Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 15.
Malam semakin larut.
Napas Rangga mulai teratur, lebih dalam, lebih tenang. Milea bisa merasakannya meski punggung mereka masih saling membelakangi. Ada rasa hangat yang aneh, merambat pelan dari kehadiran laki-laki itu di belakangnya. Kehangatan yang seharusnya biasa… tapi terasa berbeda karena selama ini ia terlalu lama hidup tanpa sentuhan yang benar-benar berarti.
Milea mencoba memejamkan mata.
Gagal.
Setiap kali ia mengingat wajah Rangga saat menahan sakit, saat memandangnya seolah Milea adalah satu-satunya pegangan di dunia—dadanya terasa sesak. Bukan karena takut semata, tapi karena ada sesuatu yang mulai tumbuh lagi. Sesuatu yang dulu ia kubur rapat-rapat.
Pelan, Milea membalikkan tubuh.
Gerakan kecil itu membuat kasur sedikit bergeser. Rangga refleks membuka mata, setengah sadar.
“Lea?” suaranya serak, masih berat oleh kantuk.
“Maaf, kamu jadi kebangun...” bisik Milea.
Rangga menggeleng pelan. Matanya menyesuaikan dengan cahaya temaram, lalu berhenti tepat di wajah Milea yang kini menghadapnya. Jarak mereka tak sampai sejengkal.
“Kamu… kenapa belum tidur?” tanya pria itu lirih.
Milea ragu menjawab, “Aku hanya takut.”
Rangga terdiam. “Takut sama aku?”
“Takut sama perasaan ini,” jawab Milea jujur. “Aku takut terlalu berharap, takut kamu berubah lagi saat ingatanmu kembali.”
Rangga menelan ludah. Tangannya terangkat ragu-ragu, lalu berhenti di udara. “Kalau aku pegang tanganmu… kamu marah?”
Milea menatap tangan Rangga, lalu menggeleng.
Rangga menyentuh tangan Milea. Awalnya hanya ujung jarinya, seperti memastikan Milea benar-benar tidak akan menarik diri. Saat Milea tidak menolak, genggamannya menguat.
“Aku nggak tahu nanti aku akan jadi orang seperti apa,” ucap Rangga rendah. “Tapi perasaan ini… rasa takut kehilangan kamu… itu bukan karena ingatanku. Itu karena kamu...”
Kalimat itu membuat mata Milea panas.
“Dulu aku bertahan sendirian,” ucap Milea lirih. “Sekarang kamu datang dengan versi dirimu yang berbeda, aku benar-benar nggak siap kehilangan kamu dua kali.”
Rangga mendekatkan wajahnya perlahan, memberi Milea waktu untuk mundur jika mau. Tapi Milea tidak bergerak.
“Kalau begitu,” Rangga menyentuhkan kening mereka, napasnya menyatu dengan napas Milea, “Izinkan aku terus mendekat, bukan sebagai suami yang sempurna. Tapi sebagai laki-laki yang sedang jatuh cinta dan belajar memperbaiki semuanya.”
Pertahanan Milea runtuh di titik itu.
Tangannya naik, mencengkeram kaus Rangga di dada seolah takut laki-laki itu akan menghilang jika ia melepasnya. “Aku capek kuat sendirian.”
Rangga langsung memeluknya.
Bukan pelukan yang menuntut, bukan juga yang tergesa. Tapi pelukan yang tenang, penuh hati-hati. Seolah Milea adalah sesuatu yang rapuh dan berharga sekaligus.
Milea membenamkan wajah di leher Rangga. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian. Air mata yang selama ini ia tahan... jatuh tanpa suara.
Rangga mengusap punggung Milea pelan, berulang. “Aku akan selalu bersamamu... aku nggak akan pergi.”
Pelukan itu berubah menjadi keintiman yang lembut. Rangga menyingkirkan rambut Milea dari wajahnya, menatap lama menghafal setiap jengkal wajah istrinya.
“Boleh?” tanyanya pelan.
Milea tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk kecil.
