"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Pembelaan Pramudya
Flasback on.
"Aku mau kita putus."
Bak tersambar petir di siang bolong, Pram begitu terkejut dengan keputusan Kanaya yang terkesan tiba-tiba.
Bukankah sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja. Kenapa Kanaya tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan.
"Putus? Kenapa tiba-tiba? Kau bercanda kan, sayang?"
Melihat Kanaya yang menatapnya dingin, Pram sadar, jika gadis itu tidak sedang berpura-pura.
Tapi apa salahnya?
"Aku serius. Aku ingin mengakhiri hubungan kita."
"Tapi, apa salahku?" ujar Pram tidak serta merta menerima.
"Salahmu?" Kanaya tersenyum culas.
"Seharusnya kau tanya pada dirimu sendiri, apa salahmu sehingga aku memintanya putus darimu."
"Kanaya, aku benar-benar tidak mengerti!" erang Pram.
"Baiklah, aku akan memberikan dirimu, clue." Kanaya bersedekap dada. Menatap pemuda di hadapannya dengan ekpresi jijik.
"Apa yang kau lakukan di gudang olahraga kemarin sore?"
Deg. Pram mematung terkejut. Sekujur tubuhnya tiba-tiba seperti tersengat listrik. Apakah Kanaya mengetahui tragedi itu? Tetapi dari siapa.
"Sudah mengingatnya?" tanya Kanaya mengejek.
"Kanaya aku---
"Cukup. Kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Semuanya sudah jelas. Dan sekarang aku mau putus." ucap Kanaya mutlak.
"Jangan mengejarku, atau aku akan semakin membencimu."
Kemudian, dia pergi meninggalkan Pram yang meneriaki namanya. Meminta kesempatan untuk menjelaskan.
Flashback off.
.
.
"Kanaya---" Nafas Pram tercekat.
"Aku dijebak."
Hening. Seolah waktu mengijinkan Kanaya untuk memproses apa yang baru saja mantannya katakan. Netra Pram berpendar sayu. Berharap, Kanaya mempercayai ucapannya. Setidaknya, untuk kali ini saja.
Dulu, Kanaya meninggalkannya tanpa memberikannya kesempatan untuk menjelaskan. Sekarang, bolehkah Pram berharap--- berharap perempuan itu mau mendengar. Berharap perempuan itu mau memaafkannya dan jika bisa--- kembali padanya.
Namun, alih-alih percaya, Kanaya justru menyunggingkan senyum sinis. Netranya berkilat mengejek. Menatap Pram seolah laki-laki adalah hal paling menjijikkan yang pernah dia temui.
"Dijebak?" ulang Kanaya terdengar muak.
"Orang mana yang dijebak, tapi dia sangat menikmatinya? Bahkan aku belum melupakan de-sahan kalian yang menjijikkan itu." ujar Kanaya sarkas yang membuat Pram kehilangan kata-katanya.
"Di mana perasaanmu waktu itu, Pram?" kabut kebencian terpantri jelas pada iris istri Kalendra itu.
"Di saat aku selalu berusaha menjaga hatimu. Bahkan sampai membuat Kalendra kehilangan harga dirinya di hadapan semua siswa, kau malah mengkhianatiku! Kau melakukan tindakan tak senonoh di gudang itu, tanpa memikirkan perasaanku."
"Dan sekarang kau bilang kalau kau dijebak?" kekehan remeh Kanaya layangkan.
"Lelucon apa ini, Pram?"
Pram-- laki-laki itu menelan salivanya pahit. Mendekati sang mantan, ia berusaha untuk menyentuh tangan Kanaya sekedar untuk meyakinkan. Dan ya, tindakan lancangnya itu lansung Kanaya tepis dengan kasar.
"Jangan.sentuh.aku." tekan Kanaya memperingati.
Pram menggeleng ribut. Raut wajahnya terlihat kalut. Membasahi bibirnya, laki-laki itu mencoba memberikan alasan.
"Kanaya, aku bersungguh-sungguh. Aku dijebak. Saat aku mengembalikan bola basket, ada seorang siswa yang memberikanku minuman. Aku tidak tahu-- setelah meminum minuman itu, tubuhku terasa panas. Gairahku tiba-tiba saja memuncak. Lalu, saat aku tersiksa karena panas itu, seorang adik kelas datang dan mengunci pintu gudang. Aku tidak tahan, Kanaya. Aku sangat tersiksa karena rasa panas itu, apalagi adik kelas itu dengan sengaja menggodaku. Aku--- aku tidak tahu, semuanya terjadi begitu saja."
Sekali lagi, Pram mencoba meraih tangan Kanaya. Seakan dia ingin perempuan itu percaya. Dia ingin mengatakan, jika ucapannya adalah sebuah kebenaran tanpa rekayasa.
"Aku tidak bermaksud sama sekali untuk mengkhianatimu. Aku sangat mecintaimu. Tapi-- tapi aku tidak bisa menahan nafsuku saat itu. Aku mohon percaya padaku, Kanaya. Aku dijebak!!"
Melihat Kanaya yang hanya diam dengan tatapan rumitnya, Pram berpikir, perempuan itu mulai percaya. Maka, ia lanjutkan ceritanya dengan keyakinan penuh.
"Dan orang yang telah menjebakku adalah bajingan yang sama yang telah memaksamu menikah dengannya. Kalendra-- dia dalangnya, Kanaya!"
