"Kau akan dibunuh oleh orang yang paling kau cintai."
Chen Huang, si jenius yang berhenti di puncak. Di usia sembilan tahun ia mencapai Dou Zhi Qi Bintang 5, tetapi sejak usia dua belas tahun, bakatnya membeku, dan gelarnya berubah menjadi 'Sampah'.
Ditinggalkan orang tua dan diselimuti cemoohan, ia hanya menemukan kehangatan di tempat Kepala Desa. Setiap hari adalah pertarungan melawan kata-kata meremehkan yang menusuk.
Titik balik datang di ambang keputusasaan, saat mencari obat, ia menemukan Pedang Merah misterius. Senjata kuno dengan aura aneh ini bukan hanya menjanjikan kekuatan, tetapi juga mengancam untuk merobek takdirnya.
Bagian 1: Gerbang Dimensi Harta ~ 26 Chapter
Bagian 2: Aliansi Xuan Timur vs Wilayah Asing ~ ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Keluhan Xin Li
Setelah menerima ultimatum sepuluh tahun, tekad Chen Huang mengkristal sekeras es. Ia segera meninggalkan Sekte Awan Langit. Di bawah langit biru yang luas, siluetnya membelah angin dengan kecepatan Dou Qi penuh.
Ia terbang di atas pedangnya, sebuah lintasan gelap yang bergerak cepat menuju Kota Yansheng.
Rambut hitamnya yang pendek bergelombang liar, berkejaran dengan kecepatan, sementara matanya yang tajam menatap lurus ke cakrawala—tempat pelelangan harta, sebuah peluang untuk mengakuisisi sumber daya yang mendesak untuk menunjang latihannya.
Aula Istana Langit.
Di tempat yang dipenuhi aura spiritual dan arsitektur megah—Aula Istana Langit—terdengar suara desisan pedang yang membelah udara.
Xin Li berlatih dengan intensitas yang sunyi. Tubuhnya yang ramping dan lentur bergerak dalam rangkaian gerakan yang indah saat ia memegang pedang latihan.
Setiap gerakan pinggulnya sangat terkontrol, setiap putaran tubuhnya menampilkan keanggunan yang luar biasa. Ia adalah Dou Zhi Qi Bintang 9, puncak dari Ranah Dasar, namun di balik keindahan gerakannya, ada rasa frustrasi yang tersembunyi.
Teknik berpedang yang ia pelajari hanyalah fondasi; indah, namun secara fisik masih terlalu lemah untuk melawan monster atau kultivator yang mengandalkan teknik spiritual brutal.
"Hiaaa!"
Xin Li mengayunkan pedangnya dengan tebasan terakhir yang memenggal udara, lalu dengan gerakan anggun, ia menancapkan ujung pedangnya ke lantai batu, membiarkan tubuhnya bernapas lega.
"Fyuhhh..."
Ia menepuk-nepuk roknya yang sedikit kotor karena latihan intensif. Rok itu, meskipun pakaian sekte, dibentuk sedemikian rupa sehingga ketika ia bergerak, lipatannya akan mengikuti lekuk pinggulnya, menekankan bentuk tubuhnya yang menawan.
Ia kemudian berjalan menuju tangga batu terdekat. Duduk di sana, dengan postur yang tak terhindarkan tetap anggun, ia menghela napas panjang.
Kelelahan tampak jelas di wajahnya.
Pikiran tentang Chen Huang dan Yun Yuan, yang sudah memiliki pencapaian dan teknik unik di atasnya, membuatnya merasa kecil. Kelebihan terbesarnya hanyalah bakat meramal—kemampuan yang jarang berguna dalam pertarungan langsung.
Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di kepalanya dari belakang. Itu adalah Yun Yuan, yang berdiri di belakangnya.
"Ada apa?"
Tanya Yun Yuan, suaranya lembut, namun mengandung kewibawaan yang menenangkan.
"Kelihatannya kau tidak senang, Xin Li?"
Xin Li mendongak, matanya yang indah bersinar kelelahan.
"Ah, Kak Yun."
Ia diam sejenak. Yun Yuan dengan luwes dan hati-hati duduk di sebelahnya di tangga batu itu. Gerakan duduk Yun Yuan sangat anggun, memastikan pakaiannya tidak kusut.
Saat ia bersandar, bagian dadanya bergerak sedikit di balik jubah, memancarkan aura feminin yang kuat namun terkontrol.
"Hmm... aku bingung, bagaimana caranya menjadi lebih kuat. Aku tidak memiliki pencapaian seperti Kak Yun dan Chen Huang."
Membandingkan diri dengan dua "jenius" yang mendapat anugerah Dewi Langit memang terasa seperti bunuh diri. Xin Li benar. Ia bukan petarung murni, ia kekurangan teknik spiritual kuat.
"Tidak, Xin Li. Kau sudah kuat."
"Tapi, aku masih—"
Belum sempat Xin Li menyelesaikan keluhannya, bibirnya yang lembut sudah tersentuh oleh jari telunjuk Yun Yuan.
Sentuhan itu lembut, namun menghentikan semua kata-kata. Yun Yuan menatapnya dengan mata yang dipenuhi kebijaksanaan.
"Kau akan jadi sangat kuat, karena kau punya banyak hal yang tidak kami miliki."
Xin Li memiringkan kepalanya, matanya dipenuhi rasa ingin tahu. Gerakan itu membuat helaian rambut hitamnya jatuh ke bahu, menambah pesona polosnya.
"Apa itu?"
Yun Yuan menarik jarinya, lalu tersenyum tipis.
"Semangat, kesabaran, dan waktu."
Yun Yuan memahami perbedaan mendasar mereka. Ia dan Chen Huang berada dalam perlombaan melawan waktu—sepuluh tahun. Mereka harus menerobos ranah dengan cepat, tanpa sempat menikmati prosesnya.
Yun Yuan sendiri kini akan memfokuskan seluruh energinya untuk memadukan Teknik Tujuh Pedang Kaisar dengan energi spiritual Yun Wangshu, sebuah proses yang cepat namun berisiko tinggi.
Xin Li, sebaliknya, memiliki kemewahan waktu dan proses alami. Ia hanya perlu memupuk fondasinya dengan semangat dan kesabaran. Nasihat Yun Yuan, yang disampaikan dengan keanggunan dan kehangatan, berhasil menanamkan benih keyakinan baru di hati Xin Li.