Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWARAN YANG MENARIK
Bram menghisap rokoknya kembali."
"Kak, kamu ingin menculikku karena kamu menyukaiku?'
"Sepertinya aku ingin lebih dari itu."
"Kamu juga mau bukan?"
"Belinda berbinar-binar memandangi Bram seperti memandangi idolanya. Baginya Bram seperti Hero yang menyelamatkannya dari orang-orang yang akan memenjarakannya. Walaupun ia harus berpisah dari mommy dan Daddy-nya , ia tidak apa-apa semetara ini, dia merasa aman bersama Bram. Bram lalu memandangi wajah Belinda, dia mengeraskan rahangnya, memandangi Belinda dengan dalam.
"Kamu sendiri kenapa mau aku sandera, tidak berontak lagi, kenapa hah?"
"Aaakuu, aakuuu menyukai kakak."
Belinda lirih mengatakannya sambil terbata-bata.
"Kenapa, kurang jelas.."
Bram merapatkan telinganya ke mulut Belinda.
Belinda berbisik pelan ke telinga Bram.
"Aku suka kakak."
Aku suka kakak memelukku setiap hari.
"lalu..."
"Aaaa aku,, mau terus kak?"
"Mau apa, hah?"
"Mau bersama kakak selamanya."
"Hahaaaaha!"
Dasar gadis lugu, polos sekali ia mengatakannya.
"Kamu mau menikah denganku, hah?"
"Iyaaa, aku mau!!!!"
"Menikah seperti di telenovela, tinggal di rumah, memasak masakan, lalu memiliki anak banyak, bersama selamanya!!!"
"Hahaaa..."
"Karena itu saja, hah?"
"Tidakkkk, aku ingin bertualang kak!'
"Aku ingin pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi!"
"Aku yakin kakak akan membawaku berpetualang!"
"hei bisakah kau tidak memanggilku Kakak, panggil saja Bram!"
"baiklah Bram!"
Belinda bangun, lalu duduk di tempat tidur, sesaat kemudian ia duduk di kasur kamar di dek kapal itu.
Ia lalu bercerita kembali.
"Aku tidak bisa kemana-mana sedari kecil, selalu dikawal ketat, aku juga tidak punya teman."
"Bram, bisa kan membuat aku bisa merasakan pengalaman baru itu?"
"Ya, tentu saja! "
"Aku akan menikahimu!"
"Kamu tidak keberatan menikah dengan penjahat sepertiku?"
"Tidak..."
"Aku kan..aku kan menyukaimu kak."
"Bawa aku berpetualang Bram!!!"
Bram mematikan sisa rokoknya, menaruhnya di asbak di meja kecil itu.
Bram lalu menghampiri Belinda yang ada di atas tempat tidur, Bram memeluk erat Belinda, menciumi keningnya. Membelai indah rambutnya.
Bram mencium wajah itu kiri dan kanan.
Bram sangat menyayangi gadis itu. Belum pernah dia merasa sampai jatuh cinta seperti itu pada seorang perempuan. Ya, baru kali ini. Jangan sampai ada yang merebutnya. Bahkan kedua orang tua Belinda ingin mengambil Belinda darinya rasanya ia pun tak kan rela.
Bram bersandar di sandaran ranjang dan Belinda berada di pangkuannya. Ia membelai rambut Belinda yang hitam panjang.
"Bram, apakah kamu pernah melukai orang yang ku culik?"
"Yaa, pernah."
"Apakah kamu menyesal karenanya?"
"Kenapa kamu menanyakannya?"
"Aku hanya ingin menyadarkanmu"
"Menyadarkanku?"
"Iya, aku ingin menyadarkanmu bahwa apa yang kamu lakukan selama ini telah menyakiti orang lain."
"Haahaaaa."
"Kenapa kamu tertawa Bram?"
"Hahaaaa, mana ada mafia yang diceramahi, cantik!"
"Ini ada, aku sedang menceramahimu."
"Lucu sekali."
"Hmm, kamu mengejekku!"
"Tidak, aku tidak mengejekmu."
"Barusan."
"Aku hanya menertawakan diriku sendiri."
"Apakah kamu pernah sampai membunuh Bram?"
"Aku rasa aku tidak perlu menceritakan kisah kelam hidupku bukan?"
"Aku hanya ingin tahu, tidak bolehkah?" Belinda lalu mengecup pipi Bram. Kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bram.
Gadis ini pintar sekali mengambil hatinya. Kelebihannya dia pintar merayu dan merajuk. Mungkin ini yang membuatku mabuk kepayang padanya.
"Jawablah Bram."
"Sepertinya sejak bertemu denganmu, aku tidak berhasrat membunuh lagi Belinda. Tidurlah sekarang. Aku mengantuk. Kita tidur, yah."
"Baiklah sayang."
Keduanya pun terlelap indah.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