Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23 - Sahabat Valen
Valen melangkah masuk dengan sangat hati-hati, hampir tidak mengeluarkan suara. Di dalam ruangan VVIP yang luas itu, suasana begitu tenang. Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan kesan hangat pada ruangan yang didominasi warna putih bersih tersebut.
Di sudut ruangan, Valen melihat Robi sudah lebih dulu menyelinap masuk dan merebahkan dirinya di sofa panjang dekat jendela, langsung terlelap karena kelelahan.
Valen menarik napas panjang, lalu langkahnya tertuju pada ranjang di tengah ruangan. Di sana, Mila terbaring lemah. Wajahnya yang biasa kemerahan saat berargumen soal teori akuntansi, kini tampak pucat. Tangan kirinya terhubung dengan selang infus yang meneteskan cairan penguat tubuh.
Valen menarik sebuah kursi dan duduk tepat di samping ranjang Mila. Ia tidak menyentuh tangan Mila, takut sentuhan itu akan mengusik tidur sang gadis yang sudah sangat menderita hari ini. Ia hanya menatap wajah Mila dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang membawa sejuta rasa bersalah sekaligus kasih sayang yang tak bisa ia ungkapkan lewat kata-kata.
"Maafin aku, Mil," bisik Valen sangat lirih, nyaris tak terdengar oleh udara sekalipun. "Seharusnya aku lebih berani menghadapi Papa sejak awal, supaya kamu nggak perlu tahu lewat cara menyakitkan seperti ini."
Jam dinding terus berdetak menunjukkan pukul dua pagi. Valen sama sekali tidak memejamkan mata. Ia justru melihat laptop Mila yang tergeletak di atas meja samping ranjang. Valen tahu, pingsannya Mila dipicu oleh stres berat menghadapi Bab 5 yang tak kunjung selesai. Ternyata setelah tadi Mila sadar dari pingsannya, Mila tau dirinya dirawat, Mila minta Robi mengambilkan laptopnya.
Dengan gerakan sangat perlahan, Valen mengambil laptop itu. Ia membawanya ke meja kecil di sudut ruangan yang jauh dari jangkauan pandangan Mila nantinya. Ia menyalakan laptop tersebut, meredupkan cahayanya hingga paling rendah, lalu mulai membaca draf skripsi Mila.
Sebagai lulusan terbaik yang baru saja menyelesaikan sidangnya, Valen sangat tahu di mana letak kelemahan draf itu. Dengan jemari yang lihai, ia mulai merapikan format margin yang berantakan, memperbaiki sitasi jurnal, dan menambahkan catatan-catatan kecil pada bagian yang sulit dipahami. Ia tidak mengubah isi pemikiran Mila, ia hanya memuluskan "jalan" agar Mila tidak perlu lagi menangis saat membacanya nanti.
Hampir tiga jam Valen berkutat dengan angka dan teori di laptop itu, memastikan semuanya sempurna untuk sidang Mila satu minggu lagi.
Pukul 05.00 tepat, Valen menutup laptop tersebut dan mengembalikannya ke tempat semula. Ia mengambil selembar sticky note berwarna kuning dari dalam tasnya, lalu menuliskan beberapa baris kalimat.
Ia menatap Mila sekali lagi. Untuk sekejap, ia merasa Mila sedikit bergerak dalam tidurnya. Valen segera berdiri membeku, namun ternyata Mila hanya mengubah posisi kepalanya. Valen pun membungkuk, memberikan jarak beberapa senti dari kening Mila, lalu membisikkan doa pelan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk keluar ruangan sebelum Mila terbangun.
Saat Valen membuka pintu dengan sangat hati-hati, ia dikagetkan oleh sosok Naldy yang baru saja selesai melakukan keliling pagi.
"Gila lo, Len. Mata lo udah kayak panda," tegur Naldy pelan sambil menarik Valen menjauh dari pintu.
"Gue nggak apa-apa, Naldy. Gue harus balik dulu, kalau Mila liat gue di sini, suasananya bisa makin rumit buat Mila," jawab Valen lemas.
"Tolong jaga Mila, gue mau pulang mandi trus beliin dimsum kesukaannya. Gue bakal balik lagi ke sini," lanjut Valen.
Naldy menggelengkan kepala melihat kegigihan sahabatnya. "Dia udah stabil. Nanti kalau dia bangun dan nanyain siapa yang bawa dia ke ruangan ini, gue harus jawab apa? Jujur kalau ini semua ide lo?"
Valen menggeleng. "Jangan. Bilang aja ini prosedur rumah sakit buat pasien VIP. Gue belum mau dia ngerasa terhutang budi lagi sama gue."
"Yaudah gue lanjut keliling dulu," ucap Naldy.
"Lo pemiliknya, Lo yang rajin keliling," kekeh Valen.
"Itu biar gak dibilang makan gaji buta, udah Lo sana balik, bau tu badan!" seru Naldy membuat Valen memukul lengan sahabatnya itu.
Valen pun berlalu pergi, meninggalkan rumah sakit tepat pada saat matahari mulai menyingsing, membawa harapan baru bahwa satu minggu lagi, ia akan mengakhiri semua kesalahpahaman ini.
Sesampainya di parkiran, Valen mengirim pesan ke Robi kalau dia pulang untuk mandi dan mengurus cafenya sebentar, setelahnya akan kembali ke rumah sakit.
__________
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️