Sebuah jebakan kotor dari mantan kekasih memaksa Jenara, wanita karier yang mandiri dan gila kerja, untuk melepas keperawanannya dalam pelukan Gilbert, seorang pria yang baru dikenalnya. Insiden semalam itu mengguncang hidup keduanya.
Dilema besar muncul ketika Jenara mendapati dirinya hamil. Kabar ini seharusnya menjadi kebahagiaan bagi Gilbert, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak remaja, ia didiagnosis mengidap Oligosperma setelah berjuang melawan demam tinggi. Diagnosis itu membuatnya yakin bahwa ia tidak mungkin bisa memiliki keturunan.
Meskipun Gilbert meragukan kehamilan itu, ia merasa bertanggung jawab dan menikahi Jenara demi nama baik. Apalagi Gilbert lah yang mengambil keperawanan Jenara di malam itu. Dalam pernikahan tanpa cinta yang dilandasi keraguan dan paksaan, Gilbert harus menghadapi kebenaran pahit, apakah ini benar-benar darah dagingnya atau Jenara menumbalkan dirinya demi menutupi kehamilan diluar nikah. Apalagi Gilbert menjalani pernikahan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TILU PULUH
"Haciiimmm!"
Gilbert tersentak dari lamunannya, mengusap hidungnya yang terasa gatal secara tiba-tiba. Ia meletakkan cangkir kopi hitamnya yang sudah mendingin di atas meja kerja. Dahinya berkerut saat menyesap sisa kopi itu. "Kok rasanya aneh? Tidak biasanya kopi di kantor ini terasa sepahit ini," gumamnya dalam hati.
Pikirannya sekelebat melayang pada Jenara. Ada firasat yang tidak enak, semacam getaran yang mengatakan bahwa istrinya itu sedang tidak baik-baik saja di kantor sana. Gilbert meraih ponselnya, mengecek ruang obrolan dengan Jenara. Kosong. Tak ada balasan pesan sejak tadi siang, padahal ia sudah berkali-kali mengingatkan Jenara untuk tidak melewatkan makan siang dan tidak terlalu lelah bekerja demi kesehatan janin mereka.
Tok, tok, tok.
Della, sekretarisnya, mengetuk pintu. "Pak Gilbert, rapat mingguan dengan manajer pelaksana akan segera dimulai di ruang utama."
Gilbert menghela napas panjang, merapikan jasnya dengan sekali sentakan. "Baik, saya segera ke sana. Dan Della, tolong siapkan laporan arus kas terbaru, aku butuh data itu setelah rapat."
Sore harinya, matahari mulai terbenam di balik gedung-gedung tinggi Jakarta. Mobil mewah Gilbert sudah terparkir rapi di pelataran PT Digdaya Guna. Jenara tadi mengirim pesan singkat agar supir menjemputnya tepat waktu, sebuah permintaan yang jarang ia lakukan karena biasanya ia lebih suka lembur.
Jenara masuk ke dalam mobil dengan langkah yang tampak berat. Begitu pintu tertutup, ia langsung menyandarkan punggungnya ke kursi penumpang, memejamkan mata dengan napas yang terdengar letih.
"Capek?" tanya Gilbert pelan, suaranya rendah namun penuh perhatian.
"Mmm..." Jenara menjawab tanpa membuka mata. Ia hanya ingin mematikan otaknya sejenak dari angka-angka dan masalah hukum yang memusingkan.
Gilbert menatap profil samping istrinya. "Ada apa? Cerita saja padaku, Jenara."
Jenara tampak ragu. Ada ego besar di dalam dirinya yang menolak untuk terlihat tidak mampu di depan Gilbert. Ia tidak ingin suaminya menganggapnya sebagai wanita yang lemah hanya karena hormon kehamilan atau tekanan bisnis. Namun, tekanan kali ini terasa terlalu besar untuk ia panggul sendirian.
"Masalah lahan proyek di Semarang," akhirnya Jenara bersuara, matanya masih terpejam. "Padahal kita sudah memberikan DP dan menandatangani perjanjian awal. Tapi tiba-tiba ahli waris menerima tawaran dari pihak lain dengan harga yang jauh lebih tinggi. Mereka ingin membatalkan kontrak sepihak."
"Boleh aku lihat surat kontrak dan bukti pembeliannya?" tanya Gilbert sambil mengusap kepala Jenara dengan lembut, sebuah gerakan yang tanpa sadar membuat ketegangan di bahu Jenara sedikit melonggar.
"Sebentar... aku hubungi Alexa dulu untuk meminta hasil pindaian dokumennya," sahut Jenara sembari merogoh tasnya.
Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah. Jenara langsung menuju kamar utama dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Gilbert menghampirinya, mengecup kening Jenara dengan kasih sayang yang tulus.
"Mandilah dulu, Jen. Aku sudah meminta Ibu Nurul menyiapkan air hangat di bathtub. Ada esensial oil dan susu mandi juga di sana agar kau rileks. Aku akan memeriksa dokumen dari Alexa di meja kerja," perintah Gilbert lembut namun tegas.
Jenara mengangguk pelan, merasa tersentuh. Ternyata pria yang terlihat kaku ini sangat memperhatikan hal-hal detail untuk kenyamanannya. Ia bangkit dan melangkah ke kamar mandi, menenggelamkan diri dalam aroma terapi yang menenangkan, mencoba menghapus bayangan kelam dari pikirannya.
Di meja kecil di sudut kamar, Gilbert tampak serius menatap layar laptop. Ia membaca setiap klausul dalam dokumen kontrak yang dikirimkan Alexa. Matanya yang tajam mencari celah hukum.
