NovelToon NovelToon
Ambisi Anak Perempuan Pertama

Ambisi Anak Perempuan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Ibu Tiri / Slice of Life / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: Annisa Khoiriyah

laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.

Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melangkah Meski Tak Tahu

Pagi yang berbeda. Hari-hari yang Zaskia lewati hanya berada di antara dua rumah—rumahnya sendiri dan rumah Revan.

Matahari yang mulai menampakkan sinar terangnya seolah mendesak Zaskia agar segera memenuhi panggilan Revan tentang informasi yang ia dapatkan dan perlu segera ia ketahui.

Saat keluar dan menutup pintu, sebuah mobil hitam BMW sudah terparkir di depan rumahnya. Seorang laki-laki berdiri di samping mobil itu, sibuk dengan ponsel. Zaskia mengenal betul siapa dia.

“Tuan Darrel!”

Suara itu sedikit mengejutkan, membuat Darrel seketika menoleh.

“Selamat pagi, Nyonya,” sapanya ramah. “Saya mendapat utusan dari Tuan Muda Revan untuk menjemput Nyonya Zaskia.”

“Nggak usah, Tuan.” Zaskia menolak. Ia sudah memesan Grab yang akan tiba sepuluh menit lagi.

“Ini bentuk pelayanan kami, Nyonya. Klien Alistair akan menjadi tanggung jawab kami sampai kasus selesai.”

Nada Darrel tegas, membuat Zaskia tak bisa menolak.

Namun, di hatinya muncul sedikit rasa waswas. Zaskia mengenal Darrel. Hanya saja, berada semobil dengannya untuk pertama kali tetap menghadirkan rasa canggung yang sulit ia abaikan.

Pintu mobil sudah terbuka sejak tadi. Darrel tampak bingung melihat Zaskia yang masih berdiri kaku.

“Kenapa diam, Nyonya? Silakan.”

“Ini aman, kan, Tuan?” suara Zaskia terdengar ragu.

“Sangat aman, Nyonya. Saya tidak akan macam-macam, apalagi menculik Anda.” Darrel tersenyum tipis. “Pekerjaan saya taruhannya kalau sampai terjadi sesuatu pada klien kami.”

Mau tak mau, Zaskia masuk ke dalam mobil. Meski di dalam hati ia sedikit menyayangkan uang Grab yang sudah terbayar. Ia menghela napas pelan, mengingat rencana-rencana yang telah ia susun rapi—bermodal lima puluh juta pemberian Pak Irwan kala itu.

Darrel memperhatikan Zaskia lewat kaca spion. “Biasanya Nyonya ke rumah Tuan Muda naik apa?” tanyanya, sekadar basa-basi.

“Grab.”

Jawaban itu terdengar singkat. Zaskia baru sadar kesannya kurang sopan, tapi sudah terlanjur.

“Berapa ongkosnya?”

“Seratus lima puluh ribu.”

Darrel mengangguk. “Sudah saya transfer sebagai gantinya. Silakan dicek.”

Mata Zaskia melebar. “Hah? Ngapain diganti, Tuan?”

“Ini juga bagian dari pelayanan kami.” Darrel berhenti sejenak. “Dan jangan panggil saya Tuan. Panggil Darrel saja. Atau Kak, biar lebih enak.”

Zaskia mengangguk. “Kalau begitu, jangan panggil aku Nyonya. Namaku Zaskia.”

“Baik.”

Perjalanan terasa panjang. Jalanan sangat macet. Klakson bersahutan, seirama dengan kepalanya yang terasa riuh. Zaskia menatap kepadatan jalan dari balik kaca jendela, tak sabar ingin segera mendengar informasi selanjutnya dari Revan.

Sampai akhirnya lalu lintas kembali normal. Zaskia menghembuskan napas lega.

Tiba-tiba mobil mengerem mendadak. Tubuh Zaskia terdorong ke depan, dahinya membentur kursi depan.

“Aww..." pekik Zaskia seraya memegang dahi.

Darrel tersentak. “Astaga. Kamu tidak apa-apa, Zaskia?”

Zaskia menggeleng.

“Ada apa, Kak Darrel?”

“Ada ibu-ibu mendadak di tengah jalan. Saya refleks mengerem.”

Darrel turun dari mobil. “Tunggu di sini.”

Dari balik kaca, Zaskia melihat seorang perempuan berjongkok di depan mobil. Rambutnya terurai, tubuhnya gemetar. Ia mengenakan baju pasien.

Zaskia tak tega. Ia ikut turun.

“Kak, ada apa? Siapa ibu ini?”

“Dia tiba-tiba muncul di tengah jalan. Saya ingin membantunya berdiri, tapi tangannya mengibas keras. Sepertinya ketakutan melihat saya,” jelas Darrel, menjaga jarak.

Zaskia jongkok di hadapan perempuan itu. Dengan lembut, ia menyentuh bahunya.

“Ibu, ibu tidak apa-apa? Pasti kaget, ya. Maaf, kami tidak tahu ibu menyeberang. Tadi klaksonnya ramai, dan di sini memang tidak ada lampu merah.”

Perempuan itu tetap menunduk, namun tubuhnya perlahan tenang.

Darrel tertegun melihat perbedaan reaksi itu.

“Kalau melihat bajunya,” ucap Darrel pelan, “dia pasien rumah sakit jiwa.”

Dan Zaskia baru menyadarinya. Saat ingin merapikan rambutnya yang berantakan sampai wajahnya tak terlihat. Ada suara lain membuat Zaskia mengurungkan niatnya.

“Ya ampun, ternyata dia ada di sini.”

