NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Kilas Balik

"Akhirnya hanya ada kita berdua, Kak. Aku dan kamu."

Setelah Memastikan jika pintu kamar hotel benar-benar terkunci, Stella maju mendekati Sean dan hendak memeluk laki-laki yang berstatus sebagai kakaknya itu.

Belum sampai Stella mencapai tujuannya, Sean sudah terlebih dahulu menghindar dengan cara memundurkan badannya. Sean tatap adiknya itu rumit.

"Kau terlalu cepat, Stella." ujar laki-laki itu datar.

"Kenapa, Kak? Kau tidak merindukanku?" tanya Stella dengan nada yang dibuat kecewa.

"Kau berubah Kak." sambung perempuan itu menunduk sedih.

Sean tidak mengerti. Ia basahi bibirnya dengan perasaan gelisah yang membumbung tinggi. Saat Stella hendak menyentuhnya, seketika bayang-bayang Alissa memenuhi khayalannya.

Tiba-tiba, dia...merasa bersalah.

"Stella, aku baru menyadari ini. Apa yang kita lakukan tidaklah benar." ucap Sean setelah lama menutup mulutnya.

Stella menegakkan wajahnya yang semula menundukkan. Ia pandangi kakak laki-lakinya itu bingung.

"Tidak benar? Apa maksudmu?" ujarnya meminta penjelasan.

"Kita saudara. Tidak selayaknya kita melakukan ini." jelas Sean dengan perasaan yang gamang. Bukankah, apa yang baru saja ia katakan adalah kenyataan?

Benar. Dia dan Stella adalah saudara. Ini tidak benar. Dia...harus segera mengakhiri hubungan yang tidak normal ini.

Mendengar penuturan Sean, Stella tertawa miris. "Kenapa baru sekarang? Setelah aku benar-benar jatuh cinta padamu, kau baru mengatakan hal bodoh itu?!" tukasnya tidak terima.

Ya. Pada kenyataannya, Sean yang pertama kali bermain api. Lalu layaknya api yang tersiram bensin, Stella menerima perlakuan Sean dengan senang hati. Mereka diam-diam menjalin hubungan di belakang orangtua mereka.

Lalu ketika foto mesra mereka diketahui oleh orangtua mereka, Sean dipaksa untuk menikah dengan Alissa. Anak angkat keluarga Balrick.

"Apakah kau sudah jatuh cinta pada istrimu?" tebak Stella tersenyum mengejek.

Sean diam. Apakah dia sudah jatuh cinta pada Alissa? Mungkin...iya. dia sudah benar-benar jatuh pada pesona istrinya. Bahkan lebih besar daripada perasaannya dengan Stella.

Perubahan Alissa telah membuatnya terusik dan melihat sisi lain dari perempuan itu. Membuat Sean kelimpungan.

"Aku harus pergi." Sean hendak meninggalkan kamar. Tujuan utama dia mengiyakan ajakan Stella untuk pergi ke hotel adalah untuk memastikan perasaannya. Apakah perasaan laknatnya pada Stella masih ada atau malah sudah diambil alih oleh Alissa.

 Dan sekarang, dia sudah tahu jawabannya. Tidak ada urusan lagi dia di sini.

 Buru-buru Stella menahan kepergian Sean. Ia gegas memeluk tubuh saudaranya itu erat seakan takut kehilangan.

"Jangan lakukan ini padaku, Kak. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa kehilangan dirimu." ujar Stella kalut. Suaranya serak menahan tangis.

"Stella, lepas." titah Sean tegas. Ia mencoba untuk menyingkirkan tangan Stella yang melingkar pada perutnya.

 Perempuan itu menggeleng ribut. "Tidak! Aku tidak mau. Katakan padaku jika kau masih mecintaiku. Kau tidak mecintai Alissa!"

"Stella, aku memperingatimu." tukas Sean dengan nada yang menekan.

 Stella melepaskan pelukannya dari tubuh Sean. Namun setelah itu ia rangkul leher kakaknya itu dan hendak menempelkan bibirnya pada milik Sean.

 Belum sempat terealisasikan, tubuhnya sudah lebih dahulu didorong oleh Sean kuat hingga ia tersungkur pada ranjang.

"Jaga sikapmu, Stella!" amuk Sean dengan wajah marahnya.

 "Kenapa?!" perempuan itu tak gentar.

"Kau selalu mengatakan jika kau mecintaiku. Tapi tidak pernah sekalipun kau menyentuhku!" protesnya menatap Sean marah.

 Bahkan sekedar ciu-man bibirpun, Sean tidak pernah memberikannya. Apakah itu memang cinta?