"Tawaran PT Martha memang gila," gumam Gilbert setelah bertukar pesan singkat dengan Alexa untuk menggali detail masalah. "Jika jual beli ini gagal, ahli waris hanya perlu membayar penalti dua kali lipat dari DP. Bagi Martha Cipta, itu jumlah yang kecil untuk ditanggung demi menjegal Jenara."
Gilbert menyandarkan punggungnya, berpikir keras. Ia harus mencari solusi yang lebih efektif daripada sekadar menuntut ahli waris di pengadilan yang akan memakan waktu tahunan. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu.
"Bukankah Althaf punya lahan luas di perbatasan Semarang?"
Gilbert segera menelepon sahabatnya itu. "Halo, Al. Tanahmu yang di perbatasan Semarang itu, apakah masih kosong?"
Di seberang telepon, Althaf tertawa kecil. "Tanah itu? Gil, kau lupa ya? Tanah itu sudah resmi jadi milikmu sejak lima tahun lalu."
Gilbert tertegun, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Milikku? Kapan aku membelinya?"
"Itu bonus dari Alena, Gil! Karena kau berhasil membantu perusahaannya meraup keuntungan besar dari proyek ekspor ke Eropa waktu itu. Kau sendiri yang bilang 'simpan saja suratnya', jadi aku simpan di brankas kantormu."
Althaf menyindir lagi, "Sultan memang beda ya. Aset sendiri saja bisa lupa. Jangan-jangan saldo di rekeningmu juga kau lupa berapa digitnya?"
Gilbert tertawa lepas, rasa tegangnya sedikit mencair. "Itu tidak penting, Al. Yang penting asal jangan lupa istri saja."
Tak lama kemudian, Jenara keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi satin berwarna marun. Rambutnya yang masih basah digulung dengan handuk kecil, menonjolkan leher jenjangnya yang putih. Ia menghampiri Gilbert yang masih duduk di depan laptop.
Jenara memeluk Gilbert dari belakang, melingkarkan lengannya di leher suaminya dan mendaratkan kecupan lembut di pipi Gilbert. Aroma sabun mandi, sampo, dan lulur mawar menyatu, menciptakan wangi yang begitu memabukkan bagi indra penciuman Gilbert.
"Terima kasih... Suamiku," bisik Jenara pelan.
Gilbert sedikit menegang. Kulit Jenara yang lembap dan lembut bersentuhan langsung dengan kulitnya, membuatnya merasa gelisah. "Jenara... jangan coba-coba menggodaku sekarang."
Jenara terkekeh, kepalanya bersandar di bahu Gilbert. "Bagaimana soal perusahaanku? Ada celah?"
Gilbert memutar kursinya, menatap Jenara dengan serius. "Saran dariku, lepaskan saja tanah itu. Perjanjian kontrak jual beli yang dibuat tim hukummu sebelumnya memang agak lemah. Ahli waris bisa membatalkannya dengan mudah asalkan mereka bayar penalti. Tawaran dari PT Martha terlalu fantastis untuk mereka tolak secara moral."
Wajah Jenara seketika muram. Rasa mual akibat stres kembali hadir di perutnya. "Jadi aku kalah dari Hilya? Begitu saja?"
Melihat istrinya sedih, Gilbert langsung menarik tangan Jenara, membuat wanita itu terduduk di pangkuannya. Gilbert memeluk pinggang Jenara erat, menyembunyikan wajahnya di leher jenjang istrinya, memberikan ciuman-ciuman kecil yang menggelitik.
"Jangan sedih dulu, Istriku," bisik Gilbert dengan suara berat yang menenangkan. "Aku punya kejutan yang tidak mungkin bisa kamu tolak."
Jenara mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Gilbert penuh harap. "Kejutan apa?"
"Lupakan lahan ahli waris itu. Aku punya lahan sendiri di lokasi yang jauh lebih strategis di Semarang. Jalannya lebih lebar, akses tolnya lebih dekat, dan yang paling penting... pemiliknya adalah suamimu sendiri. Aku akan memberikannya padamu sebagai mahar tambahan yang tertunda."
Mata Jenara membelalak. "Apa? Kau punya lahan di sana? Sejak kapan?"
"Sejak aku lupa kalau aku punya aset di sana," Gilbert terkekeh, mempererat pelukannya. "Jadi, biarkan Hilya memperebutkan tanah sengketa itu dengan ahli waris yang serakah. Kita akan membangun Digdaya Guna di atas tanah yang jauh lebih megah."
Jenara terdiam, rasa haru menyeruak di dadanya. Ia kembali memeluk leher Gilbert, kali ini lebih erat. "Gilbert... aku tidak tahu harus bilang apa."
"Jangan bilang apa-apa," bisik Gilbert sembari mulai menciumi bibir Jenara dengan lembut. "Cukup pastikan kau dan bayi kita sehat. Sisanya, biar suamimu ini yang mengurus tikus-tikus yang mengusik istriku."
Malam itu, beban di pundak Jenara benar-benar luruh, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa di dalam dekapan pria yang kini ia sadari, bukan hanya sekadar suami di atas kertas.
"Sepertinya, sebelum makan malam, aku butuh makanan pembuka yang segar," ucap Gilbert dengan tatapan menggoda, Jenara merasakan hawa di sekitarnya menjadi dingin.
Jenara merasakan firasat yang buruk, lebih buruk dari permasalahan di perusahan.
"Me-menjauhlah Gilbert! Kamu bau!!!"
kok baru kali ini emosian dn serba salah...
emang mungkin hamidun atau kangen belaian gilbert niihhh 😏😏😏
30 detik itu penting buat napas ya Jen, coba kalo gk napas sesek kan 🤭🤭🤭
,, kalo jen hamil harusny sambil mual kan ya? udh mual belum???