagus, aku suka caramu menggeliat!” serunya dengan tatapan keji.

Rey membalik tubuh gadis itu, kemudian membuka paksa mulutnya. Dengan kasar ia menjejalkan mulut botol itu ke dalam mulut gadis yang tak memiliki daya untuk melawan. Satu tangannya memegangi botol itu serta menggoyangkannya pelan, dan tangan kirinya meraih satu lagi botol yang telah ia siapkan juga.

“Mari bersulang!” ucapnya kemudian ia pun menenggak botol di tangan kiri.

Wanita itu gelagapan, matanya terbelalak, ia tersedak oleh minuman yang dialirkan dengan paksa ke dalam tenggorokannya. Tubuhnya menggelepar sebagai reaksi. Namun lagi-lagi pria itu justru menikmati seolah itu lebih seksi dari tarian erotis gadis-gadis tanpa busana di sebuah klub penjaja.

“Baiklah, kita lanjutkan dengan detail hiasan selanjutnya.”

Rey kembali meraih pisau tajamnya. Tangan kirinya memegangi kasar tungkai kanan gadis itu, sedangkan tangan kanannya mulai membuat sayatan-sayangan yang dalam sepanjang daging tungkai itu, membaginya menjadi delapan lapis dengan ketebalan dan panjang yang sangat presisi. Ia tampak fokus dan menikmati, seolah tak merasa jijik dengan darah segar yang mengucur deras dari sana, mengalir membanjiri mejanya, bahkan sebagian terciprat ke lengan pakaian dan wajahnya.

Gadis itu menggeliat, meronta, namun Rey semakin keras mencekal tungkainya, menjepitnya dengan menekankan lengannya yang berotot, membuat gadis itu hanya mampu menggerakkan tubuh bagian atasnya saja.

“Ku ambil empat lapis. Terimakasih, berkatmu anjing-anjing peliharaanku mendapatkan daging bakar yang lembut dan sedikit kenyal, hahaha!”

Pria itu terlihat begitu bahagia, sorot matanya terlihat hidup dan penuh kepuasan. Seolah melebihi puasnya pria-pria setelah melampiaskan birahinya pada gadis penjaja.

Bahkan ia menari dengan gerakan lembut, saat mendengar rintihan dan tangis pilu para gadis yang ketakutan.

Setelah merasa cukup, Rey berjalan menuju ke bilik yang ada gadis lainnya, membuka pintunya dengan kasar. “Teriakanmu paling kencang, keluarlah!” serunya seraya menarik kasar lengan tangan gadis itu dan memaksanya berdiri di dekat wajah gadis yang kesakitan di atas meja.

“A-ampun….” pintanya mengiba.

Namun Rey justru memakaikan sarung tangan lateks pada telapak tangan gadis itu, kemudian memaksanya menempatkan kedua tangannya di leher gadis yang terbaring di atas meja.

“Kau pernah melakukannya untukku, lakukan sekali lagi, atau… kau akan bernasib sama dengannya!” serunya penuh tekanan.

Gadis yang berdiri itu tak punya pilihan. Rasa takut, ingin diselamatkan, dan trauma membuatnya kehilangan akal sehat. Dengan gemetar, ia pun memberanikan diri untuk menekan leher gadis di depannya yang hampir sekarat itu.

“Hentikan! Jangan mau diperdaya olehnya!” sentak Khalila memberanikan diri, meski ia sendiri pun tak bisa berbuat apapun.

Rey menoleh cepat ke arah Khalila, kemudian menghampirinya dan membuka pintu biliknya dengan penuh amarah. “Keluar!” bentak Rey kemudian menyerat keluar tubuh Khalila.

Khalila meronta, berusaha melawan, namun kekuatannya tak sebanding dengan tubuh berotot pria itu.

Rey mendorong kasar gadis yang sebelumnya berdiri hingga membuatnya terhuyung kehilangan keseimbangan, kemudian kakinya terantuk sudut meja dan membuatnya terjengkang serta terguling-guling di lantai yang dingin, hingga berakhir di sudut ruangan, menabrak kaca pembatas dengan ruangan sebelah tempat Rey mengurung anjing-anjing ganasnya.

Gadis yang terguling itu pun semakin menggigil ketakutan, saat dari tempatnya terbaring, ia melihat jelas bagaimana anjing-anjing itu menyalak dengan liur yang menetes dan taring tajam serta sorot mata kelaparan seolah siap menerkamnya setiap saat.

Rey mencekal tengkuk Khalila, menariknya kasar hingga membuatnya berdiri menggantikan gadis yang sebelumnya, namun kali ini ia seolah sengaja tak ingin memakaikan sarung tangan untuknya.

“Kau benar-benar menyebalkan!” seru Rey kemudian mengambil kembali pisaunya dan berjalan mendekati gadis yang terguling. “Kau yang melakukannya, atau ku korek isi perut gadis ini!” gertak Rey bersiap dengan mendekatkan pisaunya tepat di perut gadis yang terbaring di lantai.

Khalila menggeleng keras. “Tidak! Aku tidak mau menjadi monster sepertimu!” teriaknya.

