NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Kalimat terakhir dari Arya Jaya menggantung di udara, dingin dan tajam, menusuk langsung ke jantung Jihan. Untuk sesaat, dunia di sekelilingnya berhenti berputar. Suara riuh para pekerja, gemerisik daun yang tertiup angin, bahkan detak jantungnya sendiri, semuanya lenyap, ditelan oleh keheningan yang memekakkan telinga. Kekuatan baru yang ia rasakan mengalir di tubuhnya, staminanya yang seolah tak terbatas ... semua itu menguap tak berarti di hadapan satu kenyataan pahit ini.

"Tidak..."

Suara Jihan tercekat, serak dan nyaris tak terdengar. Mata yang tadi dipenuhi kelegaan kini menatap kosong pada kepala desa, mencari kebohongan, sebuah kesalahan, apa pun untuk menyangkal kebenaran yang mengerikan. Namun, di wajah Arya Jaya, ia hanya menemukan rasa iba yang mendalam.

Kepanikan yang dingin merayap naik dari perut Jihan, membekukan setiap sendi dan mencengkeram paru-parunya. Semua penjelasannya tentang pendekar misterius terlupakan. Hanya ada satu pikiran, satu nama, satu tujuan yang membakar kesadarannya… kondisi ibunya.

Tanpa sepatah kata, Jihan membalikkan badan dengan gerakan yang begitu cepat hingga mengejutkan Arya Jaya. Ia tidak lagi berjalan, ia melesat. Kakinya mendorong tanah dengan kekuatan yang tak pernah ia miliki sebelumnya, mengubah sosoknya menjadi bayangan kabur yang menerobos kerumunan warga yang terkejut.

Arya Jaya terperangah. Ia sempat mengulurkan tangan, mencoba menghentikan Jihan, memanggil namanya dengan cemas, namun suara itu tak sampai. Tak bisa menembus badai emosi yang membungkus benak pemuda itu.

Saat ia masih terpaku, dalam keputusasaan yang sunyi, sebuah suara dalam dan tenang terdengar dari belakangnya.

“Biarkan dia pergi, Arya. Anak itu butuh waktu... butuh ruang untuk menghadapi kenyataan ini.”

Arya Jaya menoleh perlahan. Di sana berdiri Prana, orang kepercayaannya yang telah kembali dari perjalanannya. Wajahnya tersembunyi di balik topeng perak tanpa ekspresi, memantulkan sinar matahari pagi seperti permukaan air yang tenang. Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, posturnya tegak, dan suaranya membawa wibawa yang tak bisa dibantah.

Dalam keheningan, Arya Jaya mengangguk. Matanya masih terpaku pada debu yang ditinggalkan langkah Jihan. Ia menghela napas, menggeleng pelan, menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi.

“Ini semua salahku. Seandainya aku tak membiarkan anak itu ke hutan, semua ini takkan berakhir seperti sekarang.”

Pikirannya kembali melayang ke peristiwa malam sebelumnya. Aroma darah seolah masih menempel di hidungnya. Ia menyusuri hutan bersama 10 orang yang bertahan, hingga akhirnya menemukan pemandangan mengerikan, beberapa jasad manusia, tercabik-cabik secara brutal, tubuh mereka porak-poranda seperti dimangsa.

Saat itu, Wulandari sudah tak sadarkan diri. Karena kondisinya yang lemah, dan melihat mayat-mayat manusia di hadapannya, ia pasti membayangkan bahwa Jihan mungkin saja telah terbunuh oleh binatang buas.

Arya Jaya mengembuskan napas berat, lalu menengadah ke langit. Cahaya pagi yang menembus sela dedaunan seakan terlalu jauh untuk dijangkau, namun ia berharap secercah sinar itu sanggup meringankan beban yang menghimpit pundaknya.

Udara pagi mulai menghangat, membawa aroma tanah basah yang tersisa dari embun semalam. Di jalan setapak, daun-daun kering berguguran tertiup angin, berputar sejenak sebelum terinjak oleh langkah Jihan yang cepat dan berat. Debu tipis mengepul di belakangnya, mengikuti setiap hentakan kakinya. Wajahnya tegang, guratan kekhawatiran tampak jelas, seolah setiap detik yang terbuang hanyalah menambah beban di dadanya.