Hening. Kanaya belum ada niatan untuk bersuara. Hanya tatapannya yang mengisyaratkan rasa muak yang begitu ketara. Melihat keterdiaman Kanaya, perasaan Pram tidak nyaman. Apakah usahanya akan sia-sia?
"Kana---
"Munafik." suara Kanaya mengudara dingin.
Perempuan itu menghempaskan tangan Pram yang bertengger pada lengannya. Tatapannya semakin menajam. Benci dan muak seakan menjelma menjadi satu.
"Sekarang, kau bahkan menuduh Kalendra? Atas bukti apa kau menuduhnya?"
Kanaya marah? Tentu saja. Hatinya tak suka ketika mendengar ada yang menjelek-jelekkan Kalendra, apalagi atas dasar yang tidak pasti.
"Kanaya, aku berbicara jujur. Dia sendiri yang---
"Cukup, Pram." tukas Kanaya.
"Lagipula, mau kau dijebak atau tidak. Tetap saja, kau menikmatinya, bukan?"
Kali ini, Pram bungkam. Seakan apa yang Kanaya katakan adalah sebuah kebenaran, dan dia tidak punya kuasa untuk mengelak.
"Jadi, apapun yang kau ceritakan, tidak akan ada gunanya. Baik itu benar atau salah, ceritamu tidak akan merubah apapun."
"Dan satu hal yang harus kau tahu---" Kanaya tidak peduli apakah kata-katanya ini akan meyakiti Pram atau tidak. Dia tidak peduli, Kanaya hanya ingin menyadarkan laki-laki itu akan posisinya.
"Aku tidak suka dengan barang bekas. Aku jijik dengan laki-laki yang pernah berse-tubuh dengan perempuan lain selain diriku."
"Membayangkannya saja, sudah membuatku mual."
Kanaya mendapati tatapan Pram yang...terluka. Tapi, apa pedulinya? Sejak awal, Pramudya-lah yang memulainya.
"Kau tahu maksudku kan, Pram?"
Tanpa mereka sadari, di luar ruangan ada seseorang yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka dengan senyum penuh kemenangan.
.
.
Kenapa kau lama sekali?"
Kanaya melayangkan protes saat Kalendra baru kembali, setelah lebih dari dua jam laki-laki itu pergi.
"Kenapa? Kau merindukanku?" balas sang suami tampak percaya diri.
Kedua bola mata Kanaya memutar malas. Sejak kapan Kalendra menjadi narsis seperti ini. Apakah karena hubungan keduanya yang sudah saling terbuka membuat laki-laki itu tak ragu untuk mengekspresikan diri? Karena, dulu Kanaya mengenal Kalendra sebagai pribadi yang hangat dan ceria.
Hanya--- setelah kejadian itu. Sifat Kalendra padanya mulai berubah. Dingin dan terkadang kasar. Itu sebabnya pada kehidupan pertamanya, Kanaya mengira jika Kalendra menikahinya hanya untuk merealisasikan aksi balas dendam.
"Aku menginginkan ice cream-ku. Mana ice cream pesananku?" tagih Kanaya menyodorkan tangannya.
Satu sudut bibir Kalendra menaik. Ia ambil ice cream cup rasa coklat dari plastik, kemudian menyerahkan pada istrinya itu.
"Sekarang puas?"
Kanaya berseru girang. "Terimakasih, suamii..." ucapnya, tanpa sadar, jika kalimat itu berdampak besar bagi hati Kalendra.
"Ohh, damn. Aku ingin mengurungnya hanya untuk diriku. Mengikatnya di ranjang dan memeluknya sampai aku puas."
"Pelan-pelan." tangan Kalendra terangkat. Membersihkan sekitar bibir Kanaya yang belepotan.
Kanaya sempat mematung. Apalagi saat tatapan Kalendra menghunus dalam ke arahnya, dengan ibu jari laki-laki itu yang masuk ke dalam mulut. Menghisap noda coklat dari bibir Kanaya yang baru saja dia bersihkan.
"Manis."
Sial. Sial. Sial. Pipi Kanaya bersemu salah tingkah. Dan itu, membuat Kalendra terkekeh gemas.
"Kau--- kau mau?" tawar Kanaya menyodorkan cup ice cream, mengusir rasa gugup yang tengah melandanya.
"Aku lebih suka makan dari sumbernya langsung." balas Kalendra ambigu.
"Ya?"
"Lupakan. Aku akan mewujudkannya lain kali."
Meski penasaran, tak pelak, Kanaya mendengus pasrah. Kemudian dia kembali memakan ice creamnya dengan sisa-sisa debaran yang ada.
"Apa tadi ada yang berkunjung?"
Deg.
Baru saja Kanaya dapat mengendalikan jantungnya yang berdetak liar, kini Kalendra kembali berhasil membuat organ itu memompa darah lebih cepat dari biasanya.
Bukan debaran menyenangkan. Melainkan rasa takut seakan Kanaya baru saja melakukan perselingkuhan.
Kanaya menatap ragu pada Kalendra yang sedang menunggu jawaban.
Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya?
"Tidak. Dari tadi aku sendiri."
Pada akhirnya, Kanaya memilih berbohong. Bukannya tidak mau jujur. Hanya saja, Kanaya tidak mau hubungannya dan Kalendra yang baru membaik kembali terancam karena campur tangan orang yang tidak seharusnya.
"Ahh, begitu. Kukira orangtuamu sudah datang untuk menjenguk."