"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Interupsi Sinyal Pesawat Radio
Interupsi sinyal pesawat radio mendesis sangat tajam dari sebuah perangkat hitam di pojok meja hingga memekakkan telinga siapa pun di ruangan itu. Suara statis yang sangat kacau bercampur dengan teriakan sandi militer yang sangat mendesak membuat suasana rapat menjadi sangat mencekam secara tiba-tiba. Arga Dirgantara berdiri dengan sangat sigap sementara tangannya menekan tombol kendali untuk memperjelas frekuensi yang sedang mengalami gangguan sangat parah tersebut.
"Letnan, kita mendeteksi adanya penyusupan transmisi ilegal yang mengarah tepat ke koordinat markas komando sekarang juga!" teriak seorang bintara melalui pengeras suara.
Maya Anindya membeku di tempat duduknya sambil memegang buku latihan fisika dengan jari-jari yang gemetar sangat hebat karena rasa takut yang luar biasa. Dia melihat wajah para prajurit di hadapannya berubah menjadi sangat tegang laksana senar gitar yang ditarik hingga titik putus yang paling maksimal. Cahaya lampu ruangan tiba-tiba berkedip-kedip tidak beraturan seiring dengan suara dengungan frekuensi yang semakin menyakitkan gendang telinga mereka semua.
"Semua prajurit segera ambil posisi siaga satu di sektor luar dan jangan biarkan ada celah sedikit-pun bagi musuh!" perintah Arga Dirgantara dengan suara yang sangat berwibawa.
Lelaki perwira itu menoleh ke arah istrinya dengan tatapan yang sangat tajam sekaligus penuh dengan kekhawatiran yang coba dia sembunyikan dengan sangat rapi. Dia menyadari bahwa keberadaan seorang siswi sekolah menengah atas di tengah krisis keamanan seperti ini akan menjadi masalah yang sangat besar jika diketahui atasan. Dengan gerakan yang sangat cepat, dia menarik lengan Maya Anindya agar gadis itu segera menjauh dari jangkauan pandangan para bintara yang mulai bergerak keluar.
"Apakah rumah ini akan diserang oleh pesawat tempur atau sesuatu yang lebih mengerikan dari itu, Arga?" tanya Maya Anindya dengan suara yang sangat lirih.
Arga tidak menjawab melainkan justru mendorong pelan tubuh istrinya ke arah pintu rahasia yang tersembunyi di balik lemari buku kayu yang sangat besar serta berat. Dia menyerahkan sebuah alat penerima sinyal kecil kepada Maya sebagai satu-satunya alat komunikasi jika situasi menjadi semakin tidak terkendali di luar sana. Napas sang perwira terdengar sangat memburu seiring dengan suara deru mesin kendaraan taktis yang mulai terdengar bergerak di halaman depan markas.
"Masuklah ke dalam lorong ini dan jangan pernah keluar sampai kamu mendengar kode rahasia yang sudah saya ajarkan semalam," tegas Arga Dirgantara sambil mengunci pintu lemari tersebut.
Maya Anindya merasakan kegelapan yang sangat pengap mulai menyelimuti tubuhnya saat dia terduduk lemas di atas lantai beton yang sangat dingin serta berdebu. Dia hanya bisa mendengarkan suara gaduh dari luar sana yang bercampur dengan bunyi tembakan peringatan yang sesekali membelah kesunyian malam yang sangat mencekam. Pikirannya mendadak kosong serta penuh dengan bayangan buruk tentang masa depan pernikahannya yang baru seumur jagung namun sudah penuh dengan ancaman maut.
"Tolong kembalilah dengan selamat karena saya belum sempat menyelesaikan soal matematika yang sangat sulit itu," bisik Maya Anindya sambil memeluk lututnya sendiri di tengah kegelapan.
Di luar ruangan, Arga sedang berjibaku dengan layar monitor yang menampilkan titik-titik merah yang bergerak sangat cepat mendekati zona terlarang markas komando tersebut. Dia mengepalkan tinjunya dengan sangat keras hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan amarah terhadap pihak yang berani mengusik ketenangan rumah dinasnya secara terang-terangan. Namun di tengah kekacauan itu, fokusnya mendadak terpecah saat dia menyadari bahwa soal yang dikerjakan istrinya adalah tentang Maya dan pelajaran matematika.