NovelToon NovelToon
Papaku Memiliki Sistem Kekayaan Nelayan

Papaku Memiliki Sistem Kekayaan Nelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Cerai
Popularitas:36.1k
Nilai: 5
Nama Author: less22

Alga adalah seorang pria bekerja sebagai nelayan. Ia bekerja untuk mencari ikan setiap hari untuk kuliah istrinya dan makan sehari-hari. Pergi pagi pulang malam agar bisa mendapatkan tangkapan ikan yang banyak. Sayangnya saat istrinya sudah S2 dan menjadi sekretaris, istrinya malah selingkuh dengan CEO tempat ia bekerja dan meninggal Alga dan anaknya.

Istrinya malu mempunyai suami nelayan seperti Alga dan akhirnya meminta cerai lalu menikah dengan pria pilihannya itu.

Hancur hati Alga setelah bercerai dengan istri tercintanya, saat sedang menjaring ikan, Ia tak sengaja jatuhkan kelaut karena Ia masih dalam kesedihan, tapi siapa sangka jika ia mendapat sebuah sistem.

Sistem Nelayan, setiap ia menangkap ikan, menjual ikan, maka ia mendapat hadiah dan poin yang mengubah hidupnya menjadi orang sukses.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

...⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️...

...Happy reading...

...⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️⛹️‍♂️...

Mentari pagi belum sepenuhnya merekah ketika Alga terbangun. Udara dingin menusuk kulitnya, mengingatkannya pada hari-hari sebelumnya, saat ia masih bisa merasakan kehangatan pelukan istrinya. Namun, kini hanya ada kesunyian yang memeluknya erat.

Dengan langkah gontai, Alga menuju dapur. Ini hari pertamanya tanpa sang istri, dan ia harus memulai semuanya dari awal. Ia membuka lemari es, mencari bahan untuk sarapan. Akhirnya, ia memutuskan untuk menggoreng ikan, menu sederhana namun cukup bergizi untuk memulai hari.

Saat menggoreng ikan, pikirannya kembali melayang pada istrinya. Ia teringat betapa istrinya selalu menyiapkan sarapan untuknya dan Grisha setiap pagi saat istrinya masih kuliah. Ia merindukan senyumnya, canda tawanya, dan semua hal kecil yang dulu terasa biasa saja, namun kini terasa begitu berharga.

Setelah selesai menyiapkan sarapan, Alga membangunkan Grisha. Ia tersenyum lembut pada putrinya, berusaha menyembunyikan kesedihannya. "Selamat pagi, sayang," sapanya. "Ayo kita sarapan."

Grisha mengucek matanya, lalu memeluk Alga erat-erat. "Papa, Mama mana?" tanyanya dengan suara serak.

Alga terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan putrinya. "Mama sedang pergi jauh, Nak," jawabnya akhirnya. "Tolong jangan ingat itu lagi ya."

Setelah sarapan, Alga mulai memikirkan pekerjaannya. Sebagai seorang nelayan, ia harus tetap pergi ke laut untuk menjaring ikan. Namun, ia tak mungkin membawa Grisha bersamanya. Angin laut bisa membahayakan putrinya, dan ia tak ingin mengambil risiko.

Namun, ia juga tak bisa meninggalkan Grisha sendirian di rumah. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya. Ia merasa bimbang dan tak tahu harus berbuat apa.

Alga berdiri di depan rumahnya yang sederhana itu, gurat lelah terpampang jelas di wajahnya. Di sampingnya, Grisha, gadis kecil berusia lima tahun dengan mata bulat yang polos, menatapnya penuh tanya.

"Grisha, hari ini kamu libur dulu ya, Nak. Ikut Papa menjaring ikan," ucap Alga, suaranya sarat beban. Hatinya mencelos setiap kali melihat wajah penuh harap putrinya. Grisha seharusnya bermain dan belajar di taman kanak-kanak, bukan ikut bergelut dengan ombak dan jaring.

