"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Gladis meletakkan nampan perak itu di atas meja marmer dengan dentuman pelan.
Aroma sup krim jamur yang gurih dan salmon panggang yang segar menggoda indra penciumannya, namun perutnya terasa mual karena amarah yang masih menggumpal.
Ia tidak menyentuh makanan itu sama sekali, bahkan tidak untuk sekadar mencicipi jus jeruknya.
Dengan gerakan kaku, ia meraih laptop yang sudah disiapkan Arkan di meja kerja.
Saat ia menyalakannya, layar langsung menampilkan jadwal kuliah daring dan akses ke portal mahasiswanya.
Semuanya sudah diatur dengan sangat rapi terlalu rapi hingga membuat Gladis merasa seperti bidak catur yang digerakkan oleh tangan dingin Arkan.
Ia mulai masuk ke ruang pertemuan virtual. Suara dosen yang menjelaskan teori komunikasi terasa jauh di telinganya, namun ia berusaha fokus, mencoba mencari pelarian di dalam tumpukan tugas kuliah agar pikirannya tidak melayang pada nasibnya di kapal ini.
Sementara itu, di ruang anjungan yang remang, Arkan duduk di kursi nakhodanya yang tinggi.
Di sudut salah satu layar monitor navigasinya, terdapat jendela kecil yang menampilkan tangkapan kamera CCTV rahasia dari kabin pribadinya.
Arkan memperhatikan Gladis. Ia melihat gadis itu duduk tegak di depan laptop, sesekali menyibak rambutnya yang menghalangi pandangan dengan raut wajah yang sangat serius.
Ia juga melihat nampan makanan yang masih utuh dan tertutup rapat di sudut meja.
"Keras kepala," gumam Arkan pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang saru—campuran antara kekaguman pada sifat pembangkang Gladis dan rasa gemas karena keinginannya ditentang.
Arkan tahu, Gladis sedang mencoba menunjukkan otoritasnya sendiri melalui mogok makan. Namun, Arkan bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia tahu persis kapan harus menarik ulur tali kemudi.
Ia mematikan layar CCTV itu dan mengalihkan pandangannya ke depan, menembus kaca besar anjungan yang menampilkan hamparan laut biru tak berujung.
Ombak besar menghantam haluan Ocean Empress, pecah menjadi buih-buih putih yang segera tertinggal di belakang.
Arkan menarik napas dalam, membiarkan aroma laut dan dinginnya AC anjungan memenuhi dadanya.
"Berlarilah sejauh yang kau bisa di dalam kuliahmu itu, Gladis. Tapi saat matahari terbenam nanti, kamu tetap akan kembali ke dalam pelukanku. Laut ini tidak punya pintu keluar, dan kamu adalah pelabuhan terakhir yang sudah kupastikan koordinatnya."
Ia kembali menatap ombak yang bergulung, membiarkan mesin kapal yang perkasa membawanya semakin jauh dari daratan, membawa rahasia pernikahan mereka ke tengah samudra yang tak akan pernah membocorkan cerita pada siapa pun.
Arkan memanggil Gerald untuk menggantikannya sebentar.
Ia keluar dan berjalan melihat beberapa penumpang yang menikmati kapal pesiar.
"Kapten Arkan, perkenalkan aku Gita. Apakah kita bisa berfoto sebentar?" tanya Gita yang menyukai Arkan.
Arkan sebagai kapten menganggukkan kepalanya.
Gita mengambil ponselnya dan segera memotret dirinya yang sedang bersama dengan Arkan.
"Terima kasih, Kapten." ucap Gita.
Arkan mengangguk kecil dan kembali berjalan keliling dek.
Sementara itu di tempat lain Gladis telah menyelesaikan kuliahnya.
Ia mengambil tasnya dan berencana keluar untuk membeli es krim.
Saat ia membuka pintu, ia dikejutkan dengan Arkan yang juga akan masuk ke dalam.
Langkah Gladis terhenti saat tangan besar Arkan mencekal lengannya.
"Mau ke mana?" tanya Arkan, suaranya rendah dan mengintimidasi, memenuhi lorong kabin yang sepi.
