NovelToon NovelToon
Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.

Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.

Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.24

Aylin melangkah masuk ke apartemen dengan bahu yang merosot. Wajahnya lesu, sisa-sisa kekesalan pada Arvano di cafe tadi masih membekas di benaknya. Namun, rasa lelah itu seketika sirna dan berganti menjadi kepanikan luar biasa saat ia melihat Rosalind terbaring lemah di atas sofa ruang tengah.

"Mama! Mama kenapa?" tanya Aylin panik. Ia langsung berlutut di samping sofa, menyentuh tangan ibunya yang terasa dingin.

Rosalind perlahan membuka matanya, mencoba menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan putri semata wayangnya. "Aylin... kamu sudah pulang, Nak?"

"Kata dokter yang tadi datang, Nyonya Rosalind tensinya naik, Mbak," sahut Dila yang baru saja muncul dari arah dapur, membawa segelas minuman hangat.

Aylin menerima gelas itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia perlahan membantu ibunya duduk dan meminum air hangat tersebut.

"Mama sudah minum obat?" tanya Aylin, suaranya terdengar serak menahan tangis.

"Sudah, Mbak. Tadi saya sendiri yang memastikan Nyonya minum obatnya," timpal Dila lagi.

Aylin mengembuskan napas lega yang panjang. Ia menatap Dila dengan tulus.

"Terima kasih banyak, Dila. Kalau tidak ada kalian di sini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Mama."

"Mama tidak apa-apa, Lin. Mama baik-baik saja, tadi hanya sedikit pusing," bisik Rosalind pelan.

Aylin menggeleng keras. Ia meraih tangan Rosalind, lalu menempelkan telapak tangan yang mulai keriput itu ke pipinya. Ia memejamkan mata, mencari kekuatan dari sana.

"Kalau Mama sakit, Aylin sedih. Mama itu segalanya buat Aylin..."

Rosalind mengusap lembut rambut anaknya. Di dalam hati, ia merasa sangat bersalah. Ia tidak mungkin menceritakan bahwa penyebab tensinya naik adalah karena kedatangan Reynan—pria bajingan yang merupakan ayah kandung Aylin. Ia tidak ingin merusak ketenangan hidup Aylin yang baru saja tertata.

Aylin pun sama. Di balik pelukannya pada sang ibu, ia menyimpan rapat-rapat nama 'Emilia' yang terus berputar di otaknya lalu, pernikahan bersama Aksara yang mungkin hanya sebentar. Ia tidak ingin ibunya yang sedang sakit ikut memikirkan masalah rumah tangganya dengan Aksara.

*

*

Sementara itu di kantornya, Aksara benar-benar terjebak dalam tumpukan pekerjaan. Seharian ini ia sama sekali tidak sempat menyentuh ponselnya. Segala urusan komunikasi ia serahkan sepenuhnya pada Jo, asisten kepercayaannya.

Baru saat jam istirahat tiba, Aksara memiliki waktu untuk sekadar mengembuskan napas dan meraih benda pipih itu.

Matanya langsung tertuju pada satu nama yang sangat mencolok di layar. Nama yang seketika membuat jantungnya berdegup tak keruan—antara benci dan kenangan lama yang mencoba bangkit.

"Emilia..." bisiknya lirih.

Di bawah nama itu, ada rentetan pesan dari Arvano, namun tidak ada satu pun pesan dari Aylin. Hati Aksara mencelos kecil, namun ia segera menepis rasa itu dan membuka pesan dari Emilia.

"Aksa Sayang, aku rindu. Aku ingin kita bertemu."

Aksara memejamkan mata rapat-rapat, lalu menaruh ponselnya di atas meja dengan kasar. Suara benturan itu cukup keras, menggambarkan kekacauan di kepalanya. Makanan mewah yang tersaji di hadapannya seketika kehilangan selera.

