"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Rahasia Pram
Plak!
"Dasar anak tidak berguna!!"
Laki-laki yang mengenakan pakaian rumah sakit itu, sangat terkejut kala pipinya yang lebam tiba-tiba sebuah mendapatkan tamparan keras.
Sang pelaku menatap laki-laki itu berang. "Di mana otakmu Pram?! Berani sekali kau menyinggung Tuan Muda Wijaya!!"
Mendengar nama seseorang yang paling dibencinya di sebut, membuat laki-laki berpakaian rumah sakit itu menyunggingkan kekehan sinisnya.
"Kau bahkan tidak bertanya keadaanku, tiba-tiba datang dan memarahiku karena bajingan itu."
"Tutup mulutmu!!" Vero-- laki-laki paruh baya yang berstatus sebagai ayah dari Pramudya itu, mengacungkan jarinya penuh peringatan.
"Apa yang telah kau perbuat hah?! Tindakan bodoh apa yang membuat Tuan Muda Wijaya murka!"
Wajah yang mulai mengeriput milik Vero menegang. Dahinya menunjukkan lipatan-lipatan emosi yang memuncak.
Pram melengos. Enggan menatap wajah ayahnya yang dikuasi amarah. "Aku tidak melakukan apapun."
"Lalu bagaimana bisa tiba-tiba perusahaan Wijaya menarik sahamnya dari perusahaan Abraham?! Bisa kau jelaskan itu?!"
"Apa kau tahu, akibat dari penarikan saham itu, perusahaan kita rugi miliaran rupiah!!" cerca Vero, meneriaki anaknya dengan nada yang tinggi.
Pram terkejut. Hanya saja, tak ia tunjukkan secara terang-terangan di depan Vero. Ia balik menatap ayahnya itu muak.
"Kenapa kau bertanya padaku? Seharusnya kau tanyakan kepada pihak yang bersangkutan."
"Anak sialan!"
Plak.
Sekali lagi. Pram mendapatkan tamparan pada pipinya. Padahal luka-luka bekas pukulan Kalendra belum sepenuhnya sembuh. Kini, ia dapatkan lagi luka baru dari telapak tangan ayah kandungnya sendiri. Menyebabkan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Dan itu--- karena banjingan yang sama yang menghancurkan hidupnya.
"Sekarang juga, kau harus datang pada Tuan Muda Wijaya dan minta maaf padanya! Jika perlu sujud di kakinya. Mohon padanya untuk kembali menanam saham di perusahaan Abraham!!" seru Vero tidak ingin dibantah.
Pram berdecih. Akhirnya, saat-saat seperti ini tiba lagi. Masa di mana ayahnya memperlakukan dirinya semena-mena tanpa pernah memikirkan perasaannya. Memperlakukan Pram layaknya boneka yang bisa dikendalikan sesuka hatinya.
Rasanya...Pram sudah muak. Dia tidak ingin lagi menjadi pecundang yang tak bisa apa-apa di hadapan laki-laki tua yang sialnya adalah ayahnya sendiri.
"Aku tidak mau." tolak Pram tegas, membuat amarah Vero kian membara.
"Tidak mau? Sayangnya kau tidak diijinkan untuk menolak!! Apa kau lupa? Kau adalah anjingku. Jadi, sudah tugasmu untuk patuh kepada majikanmu." tekan Vero memperingati.
Telapak tangan Pram mengepal kuat. Tidak ada yang tahu betapa ia menahan diri untuk tidak menghajar ayahnya sendiri.
"Jika begitu, bebaskan aku. Aku tidak ingin menjadi anjingmu lagi."
Kata-kata itu semakin menyulut. Ketegangan antara ayah dan anak itu semakin pekat. Vero menarik baju khas rumah sakit yang Pram kenakan dengan kasar, sebelum akhirnya memberikan pukulan pada rahang sang anak.
"Anak tidak tahu diuntung!!"
"Kau lupa jasa-jasaku? Asal kau tahu, jika aku tidak memungutmu waktu itu, mungkin kau sudah mati!"
Pram tertawa hambar. Ia usap rahangnya yang terasa nyeri. Sedari dulu, pukulan ayahnya tidak pernah main-main.
"Maka, ikut denganmu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku."
"Kau---
"Apa selama ini kurang? Kau selalu mengendalikan hidupku. Memerintah sesuka hati tanpa bertanya apakah aku suka atau tidak. Namun, aku tidak pernah menolak. Aku selalu patuh meskipun itu membuatku tak nyaman."
"Dulu, kau memintaku untuk mendekati putri dari keluarga Wilson, padahal jelas-jelas kau tahu, aku menyukai seseorang saat itu."
"Tapi, kau tidak peduli. Kau tetap ngotot memintaku mendekatinya. Menjadikannya kekasih dan mengambil keuntungan bisnis lewat gadis itu."
"Aku mematuhimu, meskipun aku harus rela meninggalkan gadis yang kusukai."
Ini hanya rahasia Pram. Saat laki-laki itu mendekati Kanaya di masa lalu, awalnya tidak ada rasa. Dia mendekati Kanaya atas perintah ayahnya. Namun siapa sangka, lambat laun Pram terjebak di dalam permainannya sendiri.
Laki-laki itu benar-benar jatuh cinta pada Kanaya. Dan-- di saat dia ingin serius dalam hubungannya, mengubur dalam-dalam kebohongannya, Kalendra datang sebagai pengganggu. Hingga hari itu tiba. Di mana dirinya dijebak. Lalu, Kanaya meninggalkannya.