Gladis mendongak, menatap mata tajam di balik kacamata hitam itu dengan sisa keberaniannya.
"Aku hanya mau es krim, Arkan. Aku tidak akan lari. Lagipula, mau lari ke mana? Terjun ke laut?"
Arkan menatapnya lurus selama beberapa detik, seolah sedang memindai apakah ada kebohongan di mata gadis itu.
Perlahan ia melepaskan cengkeramannya dan memperbaiki letak topi kaptennya.
"Aku mengantarmu," ucap Arkan singkat.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil!"
"Ini bukan tawaran, Gladis. Ini pengawalan. Jalan," perintah Arkan sambil memberi isyarat dengan tangannya agar Gladis berjalan di depannya.
Mereka berjalan menyusuri lorong mewah kapal pesiar menuju area Promenade di dek lima.
Kehadiran mereka menarik perhatian banyak orang.
Arkan, sang kapten yang legendaris, berjalan gagah di samping seorang gadis muda yang tampak cantik meski wajahnya murung.
Para kru yang berpapasan langsung menyingkir dan memberikan hormat, sementara para penumpang wanita menatap iri ke arah Gladis.
Mereka tiba di sebuah kedai gelato bergaya Italia yang estetik.
Aroma wafel yang baru dipanggang memenuhi udara.
"Mau rasa apa?" tanya Arkan saat mereka berdiri di depan etalase kaca yang memamerkan belasan warna-warni gelato.
"Rasa sianida," jawab Gladis ketus.
Arkan mengernyitkan keningnya, rahangnya mengeras sesaat mendengar jawaban sarkastik itu.
Penjual gelato di balik konter pun sampai tertegun, bingung harus bereaksi apa.
"Berhenti bicara omong kosong, Gladis," desis Arkan pelan agar tidak terdengar orang lain. Ia kemudian beralih pada penjual itu.
"Satu cokelat, tanpa kacang." ucap Gladis.
"Hanya itu?" tanya penjual itu sopan.
"Dua," tambah Arkan.
Setelah menerima dua cup gelato, Arkan menggiring Gladis menuju balkon dek yang lebih sepi, menjauh dari kerumunan penumpang.
Angin laut bertiup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Gladis yang tidak terikat.
Gladis menerima cup es krim itu dengan kasar dan mulai menyendoknya dengan rakus, seolah melampiaskan emosinya pada makanan dingin tersebut.
"Pelan-pelan makannya, Gladis. Es krimnya tidak akan lari," ucap Arkan sambil bersandar pada pagar besi kapal, menatap laut lepas dengan tangan bersedekap.
"Kenapa kamu melakukan ini, Arkan? Menikahiku, membawaku ke sini, menjauhkan aku dari semua orang..." tanya Gladis sambil menikmati gelato nya.
Arkan tidak menoleh dan membiarkan keheningan samudera menjawab sejenak sebelum ia berbicara.
"Karena Mama mu benar, Gladis. Kamu butuh seseorang yang bisa menjadi jangkar saat badaimu datang. Dan di dunia ini, tidak ada yang lebih kokoh daripada aku."
"Aku benci jangkar yang memenjarakanku!" ucap Gladis dengan nada protes kepada Arkan.
Arkan menoleh dan menatap Gladis dengan intensitas yang membuat gadis itu terdiam.
"Mungkin sekarang kamu membencinya. Tapi suatu saat, saat ombak benar-benar besar, kamu akan bersyukur karena jangkarmu tidak pernah lepas."
Tiba-tiba, suara radio panggil di bahu Arkan berbunyi.
"Kapten, ada laporan mengenai perubahan cuaca di koordinat 05. Harap segera ke anjungan."
Arkan menekan tombol bicara. "Diterima. Saya segera ke sana."
"Habiskan es krimmu, lalu kembali ke kabin. Gerald akan menjagamu di depan pintu. Jangan mencoba mencari perhatian penumpang pria lain jika kamu tidak ingin aku menghukummu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Arkan berbalik, jubah kepemimpinannya kembali menyelimuti sosoknya.
Ia melangkah pergi meninggalkan Gladis yang masih terpaku dengan cup es krim yang mulai mencair di tangannya.
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget