NovelToon NovelToon
Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Horror Thriller-Horror
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: TAMU DI BALIK DINDING

BAB 10: TAMU DI BALIK DINDING

Arga memacu motornya gila-gilaan. Pikirannya kalut. Pesan singkat tadi terus terngiang seperti kutukan. Di kamarmu. Jangan biarkan ibumu melihatnya.

Begitu sampai di depan kontrakan, Arga melihat lampu ruang tengah menyala. Ia masuk dengan terburu-buru, mencoba bersikap normal meski jantungnya berdegup seperti genderang perang.

"Arga? Kok baru pulang, Nak? Katanya shift malamnya sudah selesai?" Suara ibunya terdengar dari arah dapur. Aroma nasi goreng tercium, suasana yang seharusnya hangat, namun bagi Arga terasa sangat mencekam.

"I-iya, Bu. Ada lembur sebentar," jawab Arga sambil menunduk, berjalan cepat menuju kamarnya.

"Oh ya, tadi ada temanmu antar barang. Katanya tertinggal di kantor. Ibu taruh di atas kasurmu ya," lanjut ibunya.

Langkah Arga terhenti tepat di depan pintu kamar. Tangannya gemetar saat memegang gagang pintu. "Teman? Ciri-cirinya bagaimana, Bu?"

"Orangnya tinggi sekali, pakai jaket hitam dan topi. Sopan kok, tapi wajahnya tertutup masker."

Arga memejamkan mata. Itu bukan temannya. Itu 'mereka'.

Ia membuka pintu kamar perlahan. Suasana kamarnya gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalan yang menembus ventilasi. Di atas kasur busanya yang tipis, tergeletak sebuah benda panjang yang dibungkus kain beludru merah darah.

Bentuknya menyerupai peti mati anak-anak.

Begitu Arga menutup pintu kamar, sebuah suara lirih muncul dari dalam peti itu.

"Arga... tolong... panas... di sini panas..."

Arga terperanjat. Itu suara ibunya! Suaranya sangat identik, penuh penderitaan dan sesak napas.

"Ibu?" Arga menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup. Di luar, ia masih mendengar suara gesekan sodet dan wajan di dapur. Suara ibunya yang sedang bersenandung kecil juga terdengar dari sana.

Arga terjebak dalam paradoks horor. Siapa yang ada di dapur? Dan siapa yang ada di dalam peti ini?

Ia mendekati peti itu. Bau melati dan anyir darah segar mulai memenuhi ruangan. Arga melihat sebuah label pengiriman yang tertempel di kain beludru itu.

PENERIMA: ARGA (PENGHUNI KAMAR INI).

PENGIRIM: MASA LALU YANG KAU LUPAKAN.

Arga teringat aturan nomor tiga: Jangan pernah buka paketnya. Tapi suara tangisan dari dalam peti itu semakin memilukan.

"Arga... ini Ibu, Nak... yang di luar itu bukan Ibu... cepat buka... Ibu nggak bisa napas..."

Tiba-tiba, bayangan di bawah pintu kamarnya bergerak. Seseorang berdiri di depan pintu kamar Arga dari luar.

Tok... Tok... Tok...

"Arga? Kamu bicara dengan siapa di dalam?" Itu suara ibunya dari luar pintu. "Buka pintunya, Nak. Ibu mau antar minum."

Arga berdiri di tengah kamar, berkeringat dingin. Di depannya ada peti yang berisi "suara ibunya", dan di balik pintu ada "ibunya" yang asli. Atau mungkin keduanya palsu?

Arga mengambil koin emas dari sakunya dan melihat melalui lubang koin tersebut ke arah pintu. Melalui lubang koin, ia tidak melihat ibunya. Ia melihat sosok Pengawas jangkung yang sedang memegang nampan berisi cairan hitam pekat.

Lalu ia melihat ke arah peti melalui lubang koin. Di dalam peti itu, bukan ibunya, melainkan dirinya sendiri yang sedang meringkuk dengan tubuh penuh luka bakar.

"Ini tes..." bisik Arga. "Ini ujian untuk membuatku melanggar aturan."

Arga tidak membuka pintu, juga tidak membuka peti. Ia duduk bersila di lantai, memejamkan mata, dan mulai membacakan doa-doa yang pernah diajarkan ayahnya dalam catatan itu.

Tiba-tiba, peti itu bergetar hebat. Suara tangisan di dalamnya berubah menjadi geraman monster yang marah. Pintu kamar digedor-gedor dari luar dengan kekuatan yang bisa menghancurkan kayu.

"BUKA PAKETNYA, ARGA! BUKA ATAU IBU-MU MATI!" Suara dari luar pintu kini berubah menjadi suara pria tua pemilik gudang.

Arga tetap diam. Ia menggenggam angka "5" di tangannya yang kini bersinar terang. Cahaya itu perlahan menyebar ke seluruh kamar, membakar kain beludru merah dan mengusir bayangan di balik pintu.

Saat cahaya itu meredup, peti itu menghilang. Kamar Arga kembali sunyi.

Arga membuka pintu kamar dengan waspada. Di luar, ibunya sedang duduk di meja makan, tampak bingung. "Arga? Kok lama sekali? Ini minumnya sudah dingin."

Arga memeluk ibunya erat-erat. Ia menangis tanpa suara. Ibunya bingung, tapi mengelus rambut Arga dengan lembut.

Saat Arga melepaskan pelukannya, ia melihat ke arah telapak tangannya. Angka "5" telah berganti menjadi "6".

Namun, ada yang aneh. Di cermin lemari, Arga melihat pantulan dirinya. Di belakang pantulannya, berdiri sosok ayahnya yang tanpa wajah, memegang sebuah foto tua.

Foto itu adalah foto Arga saat bayi, tapi di tangan bayi itu ada sebuah tanda kecil... angka "30".

Arga menyadari satu hal yang paling mengerikan: Dia bukan baru saja memulai pekerjaan ini. Dia sudah menjadi bagian dari rencana ini sejak dia dilahirkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!