Tidak ada yang bisa memilih untuk dilahirkan dari rahim yang bagaimana.
Tugas utama seorang anak adalah berbakti pada orang tuanya.
Sekalipun orang tua itu seakan tak pernah mau menerima kita sebagai anaknya.
Dan itulah yang Aruna alami.
Karena seingatnya, ibunya tak pernah memanjakannya. Melihatnya seperti seorang musuh bahkan sejak kecil.
Hidup lelah karena selalu pindah kontrakan dan berakhir di satu keadaan yang membuatnya semakin merasa bahwa memang tak seharusnya dia dilahirkan.
Tapi semesta selalu punya cara untuk mempertemukan keluarga meski sudah lama terpisah.
Haruskah Aruna selalu mengalah dan mengorbankan perasaannya?
Atau satu kali ini saja dalam hidupnya dia akan berjuang demi rasa cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pergi yuk!
Dila sangat merasa cocok berteman dengan Aruna yang pendiam. Dia jadi punya teman untuk mendengarkan semua ocehannya.
Bahkan Dila memaksa untuk mengantar Aruna pulang malam ini meski arah rumah mereka berlawanan.
Menggunakan skuter matic kekinian, Dila memberhentikan motornya di depan rumah Marni.
"Jadi ini rumah Lo?" tanya Dila sambil melepas helm.
"Bukan, kontrakan gue yang di belakang sana" ujar Aruna sambil menunjuk rumah belakang.
"Ok, tinggal bareng ortu?" bahkan Dila masih sempat bertanya.
"Sendirian gue" ujar Aruna yang sudah menoleh pada sebuah mobil yang terparkir rapi di halaman Marni, ada seseorang di dalamnya yang masih diam melihat interaksi kedua gadis itu.
"Lo nggak pulang?" tanya Aruna.
"Kok ngusir sih? Nggak ngajak gue mampir nih?" malah Dila menawarkan diri.
"Lain kali aja deh, Dila. Sepertinya gue lagi ada tamu" ujar Aruna melirik mobil Tyo yang masih belum memperlihatkan diri.
"Oh, pacar Lo ya?" tebak Dila.
"Teman" jawab Aruna.
"Oh, masih belum pacaran. Yasudah, gue pulang deh. Besok ketemu lagi ya Run. Dadah" pamit Dila sembari tersenyum sebelum benar-benar pergi.
Aruna menggosok telinganya yang sedikit panas karena sejak tadi mendengar ocehan dari teman barunya. Lantas berjalan mendekati mobil Tyo yang sudah membuka pintunya.
"Baru balik? Sama siapa?" tanya Tyo.
"Teman. Ngapain disini kak?" tanya Aruna.
"Nggak tahu, rencananya gue mau main PS sama teman. Tapi malah kesini" kata Tyo yang juga bingung sendiri.
"Aneh banget" ucap Aruna yang berjalan santai menuju rumahnya.
"Run" panggil Tyo yang berjalan di belakangnya.
Aruna menoleh tanpa menjawab.
"Pergi yuk" ajak Tyo, Aruna hanya mengernyit.
"Ayo pergi" ulang Tyo yang kini menarik tangan Aruna untuk menyatroni mobilnya. Dan Aruna menurut saja.
Belum terlalu malam, masih jam setengah sembilan dan bisa dipastikan suasana kota akan tetap gemerlapan meski sudah tengah malam nanti.
"Mau kemana sih?" tanya Aruna yang masih mengenakan tas sekolahnya, seragamnya selalu terlipat rapi di dalam tasnya karena tak pernah pulang saat jam pelajaran sekolah usai.
Cukup lama berkendara dalam diam, membuat Aruna yang memang cukup letih malah ketiduran. Tyo tak berani membangunkan karena nampak wajah letih itu terpejam nyaman.
Tyo bingung dengan dirinya akhir-akhir ini, memang tak bisa seseorang menghentikan perasaan tertarik pada seseorang. Rupanya Tyo sedang merasakannya.
Sejak pertama bertemu dengan Aruna yang menyenggol mobil saat berjalan di parkiran sekolah, membuat wajah suram itu selalu terngiang di benak Tyo.
Sejuta rahasia seolah tertulis di wajah sendu itu. Dan Tyo merasa sangat ingin bisa menyelami dalamnya hati seorang gadis yang ternyata sangat rumit asal-usulnya.
Bahkan saat mengetahui dekatnya hubungan Aruna dengan Mina yang sengaja ditawarkan oleh orang tuanya, Tyo sama sekali tak mengurangi rasa penasarannya terhadap sosok dingin Aruna.
Sepertinya nama singkat Aruna sudah menelusup secara perlahan ke dalam relung hatinya.
"Bangun, Run" ujar Tyo pelan sambil menepuk pipi putih Aruna.
Gadis itu mengerjap lantas menelisik sekitar. "Sorry, gue ketiduran ya" ujarnya tanpa senyuman.
