"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Bab 9
Hari-hari Nabila sangat melelahkan semenjak ia masuk menjadi mahasiswi magang di perusaahaanya milik Alka ia sama sekali tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri, Nabila semakin sadar kalau kehidupan dewasa itu susah tapi satu hal yang membuat Nabila kuat yaitu kehadiran yang ibu, Dewi adalah segalanya bagi Nabila.
"Huf! sabar Nabila sebentar lagi magang mu selesai dan habis itu kamu tinggal fokus menyusun skripsi selesai, baru habis itu kamu bisa pergi jauh dan bekerja dengan tenang," gumam Nabila yang lupa kalau dirinya dan Alka sudah bersetatus sebagai tunangan.
"Ya Tuhan, bagaimanapun jalannya tolong beri keajaiban agar perjodohan ku dengan Pak Alka batal," do'a Nabila sungguh-sungguh.
Dan hari ini Nabila sedikit bernapas lega karena tidak ada pekerjaan kantor, tapi ia ada jadwal ke kampus.
"Hai Nabila, kamu katanya magang di kantor XX hebat donk nanti setelah lulus bisa langsung kerja di sana, semua anak pada iri sama kamu saat mereka ingin dapat surat magang di sana ternyata kamu yang dapat," ujar teman Nabila saat mereka bertemu di kampus.
"Kata siapa enak, CEO galak dan juga di siplinnya keterlaluan kamu nggak lihat gue makin kurus itu semua gara-gara gue magang di sana," pekik Nabila.
"Iya juga, kamu tampak lebih kurusan dari sebelumnya, kasian kamu Nabila gue do'akan semoga setelah kamu lulus kamu menikah aja sama Pak Alka, heheh," ucap Sisil terkekeh ria.
"Kamu tidak ada kerjaan do'ain saya aneh-aneh," sungut Nabila kesal, susah payah ia berdo'a agar di batalkan perjodohannya dengan dosen galaknya itu justru Sisil mendo'akan balik.
"Sory, habisnya gue tidak tega melihat lo kesusahan terus, gue tahu selama ini lo bekerja banting tulang buat hidup lo kan!" cicit Sisil tiba-tiba keadaan jadi sendu.
"Terima kasih Sil, tapi Lo tidak perlu mendo'akan gue menikah dengan Pak Alka, karena bagi gue setelah lulus dapat pekerjaan itu saja, apa lagi Pak Alka kamu tahu kan, orangnya gimana, dia itu selain galak juga pelit," kekeh Nabila.
Sekitar jam sepuluh Nabila urusan di kalau sudah selesai dan ia berniat mau pulang namun sebelum ia pergi ada seseorang yang memanggilnya.
"Aisyah," panggil seseorang dan dia adalah Fathan.
Nabila menoleh," Kak Fathan?" Fathan berjalan tegab menuju hadapan Nabila.
"Kamu mau pulang?" tanya Fathan sambil tersenyum.
"Iya kak, eh Pak." kata Nabila, masih gugup menyebut panggilan Fathan mengingat dulu Nabila biasa memanggil kakak.
"Tidak usah gugup gitu, kamu panggil kakak saja seperti biasa." ujar Fathan tersenyum, pria itu memang lebih senang di panggil kakak.
"Maaf Pak, ini masih lingkungan kampus."
"Kamu mau pulang, kan! biar kakak antar ya, sekalian ada yang mau kakak bicarakan sama kamu," ucap Fathan.
"Hah?"
"Kenapa, kamu keberatan?"
"Tidak kak, hanya saja Nabila bingung kenapa tiba-tiba Kak Fathan mau bicara sama Nabila?" tanya Nabila kikuk.
"Sebenarnya ini sudah lama, tapi karena aku lihat kamu masih sibuk jadi aku urungkan niatku, kalau sekarang kamu ada waktu kan?"
Nabila belum bisa memberi jawaban, memang sih hari ini ia longgar tapi yang bikin Nabila penasaran apa yang mau di bicarakan oleh kakak tetangganya itu.
"Bisa kak, memangnya kita mau bicara di mana kak?"
"Gimana kalau di kafe saja, sekalian kita makan siang, gimana?" Nabila mengangguk.
Dan siapa yang tahu kalau obrolan Nabila di dengar oleh tersangka dan sebelum Nabila pergi tiba-tiba suara memanggil namanya.
"Nabila, kamu di panggil suruh ke ruangan Pak Dekan sekarang," panggil mahasiswi pada Nabila saat ia sedang berjalan keluar.
"Dekan! oh Tuhan, itu kan jabatan!"
"Kak, maaf aku harus ke ruangan Dekan dulu, aduh!" Nabila merasa tidak enak sama Fathan tidak jadi keluar.
Nampak wajah Fathan ada raut kecewa tapi ia telan karena tahu ia sedang di panggil Dekan.
