"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Alhamdulillah masih lanjut, tinggalkan jejak ya.
Keesokan harinya Nabila masih masuk magang, lagian kalau hari ini sudah ambil cuti tidak enak ia hanya anak magang masak ia ambil cuti.
Bagi Nabila tidak perlu cuti karena pernikahan mereka hari sabtu tepat hari libur kantor dan Senin ia sudah bisa kembali kerja seperti biasa.
"Pagi, Pak," sapa Nabila saat berpesan dengan Alka, sebenarnya Nabila enggan menyapa tapi ia takut di anggap tak sopan kalau tidak menyala duluan.
Dan hasilnya tak sesuai ekspektasi Nabila, justru Alka yang seolah tidak mengenali dirinya Karena sapaan Nabila sedikitpun tidak di hiraukan.
"Huh! Dasar muster, maunya apa sih, di sapa salah, tidak di sapa lebih salah," batin Nabila.
Nabila jalan menuju ruangannya yang harus melewati lift dan anihnya Alka melewati lift yang sama itu hanya khusus karyawan.
"Aneh," batin Nabila lagi tapi ia tidak mau menegur Alka lagi meski ia lewat lift karyawan.
"Terserah dia, mau lewat mana kek, apa perduli gue, kalau perlu lewat sirotal muntaha sana!" pekik Nabila terlanjur kesal yang juga pura-pura tidak melihat Alka padahal mereka satu lift.
"Kenapa dia terlihat marah? Seharunya gue yang marah karena dia sudah berani sama saya!" batin Alka, karena Nabila makin ngelunjak saat ini.
"Hai cewek manis," sapa salah satu karyawan laki-laki tersenyum kagum melihat kecantikan alami Nabila.
Deg!.
Alka tercekat karena ada suara yang sedang menyapa cewek, dan itu pasti tujuannya Nabila karena hanya Nabila yang cewek.
Nabilapun mendongak pada orang tersebut," hai juga, kamu juga manis," balas Nabila santai, ia sengaja begitu walau sebenarnya Nabila sedikit risih kalau di puji orang lain apa lagi di tempat umum seperti ini tapi ia terpaksa ingin menunjuhkan pada Alka kalau dirinya itu sangat senang tanpa dirinya.
"Kamu anak magang yang baru itu kan! ternyata benar ya, kamu cantik sekali, alami lagi baru kali ini loh ada anak magang secantik kamu," puji orang tersebut terang-terangan.
Nabila tersenyum,"Bapak bisa saja," sahut Nabila.
"Jangan panggil Bapaklah, umurku juga nggak tua amat, Riko, namaku Riko," katanya lagi mantap.
"Nabila," sahut Nabila.
"Oh ya, gimana kalau nanti makan siang bareng, ya sebagai tanda perkenalan kita," ajak Riko melancarkan modusnya sebab ia sudah lama memang mengincar Nabilla.
Ting!
Namun sebelum Nabila menjawab suara bunyi tanda lift telah tiba membuat Nabila harus keluar dan ia berani mendahukui Alka seolah ia tidak mengenal Alka dan yang buat Alka kesal Nabil masih sempat pamitan pada Riko tentunya dengan senyuman ramahnya.
"Riko, duluan ya, lain kali bisa di atur, daaa," ucap Nabila sesantai mungkin.
"Rasain! memang situ doang yang bisa sok nggak kenal sama, gue juga bisa," batin Nabila senang dan ia lupa kalau Alka adalah orang yang paling galak terhadap dirinya, entah kenapa Nabila bisa kesal di cuekin oleh Alka padahal selama ini bukankah dirinya memanb pengen jauh dari Alka dan bahkan tidak ingin mengenal orang tersebut.
"Siap cantik," sahut Riko.
Masuk ke ruangannya Nabila langsung duduk di kursi kerjanya yang satu ruangan dengan Alka tapi berbeda tempat.
Nabila langsung fokus menatap layar laptopnya, juga membuka beberapa map yang sudah berada di atas meja.
"Halo!" Jawab Nabila saat ada orang yang menghubungi telfon kantor.
"Baik, terima kasih."
"Aduh! kenapa sih pakek manggil segala, jadi mau tak mau gue harus bertemu dengan dia lagi, semoga saja dia tidak marah," gumam Nabila, karena sadar tadi sudah bersikap pura-pura tidak kenal dengan Alka.
Sambil menarik napas, lalu bergegas masuk ke ruangan Alka.
Tok!
Tok!
"Masuk!"
"Permisi, Pak," ucapan Nabila setelah membuka pintu. Lalu ia masuk ke ruangan Alka dan bingung mau ngomong apa karena Alka sendiri hanya diam seolah tidak memperdulikan keberadaan Nabila.
Tap!
Alka langsung menaruh map yang ia pegang sedari sambil membolak-balik.
"Ada apa?" tanya Alka.
"Hah? Bukannya gue di panggil?" batin Nabila.
"Maaf Pak, bukankah Bapak tadi menyuruh saya---,"
"Memang kita saling, kenal?" sindir Alka seolah dia bukan seorang CEO.
