NovelToon NovelToon
Cinta Di Tapal Batas

Cinta Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Romansa pedesaan / Diam-Diam Cinta / Cintamanis
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.

"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."

"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."

Bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

"Aaagghhh..." Ringgo berteriak ketika badanya dipukul dari belakang. Belum sempat melihat pelakunya, mata pria itu berkunang-kunang.

Mendengar teriakan, Ratna yang nyaris jatuh karena ada yang mendorong segera berpegangan anak tangga nomor tiga. Dia menoleh ke belakang memandangi suaminya yang sudah tersungkur di lantai.

"Ada apa satpam?" Ratna beralih menatap satpam yang hendak meninju ulang tubuh Ringgo.

"Maaf Bu, terpaksa saya lakukan ini" satpam membuka kepalan tinju, mengurungkan niatnya untuk menghajar pria yang selalu membuat onar di toko.

"Jadi Dia yang mendorong saya?" Ratna tidak bergerak dari anak tangga yang ia pijak. Ratna masih tidak percaya jika suami yang selama ini ia hormati bermaksud membunuhnya.

"Lihat Bu..." satpam menunjukkan cctv, tampak Ringgo mendorong Ratna, tapi dengan cepat satpam memukul sekenanya hingga akhirnya Ringgo terkapar.

Ratna mendengus, dengan kejadian ini niatnya untuk bercerai semakin kuat. Dia ingin segera menyelesaikan perceraiannya dengan cepat. Jika kelamaan nyawanya yang akan melayang.

"Kenapa kamu biarkan pria ini masuk ke toko, satpam?" Ratna kesal juga, kenapa satpam yang sudah ia beri tugas untuk menjaga keamanan toko tapi ketika kejadian 30 menit yang lalu satpam tidak ada di tempat.

"Maaf bu... saya tadi sedang membuat kopi di pantri" satpam merasa bersalah. Padahal ketika ia berjaga sejak pagi tidak ada masalah. Namun, baru pergi selama lima menit saja ia mendengar cerita Minto jika ada drama di kasir.

"Ratna..."

Ketika sedang menjelaskan kepada bos nya, satpam mendengar Ringgo melenguh.

"Seret pria ini keluar, satpam" Perintah Ratna menatap Ringgo pun sudah tidak mau. Dia pesan kepada satpam agar jangan membiarkan Ringgo masuk ke toko bagaimana pun caranya.

"Baik Bu..." Satpam menarik paksa tangan Ringgo yang sudah tidak berdaya.

"Lepas, pegawai rendahan!" Ringgo hendak menghempas tangan satpam tapi sia-sia karena tenaganya lembek.

"Ratna... Jangan bergurau terus" Ringgo berharap Ratna tidak sungguh-sungguh mengusirnya dalam keadaan seperti ini. Ringgo yakin Ratna bukan wanita yang tega membiarkan dirinya. Masih ingat benar, ketika ia dikeroyok teman mabuk, dan saat dipukuli sesama penjudi, tapi Ratna masih mengobati dengan telaten. Namun, saat ini Ratna tidak menggubris walau ia berteriak-teriak minta belas kasihan.

Satpam menyeret Ringgo keluar toko dan dia biarkan terkapar kepanasan di halaman toko.

"Awas kamu pegawai rendahan, saya akan menuntut balas!" Ringgo menunjuk satpam, lalu berjalan pincang dengan membawa segudang dendam kemudian naik ke dalam mobil angkutan.

Sementara Ratna mengumpulkan empat karyawannya termasuk satpam. "Ini nomor kantor polisi, jika sampai Ringgo memaksa masuk segera telepon" pesannya. Ratna rupanya sudah menganggap Ringgo musuh.

"Baik Bu..."

 Ratna pun pergi dengan mobilnya, tiba di lampu merah ia menghubungi seseorang.

"Hallo..." jawab pria entah siapa.

