Al berusaha keras untuk terus menempa kemampuannya Fokus pada karirnya nya adalah impian nya Setelah terbuang dari pernikahan hasil perjodohan pamannya Yang membuatnya menutup diri .Sampai ia bisa menjadi sukses Banyak wanita yang tergila gila padanya Namun tak membuat Al tergoda Akan kan Al bisa jatuh cinta lagi Setelah merasa kecewa di sang istri
Bee teman Al satu profesi Yang diam diam slalu mengagumi Al Slalu saja memberi kan motivasi dan dorongan Berharap suatu hari nanti Al menganggapnya orang yang berarti Tapi Al hanya menganggap Bee sahabat terbaik nya Akan kah Bee bisa tulus menerima persahabatan mereka Atau Al juga menaruh hati padanya baca di sini ya .... ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hidayati Yuyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Pertengkaran Dua Kubu
Al dan Deni kembali keruangan setelah memeriksa semua pasien nya Dan mereka memberi tanda untuk para pasien Agar bisa melihat mana yang sudah membaik dan yang belum .
Al juga memberikan herbal pada pasien Untuk bisa bertahan secara diam diam Bersama datangnya makanan Agar mereka bisa cepat pulang Dan bisa bergantian dengan pasien lain .
Tap tap tap ...
" Dokter Al mana dokter Susan " kata dokter Maria setengah berlari menghampirinya
" Belum datang dok, ada apa ?" kata heran Karna dokter Maria mencari seniornya itu
" Tidak aku hanya ingin bicara " kata dokter Maria seperti gelisah
" Tunggu saja dok, mungkin sebentar lagi datang Saya permisi dulu ya Karna harus membuat laporan " Kata Al Yang berlalu pergi Namun tak di jawab dokter Maria Karna Maria sedang melamun
************
Di ruang direktur Mirna dokter Budi dan dokter Ken duduk saling tatap
" Harus nya kalian bekerja sama ini darurat siaga satu Pasien semakin hari semakin banyak Dan bertambah parah setiap harinya Tapi kenapa kalian harus bersinggungan" kata dokter Mirna menatap kedua bawahan nya
" Apa harus melibatkan dokter kanker Mir Kau tahu sendiri kan kita masih merawat mereka Harusnya dokter Budi bisa menghandle mereka " dokter Ken
" Ken ini masalah negara tak melibatkan masalah kanker Bukan kah kita semua berasal dari dokter umum Jadi kesampingkan ego mu dokter Ken yang terhormat Kami tahu gaji kubu mu lebih besar dan otoritas kalian hebat Rumah sakit lain saja bisa kompak Kenapa kau egois sekali untuk berbagi pasien. Lihat .... mereka diluar sana !! Banyak yang belum sempat di tangani Tapi sudah meregang nyawa " kata dokter Budi protes
" Dokter Budi benar dokter Ken ini masalah wabah jadi kita semua harus bersikap dewasa untuk bisa saling bekerja sama Bukan untuk saling merasa hebat " kata dokter Mirna
" Apa kami punya insentif untuk ini ." kata Ken .
" Astaga dok, bukan kan sudah dari awal kita sepakat Kita mendapat kan bantuan dari pemerintah itu Sudah di hitung lembur dan insentif Bagi dokter yang bertugas Dan pembagian sama rata kecuali yang lembur " Kata dokter Mirna
" Ok kita bagi saja para pasiennya Agar tidak repot dan para dokter bisa menangani pasien nya masing masing " kata dokter Ken dengan wajah masam
" Kau egois Ken, mau menang sendiri Harus nya kau perduli Bukan mencari cari masalah " kata dokter Budi kesal Karna dokter Ken memilih para pasien nya dari kalangan menengah keatas
" Terserah kalian aku maunya seperti itu Agar ada waktu istirahat " kata dokter Ken Yang tugasnya lebih berat mengurus pasien kanker Di tambah pasien covid malah membuatnya pusing
Dokter Budi hanya mengeleng Lalu keluar membuat Mirna menatap dokter Ken sambil menarik nafas dalam
" Ken mengertilah ini masalah negara di mana mana rumah sakit siaga Kita juga Jangan cari masalah . Kau bisa menyisihkan waktu mu kan Tak ada paksaan Ken Tapi untuk kemajuan rumah sakit kita ..Apa kata rumah sakit lain Kalo tahu kita berseteru karna pasien covid " Kata dokter Mirna
" Mir kepala ku cukup pusing menyelesaikan masalah kanker para pasien Juga mengatur dan mengurus mereka Lalu kau tambah pasien covid Itu bisa membuat ku mati berdiri " kata dokter Ken ngomel
" Tapi kan bila jam terapi kosong bisa di atur Kau hanya memeriksa saja secara rutin Bukan untuk mengobati Biar dokter bawahan lain Yang akan menanganinya dok " kata Mirna mencoba memberi pengertian pada bawahan nya itu Yang termasuk egois dan arogan di divisinya.