Sejak mendengar kabar bahwa ibunya tak sadarkan diri, kegelisahan telah mencengkeramnya tanpa ampun. Ia melewati beberapa tetangga yang menatapnya dengan berbagai ekspresi, ada yang prihatin, ada yang penasaran. Beberapa sempat memanggil namanya, namun suara mereka hanya terdengar sayup, tak mampu menembus benteng pikirannya yang kini rapuh dan dipenuhi rasa takut.

Jihan terhenti di depan gubuknya yang reyot. Matanya mulai berkaca-kaca, sementara kedua tangannya terkepal erat, seakan mengumpulkan sisa keberanian untuk menghadapi pemandangan di dalam.

Perlahan, tangannya terulur menyentuh gagang pintu kayu. Gagang itu terasa lapuk di genggamannya, seolah mencerminkan perasaannya yang rapuh. Ia menarik napas berat, lalu mendorong pintu itu hingga engselnya berderit pelan, memecah kesunyian disekitarnya.

Begitu pintu terbuka, gelombang bau obat-obatan bercampur aroma getir penyakit langsung menusuk penciumannya. Suasana di dalam begitu sunyi, namun terasa sesak, seakan udara pun enggan bergerak.

Di hadapannya, ibunya terbaring lemah di atas pembaringan kayu sederhana, matanya terpejam. Wajah pucatnya tak lagi memancarkan kehangatan.

“Ibu…”

Lirihnya, air mata mulai mengalir di pipi. Langkahnya goyah saat ia menghampiri pembaringan ibunya.

Jihan jatuh berlutut di samping ranjang kayu itu. Tangannya yang gemetar terulur, menyentuh punggung tangan Wulandari yang terkulai lemas di atas selimut tipis. Dingin yang tak wajar langsung merambat ke telapak tangannya, mengirimkan getaran mengerikan ke seluruh tubuhnya. Ini bukan dinginnya malam, ini adalah dinginnya kehidupan yang perlahan memudar.

“Ibu, bangunlah… Jihan sudah pulang,”

Isaknya, suaranya pecah. Ia menggenggam tangan itu erat, seolah mencoba menyalurkan kehangatan dari tubuhnya sendiri, kehangatan dari kekuatan baru yang sia-sia. Ia menunduk, menyandarkan kepalanya di sisi pembaringan, membiarkan air matanya membasahi kain usang.

“Jihan mohon, Bu… buka matamu…”

Entah karena suara itu… suara yang selama ini menjadi alasan bertahan, atau karena ikatan batin yang tak mampu diputus oleh penyakit, kelopak mata Wulandari bergetar pelan. Perlahan, dengan sisa tenaga yang ada, ia membuka matanya. Tatapannya semula kosong, kabur dan tak berfokus. Namun, ketika sosok Jihan yang terisak di sisinya mulai tampak jelas, seberkas cahaya hangat kembali muncul di matanya, seperti nyala lilin yang menolak padam.

“Ji…han…?”

“Kamu… ibu pikir kamu..."

"syukurlah kamu sudah kembali, nak”

Mendengar suara itu, Jihan mengangkat kepalanya dengan cepat. Wajahnya basah oleh air mata, namun kini ada senyum lega yang terukir di sana.

“Iya, Bu! Jihan sudah pulang! Jihan tidak akan ke mana-mana lagi!”

Ia merengkuh bahu ibunya, memeluknya dengan kelembutan yang sarat akan ketakutan. Wulandari mencoba tersenyum, mengangkat tangannya yang lemah untuk membelai pipi putranya. Namun, senyum itu tak bertahan lama.

Wajahnya tiba-tiba menegang. Matanya membelalak, dan tubuhnya yang ringkih diguncang oleh ledakan batuk yang hebat, jauh lebih parah dari yang pernah Jihan saksikan. Batuk itu kering dan menyakitkan, seolah ada sesuatu yang merobek paru-parunya dari dalam.

“Uhuk! Uhuk! UHUUKK!”

“Ibu! Ibu kenapa?!”

Di puncak batuknya, Wulandari memalingkan wajah. Setetes cairan kental berwarna merah kehitaman jatuh dari sudut bibirnya, menodai bantal jerami di bawahnya. Bercak darah itu, meski kecil, tampak seperti tanda kematian di mata Jihan.

