Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.
Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.
Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.
"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.
Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Butuh Bukti
"Kau akan langsung pergi?"
Perempuan yang rambut serta pakaiannya berantakan itu sedikit bangkit dari pembaringan. Ia toleh laki-laki yang kini sedang mengaitkan kancing kemeja yang dikenakannya.
"Hm."
Mendengar balasan yang terlampau cuek itu sang perempuan mendengus tak terima. Ia mendekat, lalu memeluk lelakinya dari belakang.
"Kenapa terburu-buru? Tetaplah di sini bersamaku." katanya dengan nada merayu. Jemari lentiknya bermain pada dada bidang lelaki di pelukannya.
"Jangan mulai Stella. Kau lupa dengan peraturannya?" tegur Ellard sembari menyingkirkan tangan nakal Stella dari tubuhnya.
Stella memajukan bibir cemberut. Ia sandarkan kepalanya pada punggung Ellard. Dan seakan tak jera, kini tangannya berganti bermain pada paha Ellard yang terlapis celana kain abu-abu.
"Aku merindukanmu..." lirih perempuan itu dengan nada merengek.
Ellard menghela nafasnya. Lelaki itu berdiri, lalu mengambil jas yang tergeletak di sofa putih pada ujung ranjang tanpa mengindahkan rayuan Stella.
"Aku harus pergi."
"Ck, kau sangat menyebalkan!" decak Stella merajuk. Ia sembuyikan kepalanya ke dalam selimut.
Ellard hanya memutar bola matanya malas. Stella sudah biasa merajuk. Paling lima menit kemudian dia akan kembali bersikap manis dengannya.
Tidak mendapat tanda-tanda bahwa Ellard akan membujuknya, membuat kekesalan Stella semakin memuncak. Ia sedikit memunculkan kepalanya.
"Lihat! Kau memang tidak mencintaiku!" ujarnya berapi-api.
"Diamlah." Ellard mulai jengah. Stella dan suara berisiknya memang tidak bisa dipisahkan.
"Daripada kau merajuk seperti ini, lebih baik pikirkan bagaimana caranya tujuan kita cepat tercapai."
Stella mengembungkan pipinya kesal. Mengingat tujuan yang Ellard katakan, membuat perempuan itu mendengus malas.
"Kau tahu, Ellard? Dia sedikit berubah."
Ellard mengangguk setuju. Laki-laki itu duduk di sofa, lalu mengambil ipad miliknya untuk dimainkan.
"Aku tahu."
"Bahkan dia tidak menunjukan reaksi berlebih saat kau mengaku sebagai pacarku." Stella menambahkan. Terselip nada tidak terima di sana.
Padahal niatnya adalah membuat Sean marah. Lalu ketika Sean merebutkan dirinya dari Ellard, istri kakaknya itu akan datang dengan perasaan cemburu. Dan akhirnya...sepasang suami istri itu akan bertengkar.
Sebenarnya bukan itu point penting untuk Stella. Saat dirinya diperebutkan oleh dua orang lelaki, Stella merasakan sensasi yang menyenangkan. Dia merasa jika dirinya adalah primadona. Istilah dalam film adalah si pemeran utama.
Bukankah menyenangkan jika disukai oleh banyak laki-laki.
Tapi rencana hanyalah rencana. Bukannya marah, Sean hanya mengangguk kecil lalu pergi ketika melihat Alissa juga berada di sana. Mengingat itu membuat Stella mendengus sebal.
"Kau kurang aksi Stella." suara Ellard kembali terdengar. Meski fokusnya pada layar ipad di genggamannya, ia tetap merespon ucapan Stella.
Sedangkan Stella, mata perempuan itu mengerling tak terima ketika Ellard menyalahkannya.
"Kenapa aku? Kau juga belum berhasil memengaruhi Alissa bukan?" ujarnya membalikkan fakta.
Mendengarnya, membuat Ellard mendengus samar. Meletakan ipad di sampingnya, laki-laki itu menyugar rambutnya frustasi.
"Alissa, dia sulit dipengaruhi."
"Wajar, dia cinta mati dengan Sean." balas Stella setelah menguap malas.
"Itu dulu." Ellard membasahi bibirnya yang terasa kering. "Sekarang...dia lebih terkesan tidak peduli."
"Jika dulu dia akan marah saat aku menjelekkan Sean, sekarang Alissa hanya cuek."
Contohnya saat di restaurant tadi. Ketika Ellard memancing Alissa untuk membuat keributan, perempuan itu hanya acuh. Tidak mengindahkan pancingan yang Ellard berikan dan malah asik dengan sushi pesanannya.
"Tapi kita tidak boleh menyerah." Ellard tatap Stella penuh arti.
