NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Telah Bicara

Ketika Cinta Telah Bicara

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:950.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Eeeewy

Lima belas tahun yang lalu, Maria adalah sosok yang ceria tidak peduli bagaimana asal - usulnya. Namun semenjak dirinya menyatakan cinta pada Yudha dan ditolak, ia jadi memahami mengapa Bibit, Bebet, dan Bobot menjadi standar ditolak dan diterima, dipilih dan dipinang.

Apalagi ketika ia harus terusir dari rumah karena sertifikatnya telah digadai sang ayah. Sedangkan sang ayah sendiri tewas menjadi bulan - bulanan massa setelah tertangkap basah tengah mencopet.

Yudha seorang pria tamvan, mavan, dan rupawan. Karirnya begitu cemerlang. Namun takdir seolah menjungkir balikkan hidupnya ketika sang istri meninggal saat melahirkan buah hati kedua mereka.

Karena harus menitipkan sang bayi di rumah sang ibu, ia kembali bertemu Maria dalam kondisi saling membutuhkan.

"jadilah baby sitter untuk anakku, aku akan menanggung semua kebutuhanmu."

"Hey, kamu nggak takut mempercayakan anakmu padaku. Nanti kalau anak mu rewel kemudian aku bunuh, gimana."

Yudha tersadar, kesalahannya di masa lalu telah membuat Maria tidak lagi sama seperti yang dulu.

Namun Ketika Cinta Telah Bicara, akankah menyatukan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eeeewy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Hasil Tes DNA

Maria berjalan mondar - mandir dengan gelisah. Hari ini hasil tes DNA nya akan keluar. Jujur saja, Maria merasa bingung. Seandainya hasil tes tersebut menunjukkan jika ternyata ia bukan adiknya Mario, bagaimanakah ia harus bersikap nanti? Karena Maria sudah terlanjur nyaman menganggap pria itu adalah kakaknya. Meskipun ia jarang bertemu dengan Mario, tapi saat mengingat memiliki saudara tempat untuk bersandar, rasanya sangat melegakan. Maria yakin bahwa semua orang pasti tidak ingin hidup di dunia ini sendirian, begitu juga dirinya.

Maria tidak siap untuk kembali kehilangan. Apakah ia sanggup melepaskan secuil kebahagiaan yang selama berpuluh tahun ini dicari namun hanya sempat ia rasakan sebentar saja?

Yang jelas, rasanya pasti berat harus mengikhlaskan kakak sebaik Mario dan melihat pria itu kembali berburu saudara kandungnya yang asli. Dan pasti menyesakkan ketika melihat ada wanita lain yang beruntung menggantikan dirinya menjadi adiknya Mario.

Ah, lagi - lagi rasa sakit itu muncul kembali. Seperti saat Yudha menolaknya dan berbahagia dengan wanita lain.

Maria mencoba menyemangati dirinya sendiri. "Kamu udah pernah merasakan sakitnya ditolak, Mar. Dibawa santuy aja kale!"

Di sisi hatinya yang lain ikut menyuarakan pergolakan batin. Jika ternyata mereka benar - benar bersaudara harus merasa senang ataukah sedih? Jujur saja, rasa sakit hati karena merasa telah di abaikan itu ada. Namun sekali lagi Maria membesarkan hatinya. Jika meninggalkannya adalah demi kebahagiaan sang ibu, apalah daya Maria? Mario sendiri sudah menjelaskan jika saat itu ibunya tidak memiliki pilihan lain selain meninggalkan adik perempuan dalam asuhan walinya yang sah.

"Mar, kamu dari tadi mondar - mandir terus. Bantuin aku menyortir uang ini loh!" Safira mengingatkan Maria yang terlihat gelisah.

"Kamu kenapa? Udah deh, ngomong saja sama aku!" Safira mencoba menenangkan hati sahabatnya.

