NovelToon NovelToon
Surat Terakhir Ayah

Surat Terakhir Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Yatim Piatu / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dfe

Tegar adalah seorang ayah dari dua anak lelakinya, Anam si sulung yang berusia 10 tahun dan Zayan 6 tahun.

Mereka hidup di tengah kota tapi minim solidaritas antar sekitarnya. Hidup dengan kesederhanaan karena mereka juga bukan dari kalangan berada.

Namun, sebuah peristiwa pilu membawa Tegar terjerat masuk ke dalam masalah besar. Membuat dirinya berubah jadi seorang pesakitan! Hidup terpisah dengan kedua anaknya.

Apakah yang sebenarnya terjadi? Bisakah Anam dan Zayan melalui jalan hidup yang penuh liku ini? Jawabannya ada di 'Surat Terakhir Ayah'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasca kebakaran

Bunyi sirene mobil pemadam kebakaran bersahut-sahutan, semua orang panik dan takut. Kebakaran hebat di rumah dan toko Marpuah itu nyatanya merembet ke rumah pak RT dan juga dua warga lain yang memang berjarak tidak jauh dari jangkauan api.

Dengan adanya kebakaran itu, sekolah dasar tempat Anam menimba ilmu diliburkan. Bukan tanpa alasan, karena para ibu panik dan langsung menjemput anak-anak mereka di sekolah. Tinggal sisa beberapa saja yang tidak dijemput karena orang tua mereka yang terlanjur bekerja atau juga seperti Anam, tidak punya orang tua.

"Bang, kita nggak mulung? Kita pulang?"

Tanya Zayan berjalan mengikuti derap kaki Anam yang melangkah cepat. Zayan kesulitan mengimbangi langkah itu sebenarnya. Nafasnya sampai terengah-engah karena harus mengatur keluar masuknya udara sambil berjalan. Masih untung Anam tidak mengajaknya berlari. Karena jika iya, sudah bisa dipastikan Zayan akan menangis kelelahan nanti.

"Pulang dulu Za. Semua orang pulang. Katanya rumah dan warung bu Marpuah kebakaran." Jelas Anam pada adiknya.

"Alhamdulillah." Jawab Zayan tanpa dosa.

"Heh, jangan gitu. Jangan ngomong Alhamdulillah saat terkena musibah tapi innalilahi wa innailaihi raji'un."

"Emang ada yang meninggal bang?"

Pembicaraan itu terjadi sambil mereka yang terus berjalan kaki.

"Hus! Makin ngawur kamu. Kata guru agama abang, innalilahi wa innailaihi roji'un itu artinya sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali. Diucapkan ketika kita terkena musibah. Musibah bisa apa aja, bukan hanya kematian aja Za."

"Tapi kan bukan kita yang kena musibah bang." Sangkal Zayan masih belum mengerti penjelasan panjang abangnya tadi.

"Ya udah, bilang astaghfirullahal 'azhiem aja kalo gitu."

Timbang pusing menjelaskan apa yang belum adiknya pahami, dan anak itu terus bertanya.. Ya mending disingkat saja. Zayan mengangguk, entah mengerti atau tidak, yang penting ngangguk aja dulu.

Benar saja, keramaian sangat terlihat bahkan sebelum memasuki mereka tiba di rumah. Jarak antara rumah Marpuah dan Tegar cukup jauh, sehingga kebakaran itu tidak berdampak apapun pada hunian sederhana mereka. Jerit tangis Marpuah membuat orang-orang iba dan berusaha menenangkannya. Tidak hanya bangunan rumah Marpuah saja yang menjadi korban keganasan si jago merah, tapi ada tiga rumah lain yang juga terkena sambaran api, menyisakan puing-puing dan juga asap hitam pekat.

"Bang, rumah Lusi bang.." Zayan menunjuk dengan jari telunjuk ke arah rumah milik Marpuah dan Riki.

Rumah besar itu kini sedang diselimuti api besar dan asap membumbung tinggi. Keadaan serupa juga terjadi di toko mereka.

Anam dan Zayan berlarian mendekati kerumunan, mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka bisa melihat Marpuah pingsan dan diletakkan saja di emperan rumah tetangganya yang lain, orang-orang sibuk membantu para petugas damkar berkerja. Jadi tidak ada waktu untuk sekedar memperhatikan Marpuah yang terkapar ditangisi Lusi di sana.

Riki? Dia berhasil dikeluarkan dari dalam rumah dengan keadaan mengenaskan. Masih hidup tapi mengalami luka bakar serius. Riki segera dilarikan ke rumah sakit guna mendapat pertolongan. Nyawanya di ujung tanduk sekarang ini.

"Anam, Zayan.. Jangan di sini. Di sini bahaya."

Ria menarik kedua bocah itu yang tampak ikut berlalu lalang. Entah mau apa kedua bocah itu sampai nekat membawa ember di tangan mereka masing-masing.

"Mau bantu ambil air bi." Ujar Anam sedikit berteriak karena suara bising dari jeritan orang-orang menyamarkan suaranya.