Rey semakin melotot tajam, Ia berdiri kemudian menginjak perut wanita yang meringkuk di lantai itu. “Kau pikir kau punya pilihan?!" bentaknya.

Keringat dingin karena tekanan emosi mengalir deras di tubuh semua gadis.

Khalila berpegangan erat pada sisi tepi meja, menatap kasihan pada gadis yang merintih dibawah kaki Rey, kemudian beralih menatap gadis yang menggigil kesakitan di atas meja.

“To-tolong….” lirih kompak dua gadis itu, membuat Khalila tak kuasa menahan tangis ketakberdayaan. Sepertinya ia mulai tahu ia tak punya pilihan.

"Ah..." Rey mendesah keras, seolah menunjukkan kekecewaan. "Biasanya aku hanya membungkus satu gadis dalam satu kesempatan, tapi berkatmu, sepertinya kali ini dua gadis harus kita selesaikan!" serunya berpura-pura menggerutu.

Khalila masih berusaha menguasai diri, berusaha melepaskan ikatan di kaki dan tangannya. Tapi itupun sia-sia. Rey mengikat terlalu kuat.

"Argk!" rintih gadis di bawah kaki Rey semakin kencang saat ujung sepatu pantofel Rey yang agak lancip semakin keras ia tekan di ulu hati gadis itu, membuat Khalila semakin tak berdaya.

"Sepertinya kau memang keras kepala dan tak tahu malu!" ujar Rey lagi. "Aku sebenarnya tak pernah berniat membunuh perempuan tua, tapi berkatmu, sepertinya perempuan yang kau panggil Ibu Biara itu harus kuseret ke tempat ini sebagai hadiah untukmu."

Rey berjalan mendekat ke meja, menanggalkan sarung karet tebal dari tangannya, kemudian melemparkannya dengan kasar ke atas meja, dan jatuh tepat di depan wajah gadis yang kesakitan itu.

Rey meraih sebatang rokok, menyulutnya dengan cepat. Amarahnya sepertinya semakin memuncak saat para gadis itu hanya terisak, ditambah dengan Khalila yang tak menurut.

"Kau lihat bagaimana aku terpaksa menyiksanya. Kau! Kau yang membuat gadis ini harus merasakan sakitnya kulit yang terbakar bara!" Dengan kejam, Rey menekan ujung bara rokoknya ke tengkuk gadis yang terbaring di meja, tepat di depan wajah Khalila.

"Ark! Sa-sakit...."

Khalila semakin tertekan, "Hentikan! Tolong!" pekiknya tak tahan.

Rey semakin marah, ia mencekal tengkuk Khalila dengan kasar. "Kau pikir kau siapa?!" gertaknya.

Tepat saat itulah, terdengar bel pintu berbunyi dari kejauhan. Rey teralihkan, kemudian melepas kasar cekalannya, membuat Khalila terhuyung. Rey meninggalkan ruangan itu.

Gadis yang terbaring di meja terbatuk beberapa kali, kemudian mengatur napas dengan lemah. "Kau... jangan banyak bertingkah, masukkan puntung rokok itu ke dalam mulutku," ucapnya lemah. "Lalu saat dia kembali dan memerintahkanmu untuk mencekikku, lakukan saja. Tolong lakukan dengan cepat dan sekuat tenaga, agar aku tak perlu menahan kesakitan terlalu lama."

Khalila menggeleng keras. "Tidak! Jangan menyerah, kita pasti akan keluar dengan selamat!" serunya diantara isak frustasi.

Namun para gadis mendesis kompak. "Cih!"

Gadis yang terbaring di meja kembali menatap ke dalam wajah Khalila. "Aku akan keluar membawa pesan kematian, saat polisi menemukan sesuatu di dalam lambungku, mereka akan menyelamatkan kalian. Tak apa-apa satu mati untuk yang lainnya, tolong kalian jangan berulah dan jangan biarkan pengorbananku sia-sia."

Tepat saat itulah, pintu kembali terbuka, dan Rey muncul dari sana.

...****************...

Bersambung

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Lg males mikir 🤭🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Akhirnya ketahuan 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pembunuh bayaran 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Berasa jadi detektif dadakan 🤭🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sammy apa Sarah 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Yomi dan anak buahnya jadi tim pembersih 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Benang kusut mulai terurai
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Marco😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dua kaki
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
😭😭😭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Iya,kamu salah Kanet
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kanet balas dendam karena Rey sudah membunuh ayahnya 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pria itu Rey 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kasus Santaroni
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jadi partner perempuan itu putrinya Diaz 🤔
yosh—: silakan terus menebak/Casual/
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
😭😭😭
Sunsun Shepiet
seru sih Thor seru banget..
yosh—: aseeek😁
total 1 replies
Sunsun Shepiet
nah loh, tertangkap kah?
Sunsun Shepiet
eh tp kn itu bd negara y? aku lupa 😁
Sunsun Shepiet
eh klo Roni k kantor polisi nanyain Rey bisa bahaya ga sih?
yosh—: bahaya, agak enggak, tapi ya bahaya🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!