NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISI HATI PUTRA

Danil

Haha. Gue mau cabe-cabean, satu aja di geprek mantep kayaknya!

Putra mendengus sambil menahan tawa kecil saat membaca pesan di grup, kemudian ia mematikan ponselnya dan kembali fokus menikmati makan siangnya di kantin yang sepi—telor mata sapi dengan nasi hangat dan kucuran kecap tampak menggoda, aromanya yang khas membuatnya segera menunduk dan melahap dengan lahap, seolah tak peduli apa yang akan terjadi di jam Pak Lukman nanti.

"Putra!" Seru seseorang mengejutkan.

Putra sedikit tersentak dan menahan kunyahannya. Wajahnya terangkat naik, memandang seseorang yang kini bergerak lebih dekat ke arahnya. "Eh, ada Bu Salma." Gumamnya pelan, setengah terkejut, setengah senang. Tak lama, ia kembali melanjutkan makannya dan kini membiarkan wanita itu duduk di hadapannya.

Aroma telur di hadapannya seketika tergantikan oleh harum Salma, yang lagi-lagi membuat dada Putra berdebar tak menentu. Jantungnya berdetak lebih cepat, dan ia terasa canggung, setengah malu dan setengah ingin tetap duduk tenang menikmati makanannya.

Salma menggeleng pelan, menatap Putra dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan. Ada kesal yang muncul karena sikapnya yang tampak santai dan cuek, tapi di sisi lain ia tak bisa menahan rasa kagum. Ini pertama kalinya ia melihat Putra makan dengan lahap, tanpa segan atau malu, wajahnya serius tapi polos, membuat Salma tersenyum tipis meski mencoba menahan diri.

"Putra," Kata Salma kemudian. "Kamu tahu ini jam berapa?"

Putra mengangguk, melahap makanannya lagi, dan akhirnya menatap Salma.

"Pelajaran siapa?"

"Pak Lukman." Jawab Putra santai.

Hening seketika menyelimuti kantin. Satu-satunya suara yang terdengar adalah denting sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring, ritme sederhana tapi menegangkan. Putra tetap menatap Salma sesaat sambil terus mencoba menahan debar di dadanya. "Kenapa? Ibu mau marah...? mau protes? Nanti cantiknya ilang, lho!" Celetuknya.

Mendadak, Salma menahan tawa, pipinya memerah samar. Ia menunduk sebentar, berusaha menahan rasa yang berkecamuk di hatinya—antara kesal, kagum, dan sedikit geli terhadap tingkah Putra.

"Laper, Bu." Kata Putra melahap makanannya lagi. "Dari pagi aku belum sarapan."

"Ibu kamu gak nyiapin makan, emang?"

Putra menggeleng mantap dan santai. Matanya serius, seolah jawaban itu jujur. "Ibu aku kalau pagi suka rusuh sendiri nyiapin dagangannya buat di bawa ke pasar." Jelasnya. "Kadang suka nyiapin sarapan kalau keburu itu juga."

"Ayah kamu?"

Putra mendesis pahit dan meneguk minuman di sampingnya.

Salma memicingkan sebelah alisnya, menatap Putra dengan mata tajam tapi penasaran. "Kenapa ketawa?" tanyanya, suaranya ringan tapi penuh ingin tahu.

"Cerai," Jawab Putra singkat, nada suaranya datar, seolah menutup pembicaraan, tapi pipinya memerah samar menandakan ada rasa canggung yang ia rasakan.

Salma terkejut mendengar jawaban Putra. Matanya membesar, alisnya terangkat, dan mulutnya sedikit terbuka seolah ingin bertanya lebih jauh tapi tak tahu harus mulai dari mana. Suasana kantin yang sebelumnya hangat kini terasa hening sejenak, pun tak terdengar lagi suara sendok dan garpu di piring Putra yang kini sudah habis bersih tanpa sisa. Hatinya campur aduk—penasaran, prihatin, tapi juga sedikit tak percaya mendengar kata singkat itu dari Putra.

"Mereka berpisah semenjak aku duduk di bangku satu SMP." Lanjut Putra.

Salma mulai memposisikan duduknya lebih serius, Menatap Putra dengan mata yang penuh perhatian. Yang tadinya ia niatkan ke kantin hanya untuk membeli minum dan sebungkus roti, kini terasa berubah—perhatian sepenuhnya tertuju pada Putra.