Dunia Jihan runtuh untuk kedua kalinya. Tanpa pikir panjang, ia melepaskan pelukannya.

“Pil! Jihan akan mengambil pil penyembuh!”

Ia melesat menuju meja kecil di sudut gubuk, tempat peti kayu sederhana itu berada. Tangannya gemetar hebat saat ia menarik laci dan meraih peti itu. Harapan terakhirnya ada di dalam sana. Dengan napas tersengal, ia membuka tutupnya.

Kosong.

Kotak itu… kosong. Hanya ada sisa-sisa serbuk cokelat di dasarnya. Jihan membeku, otaknya mencoba mengingat. Tentu saja kosong. Pil terakhir adalah yang ia berikan kepada ibunya sebelum ia berangkat ke hutan. Pil yang ia harap bisa menahan penyakit ibunya, kini justru menjadi pengingat keputusasaannya.

“Habis… Pilnya habis…”

Ia jatuh terduduk di lantai, peti kayu itu terlepas dari genggamannya. Di belakangnya, suara napas ibunya terdengar semakin lemah. Untuk sesaat, Jihan benar-benar merasa kalah. Ia punya kekuatan baru, tapi tak ada gunanya. Ia punya tekad, tapi tak mampu melawan takdir.

Namun, di tengah keputusasaan yang menggelapkan itu, tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu di dalam saku celananya. Sebuah kantung goni kecil yang terasa berat. Kantung yang diberikan oleh Arya Jaya.

Seketika, secercah harapan kembali menyala. Uang. Dengan uang ini, ia bisa membeli pil lagi!

Jihan bangkit dengan cepat. Matanya yang tadi dipenuhi keputusasaan kini berkobar dengan tekad baru. Ia berlari kembali ke sisi ibunya, menggenggam tangannya yang dingin sekali lagi.

“Ibu, bertahanlah sebentar lagi. Jihan akan segera kembali,”

“Jihan akan pergi ke pasar sekarang. Aku akan mendapatkan pil itu, apa pun caranya!”

Ia tidak menunggu jawaban. Setelah memberikan satu kecupan singkat di kening ibunya yang terasa dingin, Jihan meraih kantung goni itu dari sakunya, menggenggamnya erat seolah itu adalah nyawanya sendiri. Tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan melesat keluar dari gubuk, meninggalkan keheningan yang mencekam di belakangnya.

Wulandari hanya bisa menatap punggung anaknya yang semakin menjauh. Dengan sisa tenaga, ia mengulurkan tangan, berharap jemarinya dapat menyentuh bahu Jihan. Namun jaraknya terlalu jauh, dan kekuatannya terlalu lemah. Ia ingin menghentikan Jihan, ingin menahannya di sisi, setidaknya untuk saat ini. Namun semua sudah terlambat; yang tersisa hanyalah udara hening yang terasa menyeseakkan.

1
DownBaby
Temponya lambat tapi pas dipertengah seru parah, semangat thor upnya
Zhareeva Mumtazah anjazani
akhirmya ingat juga
Zhareeva Mumtazah anjazani
Raras Muria putri kerajaan Muria😍
Embun Pagi
Lanjut thor
Embun Pagi
Jika saja tanpa dukungan moral ibunya sudah pasti Jihan akan menjadi gila dengan situasi seperti itu
Embun Pagi
GILA GILA GILA INI SERU BGT, KASIHAN MC BERADA DITITIK TERENDAHNYA😭
Embun Pagi
GILA GILA INI MC LAGI DITITIK TERENDAHNYA BAKAL MEMUASKAN KALO NANTI JADI KUAT
Embun Pagi
ini kalimat bakal terngiang" sih kejam bgt
Embun Pagi
sudah kuduga /Sob/
Embun Pagi
Sudah saatnya perekrutan murid
Embun Pagi
NAH INI DIA BGUS JIHAN AKHIRNYA SADAR👍
Embun Pagi
pasti punya alasan lain
Embun Pagi
sudah jelas berbohong /Facepalm/
Embun Pagi
Tabib Sari sangat sus/Doge/
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
DownBaby
mkin seru
DownBaby
Ayo ribut
DownBaby
apakah bakal selamat?
DownBaby
apakah itu tuan putri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!