"Ya nggak papa, takut urusan skripsi kamu juga, kan tidak enak soal aku yang mau bicara sama kamu bisa kita atur lagi jadwalnya." ucap Fathan berusaha tersenyum tipis.
Nabila akhirnya balik arah masuk ke ruangan Alka.
Sambil menghela napas kasar, Nabila juga ngedumel karena orang satu itu tidak bisa buat hidup Nabila tenang.
Di kantor, di kampus selalu saja ada dia.
Tok!
Tok!
Tok!.
"Permisi, Pak," ucap Nabila setelah mengetok pintu ruangan Alka.
"Masuk," ucap Alka.
Nabila pun melonggar daun pintu masuk,"Siang, prof," ucap Nabila berbuat seramah mungkin karena ia tidak ingin buat kesalahan yang berujung hukuman dari dosen sialnya itu.
"Sudah selesai urusan mu?" tanya Alka pura-pura tidak tahu.
"Sudah, prof," sahut Nabila.
"Bagus, habis ini kamu pulang, ikut saya!" ucap Alka sambil membereskan mejanya. Karena ia tidak ingin terlihat mengajak Nabila satu mobil.
"Ti-dak perlu Pak, saya bisa pulang sendiri," tolak Nabila gugup.
"Kenapa, apa kamu sudah ada jadwal pergi sama orang lain?"
"Bu-kan begitu Pak, saya cuma tidak mau merepotkan Bapak saja." alibi Nabila.
"Saya tunggu di parkiran, sekarang!" Alka tidak menanggapi alasan Nabila lagi, ia pergi begitu saja.
Nabila menghela napas kasar, ia sangat bingung menghadapi sikap Alka yang berubah-rubah seperti bunglon, kadang baik tapi lebih banyak galaknya dan tidak punya perasaan.
Kadang pula Alka bikin Nabila salting, atas pengakuan dan sikapnya terhadap dirinya.
"Terserah burung kutub itulah, gue capek," gumam Nabila pasrah.
Andai saja tahu Alka hanya mengajaknya pergi tidak jelas seperti ini lebih baik ia ikut Fathan saja dari pada ikut harimau Sumatra.
Nabilapun bergegas untuk segera pergi ke parkiran takut Alka menunggu lama, yang ada singanya muncul kembali.
Di dalam mobil Nabila diam saja, sama halnya dengan Alka yang fokus menyetir ke depan, ke duanya sampai sepuluh menit tidak ada yang terlibat obrolan satu sama lain, seolah bukan di dalam mobil tapi di kuburan.
Namun Nabila tiba-tiba menyerngit bingung saat menatap jalanan di luar, karena jalan yang di ambil Alka sangat asing buta Nabila.
"Maaf Pak, sebenarnya kita mau kemana, ya?" Akhirnya Nabila memberanikan diri bertanya.
"Nanti juga tahu," jawab Alka singkat.
"Huh!" Kalau gitu buat apa gue nanyak.
"Iya Pak, lanjut."
"Oke, kalau gitu kita turun!" ajak Alka. Hatinya senang karena Nabila tidak membantah, hingga pria itu dengan sigap turun dari mobil tanpa menunggu Nabila turun.
"Fix cowok modelan begitu mana pantas jadi calon suami gue," sungut Nabila kesal karena Alka tidak ada manis-manisnya sama sekali, bukan ia ingin mendapatkan perhatian khusus dari Alka tapi setidaknya hargai keberadaannya bagaimanapun dirinya yang membawa ke sini.
Nabila berusaha mengejar Alka dari belakang karena Alka sudah lebih dulu masuk ke sebuah restoran.
"Kalau hanya mau makan kenapa, jauh banget sih, dari tadi juga banyak warung makan nganggur," dumel Nabila tapi ia hanya berani dalam hati.
Alka duduk di meja yang hanya ada dua kursi, sudah pasti Nabila duduk di depan Alka karena hanya itu yang tersisa.
Dengan sigap ke dua pelayan datang dengan hormat, sambil memberikan sambutan ramah juga mempersoalkan Alka dan Nabila memilih menu makanan dan minuman.
Alka hanya melirik sekilas dan langsung menyebut menu yang mau ia pesan, sedang Nabila diam karena merasa belum di tawarin memilih.
"Kamu mau pesan, apa?" tanya Alka.
"Lebih baik gue nggak makan, dari pada depan harimau yang ada gue kesedak berkali-kali nanti," batin Nabila.
"Saya mau minum aja pak, saya belum lapar," jawab Nabila jujur, ia memang belum lapar karena seperti biasa Nabila sarapannya hampir makan siang jadi jam segini ia belum laper.
"Isteri saya tidak laper, tolong buatkan minuman yang paling enak di sini," ucap Alka pada pelayan.
"Hah! Istri?"
****
Dasar Alka ijab Qobul saja belum... Wkwkwkwk