"Bagaimanapun caranya, Alissa dan Sean. Mereka harus berpisah."
.
.
"Apa yang kau tonton?"
Alissa yang tengah menikmati camilannya sembari menonton film, menengok saat Sean mengajaknya berbicara.
Laki-laki itu duduk di samping Alissa. Lalu mengecup pelipis perempuan itu sekilas.
"Ck, jangan cium sembarangan!" dengus Alissa tak suka. Ia usap pelipis bekas bibir suaminya.
"Memangnya kenapa? Salah mencium istriku sendiri?" tanya Sean dengan muka polosnya. Ralat, pura-pura polos.
Alissa malas menjawab. Maka dari itu, ia biarkan Sean yang seperti tengah mencari perhatian. Sang empu tentu saja tidak terima, ia cerukkan kepalanya pada leher sang istri seperti seekor kucing.
"Sean, awas ih!" tidak bisakah laki-laki itu membiarkannya tenang sehari saja?
"Akh, Sean, sakit!
Alissa menjerit kala gigi Sean menancap di bahunya. Tidak keras, tapi cukup membuat Alissa mengaduh kesakitan.
Sean tersenyum puas. Ia kecupi bekas gigitannya di bahu Alissa.
"Ini peringatan." bisiknya lalu mencium basah pipi istrinya. "Aku tidak suka diabaikan."
Alissa sampai merinding mendengar bisikan dengan suara bariton itu. Dengan sekuat tenaga ia dorong Sean agar menjauh darinya. Lama-lama ia bisa terkena serangan jantung jika terus dalam posisi itu.
"Ini peringatan, aku tidak suka diancam!" selepas mengatakan itu, Alissa ingin bangkit. Namun hal itu tidak terealisasikan kala Sean menarik tubuhnya hingga jatuh di pangkuan laki-laki itu.
"Sean!" tentu saja Alissa memberontak.
"Bagaimana kabarnya?" Sean abaikan penolakan Alissa. Laki-laki itu mengusap perut istrinya lembut.
Alissa terdiam. Entah kenapa, perbuat Sean kali ini membuat hatinya berdesir hangat. Apakah ini reaksi alami seorang ibu hamil. Atau ini pertanda, jika janinnya menginginkan ayahnya.
"Kenapa kau bisa mengetahuinya?" Alissa bertanya. Sudah lama ia penasaran dengan ini. Perempuan itu menurut kala Sean membawa kepalanya agar bersandar pada dada laki-laki itu.
"Aku tahu semua tentangmu Alissa." jawab suami Alissa itu ambigu.
"Kau menguntitku ya?" tuduh Alissa sembarang.
Sean terkekeh. Ia cium puncak kepala Alissa yang memiliki bau khas buah strawberry. Begitu manis dan memabukkan.
"Yahh, bisa dibilang seperti itu."
Terkadang Alissa tidak mengerti. Kenapa Sean menjadi berubah seperti ini. Perempuan itu selalu mengingatkan dirinya sendiri, jika Sean adalah malaikat maut yang akan membunuhnya.
Namun sekarang---, oh mungkinkah ansumsinya itu benar. Jika Sean hanyalah berpura-pura. Lalu saat Alissa takluk, laki-laki itu akan tertawa penuh kemenangan. Dan menganggap jika Alissa adalah perempuan yang mudah diperdaya.
Dan sekarang, kenapa dia malah menurut kala Sean mengusap, dan mencium rambutnya bertubi-tubi.
Maka dari itu, ia berusaha lepas dari rengkuhan suaminya. Mendongakkan kepala, ia pandang Sean dengan tatapan datarnya.
"Daripada kau terus bersandiwara seperti ini, lebih baik cepat urus perpisahan kita, Sean." tiba-tiba Alissa kembali mengungkit perpisahan. Dan itu membuat Sean merasa kesal.
"Apa ucapanku tadi siang kurang jelas?" kata laki-laki itu dengan nada kesal yang ketara.
"Yang mana?" di saat Sean merasa kesal, berbanding terbalik dengan Alissa nampak acuh tak acuh. Dan apa-apaan tatapan tanpa minat itu!
"Jika aku mecintaimu."
Uhuk. Sekali lagi Alissa tersedak karena ucapan Sean. Kenapa laki-laki itu selalu berterus terang. Ah, tidak. Ansumsi Alissa masih kuat, jika Sean hanyalah bersandiwara.
Jangan terlena Alissa. Jangan sampai kau menaruh hati!
"Jika begitu, buktikan." tantang Alissa.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?" Sean berujar lembut. Memainkan rambut Alissa yang terurai.
"Bunuh Stella untukku."