"Jaga rumah saya, jangan biarkan Ringgo menginjak halaman, apalagi masuk ke rumah" tegas Ratna. Setelah mendengar jawaban yang melegakan dari seorang pria, Ratna gantian telepon bibi di rumah.

"Saya Bu..."

"Tolong masukkan pakaian Ringgo ke dalam tas, lalu letakkan di luar pagar. Cepat ya, Bi," pungkas Ratna, karena lampu merah berganti hijau ia melanjutkan perjalanan.

***********

Di dalam kamar, sudah dua hari Dini mengurung diri. Anak itu tidak mau sekolah walau mbah Ambar membujuknya. Dia merasa tertipu dan kecewa oleh pria yang sangat ia cintai.

Dini tidak menyangka jika Aksa pria baik dan jujur itu tetapi ternyata anak seorang penjahat yang menyebabkan dia dan ibu kandungnya berpisah. Dini yakin, Aksa tahu perbuatan orang tuanya dan seharusnya berani mengingatkan.

Dini merasa terjebak dalam permainan cintanya sendiri. Seandainya tidak mencintai Aksa mungkin tidak akan sesakit sekarang.

Tok tok tok.

"Dini... Mbah masuk ya..."

Terdengar mbah memanggil dari luar, Dini cepat-cepat membersihkan air matanya.

 "Iya Mbah" jawabnya lalu menyusun energi yang telah hilang bergerak membuka pintu. Tapi Dini segera balik badan, tidak ingin matanya yang bengkak itu diketahui oleh mbah Ambar.

"Dini... mau sampai kapan kamu sedih begini..." Mbah mengangkat dagu cucunya, menatap mata Dini yang sembab itu tidak tega.

Tetapi Dini bukan menjawab, justru menunduk. Sepandai-pandainya ia menyembunyikan air matanya tetap saja terbaca oleh mbah Ambar.

"Sini sayang..." mbah Ambar memeluk pundak Dini mengajaknya berjalan ke tempat tidur. Dua wanita itupun duduk di pinggir ranjang yang muat untuk dua orang. "Jika kamu tidak mau sekolah seperti ini, memang tidak kasihan ibumu yang sudah berjuang keras untuk masa depan kamu?" Lanjut mbah Ambar.

"Tapi kenapa Ibu menyuruh aku tinggal di desa ini Mbah?" Tanya Dini, air matanya mengalir kembali. Ia pikir Ratna sekongkol dengan Ringgo.

"Kata siapa Burhan tinggal disini..." mbah Ambar mengusap air mata cucunya, lalu menceritakan jika Aksa dengan Burhan tinggal terpisah.

"Aku kecewa Mbah, kenapa Aksa harus jadi anaknya Burhan?" Dini tergugu.

"Dini... Kamu yang sabar sayang... Aksa memang darah dagingnya Burhan, tapi sejak kecil tinggal bersama Tono bapak tirinya. Mbah yakin, Aksa tidak akan menuruni sikap Ayahnya," mbah Ambar mencoba menjelaskan.

Dini pun akhirnya terdiam, mencerna kata demi kata yang disampaikan mbah Ambar.

"Sebaiknya besok kamu masuk sekolah ya, kasihan ibu kamu."

"Iya, Mbah."

Begitu Dini agak tenang, mbah Ambar menyuruh tidur lalu keluar kamar.

Tok tok tok.

Tiba di luar kamar, mbah Ambar berjalan ke arah depan hendak membukakan pintu untuk tamunya.

"Kamu..." mbah Ambar kaget melihat Ratna datang.

"Iya bu, bagaimana kabar Dini?" Ratna khawatir, cepat atau lambat Ringgo pasti akan datang kesini mencari Dini. Ratna ingin langsung ke kamar bertemu Dini, tapi mbah Ambar tahan, alasannya cucunya sedang tidur siang.

"Dini baik-baik saja, Na. Sebaiknya kamu duduk dulu," Mbah tidak langsung memberi tahu apa yang terjadi dengan Dini. Ia suruh Ratna istirahat, kemudian ke dalam. Tidak lama kemudian mbah Ambar kembali membawa kendi dan cangkir dari tanah liat.