"Sejak kecil aku gak pernah bisa merasakan seperti apa kasih sayang seorang Ayah." Ungkap Putra. Matanya sesaat berpaling, kosong, entah objek apa yang ia tuju. "Selalu ingin menang sendiri hingga akhirnya Ibuku lelah menghadapi sikapnya. Aku masih ingat... ketika mereka bertengkar dan Ayah mengatakan kata cerai yang langsung Ibuku setujui. Dan di saat itulah... Ayahku gak pernah pulang lagi ke rumah. Dia seolah membuangku dan Ibuku begitu saja, lepas tanggung jawab sebagai seorang Ayah yang seharusnya."

Salma tertegun. Matanya sedikit berkaca, mendengar semua pernyataan Putra dengan campuran rasa prihatin dan iba. Ia mulai menyadari, mungkin inilah penyebab Putra sering dicap nakal di sekolah—bukan karena ia benar-benar ingin bermasalah, tapi karena beban dan cerita yang ditanggungnya sendiri. Hatinya tersentuh, rasa kagum dan simpati muncul bersamaan, membuatnya ingin lebih memahami dan mendekatkan diri tanpa menilai. "Apa kamu... pernah bertemu dengan Ayah kamu lagi?"

"Hmmm." Angguk Putra. "Ketika Ibuku gak ada uang buat bayar ulangan, aku pergi ke rumah Ayahku untuk meminta uang. Tapi yang aku bawa adalah pukulan."

Salma segera menyembunyikan keterkejutannya.

"Ibu tahu alasan aku suka boxing?"

Salma menggeleng tanpa suara.

"Itulah alasanku." Ucap Putra. Nada suaranya tegas, seolah ingin Salma benar-benar memahami sisi lain dirinya yang jarang orang lain tahu.

"Cukup kamu melampiaskannya terhadap hal-hal yang menurut Ibu tetap baik dan positif. Dengan boxing juga, kamu lebih berani menghadapi sesuatu." Ujar Salma, matanya tetap mengunci gerak Putra. "Tapi bukan berarti dengan keberanian itu kamu bisa melawan apapun yang ada di sekitar kamu termasuk ini, Putra."

Salma menghela udara dan menghembuskan napasnya perlahan. "Belajar, mentaati semua aturan di sekolah, sopan dan santun terhadap teman apalagi guru... itu adalah salah satu hal yang harus kamu jaga buat bekal masa depan kamu sendiri nantinya."

Putra mengangguk pelan, seolah mencoba menyesapi semua pernyataan Salma.

"Putra, tolong... jangan buat orang sekitar kamu kecewa termasuk Ibu kamu." Lanjut Salma. "Ibu kamu pasti mau kamu jadi yang terbaik yang menjadikan kamu paling bisa di andalkan, pastinya."

Putra mengangguk, lagi. Kali ini matanya perlahan bergerak memandang lurus Salma yang sedari tadi menguncinya.

Sementara Salma sendiri terkejut saat mata anak itu berbalik menguncinya, bahkan dengan senyum tipis yang jarang sekali ia lihat. Hangat dan tulus.

"Makasih ya, Bu." Ungkap Putra kemudian, nadanya terdengar jauh dari kata sopan. "Jujur... di antara guru yang lain termasuk Bu Hana, wali kelas sendiri... aku gak bisa lho cerita kayak gini sama Ibu."

"Ke-kenapa?" Tergagap Salma.

Putra mengangkat kedua bahu kokohnya. "Gak tahu. Rasanya nyaman aja... gitu kalau aku di dekat Ibu, apalagi ngobrol kayak gini."

Bola mata Salma membesar seketika, pipinya merah merona dan susah disembunyikan. Ia menunduk sebentar, jari-jarinya menekan ujung meja seolah ingin menahan diri, tapi matanya tak bisa lepas dari tatapan Putra. Rasa kaget, penasaran, dan sedikit kagum bercampur menjadi satu, membuatnya terasa hangat sekaligus canggung.

Putra memperhatikan reaksinya, alisnya sedikit terangkat, ada senyum tipis di bibirnya. Ia merasa, meski kata-katanya berat, kejujuran itu membuka ruang baru di antara mereka—momen yang membuat suasana kantin sepi itu, kini terasa lebih hangat dan pribadi.

"Hmmm…" Deham Salma panjang, nadanya terdengar tegas, seolah tetap berusaha menjaga wibawa sebagai seorang guru yang seharusnya dihormati. "Putra udah stop, ya... pokoknya kamu harus ingat omongan Ibu tadi. Kamu itu harus bisa mentaati aturan apapun di sekolah ini kalau kamu gak mau punya masa depan yang hancur, rubah semua keburukan kamu dari sekarang. Sukses kamu di hari esok... kamu yang buat dari sekarang. Ibu bicara seperti ini karena Ibu adalah guru kamu, Putra... Ibu sayang sama kamu."

Putra tersenyum dan mengangguk mengerti. "Aku juga sayang Ibu."

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!