Maria menatap Safira sebelum ia duduk di depan admin SPBU yang tengah sibuk menghitung tumpukan uang setoran shif pagi.

"Aku merasa galau, Saf." ungkap Maria jujur, mengakui apa yang sedang ia rasakan.

"Nah loh. Akhirnya sadar juga kan, kalau ternyata kamu menyukai pak Mario?" Safira nyengir lebar. Soalnya Safira merasa aneh ketika Maria justru berniat menyomblangi dirinya dengan Mario. Tidak mudah bagi Safira membelokkan laju arah perasaannya dari seorang Rico ke pak Mario, meskipun perbandingan si mantan dengan pak Mario itu bagaikan langit dan bumi.

Maria menatap Safira dengan mata sendu. "Saf, kamu percaya tidak kalau aku dan pak Mario itu ternyata bersaudara?"

Pertanyaan Maria disambut derai tawa Safira. "Kamu saudara dari Hongkong?" ledeknya sambil membendel uang yang telah di sortir itu dengan kertas bertuliskan nama bank rekanan.

Maria menghela nafasnya. Setidaknya jawaban dari Safira membuatnya sadar dari halusinasi, jika menjadi saudara maupun bukan saudaranya Mario tidak akan mengubah hidupnya. Ia masih akan tetap hidup dan berjuang menghadapi kerasnya dunia ini.

"Tapi kalau pak Mario benar - benar saudaraku. Kamu harus bersiap menjadi calon kakak iparku." ancam Maria.

Safira tertawa geli. Setelah beberapa waktu hatinya senantiasa gegana, ada juga yang berhasil membuatnya tertawa.

"Mar, ngefans telenovela Marimar sih boleh. Tapi jangan halu - halu setinggi langit gitu dong. Kalau jatuh, sakit loh. Mbah D sudah terlalu banyak pasien." ledeknya.

Akhirnya Safira memiliki kesempatan untuk gantian menceramahi Maria, setelah kemarin - kemarin ia diceramahi oleh sahabatnya itu agar move on dari Rico.

Maria ingin menyuarakan bantahan. Namun selama bukti itu belum terpampang nyata, mana mungkin Safira akan mempercayai ucapannya begitu saja.

*******

Degup jantung Maria semakin terasa tidak karuan ketika Mario datang untuk menjemputnya. Seberat - beratnya masalah hidup yang harus ia tanggung, belum pernah dirinya merasa sekalut ini. Bahkan ketika bapaknya tewas karena dikeroyok orang, Maria tidak menangis. Begitupun ketika harus terusir dari rumahnya sendiri, ia tidak takut hidup menggelandang. Namun untuk mengetahui hasil tes DNA saja, mengapa Maria merasa takut?

"Cie... dijemput pak Mario lagi." goda Safira sambil berbisik.

Jika Maria dalam mode normal, ia pasti sudah membalas ucapan sahabatnya. Namun karena pikirannya sedang bingung, Maria memilih pasrah.

"Saf, aku takut!" ucap Maria sambil memegang tangan Sahabatnya dengan erat.

Maria takut jatuh dan terhempas dengan khayalan yang terlanjur ia pupuk. Jika lelaki itu bukan saudaranya? Kepada siapakah Maria akan menggantungkan harapannya? Seandainya saja ia tidak bertemu pak Mario, pasti hidupnya justru lebih tenang dan damai.

Genggaman tangan Maria menyadarkan Safira. Ternyata si gadis tangguh dan bar - bar yang ia kenal itu bisa tampak rapuh juga. Entah apa yang membuat Maria menjadi letoy begini.

"Mar, kamu dari tadi aneh banget. Sebenarnya kamu kenapa, sih?"

Maria tidak menjawab. Ia justru pamit meninggalkan Safira untuk pergi bersama Mario yang telah menjemputnya.

******

Mario dan Maria menghela napas dan menghembuskannya dengan keras sebelum membuka amplop yang baru saja mereka terima. Rasanya lebih menegangkan dari membuka amplop kelulusan sekolah.