"Minum dulu" titahnya, meletakkan kendi di depan putri pertamanya.

"Biar aku ambil sendiri, Bu..." Ratna tidak enak hati. Ia yang memang haus tak urung menuang air lantas meneguknya.

 "Kamu ini tidak kangen anak sama ibu kamu ini apa?" Mbah Ambar kesal karena Ratna tidak pernah pulang ke desa.

"Bukan begitu Bu..." Ratna menceritakan alasannya tidak datang bukan karena tidak rindu Dini dan mbah Ambar, tapi ia sulit sekali mencari celah agar kedatangannya ke tempat ini tidak diketahui oleh Ringgo.

"Itu hukuman untuk anak ngeyel seperti kamu, Ratna," mbah semakin kesal ketika ingat larangannya agar jangan menikah dengan Ringgo, tapi saat itu Ratna tetap saja nekat. "Sekarang kamu jadi susah sendiri bukan? Ini yang dulu kamu katakan cinta? Alasan tai kucing!" Umpat mbah Ambar penuh sesal.

"Sudahlah Bu... Jangan marah-marah lagi, aku minta maaf. Mohon doanya ya, Bu, sekarang aku sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan" Ratna berharap gugatannya tidak berbelit-belit dan cepat selesai.

"Bagus Ratna, tapi semua sudah terlambat."

"Terlambat..." Ratna segera meletakkan cangkir, menunggu jawaban apa maksud ibunya.

 "Dini sekarang jatuh cinta sama anaknya Burhan, Na."

"Apa? Tidak bisa!" Ratna seketika berdiri.

...~Bersambung~...

1
Darti abdullah
luar biasa
Eka ELissa
knpa tu Lusi..... entahlah hy emk yg tau.....
Buna Seta: Jangan jangan bunting
total 1 replies
Attaya Zahro
typo kak..yang memberi Burhan bukan Ringgo
Attaya Zahro: Iya kak 😍😍
total 2 replies
Ita rahmawati
ada apa nih dg bu lusi
Ita rahmawati
polisi dateng,,apakah 22 nya ditangkep 🤔
Eka ELissa
nah lohh.... Burhan Ringgo msuk bui.,. tu bersiap udh di jmput mo di bawa ke hotel 🏨🏨🏨 prodeo 😄😄😄😄🤭
Buna Seta: Kapok dia 😁
total 1 replies
neng ade
aku hadir disini thor .. 🙏😍
Buna Seta: Lanjut ya
total 1 replies
Ita rahmawati
aksa kah yg dateng atau orang lain
vj'z tri
🫣🫣🫣🫣 semoga selamat 🫣🫣
Eka ELissa
Lusi pa Ringgo.....yg culik....dini... entahlah hy emak yg tau...
Eka ELissa
aduh....Bu ..dini....di culik tau ...smoga GK knpa2....yaaa......🤦🤦🤦
Bu Kus
lanjut
Fitriah Fitri
pleazee thor ... 2 bab tudey. nti sore up lg kan dr kmrn 1 bab trs up nya
Buna Seta: Lagi galau say, retensi buruk 😭
total 1 replies
vj'z tri
sabar Mak sabar tanya pelan pelan jangan langsung gas 🤭🤭🤭🤭
Ita rahmawati
siapa ya yg nyulik,,lusikah atau ringgo kah atau ada lg orang baru 🤔
Eka ELissa
dini....pak....msih inget kan kmu...😡😡😡
Ita rahmawati
hadeuh siapa nih yg bekap dini
Attaya Zahro
Jangan² nih kerjaan si Bu Lusi,.dan malah membuat Aksa jadi salah paham ma Burhan..
Attaya Zahro
Waduh..Dini di culik..tolong Dini Bang Aksa
Bu Kus
lebih baik jujur aja dini kan Aska gak tahu dengan kamu jujur pasti akan bertindak jangan main curiga nanti kamu nyesel lho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!