NovelToon NovelToon
Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.

Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.

Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.18 -Prioritas yang Dipertanyakan

Di apartemennya, Arvano mengepalkan tinju hingga buku jarinya memutih. Amarahnya mendidih. Berita yang ia curi dengar dari bisik-bisik karyawan tadi pagi adalah tamparan keras baginya; ia merasa bukan lagi prioritas utama Aksara.

Sambil menatap kosong ke arah jendela, Arvano memutar-mutar gelas wine di tangannya. Cairan merah itu berguncang sepekat rencana licik yang tiba-tiba melintas di kepalanya. Jika Aksara ingin bermain peran sebagai suami sempurna, maka Arvano punya cara sendiri untuk merusak panggung itu.

Sementara itu, aroma gurih memenuhi dapur di rumah pribadi Aksara. Aksara baru saja menyelesaikan masakannya saat Aylin muncul dengan wajah mengantuk.

"Sudah merasa lebih baik?" Aksara menyodorkan segelas air hangat begitu Aylin duduk.

Aylin mengangguk dan menerimanya, lalu melirik meja makan dengan heran. "Kamu yang masak semua ini?"

"Iya, hanya ada mie instan dan telur di kulkas," kekeh Aksara pelan, sedikit canggung. "Ayo makan, mumpung masih hangat."

Suasana hening menyelimuti mereka, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring. Namun, berkali-kali Aylin mencuri pandang ke arah suaminya. Diam-diam, dinding pertahanan yang selama ini ia bangun kokoh mulai retak, terkikis oleh perhatian-perhatian kecil Aksara yang tak terduga.

"Jangan seperti ini, Mas. Aku tidak mau jatuh terlalu jauh," ucap Aylin dalam hati, mencoba memperingatkan dirinya sendiri.

*

*

Setelah meninggalkan kafe dalam keadaan terguncang, Reynan tidak langsung pulang. Ia memilih melipir ke taman kota, mencari ketenangan di tengah riuhnya orang-orang. Pandangannya terpaku pada satu titik: seorang anak kecil yang tertawa riang sambil menggenggam tangan kedua orang tuanya.

Pemandangan itu bagai sembilu yang mengoyak ingatan lama. Reynan teringat masa-masa sulit saat ia baru merintis perusahaan. Sosok Aylin kecil muncul di benaknya—gadis berusia empat tahun yang sudah sangat cerdas.

"Papa, ayo ke taman. Teman-teman Lin sudah ke sana semua, cuma Lin yang belum," pinta Aylin kecil kala itu dengan mata berbinar.

"Papa sibuk. Pergi sama Mama saja," jawab Reynan dingin tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan berkas.

Bahkan setelah perusahaannya sukses, penolakan demi penolakan masih terus ia lontarkan. Hingga akhirnya, suara itu senyap. Aylin tak pernah lagi meminta apa pun darinya.

Gadis itu seolah mengubur keinginannya sendiri. Ironi itu menghantam dada Reynan dengan telak. Ia selalu punya waktu untuk memanjakan anak-anak dari Lusi dengan kemewahan, sementara untuk Aylin? Sekadar membelikan susu kesukaan gadis itu saja, ia merasa enggan.

"Maafkan Papa, Aylin..." bisiknya lirih.

Getaran di saku celana memecah lamunannya. Nama Lusi tertera di layar ponsel. Reynan hanya melirik singkat, enggan menjawab. Ia tahu persis apa yang ingin wanita itu dengar: hasil pertemuannya dengan Aylin.

Tak lama, sebuah pesan masuk: "Bagaimana pertemuannya, Mas? Berhasil?"

Reynan mengabaikan pesan tersebut. Di sisi lain, Lusi yang kini ada di apotek berdecak kesal. Pikirannya mulai berprasangka buruk. Jangan-jangan dia bertemu mantan istrinya? Namun, ia segera menepis pikiran itu dan kembali fokus bekerja.

Sore itu, Aksara dan Aylin menikmati sisa waktu berdua di halaman belakang rumah. Di bawah semburat jingga senja, Aksara menatap Aylin yang tampak begitu lembut terpapar cahaya tembaga.

"Kamu suka tempat ini?" tanya Aksara pelan.

"S-suka, Mas," jawab Aylin sedikit gugup. Senyumnya merekah tulus saat menatap hamparan mawar. "Kalau kita tinggal di sini, Mama pasti senang sekali karena bisa berkebun sepuasnya."

Rumah itu menawarkan kedamaian yang jarang Aylin temukan. Namun, ketenangan itu mendadak retak saat ponsel Aksara berdering nyaring.

