Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Warisan Pedang
Keheningan kembali menyelimuti dataran tandus itu setelah mayat-mayat para algojo lenyap tertutup debu Jurang Ketiadaan.
Namun, atmosfer di antara mereka telah berubah. Jian An dan Jian Han tidak lagi menatap latihan ini sebagai beban, melainkan sebagai satu-satunya jalan untuk bertahan hidup.
Jian Wuyou berdiri di tengah-tengah reruntuhan batu, menatap kedua putranya dengan tatapan yang sangat dalam.
Ia menyadari bahwa waktu tidak lagi berpihak pada mereka.
Musuh telah menemukan lokasi mereka, dan penguasa Jurang Ketiadaan ini bukanlah sosok yang mudah menyerah.
"Duduklah," perintah Jian Wuyou.
Kedua bocah itu segera duduk bersila di tanah yang dingin.
Li Hua mendekat, berdiri di belakang anak-anaknya dengan tangan yang masih gemetar, namun ia berusaha tegar demi memberikan dukungan moral.
"An, Han. Selama ini aku hanya melatih fisik dan aliran Qi kalian. Tapi mulai hari ini, aku akan mewariskan dasar dari teknik pedangku yang sebenarnya. Teknik ini bukan berasal dari sekte manapun di dunia dewa. Ini adalah teknik yang kutemukan saat aku berada di titik terendah kehidupanku." ucap Jian Wuyou sambil mencabut pedangnya perlahan.
Jian Wuyou tidak melakukan gerakan besar. Ia hanya memegang pedangnya secara vertikal di depan wajahnya.
"Dalam ranah Penyatuan Roh hingga Jiwa Sejati, banyak pendekar fokus pada seberapa besar energi yang bisa mereka ledakkan. Itu salah," Jian Wuyou memejamkan mata.
"Pedang yang sesungguhnya bukan besi di tanganmu, tapi niat di dalam jiwamu.Jiam An, kau memiliki darahku yang liar. Jika kau menyerang dengan amarah, pedangmu akan tumpul. Jian Han, kau memiliki ketenangan, tapi kau kekurangan ketegasan untuk menghancurkan."
Jian Wuyou tiba-tiba mengayunkan pedangnya ke arah sebuah pilar batu besar yang berjarak lima puluh meter.
Tidak ada energi ungu yang keluar. Tidak ada suara ledakan.
Namun, beberapa detik kemudian, pilar batu itu perlahan bergeser dan terbelah menjadi jutaan butiran pasir halus.
Bukan terpotong, tapi hancur di tingkat molekul.
"Itu disebut Niat Kehendak," jelas Wuyou. "Aku tidak memotong batu itu. Aku 'memerintahkan' batu itu untuk tidak lagi ada. Itulah inti dari Domain Kehendak."
Jian An menelan ludah. Ia mencoba memejamkan mata, membayangkan pedang kayu di tangannya bukan lagi kayu, melainkan bagian dari jiwanya sendiri.
Energi ungu di dalam tubuhnya mulai bergejolak, mencoba memberontak.
"Jangan melawannya, Jian An. Biarkan energi itu mengalir seperti air." bisik Jian Wuyou melalui transmisi suara langsung ke pikiran anaknya.
Di sisi lain, Jian Han mulai merasakan resonansi yang aneh. Sejak pertempuran di Lembah Senja di mana mereka menyatu, ada ikatan batin yang tidak terlihat di antara mereka.
Saat Jian An mulai kesulitan mengendalikan energinya, Jian Han secara insting mengulurkan tangannya dan memegang bahu adiknya.
Seketika, energi biru tenang milik Jian Han mengalir masuk ke dalam meridian Jian An, mendinginkan suhu tubuh adiknya yang mulai memanas.
"Lihat itu," gumam Mei Lian yang menonton dari jauh. "Mereka saling melengkapi. Yang satu adalah api yang menghancurkan, yang lain adalah air yang menenangkan."
Jian Wuyou memperhatikan fenomena itu dengan saksama. Ia menyadari sesuatu yang besar. "Penyatuan kalian di Lembah Senja bukan hanya keberuntungan. Kalian adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Jika kalian bertarung bersama, ranah Jiwa Sejati hanyalah batu loncatan kecil bagi kalian."
Setelah berjam-jam mencoba memahami konsep "Niat", kedua bocah itu kelelahan.
Jian An berhasil memotong sehelai daun yang terbang dengan niatnya, meskipun hanya meninggalkan goresan tipis. Itu adalah kemajuan pesat bagi seseorang di tingkat mereka.
Li Hua maju membawa kain hangat dan air minum. Ia menatap Jian Wuyou dengan tatapan penuh arti.
"Wuyou, kau melatih mereka seolah-olah besok adalah hari kiamat." ucap Li Hua pelan saat anak-anak sedang sibuk berdiskusi tentang latihan mereka.
"Bagi kita, setiap hari di tempat ini bisa menjadi hari kiamat, Li Hua," jawab Wuyou sambil menyarungkan pedangnya. "Aku merasakan ada kekuatan besar yang sedang mengamati kita dari pusat kota. Seorang penguasa yang ranahnya mungkin sudah menyentuh Puncak Abadi Tahap Menengah. Aku harus memastikan jika terjadi sesuatu padaku, anak-anak bisa membawamu pergi dari sini."
Li Hua menggenggam tangan suaminya yang kasar dan penuh kapalan. "Jangan bicara seperti itu. Kita datang ke sini bersama, dan kita akan keluar dari sini bersama."
Jian Wuyou hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan ribuan rencana cadangan di kepalanya.
Ia tahu bahwa ketenangan ini hanyalah ilusi. Di balik kabut abu-abu Jurang Ketiadaan, sebuah skema besar sedang dijalin oleh mereka yang haus akan kekuatan darah Jian An.
Malam itu, di bawah atap rumah batu yang dingin, keluarga Jian tidur dalam satu ruangan yang sama.
Jian Wuyou tetap terjaga, duduk bersandar di pintu dengan pedang di pangkuannya, menjaga harta paling berharganya di semesta yang kejam ini.