*************
Al dan Deni melongo karna jatah pasien mereka di bagi berdasar kan perorangan Yang membuat Deni menepuk jidatnya Karna tak habis pikir kenapa para dokter senior mereka malah membagi bagi pasien Membuat Deni mengeleng gelengkan kepalanya memikirkan jatah pasiennya ada 15 orang
" Itu lebih bagus Kalo pasien kita membaik kita bisa santai " bisik Al tersenyum
" Tapi Al kita akan di beri jatah lagi " kata Al .
"' Santai bro kita bisa menaikan upah lembur nanti . Ayo kita temui dokter Susan di ruangan nya " kata Al
" Buat apa ?" kata Deni
" Membuat pasien kita cepat sembuh Dan siapa Yang paling banyak dapat menyembuhkan mereka Biar dapat apresiasi dan insentif bonus " kata Al
" Hah........ ok baik ayo " kata Deni yang bingung dan ikut pusing Tapi kalo itu peraturan itu lebih baik untuk mereka Karena mereka bisa duduk santai Sambil menjaga para pasien
Sedangkan dokter Susan di ruangannya sedang bersama dokter Mila dan Maria Yang ikut pusing Karna ada dua kubu Yang saling bertentangan di dalam rumah sakit Hingga Mila dan Maria yang ikut masuk kubu dokter Ken bingung Karna pa Budi memilih Susan masuk jajaran barisan nya bersama dokter Eka
" Kenapa jadi begini Apa mereka membuat persaingan dalam pekerjaan Padahal harusnya kita saling kompak Mudah bagi yang pintar dan terlatih Tapi bagi yang belum terbiasa pasti akan kalah dan menyerah Dan bisa saja kita terbawa sekarat karna terpapar virus " protes Maria bingung.
" Memang siapa yang bikin peraturan dokter Ken sendiri kan Kita ini hanya bawahan " Kata Susan Yang akan cuti hamil dalam waktu dekat
" Ya tapi ngak harus begini juga kan " kata dokter Mila Yang harus kembali mempelajari ilmu dokter umum nya Karna mau tak mau mereka harus Ikut mengurus pasien covid.
*************
Disisi lain Al menelpon Iwan lebih dulu untuk menanyakan kabarnya .Untung nya temanya itu sudah sedikit membaik dan bisa mengurus dirinya sendiri walau harus pelan pelan untuk beraktivitas
" Aku baik baik saja bro , aku sudah makan banyak " kata Iwan lewat vidio call saat Al menghubungi nya Dan wajahnya terlihat sumringah
" Bagus lah besok aku pulang " kata Al
" Ya Al hati hati kalo terpapar " kata Iwan
" Ya aku memakai sarung tangan dan masker darurat sekarang " kata Al tersenyum
" Ya semoga saja kau slalu sehat " kata Iwan balas tersenyum
" Ya sudah hati hati , aku kerja lagi " kata Al Yang memutuskan percakapan mereka Dan kembali untuk berkeliling memeriksa pasien nya sebentar
Sedangkan di rumah sakit lain Evelyn merasa pusing dan tak enak badan Setelah ikut turun tangan membantu dokter lain Untuk menangani pasien covid Yang semakin bertambah banyak datang ke rumah sakit mereka .
" Gila .... Ini sama saja kita bunuh diri " gerutu Evelyn
" Ya , kita bukan dokter umum dan spesialis penyakit Tapi kenapa harus ikut menangani " kata teman Evelyn
" Kalian mau ngobrol atau bekerja Ini tanggap darurat Kalo mau berhenti secara tidak hormat Kalian bisa pulang dan jangan harap bisa bekerja di sini lagi " Kata dokter senior mereka Menegur Evelyn dan teman nya Dan keduanya langsung terdiam tak bersuara lagi Karna semua dokter harus turun tangan Semua ikut andil tak pandang bulu spesialis atau bukan Tapi bekerja sama untuk mengurusi pasien yang datang
Sedangkan tak jauh dari Evelyn Dev berkeliling memeriksa pasien
" Huh........aku bisa terpapar bila tak memakai APD " kata Dev Yang sibuk memeriksa pasien covid .
" Cepat tangani mereka setelah itu cuci tangan Langsung ambil baju jatah APD mu dokter Amey " Kata dokter Frans
" Ya dok " kata dokter Dev terlihat lemas
Tama