"Halo." Aksara mengembuskan napas panjang, terlihat berusaha menahan emosi. Tatapannya tertuju pada Aylin, namun pikirannya tampak sudah berada di tempat lain. Ada ketegangan yang merayap di udara.

"Iya, nanti aku ke sana," balas Aksara ketus. "Jangan macam-macam, Arvano."

Aksara memejamkan mata sejenak, lalu mengakhiri percakapan dengan dingin. Aylin bisa merasakan kekesalan yang meluap dari sosok di sampingnya.

"Ada apa?" tanya Aylin hati-hati.

"Biasa, ada urusan mendadak yang harus ku selesaikan. Ayo, kita pulang sekarang," ajak Aksara tanpa penjelasan lebih lanjut.

Aylin menatap suaminya lama. Ia tahu siapa yang menghubungi tadi; nama Arvano sudah cukup menjelaskan segalanya. Perjalanan pulang terasa jauh lebih dingin dibanding saat mereka datang. Setibanya di lobi apartemen, Aksara bahkan tidak mematikan mesin mobilnya. Begitu Aylin turun, mobil itu langsung melesat pergi.

"Ya, pada akhirnya, aku memang bukan prioritasmu," lirih Aylin hampa. Ia membalikkan badan, melangkah masuk dengan hati yang membatu.

"Sadarlah, Aylin. Jangan pernah jatuh cinta pada laki-laki. Jangan pernah."

Aksara mencengkeram kemudi dengan kuat. Ia berhenti tepat di depan sebuah bar privat yang eksklusif dan masuk ke salah satu ruang VIP. Di sana, Arvano sedang berdiri di dekat jendela kaca besar, membelakangi pintu.

"Akhirnya kamu datang juga, Sayang," ujar Arvano tanpa menoleh. Suaranya terdengar posesif.

"Ada apa? Kamu kan tahu, Aylin sedang tidak baik-baik saja, Van," kata Aksara tajam.

Arvano berbalik, melangkah mendekat dan merapikan kerah kemeja Aksara. Tatapannya intens, mencampurkan rasa cinta dan obsesi yang berbahaya.

"Suami yang sempurna atau suami yang mulai menikmati perannya?" Arvano membelai rahang Aksara.

"Kamu tidak mau menemui ku hanya karena asyik menemani perempuan itu yang sedang, sedih?"

"Perempuan itu punya nama, dan namanya adalah Aylin," balas Aksara dingin. Ia tak suka jika Arvano merendahkan istrinya.

Arvano tersenyum miring, menatap Aksara dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kamu sudah mencintainya, Sa?" bisiknya lirih.

Aksara tersentak. Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras dari apa pun. Mencintai Aylin? Tidak mungkin secepat itu... kan?

Bersambung ...

1
🌿
kalo nyesalnya duluan namanya pendaftaran Ay 🫠
jumirah slavina
Tuhan bikin orang² jahat itu kejang mendadak 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻
jumirah slavina
Thorrrrrrr., suntik mati Vanuuuuuuu
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
🌿
nyebut kek Aksara, amit-amit gitu 🫠
jumirah slavina
deq²n Aku., gimana nasib Aay d'next bab
jumirah slavina
Thorrrrrrrrrrr.... kasih kalpanax nih penyakit kulit VANUan
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
Ay... Kamu bawa uang kan ?? tar cape² lari dari Aksa mo pulang sendiri., ekh balik lagi krn lupa bawa uang.,

😄😄
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
jumirah slavina
Tuhan bikin Mata Vanu belekan soale dia menyebalkan


🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Epi Widayanti
gak sadar diri 🙃
🌺🌺
stresss si Arvano
jumirah slavina
balas Ay., klo smp s' Aksa gak membela kamu., tinggalin Ay....
AriNovani: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
dasar Vanu.. kadas., kudis., kurap...
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
jumirah slavina
kau yang aneh., ambisi ko' merebut...
🌿
katakan prettttt 🫠
jumirah slavina
Kirana sm Emil., sama² menyebalkan Thor
jumirah slavina
dia bohongg
jumirah slavina
nih denger., yo mbok d'dukung klo Aay membuat Aksa lebih baik. jadi laki² normal, kan alamat punya cucu kalian.,
jumirah slavina: 😄🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
jumirah slavina
hati tersenyum... hhmmm...
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: wahh aku masih 1/4 sekarang gk tau belum periksa lagi 🤭
total 8 replies
Epi Widayanti
Gak ada yang nanya pula 🤣
Epi Widayanti
Gak tau malu ihh 🙃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!