Ciuman pertama mereka malam itu tidak panas, tidak terburu-buru. Bibir Rangga menyentuh bibir Milea dengan ragu yang manis, seolah takut merusak momen. Milea membalas pelan, jantungnya berdebar hebat.
Ciuman itu berlanjut, sedikit lebih dalam. Namun bukan tentang hasrat semata, tapi tentang pengakuan... aku memilihmu.
Rangga menarik dahi Milea ke keningnya lagi, napas mereka terengah. “Kita akan jalani ini pelan-pelan...”
Malam itu, mereka berbaring saling berhadapan. Rangga memeluk Milea dari samping, satu tangannya melingkar di pinggangnya. Milea menyelipkan wajah di dada Rangga, mendengar detak jantung yang stabil.
Dan setelah sekian lama, Milea tertidur… tanpa takut kehilangan saat bangun nanti. Karena malam itu, ia memilih untuk membuka hati.
Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai, jatuh tepat di wajah Milea. Ia mengerjap pelan setengah sadar, lalu membeku saat menyadari sesuatu yang hangat melingkari pinggangnya.
Rangga.
Laki-laki itu masih terlelap, wajahnya tenang, dahi sedikit berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu bahkan dalam tidur. Tangannya memeluk Milea dengan refleks protektif yang jujur, bukan posesif tapi seolah takut kehilangan.
Milea menahan napas.
Ia sudah lama tidak bangun dalam posisi seperti ini. Terakhir kali… entah kapan. Pernikahan mereka dulu terlalu sunyi untuk pagi yang intim seperti ini.
Pelan-pelan Milea menggeser tubuhnya, mencoba bangun tanpa membangunkan Rangga. Tapi baru saja ia bergerak sedikit, pelukan itu justru mengencang.
“Kamu mau ke mana?” suara Rangga serak, masih setengah tidur.
Milea terdiam. “Bangun.”
“Masih pagi,” gumam Rangga. Matanya belum terbuka, tapi kepalanya otomatis merapat ke leher Milea. “Lima menit lagi ya...”
“Kamu manja banget,” ucap Milea lirih, tapi tak ada penolakan di suaranya.
“Cuma manfaatin momen.” Rangga terkekeh pelan.
Milea tersenyum kecil. Ia akhirnya berhenti melawan, membiarkan dirinya diam beberapa detik lagi di sana. Detak jantung Rangga terasa stabil di punggungnya, begitu meyakinkan.
Tak berapa lama, Rangga membuka mata perlahan. Saat fokusnya kembali, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Milea, begitu dekat hingga ia bisa menghitung helaian bulu mata istrinya.
Rangga tersenyum lebar.
“Selamat pagi,” katanya ceria, terlalu ceria untuk orang yang baru bangun tidur.
Milea mendengus. “Kenapa senyum-senyum?”
“Karena aku bangun dan kamu masih ada dalam pelukanku...”
Rangga mengangkat tangan menyentuh pipi Milea pelan, seperti memastikan ini nyata. “Kamu nggak pergi.”
“Aku belum sempat,” jawab Milea.
“Syukurlah.”
Tanpa aba-aba, Rangga mendekat dan mengecup kening Milea. Ringan, tapi penuh perasaan. “Maaf, karena aku terlambat.”
“Terlambat apa?”
“Terlambat mencintaimu dengan benar,” jawabnya jujur. “Jadi sekarang... aku akan mengejar semua ketinggalanku.”
Milea bangkit duduk, menyandarkan punggung ke kepala ranjang. “Ini bukan lomba, Rangga.”
“Buatku ini kejar-kejaran,” Rangga ikut duduk, kini menghadap Milea. “Antara cintaku dan kemungkinan kehilanganmu.”
Ada rasa hangat di dada Milea yang tak bisa ia sangkal lagi.
“Aku mau mandi,” kata Milea akhirnya, mengalihkan topik.
Rangga ikut berdiri. “Aku juga.”
“Kamar mandi satu.”
“Kita gantian.”