Jika Maria tampak apatis dengan hasil tes. Mario justru merasa yakin hasil tes tersebut sesuai dengan deduksinya. Sejauh apa pun jarak yang membentang memisahkan dua bersaudara, jika Tuhan berkehendak maka mereka berdua akan dipertemukan kembali dengan cara yang tidak terduga. Dan Mario percaya kali ini ia berhasil menemukan adiknya.

Maria sudah pasrah dengan hasil tes. Hanya dongeng saja yang akan berakhir dengan penuh keajaiban dan kebahagiaan. Kalau di dunia nyata, ia tidak berani berharap.

Mario yang lebih dulu membaca hasil tes tersebut. Dari tes darah dan sampel rambut milik Maria dan mendiang ibunya, ternyata memang tingkat akurasinya 99%.

Mario ingin bersorak gembira, namun ia berusaha menyembunyikan euforia yang ia rasakan. Akhirnya setelah mencari dan terus mencari, ia berhasil menemukan Maria yang terbuang.

"Kamu tidak ingin melihat hasilnya?" tanya Mario yang sengaja menunjukkan raut wajah datar. Ia ingin melihat reaksi sang adik saat mengetahui jika mereka memang bersaudara. Antusiaskah? Bahagiakah? Semoga saja begitu.

Maria menatap mata Mario dengan sendu. "Abang aja yang membacakan!" pintanya dengan nada pasrah membuat Mario merasa terharu dan segera merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

"Aku takut jika ternyata Abang bukan saudaraku." tubuh dalam rengkuhannya bergetar karena tangis.

"Tapi aku lebih takut lagi jika kita bersaudara, Bang. Hati aku belum bisa menerima kenyataan karena keberadaanku tidak pernah diharapkan." tubuh Maria semakin berguncang keras.

Mario merasakan apa yang di rasakan oleh Maria. Ia pun marah pada sang ibu ketika mengetahui kenyataan yang disembunyikan selama puluhan tahun darinya. Adiknya tersayang, adiknya yang malang.

"Tolong maafkan perbuatan ibu kita, Dek. Ijinkan aku memperbaiki kesalahan ibu di masa lalu. Di ikhlaskan ya, supaya ibu tenang di surga." bisik Mario lembut, namun justru membuat tangis Maria semakin keras.

Tbc

1
sakura
...
sakura
..
Audrey Chanel
suka author nya pinter love you Thor
Audrey Chanel
Terima kasih kak Author aku jg mencintaimu😘🫠😂😄🤗🤗🤗
Audrey Chanel
intinya biar si mantan ilang dari pikiran cari yg baru yah Thor
Audrey Chanel
sukurin handuknya buat ngepel
Hania Nasar
krm aj si devil ke mbah D.
atin p
😀😀😀😀thor...edannn tenan critone iki
atin p
auto ngakak...pengene Rico sing mati...wqwqwq tibane bpke dewe...
Sri Hartini
menurutku yudha gak lah buruk,soalnya kelakuan maria sendiri yg menurutku keterlaluan bercandanya,terang aja langsung ditolak cintanya
🍉🕌kimˢᵉˡˡᵒʷ͢ ᵇᵍᶠ🦢
. ok
Marni Aja
😭😭😭
Marni Aja
ikut nangis aku bacanya😭😭
Marni Aja
cerdas jawabanmu mar.... marimar.... maria mersedez😂
Marni Aja
jujur ya, aku itu setiap baca part latahnya maria.., suka ngakak sendiri.... itu jingle telenovela jadul banget jaman aku gadis.... maria mersedes😂😂😂
🍉🕌kimˢᵉˡˡᵒʷ͢ ᵇᵍᶠ🦢
mampir
Marni Aja
😭😭😭
Rian's 666
pas
Rian's 666
tes
Elisabeth Ratna Susanti
lanjut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!