Grisha mengangguk, meski raut kecewa tak bisa disembunyikannya. "Tapi, Pa... Grisha kan mau belajar menggambar sama Ibu Guru," sahutnya lirih.

Alga berjongkok, menggenggam tangan mungil Grisha. "Papa tahu, Sayang. Tapi, kalau kita tidak menjaring ikan, kita tidak punya uang untuk bayar sekolah kamu. Papa janji, nanti kalau ada rezeki lebih, Papa akan belikan kamu buku gambar yang paling bagus."

Alga dihantui kekhawatiran. Akhir-akhir ini, marak berita tentang penculikan anak di sekitar kota. Jika ia membiarkan Grisha pergi dan pulang sekolah sendiri, bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Sementara itu, ia tak punya pilihan selain bekerja.

Grisha mengangguk patuh, "Baik, Papa," ucapnya sambil memeluk erat kaki Alga. Wajahnya polos, tanpa beban, seolah dunia hanya berisi lautan dan ayahnya.

Alga tersenyum getir, mengusap lembut kepala putri kecilnya. "Anak pintar," bisiknya, berusaha menyembunyikan gurat kesedihan yang masih membekas di wajahnya. Kepergian istrinya, masih terasa begitu perih, namun ia harus tegar demi Grisha.

"Ayo kita berangkat," ajak Alga, senyumnya dipaksakan namun penuh kasih. Ia meraih jaring dan ember kecil milik Grisha. Mereka berjalan menuju pantai, tempat di mana ombak berkejaran dan burung camar bernyanyi. Alga memperhatikan langkah kecil Grisha yang riang, melompat-lompat di atas pasir. Hatinya menghangat melihat keceriaan putrinya.

"Papa, lihat! Ada kepiting!" seru Grisha, menunjuk seekor kepiting kecil yang berusaha bersembunyi di balik batu.

Alga tertawa kecil. "Iya, itu kepiting kecil. Dia juga mau bermain seperti Grisha."

Dalam hati, Alga bersyukur Grisha tidak lagi mengingat ibunya. Ia takut jika ingatan itu akan membawa trauma mendalam bagi putrinya. Laras meninggal saat Grisha masih terlalu kecil untuk mengerti. Alga berusaha sekuat tenaga untuk menjadi ayah sekaligus ibu bagi Grisha, memberikan seluruh cinta dan perhatiannya agar putrinya tidak merasa kehilangan.

Namun, di balik senyumnya, Alga menyimpan kekhawatiran. Ia tahu, cepat atau lambat, Grisha akan bertanya tentang ibunya. Dan saat itu tiba, ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya tanpa menyakiti hati putrinya.

Hari itu, laut memberikan lebih dari yang Alga harapkan. Jaringnya terasa berat luar biasa. "Berat sekali jaring ini? Ikan apa yang aku tangkap?" gumam Alga, otot-ototnya menegang saat berusaha menarik jaring itu. Sampannya mulai oleng, terombang-ambing oleh tarikan kuat dari bawah laut.

Benda di dalam jaring bergerak liar, membuat Alga semakin kesulitan. Ia tak mampu lagi menahan tarikan itu. Tiba-tiba, tubuhnya terhuyung dan...

Byurrrr!

Alga tercebur ke dalam laut yang dingin.

"Papa!" jerit Grisha dari atas sampan, suaranya pecah oleh kepanikan.

Alga tersentak. Ia berusaha berenang ke permukaan, namun sesuatu terasa aneh. Tubuhnya terasa berat, seolah ada beban yang menariknya ke bawah. Ia menoleh ke bawah, mencari tahu apa yang menghalanginya. Namun, air laut yang keruh tidak memperlihatkan apa pun. Semakin ia berusaha berenang ke atas, semakin berat tubuhnya, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menahannya.

Napasnya mulai sesak. Ia merasakan panik yang luar biasa. Grisha, putrinya, ada di atas sana, sendirian di atas sampan yang terombang-ambing. Ia harus menyelamatkan diri, demi Grisha.