"Maksud, Bapak, apa ya?" tanya Nabila bingung.
"Kenapa, belum paham? Apakah perlu yang menjelaskan tentang sikap kamu tadi pada saya! oh jadi begitu kelakuan kamu di luar sana, genit sama cowok sembarangan!"
Nabila menghela napas perlahan, kini ia tahu kenapa Alka memanggil dirinya masuk tapi herannya kenapa ia justru menuduhnya bukan ia duluan yang melakukan hal itu.
"Jadi kamu sok jadi ratu karena kita mau menikah dengan saya dan kamu bisa seenaknya sekarang di kantor, sok jual mahal sama atasan sendiri, di mana akhlak kamu Nabila!" Nada Alka begitu tinggi seolah dari awal memang Nabila yang salah.
"Astangfirullah," gumam Nabila.
Hatinya Nabila terasa sesak mendengar penuturan Alka yang buat dirinya merasa seolah memang perempuan rendahan yang tidak punya harga diri.
"Maaf Pak, saya tidak tahu harus bagaimana karena bapak adalah atasan saya jadi saya bingung harus berisikap seperti apa, soal tadi saya sudah menyapa Bapak tapi Bapak sendiri seolah tidak kenal saya."
"Bukan alasan, tadi kamu memang sengaja kan mau pamir saya kalau kamu itu banyak yang mau, dasar ganjen!"
"Sabar Nabila, dia adalah bos kamu di sini, kalau kamu terus membantah nanti kamu bakal tidak dapat nilai, sedang kamu sudah susah payah berusaha bekerja dengan baik di kantor ini agar nilai kamu bagus, dan soal Alka sebentar lagi kamu tidak berurusan dengan orang itu setelan kamu lulus," batin Nabila.
"Hiks! tapi dia mau jadi---," ingin rasanya Nabila bunuh diri saja sekarang, tapi ia masih takut mati karena meras belum punya bekal di akhirat dan kedua ia juga tidak mau meninggalkan ibunya sendirian di dunia ini, nanti siapa yang menjaganya.
"Sekarang kamu kerjakan laporan ini, tidak pakek lama," ucap Alka sambil menyerahkan map kasar pada Nabila.
"Baik, Pak," jawab Nabila begitu saja, lalu mengambil berkas tersebut dan langsung keluar.
"Tunggu!" Nabila menghela napas menghadap pintu.
"Iya Pak, ada lagi yang harus saya kerjakan?"
"Tolong buatkan saya kopi." ucap Alka dingin.
"Hah? Itu kan bukan pekerjaan saya," batin Nabila.
"Kenapa, kamu merasa tidak pantas membuatkan saya kopi karena jabatan kamu di sini sekertaris--,"
"Baik Pak, saya akan buatkan kopi buat Bapak." potong Nabila.
Alka tersenyum,"jangan terlalu manis, karena saya tidak sukak manis." Nabila hanya mengangguk rasanya ia sangat letih bila masih harus berdebat dengan Alka.
Dengan cepat Nabila membuatkan kopi untuk bosnya itu, tanpa marah, ngerutuk apapun kali ini Nabila benar tulus menjalani perintah Alka baginya ia tidak ingin mengundang kesalahan lagi yang ujungnya tetap dirinya yang apes, seperti tadi saat Nabila berniat perbuatan Alka sendiri yang ada tetap dirinya yang salah di mata Alka padahal setiap perlawanan yang di lakukan oleh Nabila atas dasar perbuat Alka lebih dulu.
Nabila kembali ke meja bekerjanya dengan tenang dan mulai bekerja.
"Cie.., yang habis buatkan kopi untuk Pak Bos, kayaknya ada yang cari perhatian nih," celetuk Anita nyamperin Nabila yang sedang bekerja.
"Apa'an sih Nit, tadi itu gue di suruh sama Pak Alka, kalau nggak buat apa gue repot-repot bikin kopi buat dia, melelahkan!" sahut Nabila, jarinya begitu lincah mengetik.
"Wht? Kamu bilang apa tadi La, membuatkan kopi untuk Pak CEO itu melelahkan!" Anita tak habis pikir sama pikiran Nabila di saat semua cewek di sini berlomba-lomba ingin mendapatkan perhatian dari bos tampan itu, Nabila malah tidak terlihat sangat santai dan bahkan Anita perhatikan Nabila terus saja ngedumel kalau di perintah oleh Alka.
"Betul kan! lagian itu pekerjaan OB," sahut Nabila santai.
Anita memegang kening Nabila tapi tidak panas, Nabila mendengus kesal atas perbuatan Anita.
"Apa sih Nit, gue tidak sakit," ucapnya ketus.
"Lah itu gue heran sama lo! bisa-bisanya kamu sesantai itu sama Pak CEO La, serius lo tidak naksir sama dia? iya sih kamu memang masih muda, tapi Pak CEO juga nggak tua banget bahkan dia pria matang dan mapan loh!"
"Dan galak tujuh turunan juga." batin Nabila sambil meringis.