"Emilia... berani sekali dia," gumam Aksara pelan. Ia mencoba mengabaikan pesan tersebut, memaksa dirinya untuk menyuap makanan meski rasanya hambar di lidah.

Di tempat lain, tepatnya di apartemen milik Naila, Emilia sedang berbaring santai sambil menatap layar ponselnya dengan gelisah.

"Gimana? Jadi ketemu Aksara?" tanya Sandra, salah satu temannya.

"Dia tidak balas," sahut Emilia malas, melempar ponselnya ke atas ranjang.

"Ya sudah, kalau begitu jangan ganggu mereka. Em, kariermu sedang bagus-bagusnya. Jangan sampai kamu di-blacklist dari dunia model oleh Tuan Harsa," celetuk Tika tiba-tiba.

Tika sebenarnya sangat cemas. Ia tahu persis bagaimana cara kerja Kakek Harsa dalam mengawasi gerak-gerik Emilia sejak dulu.

Namun, Tika tidak bisa bercerita banyak; ia harus menyimpan rahasia itu rapat-rapat karena nyawa orang tua dan adiknya seolah berada di genggaman Kakek Harsa.

"Tidak bisa! Aku harus kembali bersama Aksara. Aku sangat yakin, dia tidak mungkin mencintai istri 'pura-puranya' itu," ketus Emilia dengan nada sombong.

Naila dan Sandra hanya bisa saling lirik. Mereka tahu Emilia adalah tipe wanita keras kepala yang mustahil untuk dinasehati. Bagi Emilia, apa yang ia inginkan, harus ia dapatkan—tak peduli siapa yang akan terluka.

Emilia tiba-tiba bangkit dari tidurnya, matanya berkilat penuh rencana.

"Sudahlah, daripada bosan di sini, lebih baik kita pergi ke kafe tempat kerjanya istri Aksara."

"Apa? Kamu serius?" tanya Naila kaget.

"Tentu saja. Aku ingin melihat seberapa hebat wanita yang sudah menggantikan posisiku," ucap Emilia sambil menyambar tas bermereknya.

"Oke, ayo!" balas mereka kompak, meski dalam hati Tika merasa sangat was-was.

Suasana kafe siang menjelang sore itu mulai santai, tidak sepadat saat jam makan siang tadi. Caca sedang mengelap meja saat pintu kafe terbuka, denting lonceng di atas pintu menyambut kedatangan tiga wanita dengan penampilan yang sangat mencolok.

Emilia masuk dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya, melangkah angkuh seolah sedang berjalan di atas catwalk. Naila dan Sandra mengikuti di belakang, sementara Tika tampak gelisah, matanya terus berpendar mencari sosok kamera pengawas.

"Tik, lo kenapa sih?" bisik Naila, membuat Tika tersentak.

"Gak papa," balas Tika cepat.

"Aneh." Gumam Naila, mengikuti langkah sahabat-sahabatnya.

"Tempatnya lumayan, tapi terlalu... biasa untuk standar Aksara," komentar Emilia sambil melepas kacamatanya, menatap sekeliling dengan nada meremehkan. Ya memang, kan yang pegang cafe si Arvano.

Mereka memilih meja di tengah, posisi yang paling strategis untuk melihat semua pelayan. Caca segera menghampiri dengan buku menu.

"Selamat sore, selamat datang di—"

"Di mana Aylin?" potong Emilia cepat, bahkan sebelum Caca menyelesaikan salamnya. Naila, Sandra dan Tika menatap Emilia tak percaya.

"Ya Tuhan." Desis Tika dalam hati.

Caca tertegun, menatap wanita cantik di depannya dengan bingung.

"Maksud Kakak, Mbak Aylin?"

"Iya, siapa lagi. Panggil dia ke sini, aku mau dia yang mencatat pesananku," titah Emilia dengan nada memerintah yang kental.

Caca meringis canggung. "Mohon maaf sebelumnya, Kak. Mbak Aylin sudah pulang sejak siang tadi. Beliau sedang tidak enak badan."