"Aku harus pergi." semakin lama Sean hanya berdua Stella, semakin besar rasa bersalahnya pada Alissa.

"Kau tidak boleh pergi, Sean!"

Stella berteriak. Ia bangkit dan langsung menarik Sean dan menjorokkan laki-laki itu pada ranjang.

"Kau masih mecintaiku. Kau masih mecintaiku!!" 

Stella seperti orang yang kehilangan akalnya. Ia mencoba melepaskan kemeja yang melekat pada tubuh tegap kakaknya. Baru tiga kancing teratas yang terbuka, perempuan itu memekik ketika Sean menen-dangnya tiba-tiba.

Sean bangkit. Mata setajam elangnya seakan ingin membakar Stella hidup-hidup.

"Kali ini kumaafkan. Jika kejadian ini sampai terulang lagi, aku tidak akan mengampunimu meskipun kau adalah adikku." ancam Sean dingin.

Saat tangan laki-laki itu menyetuh tuas pintu, suara Stella berhasil membuat Sean terusik.

"Jika aku mengatakan bahwa aku bukanlah adik kandungmu. Apa kau akan tetap bersamaku?"

.

.

Ini sudah lebih dari satu minggu dan Sean benar-benar menepati janjinya. Laki-laki itu tidak pernah memunculkan batang hidungnya di hadapan Alissa. Entah pergi ke mana laki-laki itu, Alissa sendiripun tidak tahu.

"Nyonya, ada paket untuk anda."

Alissa yang tengah membaca novel seperti kebiasaannya akhir-akhir ini menoleh pada Elis, yang membawa kotak coklat yang dihiasi pita berwarna hitam.

Kening perempuan itu mengerut bingung. "Untukku?" ujarnya memastikan.

"Iya. Di sini tertulis nama anda."

"Aku tidak memesan apapun, Elis." kata istri Sean itu mengutarakan kebingungannya.

Elis mengendikan bahu acuh sebelum akhirnya bibirnya menyunggingkan senyum penuh misterinya.

"Mungkin saja dari penggemar rahasia, Nyonya."

"Penggemar rahasia?"

Elis mengangguk. "Orang yang mengagumi anda diam-diam."

Sontak Alissa terkekeh kecil. "Mana mungkin. Aku saja tidak pernah keluar rumah. Bagaimana caranya aku punya penggemar rahasia?" ujar Alissa menggeleng samar.

"Tidak ada yang tidak mungkin, Nyonya." pelayan itu membantah argumen Alissa.

"Baiklah-baiklah. Coba aku lihat kotaknya."

Elis memberikan kotak coklat itu sesuai yang Alissa minta. Istri Sean itu meneliti kotak itu dengan seksama. Tidak ada yang aneh sih. Di dalamnya bukan bom kan. Mungkin saja ini kiriman dari Sean yang isinya senjata untuk menghabisinya.

Pemikiran Alissa tentang Sean selalu buruk. Seakan tidak ada satupun kebaikan yang Sean pernah lakukan.

"Jika begitu, saya pamit lanjut bekerja, Nyonya." Alissa hanya mengangguk menanggapi.

Di tengah perjalanan, Elis tidak sengaja menabrak seseorang karena terlalu fokus membenarkan pita seragamnya yang longgar.

"Ma--maaf Tuan." gugup pelayan itu menunduk.

"Lain kali perhatikan jalanmu." tegur Rion yang baru saja datang dari taman. Di tangannya terdapat sebuket bunga mawar merah hati yang sepertinya baru saja dia petik.

"Sekali lagi, saya minta maaf. Tidak akan saya ulangi."

Rion mendengus melihat Elis yang terus menunduk. "Taruh ini pada vas lalu letakkan di kamar Nyonya Alissa." titah Rion menyodorkan bunga yang dibawanya.

"Ini perintah Tuan Sean."

Elis tidak bisa membantah. Ia terima bunga itu dengan patuh. Baru setelah Rion menjauh dari jangkaunnya, dia mendesah lega seperti baru saja terbebas dari mara bahaya.

Saat akan melanjutkan jalannya, suara dering ponsel dari saku mengintrupsi perhatian Elis.

Melihat nama yang tertera pada layar, mata Elis mengedar seolah-olah ingin memastikan bahwa di sekitarnya tidak ada orang.

Merasa aman, ia geser ikon hijau sebelum akhirnya ia dekatkan ponsel pada telinganya.

"Halo."

"Aku masih bekerja Bu. Pekerjaanku belum selesai. Aku harus melakukan tugasku dengan hati-hati. Jangan sampai ada kesalahan yang bisa membuatku kehilangan pekerjaan."

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!