Bukankah ini tidak adil? Kenapa Pram harus selalu kehilangan seseorang yang dicintainya. Cinta pertamanya, lalu Kanaya. Apakah...dia tidak pantas untuk mendapat cinta sejati?
"Hentikan omong kosongmu! Terlepas dari masalah Tuan Muda Wijaya, kau juga sudah mempermalukan keluarga karena berhubungan dengan wanita bersuami yang lebih tua darimu!" Vero tidak mau kalah.
"Sekarang, sebagai penebusan kesalahanmu pada keluarga Abraham, kau datangi Tuan Muda Wijaya dan minta maaf padanya. Jilat kakinya agar dia mau menanam sahamnya lagi."
Orang yang haus akan kekuasaan dan kekayaan. Orang serakah yang tidak pernah ada puasnya, itulah sifat Vero Abraham.
Sekali lagi, Pram tertawa remeh. "Hubunganku dengan Nyonya Bristi, tidak ada hubungannya denganmu."
"Dan sekali lagi aku tekankan, aku tidak sudi jika harus memohon pada banjingan yang telah memisahkanku dengan Kanaya."
Vero menggeram marah. Ingin sekali dia mencekik laki-laki yang lebih muda darinya itu. Sayangnya...dia masih membutuhkan Pram untuk keuntungannya.
"Dasar anak durhaka! Kau sama saja dengan ibumu yang pela-cur itu!!"
Pela-cur ya?
Tatapan Pram menajam. Dendam yang selama ini terpendam seakan menguar. Membentuk asap yang menyelimutinya. Membisikkan kata-kata jahat yang selalu Pram tekan.
"Apakah aku minta dilahirkan? Tidak."
"Apakah aku meminta status sebagai anak haram? Tidak."
"Dan lucunya, sekarang kau menyalahkanku. Seharusnya, dulu saat kau menyewa pela-cur, gunakan akal sehatmu untuk menggunakan pengaman. Bukan hanya mementingkan nafsu kotormu."
"Dengan begitu, aku tidak perlu lahir dan menjadi anjingmu."
.
.
"Saatnya pelepasan perban. Apakah anda sudah siap, Nona?"
Bau khas rumah sakit tercium pekat. Di salah satu ruang rawat inap di luar negeri, seorang perempuan yang wajahnya dibungkus oleh perban, mengangguk pelan.
"Aku...siap."
Setelahnya, ia merasakan wajahnya disentuh. Ujung gunting yang dingin, menyentuh perban putih yang melekat pada wajah sang perempuan. Hingga, dapat ia rasakan beban perban itu sedikit demi sedikit mulai mengendur.
Sementara, tak jauh dari bangkar, seorang laki-laki dengan sabar menunggu. Melihat hasil operasi plastik yang telah berhasil menguras banyak uangnya.
Tapi...tidak masalah. Jika nanti hasilnya memuaskan. Dan perempuan yang telah dia pungut dapat menjadi pionnya dengan baik, maka dia rela jika uangnya harus terkuras banyak.
Hal itu akan sepadan dengan dendamnya yang juga akan terbalas.
"Sekarang, coba anda buka mata anda pelan-pelan dan lihat wajah baru anda di cermin."
Zana--- perempuan itu menurut. Dengan perlahan, ia membuka matanya. Bersiap melihat wajah barunya.
Ya. Wajah perempuan itu dirubah habis-habisan. Semuanya tak luput dari operasi. Mulai dari dahi hingga dagu. Wajah Zana telah dirombak agar menyerupai seseorang.
Sesaat setelah membuka mata, Zana sedikit tertegun melihat wajah barunya pada cermin di depannya. Benar-benar berbeda. Bahkan ia sampai tidak mengenali wajahnya sendiri.
"Ini...aku?" ujarnya lirih. Kini ia lebih cantik dan mempesona.
"Benar Nona. Aka anda suka wajah baru anda?" balas dokter yang menangani.
"Tentu. Tentu saja. Ini...sangat cantik."
Mendengarnya, laki-laki yang sedari tadi mengamati tersenyum miring. Lantas, ia meminta sang dokter untuk keluar lewat gesture tangan.
Kini, tersisa mereka berdua. Sang laki-laki berdiri. Memasukkan tangan pada masing-masing saku celana. Lantas, kaki jenjangnya itu melangkah mendekati Zana.
"Kau suka wajah barumu?" tanyanya nyaris tanpa nada.
Zana sedikit mendongakkan kepalanya. Menatap laki-laki itu dengan gugup.
"Su---suka."
"Bagus."
Laki-laki itu mengambil map yang sedari tadi sudah tergeletak di atas nakas. Melemparkan benda itu ke pangkuan Zana, meminta perempuan itu untuk membacanya.
"Bukan hanya wajah, kau juga akan mendapatkan identitas baru."
Zana membuka map itu yang ternyata adalah biodata seorang perempuan. Terselip foto di antara lembaran kertas, saat melihat gambarnya, betapa terkejutnya Zana, orang yang berada di foto itu mirip dengan wajah barunya.
"Bella Ananta? Dia....siapa?" tanya Zana penasaran.
"Identitas barumu. Mulai sekarang, kau bukan Zana Damara, melainkan Bella Ananta."
"Tapi...siapa Bella Ananta. Apa hubungannya denganmu?"
Laki-laki itu menatap Zana rumit. Jika ditelisik lebih jauh, ada gurat kesedihan pada netra kelam itu.
"Adik dari Bastian Ananta."
Mata Zana membelalak seketika. "A--apa?!"
"Ya. Dia adalah adikku."
lupa dmn