Dua orang perawat datang tergesa-gesa.

“Maaf, Pak. Maaf, Bu. Dia pasien kami. Tadi sempat kabur,” ujar salah satu dari mereka.

Darrel menatap tajam. “Lain kali dijaga dengan benar. Kok bisa rumah sakit lalai sampai pasiennya berkeliaran di jalan seperti ini? Kalau sampai terjadi apa-apa pada ibu ini, rumah sakit kalian bisa dituntut.”

Kedua perawat itu menunduk, berulang kali meminta maaf sebelum membawa perempuan tersebut pergi.

Zaskia berdiri, menatap mereka hingga menghilang dari pandangan.

Darrel melirik arlojinya. “Kita sudah telat lima belas menit.”

“Ayo, masuk. Kita jalan.”

Mereka kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di rumah Alistair, Darrel langsung menuju ruang kerja Revan. Ia duduk di hadapan atasannya itu, sementara Zaskia menunggu di luar, menanti panggilan.

“Kamu telat lima belas menit, Darrel,” tegur Revan tanpa menoleh dari berkas di tangannya.

Darrel menunduk. Ia paham betul—dalam urusan kerja, Revan tidak pernah memberi toleransi pada ketidakdisiplinan.

“Maaf, Tuan Muda. Tadi ada insiden. Saya hampir menabrak seseorang.”

“Kamu lupa hari ini jalanan macet,” jawab Revan dingin. “Seharusnya kamu lewat jalan pintas. Ini risiko. Kamu masih beruntung klien saya datang dalam keadaan baik.”

“Siap, salah, Tuan Muda.”

“Panggil dia.”

Darrel mengangguk. “Baik, Tuan Muda.”

Tak lama kemudian, Zaskia masuk ke ruangan. Revan memberi isyarat agar ia langsung duduk.

Beberapa detik berlalu dalam diam sebelum Revan membuka pembicaraan.

“Email yang digunakan ibumu sudah lama tidak aktif. Karena itu, kami bergerak lewat jalur lain—orang-orang yang bisa melihat, bukan sekadar membaca data.”

“Di Lombok Utara, kami menemukan bahwa ia memang tinggal di sana hampir tiga tahun.”

Revan berhenti sejenak, memberi jeda yang membuat kata-katanya terasa lebih berat.

“Yang mengejutkan, Zaskia...jejak terakhirnya sekarang justru berada tidak jauh dari kota ini.”

“Tapi tanpa memastikan langsung di lapangan, saya tidak bisa menarik kesimpulan apa pun. Alasan kenapa ia bisa sampai di sana, dan dalam kondisi apa—harus diverifikasi terlebih dulu.”

Zaskia terdiam. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena hatinya sedang belajar percaya lagi.

“Apa tidak bisa dilacak lagi lokasi persisnya, Kak Revan?” tanyanya pelan.

“Tidak bisa,” jawab Revan singkat. “Aksesnya terputus. Ibumu sudah tidak menggunakan gadget lagi.”

Dada Zaskia terasa sesak. Ada kelegaan kecil yang bercampur cemas. Setidaknya, itu berarti ibunya masih ada—masih mungkin kembali. Tapi bagaimana caranya mencari seseorang di kota sebesar ini?

Bahunya menurun pelan. Ia pasrah, tapi hatinya tetap berdiri—siap melangkah meski tak tahu sejauh apa.

“Terus...gimana cara kita mencarinya, Kak Revan? Saya siap membayar berapa pun, asal ibu saya bisa ditemukan.”

“Setelah empat belas tahun, wajah ibumu pasti berubah,” ujar Revan. “Apa Anda punya foto lain selain foto pernikahan?”

“Tidak ada, Kak Revan. Ibu tidak suka difoto. Tapi saya yakin masih bisa mengenali beliau,” jawab Zaskia, harapannya terdengar jelas.

“Bukan soal yakin atau tidak. Kalau kita punya foto saat kamu sudah lahir, itu akan sangat membantu orang-orang saya di lapangan. Foto itu bisa disebarkan lewat media sosial, tapi ada ayahmu di dalamnya. Ditambah lagi kamu pernah melapor ke polisi. Itu berisiko, dan saya tidak bisa melanggar kode etik.”

Zaskia terdiam cukup lama. Ia memahami maksud Revan dan batas yang tak bisa dilanggar. Napasnya tertarik pelan, lalu ia mengangguk kecil.

“Kalau begitu...apa yang masih bisa dilakukan, Kak?”

Revan mencondongkan tubuh, bersandar sedikit ke kursinya.

“Kita mulai dari lapangan. Mengamati orang-orang di tempat ramai—cafe, restoran, rumah sakit, hotel dll. Tapi bukan sembarangan. Orang-orang saya akan mengumpulkan informasi lewat observasi dan jaringan informan. Semua tetap aman, tanpa menampilkan foto ayahmu atau identitasmu. Risiko hukum tidak boleh kita ambil.”

Zaskia mengangguk pelan. Bahunya menurun, tapi matanya tetap bersinar.

“Kalau begitu...saya siap. Apa pun yang perlu saya bantu, saya lakukan, Kak Revan.”

Revan mengangguk, nada suaranya sedikit lebih lembut.

“Bagus. Tapi ingat, kita harus sabar. Empat belas tahun bukan waktu yang sebentar. Semua langkah harus terukur.”

Zaskia lebih siap. Ia akan melakukan apa pun demi ibunya, meski tak tahu apa yang menunggu di luar sana.

1
Takagi Saya
Terhibur!
zeyy's: haloo, ayo saling support. tolong like + komen karya ku juga ya kak, semangat!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!