"Aduuuh, nggak usah! Kalian ini anak kecil, kalo ketendang orang dewasa gimana? Ini lagi, dapat ember dari mana? Taruh!!" Ria sengaja membentak keduanya, anak-anak memang tidak diperbolehkan mendekati area kebakaran sangat berbahaya!

Tiga jam berlalu, api yang tadinya seperti menantang para petugas damkar kini mulai padam. Namun tidak dengan asap sisa pembakaran, petugas damkar masih bekerja menyemprotkan air ke sana ke mari mencari titik api sekiranya bisa memicu terjadinya kebakaran kembali. Belum bisa dipastikan apa penyebab kebakaran tersebut, namun Marpuah tahu pasti.. Itu adalah kelalaiannya! Kebakaran yang meratakan rumah, toko dan tiga rumah lain milik tetangganya adalah karena dirinya yang lupa mematikan kompor saat memanaskan sayur opor. Niat hati ingin menghangatkan, bukan membumi hanguskan seperti ini!

Kini Marpuah sudah berada di rumah sakit, menemani Riki yang berbalut kain kasa hampir di seluruh tubuhnya. Luka bakar delapan puluh persen membuat lelaki sombong itu terkapar tak berdaya. Dia hanya bisa mengambil dan menghembuskan nafas dari mulut, selebihnya tidak bisa berbuat apa-apa!

"Bang, kasihan ya Lusi. Udah nggak punya rumah, tokonya abis." Zayan dan Anam ada di rumah, ditemani Ria.

"Iya."

"Kita masih untung ya bang, bapak pergi tapi rumah kita masih ada." Celoteh bocah itu lagi.

"Jangan membuat perbandingan seperti itu, nasib kita ini juga menyedihkan, kamu tau?! Masih untung dari mana? Kalau disuruh milih, abang juga nggak mau bapak pergi ninggalin kita." Hardik Anam kesal.

"Iya ya bang. Kita udah nggak punya orang tua. Mulung tiap hari. Lusi masih punya bapak ibu. Tapi.. Nanti mereka tinggal di mana ya bang?" Zayan merupakan anak yang tidak mau diam sebelum rasa penasarannya terjawab tuntas sampai ke akar-akarnya.

Tahu jika Anam sedang malas bicara, Ria yang gantian menjawab pertanyaan bocah enam tahun itu.

"Lusi punya saudara Za, mungkin mereka akan tinggal di rumah saudaranya dulu untuk sementara waktu. Apa kalian sudah makan?" Begitu cara Ria mengalihkan topik pembicaraan agar Zayan tidak lagi membahas tentang keluarga Marpuah yang baru saja terkena musibah.

"Belum. Abang juga belum. Ya bang? Abang belum makan dari pagi." Begitu keterangan yang Ria dapat dari Zayan.

Ria terkejut. Pasalnya, ini sudah siang nyaris mau ke sore hari. Dan dari pagi Anam belum makan?

Bukan tanya kenapa dan bagaimana mereka sampai tidak makan, namun Ria langsung meminta kedua bocah itu untuk menunggu sebentar di rumah. Sedangkan dia kembali ke rumahnya sendiri. Satu baskom nasi dengan lauk tumis ikan peda sambal ijo dan krupuk putih dibawa Ria ke rumah Tegar agar dimakan Anam dan Zayan.

"Wuaaaah.. Boleh dimakan bi?" Zayan langsung duduk melihat hidangan yang tersedia di meja.

"Boleh. Ayo, dimakan. Anam, kamu juga. Cepat makan! Mau nunggu sampai kamu sakit baru mau makan?" Perkataan itu tentu menyentil hati kecil Anam. Dia patuh saja sekarang. Lagi pula perutnya juga sudah kelaparan.

Dalam diam mereka sangat menikmati makanan yang sekarang ini bisa mereka makan. Jika bukan karena Ria, tidak mungkin mereka bisa makan selahap dan seenak itu.

Keramaian di luar sana masih terasa, meski mobil-mobil pemadam kebakaran sudah pergi. Tapi semua masih tampak menegangkan karena kini ada beberapa anggota polisi yang akan menyelidiki kasus kebakaran tadi pagi.

Tahu jika di luar ada anggota kepolisian yang bertugas menyelidiki dan mengamankan lokasi kejadian, Zayan malah datang menghampiri salah satu di antara mereka. Anam kemana? Kenapa dia tidak tahu jika adiknya berada di luar rumah sendirian?

"Apa om polisi?" Tanya Zayan pada sosok yang berjaket kulit dengan baju coklat dan topi khas kepolisian.

"Iya. Hei, kenapa kamu di sini nak? Di sini berbahaya. Apa kamu mencari orang tuamu?" Tanya polisi itu jongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Zayan.

"Aku memang mencari bapakku. Apa pak polisi tahu di mana penjara? Bapakku ada di sana. Kata abang, pak polisi bawa bapak ke sana. Bapakku bukan orang nakal.. Bukan. Bapak orang baik. Orang baik jangan dipenjara, pak polisi. Bawa bapakku pulang. Kasihan abang, setiap hari harus mulung karena bapakku dibawa pak polisi. Tolong.. Bawa bapakku pulang."

