Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Untuk Aira
Kertas ulangan itu terlipat rapi di tangan Aira.
Aira berdiri di ruang tamu dengan wajah campur aduk senang dan tidak percaya.
“Tante,” katanya pelan,
“Ini nilai ulangan Aira.”
Tante Mala yang sedang menyusun buah di meja menoleh cepat.
“Berapa?”
Aira membuka kertas itu perlahan.
“Matematika…”
“75.”
Tante Mala membeku.
"…Berapa?”
“Tujuh puluh lima,” ulang Aira lirih.
Tante Mala meletakkan buah apel di meja.
Lalu menatap Aira.
“ASTAGA.”
Tante Mala langsung berdiri dan memeluk Aira.
"Aira Kamu hebat,"
Nilai Tujuh puluh Lima itu serasa seratus, entah mengapa Tante Mala lebih Antusias melihat nilai-nilai Aira di banding Damar.
Aira terharu...
“Tante ... Jangan berlebihan nilai ku nggak 100”
“Matematika lho ini!” Tante Mala menepuk punggungnya bangga.
“Kamu peringkat terakhir dapat nilai tujuh lima!”
Aira tersenyum malu.
“IPA Aira… dapat nilai delapan puluh.”
“DELAPAN PULUH?!”
Tante Mala menoleh ke arah tangga.
“DAMAR!”
Damar yang baru turun langsung berhenti.
“Apa?” tanyanya curiga.
“Lihat ini,” Tante Mala menyodorkan kertas.
“Nilai Aira.”
Damar membaca cepat.
75 Atau 76
Damar berkedip.
Sekali.
Dua kali.
“…Hah.”
“Itu ekspresi bangga?” tanya Tante Mala tajam.
Damar mengalihkan pandangan.
“Lumayan.”
“LUMAYAN KEPALA KAMU,” Tante Mala langsung ketus.
“Ini kemajuan besar!”
Aira tersenyum kecil.
“Itu juga karena Damar,”
“Karena usaha kamu,” potong Tante Mala cepat.
“Tapi gurunya juga berhak diapresiasi.”
Damar menegang.
“Kenapa perasan ku nggak enak ya.”
Tante Mala tersenyum manis.
“Aira berhak mendapatkan hadiah,”
“Oh tidak.”
"Mar kamu ajak Aira nonton, ya.."
“Apa?”
Damar langsung menolak, “Nggak mau.”
“Kenapa?”
“Karena aneh,” jawab Damar cepat.
“Malam minggu berdua sama dia.”
Aira berkedip.
“Berdua?”
Tante Mala mengangguk mantap.
“Iya.”
Damar mengacak rambutnya.
“Itu tidak pantas.”
“Aira sudah seperti keluarga kita,” Tante Mala menatapnya datar.
“Dan ini hadiah.”
“Aku nggak nyaman.”
“Aira yang dapat nilai, bukan kamu.”
Aira mengangkat tangan kecil.
“Tante, nggak apa-apa kalau...”
“Diam,” Tante Mala langsung melotot.
Damar menarik napas panjang.
“Mamah serius?”
Tante Mala mendekat satu langkah.
Melotot.
Tatapan itu ... tatapan yang membuat PS4 terasa kembali terancam.
“Sangat...” katanya pelan.
Damar menelan ludah.
“…Nonton apa?”
Aira menutup mulutnya, menahan senyum.
Tante Mala tersenyum puas.
“Jam tujuh. Jangan telat.”
Damar mendengus.
“Ini pemaksaan.”
“Ini apresiasi,” balas Tante Mala.
Aira menatap Damar dengan mata berbinar.
“Terima kasih.”
Damar menoleh tajam.
“Jangan senang dulu.”
Aira tersenyum lebih lebar.
Damar memalingkan wajah.
Malam minggu, Nonton berdua dan untuk pertama kalinya,
Damar merasa-ini bukan les.
Bukan hukuman,tapi sesuatu yang… jauh lebih merepotkan.
***Adegan yang Terlalu Dekat***
Lampu bioskop perlahan meredup.
Damar duduk tegak seperti sedang ikut ujian nasional.
Tangan bersedekap. Tatapan lurus ke layar.
Aira duduk di sampingnya, membawa popcorn dengan dua tangan.
Matanya berbinar ini pertama kalinya ia nonton bioskop sebagai “hadiah”.
Film dimulai.
Drama percintaan, musik lembut, tatapan penuh emosi.
Dialog yang bikin dada hangat, Aira menyimak serius.
Damar… mulai gelisah.
“Kenapa filmnya begini?” gumamnya pelan.
Aira menoleh. “Bagus, kan?”
“Berisik,” jawab Damar, lalu cepat-cepat kembali menatap layar.
Di layar, pemeran utama perempuan menangis.
Pemeran pria mendekat, Aira ikut tegang.
“Eh… eh…”
Damar menggeser posisi.“Ngapain merapat?”
“Bukan aku,” jawab Aira cepat.
“Ini filmnya bikin deg-degan.”
Di layar wajah mereka semakin dekat.
Sunyi.
Aira menelan ludah, Damar ikut menelan ludah tanpa sadar.
Musik berhenti.
Adegan ciuman, Aira langsung salah tingkah.
Aira refleks menoleh ke samping,Damar juga refleks menoleh.
TOK!
Kepala mereka bertabrakan.
“AU!”
“Aduh!”
Mereka memegang kepala masing-masing.
Aira panik, “Kamu nggak apa-apa?!”
“Kamu yang noleh!” bentak Damar pelan.
“Kamu juga!”
Aira menutup wajahnya.
“Malu banget…”
Penonton di belakang berdehem.
“Shh…”
Damar menegakkan badan, wajahnya memerah.
“Fokus nonton.” Aira mengangguk cepat.
“Iya.”
Di layar, adegan masih berlanjut ciuman yang terlalu lama.
Aira menatap layar sebentar… lalu refleks lagi.
Damar juga.
Kali ini mereka berhenti tepat sebelum bertabrakan.
Hening.
Mata mereka bertemu.
Dekat.
Terlalu dekat.
Aira langsung memalingkan wajah.
“Filmnya… romantis ya.”
“Biasa aja,” jawab Damar cepat.
Padahal telinganya merah, Aira menggenggam popcorn.
“Kalau nyata, kamu bakal,”
“Jangan lanjutkan,” potong Damar.
“Kenapa?”
“Karena ini bioskop.”
Aira mengangguk.
“Oh.”
Mereka kembali menonton.
Namun kali ini setiap kali adegan romantis muncul,
mereka duduk lebih kaku dari sebelumnya.
Dan setiap kali bahu mereka bersentuhan sedikit saja jantung Aira berdetak lebih cepat.
Sementara Damar…mulai bertanya-tanya,sejak kapan malam minggu bisa semenegangkan ini.