Seketika, raut wajah Emilia berubah. Ada kilat kekecewaan sekaligus curiga di matanya.

"Pulang? Tidak enak badan atau sengaja menghindar karena tahu aku akan datang?" cibir Emilia, bahkan Emilia saja Aylin tidak tahu dan baru tahu tadi pagi.

"Maaf, Kak? Mbak Aylin benar-benar sakit," bela Caca merasa tidak nyaman dengan nada bicara pelanggan ini.

"Sudahlah, Em. Mungkin dia memang sakit," bisik Sandra mencoba meredam suasana.

Emilia mendengus kasar. "Sakit? Atau mungkin dia hanya ingin menarik perhatian Aksara dengan berpura-pura lemah? Cih, murahan sekali."

Di sisi lain kafe, Renata yang mendengar keributan kecil itu keluar dari dapur. Ia menatap tajam ke arah meja Emilia. Sebagai teman Aksara, Renata tahu siapa wanita itu.

"Ada yang bisa saya bantu, Nona Emilia?" suara dingin Renata menginterupsi.

Emilia menoleh, sedikit terkejut melihat Renata ada di sana. "Ah, Renata. Jadi benar ini kafe tempat 'istri' Aksara bekerja sebagai pelayan?"

Renata tersenyum tipis, namun matanya tidak menyiratkan keramahan sama sekali.

"Aylin adalah asisten koki saya yang sangat berbakat, bukan sekadar pelayan. Dan saat ini dia sedang berada di rumah untuk beristirahat. Jadi, jika Anda ke sini hanya untuk mencari keributan, pintu keluar masih terbuka lebar."

Wajah Emilia memerah menahan malu sekaligus marah. Ia tidak menyangka Renata akan membela Aylin secara terang-terangan.

"Ayo pergi!" ajak Emilia pada teman-temannya sambil menyambar tasnya kembali. "Kafenya bau... membosankan."

Tika bernapas lega saat mereka melangkah keluar. Namun di dalam hati, ia tahu ini baru permulaan. Emilia tidak akan berhenti sampai ia benar-benar berhadapan dengan Aylin.

Bersambung ...

1
🌿
kalo nyesalnya duluan namanya pendaftaran Ay 🫠
jumirah slavina
Tuhan bikin orang² jahat itu kejang mendadak 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻
jumirah slavina
Thorrrrrrr., suntik mati Vanuuuuuuu
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
🌿
nyebut kek Aksara, amit-amit gitu 🫠
jumirah slavina
deq²n Aku., gimana nasib Aay d'next bab
jumirah slavina
Thorrrrrrrrrrr.... kasih kalpanax nih penyakit kulit VANUan
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
Ay... Kamu bawa uang kan ?? tar cape² lari dari Aksa mo pulang sendiri., ekh balik lagi krn lupa bawa uang.,

😄😄
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
jumirah slavina
Tuhan bikin Mata Vanu belekan soale dia menyebalkan


🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Epi Widayanti
gak sadar diri 🙃
🌺🌺
stresss si Arvano
jumirah slavina
balas Ay., klo smp s' Aksa gak membela kamu., tinggalin Ay....
AriNovani: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
dasar Vanu.. kadas., kudis., kurap...
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
jumirah slavina
kau yang aneh., ambisi ko' merebut...
🌿
katakan prettttt 🫠
jumirah slavina
Kirana sm Emil., sama² menyebalkan Thor
jumirah slavina
dia bohongg
jumirah slavina
nih denger., yo mbok d'dukung klo Aay membuat Aksa lebih baik. jadi laki² normal, kan alamat punya cucu kalian.,
jumirah slavina: 😄🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
jumirah slavina
hati tersenyum... hhmmm...
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: wahh aku masih 1/4 sekarang gk tau belum periksa lagi 🤭
total 8 replies
Epi Widayanti
Gak ada yang nanya pula 🤣
Epi Widayanti
Gak tau malu ihh 🙃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!