Zayan menggerakkan tangannya saat berkata 'bapakku bukan orang nakal' ke depan dada seperti menyangkal sesuatu. Gerakan yang bisa diartikan sebagai penolakan, Zayan bahkan tidak gentar sedikitpun meski yang dia hadapi saat ini adalah seorang perwira polisi. Dia hanya ingin bapaknya kembali!

"Siapa nama bapakmu nak?" Tanya polisi itu sambil mengusap rambut Zayan pelan.

"Tegar! Tegar Pambudi." Kali ini Anam yang menjawab dengan kilat amarah terpendam dalam dada.

"Abang.." Zayan menghampiri abangnya.

"Ngapain kamu malam-malam ke sini Za? Bahaya! Abang hanya beli lilin sebentar tapi kamu langsung pergi gitu aja! Gimana kalau kamu kenapa-napa??" Bentak Anam sambil menarik Zayan beranjak pergi dari sana.

Listrik sementara dipadamkan karena kebakaran tadi sempat mengakibatkan kerusakan pada salah satu gardu listrik yang berdekatan dengan rumah pak RT yang sekarang juga rata dengan tanah.

"Jangan terlalu keras pada adikmu, dik. Dia masih kecil." Bela polisi itu karena kasihan dengan Zayan.

"Bang, orang itu polisi. Dia akan bawa bapak pulang. Dia akan bantu kita. Iya kan pak polisi, pak polisi mau bantu keluarin bapak dari penjara kan?" Tanya Zayan dengan binar harapan yang terpancar di matanya.

"Za.. Kamu salah.. Justru dia dan teman-temannya yang membuat bapak kita pergi meninggalkan kita.. Kamu salah Za.. Jangan meminta pertolongan padanya Za."

Anam mengajak Zayan pulang meski bocah itu sedikit menolak namun akhirnya mereka berjalan beriringan menuju rumah.

"Siapa mereka? Tegar Pambudi...? Nama itu tidak asing.. Aku akan menyelidikinya.." Kata perwira polisi itu pada dirinya sendiri.

1
Riaaimutt
deuh suami ria jahat bgt sama anak kecil juga
untung nya suami ku orangnya baik hati bijaksana dalam permusyawaratan perwakilan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
klo sikapmu sprti itu trs, lama² anakmu juga ogah idup samamu..
arogan bener jadi manusia, udah kek Fir'aun bae
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
masih ada aja manusia yang hormat hanya karna hartanya🤦🏻‍♀️
🍊 NUuyz Leonal
susah sih kalau orang nya modelan kayak Aline ini semua semua di salah kan ke orang lain padahal dia sendiri yang membuat hidup nya seperti itu
🍊 NUuyz Leonal
sepertinya lebih berbahaya jika celine bersama kamu
ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤ𒈒⃟ʟʙᴄ
heh alin berkaca lah sebelum terlambat bgt menyadari kesalahan mu😒😒😒dari tadi asik nyalahin orang dasar 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤ𒈒⃟ʟʙᴄ
sebenarnya sangkala itu kenapa benci banget sama zayan dan Anam yaa🤔🤔🤔🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Dewi kunti
dipecat aj sopir yg gak tahu diri kong
Rahmawati
km sudah gk dianggap anak lagi line, mending km pergi aja, celine akan lebih terurus kl tinggal sm engkongnya
Rahmawati
ini knp kok sengkala benci bgt sm anam dan zayan,,
🍊 NUuyz Leonal
apapun bisa terjadi jadi jangan pernah melihat atau menilai apalagi membenci seseorang dengan kadar porsi yang berlebihan
𝐙⃝🦜尺o
si mandor so iye, gak tau apa2 mau tuduh sembarangan akhirnya dipecat kan
Rahmawati
bagus anam km pinter kl mau sukses
Was pray
belajar terus anam dan zian, harta dipakai habis , tapi kl ilmu dipakai bertambah
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
lagian, org kerja itu nyari duit..
bukan nyari muka
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
baru mandor tapi udah petantang petenteng
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
nam sibuk masak pak, gak bisa ikut olimpiade /Facepalm/
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍: kesian..
masih sekwildapa aja dari dlu😌
𝐓𝐄𝐓𝐄𝐇 𝐇𝐈𝐍𝐘𝐀𝐈☝🏿🌚: mana ada.. nam sibuk ngelus dada dan paha
total 2 replies
𝐓𝐄𝐓𝐄𝐇 𝐇𝐈𝐍𝐘𝐀𝐈☝🏿🌚
aih bulu 😱
𝐓𝐄𝐓𝐄𝐇 𝐇𝐈𝐍𝐘𝐀𝐈☝🏿🌚: aih dah diganti kertas 🤭
𝐓𝐄𝐓𝐄𝐇 𝐇𝐈𝐍𝐘𝐀𝐈☝🏿🌚: typo Thor
total 4 replies
🍊 NUuyz Leonal
buktikan namza Klian pasti bisa
seperti kata kong abut berubah lebih baik untuk kalian sendiri
🍊 NUuyz Leonal
bulu 😳😳😳
bulu apa ini 🤔🤔🤔
🍊 NUuyz Leonal: bulu apa itu???
Dfe: apa apa?
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!