“Aku mandi di kamarku saja.“ Milea bersiap pergi ke kamarnya.
“Jangan, mandi disini saja. Aku mau bikin sarapan dulu...”
Milea tertawa kecil. “Kamu lagi-lagi mau bikin dapur berantakan.”
“Tenang,” Rangga menyeringai. “Aku sudah naik level.”
Beberapa menit kemudian, Milea keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan menuju dapur memakai jubah mandi.
Rangga berdiri di dapur, mengenakan celemek entah dari mana dengan ekspresi terlalu serius untuk sekadar membuat roti bakar.
“Kamu nyolong celemek siapa?” tanya Milea.
“Punya kamu lah.”
“Itu hadiah bridal shower,” Milea menggeleng. “Belum kepakai.”
“Sekarang kepakai,” kata Rangga bangga.
Di meja makan, ada roti, telur, dan secangkir cokelat hangat favorit Milea.
“Dulu kamu nggak pernah peduli beginian.”
Rangga mengangkat bahu. “Berarti... dulu aku bodoh.”
Mereka sarapan bersama, kali ini dengan suasana hangat. Setiap kali Milea hendak mengambil sesuatu, Rangga sudah lebih dulu menyodorkannya.
Setelah sarapan, Milea bersiap ke kantor. Saat ia berjalan keluar rumah, Rangga sudah berdiri di pintu depan.
“Aku anter.”
“Oke.“ Kali ini Milea tidak menolak.
Di mobil, Rangga menyetir sambil bersenandung. Tangannya beberapa kali mencari tangan Milea, menggenggamnya di sela lampu merah.
“Kamu nggak capek?” tanya Milea.
“Capek kenapa?”
“Berusaha terus.”
Rangga menoleh sekilas. “Kalau sama kamu, aku nggak akan pernah capek.”
Sesampainya di kantor, Milea hendak turun saat Rangga menahannya.
“Ada apa lagi?”
Rangga mendekat, mengecup pipi Milea cepat sebelum siapa pun melihat. “Biar kamu ingat.”
“Ingat apa?”
“Kalau kamu dicintai ugal-ugalan olehku, kalau ada laki-laki yang sangat mencintaimu.”
Milea turun dari mobil dengan jantung berdebar tak karuan, wajahnya bahkan masih memerah saat sampai di ruangan kerjanya.
Sepanjang hari, Rangga banyak mengirim pesan.
Pesan darinya terus masuk tiap beberapa jam, penuh perhatian, terlalu intens bahkan untuk Milea. Namun alih-alih merasa risih, wanita itu justru tersenyum sendiri. Ia benar-benar merasakan bentuk cinta yang selama ini hanya bisa ia harapkan.
Milea mencoba fokus bekerja, tapi sudut bibirnya berkali-kali terangkat sendiri.
Sore hari, Rangga sudah menunggu di lobi. Di perjalanan pulang, hujan turun rintik-rintik. Rangga menyetel lagu romantis, tangannya kembali menggenggam tangan Milea.
“Lea,” panggilnya.
“Hmm?”
“Aku tahu aku masih punya masa lalu yang belum selesai, ingatan yang datang dan pergi. Tapi aku mau kamu ingat satu hal...”
Milea menoleh.
“Aku akan tetap memilihmu, bahkan kalau nanti aku ingat semuanya.”
Milea menarik napas panjang, ia hanya tersenyum tanpa berharap.
Sesampainya di rumah, hujan belum reda. Mereka berdiri di teras sebentar, mendengarkan suara air jatuh.
Rangga menatap Milea. “Kamu percaya aku, kan?”
Milea mengangguk kecil. “Aku akan berusaha percaya...”
Rangga tersenyum, lalu memeluk Milea dari depan. Pelukan itu lebih yakin dari semalam, lebih hangat. Milea membalas, melingkarkan tangan di punggung Rangga.
Di pelukan itu, Milea akhirnya mengakui pada dirinya sendiri... ia masih mencintai Rangga. Dan dia akan menerima semua cinta Rangga saat ini padanya.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