Dengan sisa tenaga yang ada, Alga terus berjuang melawan tarikan misterius itu. Ia mencoba menggapai permukaan, berharap bisa menghirup udara segar dan kembali ke sampannya. Namun, semakin dalam ia berusaha, semakin kuat pula tarikan yang menahannya.

Oksigen di paru-paru Alga semakin menipis. Pandangannya mulai kabur, dan kepanikan semakin mencengkeramnya. Namun, di tengah kegelapan yang mulai merayap, ia seperti mendengar suara anaknya. Suara Grisha yang memanggilnya dari atas sampan.

"Papa! Papa di mana! Papa keluarlah!" teriak Grisha, suaranya pecah oleh isak tangis.

Hati Alga hancur mendengar tangisan putrinya. Ia ingin membalas, ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja, namun bibirnya terasa kelu. Ia tahu, ia tidak punya banyak waktu lagi.

"Maafkan Papa, Grisha," bisik Alga dalam hati, air mata bercampur dengan air laut di sekitarnya. "Papa tidak menepati janji Papa padamu untuk menjagamu. Papa gagal..."

Bayangan wajah Grisha yang tersenyum muncul di benaknya. Ia teringat janji yang pernah ia ucapkan pada Laras, untuk selalu menjaga dan melindungi Grisha. Namun, kini ia akan meninggalkan putrinya sendirian.

"Jika ada kehidupan selanjutnya, Papa tetap ingin kau menjadi anakku," ucap Alga dalam hati, kata-kata terakhir yang ia tujukan untuk putrinya tercinta.

Kesadarannya semakin menipis. Kegelapan semakin pekat. Alga pasrah. Ia membiarkan tubuhnya tenggelam semakin dalam, menyerah pada tarikan misterius yang sejak tadi menariknya.

Dan akhirnya, Alga pun kehilangan kesadaran. Tubuhnya lemas, terombang-ambing di kedalaman laut yang dingin dan gelap.

Ting!

Memuat...

Loading...

Menemukan Tuan...

Memindai...

Pengenalan Tuan...

Memproses....

Selesai...

Mengscan tubuh Tuan...

Selesai.

Nama: Alga Arond

Umur: 29 tahun.

Pekerjaan: Nelayan.

Jenis kelamin: Pria.

Status: Duda.

Memproses...

Selesai.

Perlahan-lahan mata Alga terbuka, ia melihat seperti dunia lain.

"Dimana aku?" tanya Alga kebingungan.

1
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, nanggung...
Dekwa_7116
lanjutttttttttty thorr yg panjang dong thorr jangan pendek kali cerita nya
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
saniscara patriawuha.
gasss..
Ida Kurniasari
pendek amat thor ceritanya😍
KrisTie Lyiee: aku merajuk🥺🥺
total 2 replies
Shai'er
👍👍👍👍👍
less22: sipppp
total 1 replies
Shai'er
😱😱😱😱😱
Shai'er
🤭🤭🤭🤭🤭
Shai'er
🤣🤣🤣🤣🤣
Shai'er
ciee ciee ciee
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, pasti ada aja yang sirik iri denganmu alga 😡😡😡
less22: betol tuh
total 1 replies
saniscara patriawuha.
benjolll gakkk tuhhh batuknya....
less22: benjoll
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gak popooo ikuti wae alur dari mbokk otorrr....
less22: betul itu🤣🤣
total 1 replies
Dekwa_7116
lanjuttttttttt 💪
less22: siappp
total 1 replies
Lala Kusumah
emang ya si Nita ga nyadar gitu kalau ia merusak rumah tangga orang, hih jijik 🫣🫣😵‍💫😵‍💫
less22: nggak sadar dia bu😒😒
total 1 replies
Shai'er
👍👍👍
Shai'er
biarin aja mereka, Alga
less22: yap betul tuh
total 1 replies
Shai'er
👍👍👍👍
Shai'er
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara patriawuha.
gassssd polllllll....
less22: gas s
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!