Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Udara pagi mulai menghangat, membawa aroma tanah basah sisa embun semalam. Di jalan setapak, daun-daun kering berputar tertiup angin sebelum remuk di bawah langkah Jihan yang cepat dan berat. Debu tipis mengepul di belakangnya, mengikuti setiap hentakan kaki yang dipenuhi kecemasan.
Sejak mendengar kabar ibunya tak sadarkan diri, kegelisahan mencengkeramnya tanpa ampun. Beberapa tetangga menatapnya dengan beragam ekspresi... prihatin, penasaran, bahkan iba. Ada yang memanggil namanya, namun suara-suara itu terdengar jauh, tak sanggup menembus pikirannya yang kini dipenuhi satu ketakutan sederhana: terlambat.
Jihan berhenti di depan gubuk reyotnya.
Matanya berkaca-kaca. Kedua tangannya terkepal erat, seolah menahan diri agar tak runtuh sebelum waktunya. Perlahan, ia meraih gagang pintu kayu yang lapuk. Dingin dan rapuh di genggaman... terlalu mirip dengan perasaannya saat ini.
Ia menarik napas dalam, lalu mendorong pintu itu. Engselnya berderit pelan, memecah kesunyian.
Aroma obat-obatan bercampur bau getir penyakit langsung menyergap. Udara di dalam gubuk terasa berat, nyaris tak bergerak.
Di atas pembaringan kayu sederhana, Wulandari terbaring lemah. Matanya terpejam. Wajahnya pucat, nyaris tanpa warna.
“Ibu…”
Suara Jihan hanya berupa bisikan rapuh. Air mata mengalir tanpa bisa ditahan saat ia melangkah mendekat. Lututnya menyentuh lantai, dan ia berlutut di sisi ranjang.
Tangannya yang gemetar menyentuh punggung tangan ibunya.
Dingin.
Bukan dingin malam, melainkan dingin yang membuat jantungnya berdenyut nyeri... dingin kehidupan yang perlahan menjauh.
“Ibu, bangunlah… Jihan sudah pulang…”
Ia menggenggam tangan itu erat, seolah kehangatan dari tubuhnya bisa menahan sesuatu yang sedang pergi. Kepalanya tertunduk di sisi pembaringan, isaknya pecah tanpa sisa harga diri.
“Jihan mohon, Bu… buka matamu…”
Entah karena suara itu, atau karena ikatan batin yang tak mau menyerah, kelopak mata Wulandari bergetar. Perlahan, dengan sisa tenaga, ia membukanya.
Tatapannya semula kosong dan kabur. Namun saat sosok Jihan yang terisak di sisinya mulai terlihat jelas, seberkas cahaya tipis muncul di matanya... rapuh, tapi hangat.
“Ji… han…?”
“Kamu…” napasnya terengah.
“Ibu pikir kamu…”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum lemah.
“Syukurlah… kamu sudah kembali, Nak.”
Jihan mengangkat kepalanya. Wajahnya basah oleh air mata, namun kini ada senyum lega yang nyaris menyakitkan.
“Iya, Bu. Jihan sudah pulang. Jihan tidak akan ke mana-mana lagi.”
Ia merengkuh bahu ibunya, memeluknya dengan hati-hati... seolah takut sedikit tekanan saja bisa mematahkannya. Wulandari mengangkat tangan dengan susah payah, membelai pipi putranya.
Namun senyum itu tak bertahan lama.
Wajahnya menegang. Matanya membelalak, dan tubuh ringkihnya terguncang hebat.
“Uhuk! Uhuk! UHUUKK!”
Batuk itu kering, keras, dan menyakitkan... seolah merobek dari dalam.
“Ibu! Ibu kenapa?!”
Di puncak batuknya, Wulandari memalingkan wajah. Setetes cairan kental berwarna merah kehitaman menetes dari sudut bibirnya, menodai bantal jerami.
Bercak kecil itu terasa seperti palu yang menghantam dada Jihan.
Dunia runtuh untuk kedua kalinya.
“Pil! Jihan akan mengambil pil!”
Ia bangkit dan berlari ke meja kecil di sudut gubuk. Tangannya gemetar saat menarik peti kayu sederhana itu dan membuka tutupnya dengan napas tersengal.
Kosong.
Hanya sisa serbuk cokelat di dasarnya.
Jihan membeku. Ingatannya kembali... pil terakhir telah ia berikan sebelum berangkat ke hutan. Pil yang ia harap bisa menahan penyakit itu.
“Habis…”
Suara itu hampir tak terdengar.
Ia terduduk di lantai. Peti kayu terlepas dari genggamannya. Di belakangnya, napas ibunya terdengar semakin lemah, semakin jarang.
Untuk sesaat, Jihan benar-benar merasa kalah.
Ia punya kekuatan baru—tak berguna.
Ia punya tekad—tak cukup untuk melawan takdir.
Namun kemudian, jarinya menyentuh sesuatu di dalam saku celananya.
Sebuah kantung goni kecil. Berat.
Pemberian Kepala Desa.
Uang.
Harapan itu menyala begitu tiba-tiba hingga membuat dadanya berdenyut sakit.
Jihan bangkit. Matanya yang tadi kosong kini menyala oleh tekad putus asa. Ia kembali ke sisi ibunya, menggenggam tangannya sekali lagi.
“Ibu, bertahanlah sebentar lagi.”
“Jihan akan kembali. Jihan akan mendapatkan pil itu—apa pun caranya.”
Ia tak menunggu jawaban.
Sebuah kecupan singkat ia letakkan di kening ibunya yang dingin. Lalu, dengan kantung goni digenggam seerat nyawa, Jihan berbalik dan berlari keluar dari gubuk.
Keheningan mencekam tertinggal di belakangnya.
Wulandari menatap punggung anaknya yang menjauh. Dengan sisa tenaga, ia mengulurkan tangan, berharap jemarinya bisa menyentuh bahu itu... menahannya, walau hanya sebentar.
Namun jarak terlalu jauh.
Dan waktunya terlalu sedikit.
Yang tersisa hanyalah udara sunyi yang menekan dada, dan bisikan pelan yang terdengar lirih.
"Nak kembalilah... Setidaknya biarkan ibu memelukmu lebih lama."
"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"