"Yuk turun" ajak Tyo yang ternyata membawanya ke pinggiran kota untuk mengunjungi sebuah cafe bernuansa alam.
"Dimana ini?" tanya Aruna.
"Cafe" jawab Tyo yang terus melangkah masuk.
Cafe di tepian bukit itu cukup jauh dari pusat kota. Tapi masih di wilayah perbatasan dengan kota sebelah.
Biasanya Aruna hanya sebatas melihat jejeran cafe yang berdiri kokoh di pinggiran tebing ini saat Acing menyuruhnya untuk mengirim barang ke toko cabang. Suasana malam hari akan nampak indah saat melihat ke arah kota yang bertebaran lampu kelap-kelip.
Para muda-mudi sering menghabiskan waktu di cafe-cafe ini. Sebagian besar memang bersama pasangan masing-masing.
"Ngapain kesini, kak? Jauh kan" tanya Aruna, tapi duduk juga saat Tyo mengajaknya masuk tadi.
"Ya nggak apa-apa, Run. Sekali-kali boleh lah menghabiskan malam bersama" kata Tyo.
"Tapi besok kan sekolah. Kalau bangun kesiangan bagaimana?" tanya Aruna.
"Bolos saja sekalian" jawabnya enteng.
Aruna terdiam, duduk di teras cafe yang menghadap ke arah kota. Dia nampak sangat tinggi dari sini.
"Bagus ya kak. Kira-kira sekolah kita yang mana, ya" ujar Aruna.
"Nggak tahu. Nggak kelihatan" kata Tyo yang betah mengamati wajah Aruna yang sebenarnya cantik.
Menoleh karena mendapat jawaban yang tak diinginkan. Aruna malah mendapati Tyo sedang tersenyum ke arahnya. Dia jadi bingung sendiri.
"Sebenarnya Lo tuh cantik banget, Run. Coba saja pakai baju feminim, pasti tambah cantik" ujar Tyo jujur.
"Kalau gue pakai baju feminim bisa-bisa sobek kalau dipakai angkat semen, kak. Lo ada-ada saja" jawab Aruna sesantai mungkin, Tyo tidak boleh tahu kalau dia sedang gugup.
"Mau pesan apa, kak" tanya waiters dengan menu yang dibawanya.
"Pesan apa, Run?" tanya Tyo menyudahi aksi menatapnya.
"Susu soda sama roti bakar coklat ya kak" kata Aruna.
"Gue mau hot capucino sama French fries deh" ujar Tyo.
Waiters nampak pergi setelah mengulang kembali pesanan mereka.
"Anginnya bikin ngantuk, kak" kata Aruna memecah keheningan.
"Iya. Ehm, Lo pernah punya hubungan sama cowok nggak Run?" tanya Tyo.
"Satu-satunya cowok yang berani dekat sama gue cuma Ferdi doang sih" sahut Aruna.
Tak lama pesanan mereka datang. Keduanya menikmati dalam diam. Hanya sesekali mengobrol.
Tyo sangat betah menikmati wajah Aruna. Sementara Aruna nampak tenang dengan pandangan pada kota di bawahnya yang nampak kecil.
...****************...
"Run, anterin bahan-bahan itu ke rumahnya Kim ya" ujar Acing sore ini, sebelum Aruna pergi ke pelatihan, dia masih tetap menangani toko bersama rekannya.
"Ada om Kim nggak di rumahnya, ko?" tanya Aruna.
"Mana gue tahu, Run. Yang penting bahan-bahan ini bisa sampai di rumahnya dengan selamat, terus Lo balik kesini" jawaban Acing membuat Aruna mendengus kesal. Tapi tentu dia harus berangkat. Pekerjaan harus dikerjakan secara profesional, bukan?
Sampai di halaman belakang rumah Kim, nampaknya proses renovasi terus berjalan. Setelah tembok terlihat tinggi. Kini Kim nampak merombak taman. Kolamnya akan dia pindahkan.
"Aruna" panggil sosok yang sedari tadi dia hindari.
"Cg, padahal sejak tadi sudah aman" gumam Aruna.
"Bisa ngobrol sebentar?" tanya Kim sangat merasa bersalah.
"Bentar om, nanggung tinggal dikit" jawab Aruna yang memang sedang menurunkan tumpukan bahan bangunan.
Kim terdiam. Mengamati perkejaan kasar Aruna dengan mata nanar.
Bagaimana dirinya bisa hidup mewah sementara putrinya sendiri harus bekerja sekeras ini demi melanjutkan hidupnya.
Punggung kokoh Aruna nampak ringan saat bahan berat itu harus terangkut dengan baik.
Peluh di keningnya seolah mengatakan jika tubuhnya sudah terlalu letih.
Kim semakin merasa bersalah. Tapi tak mungkin untuk meluangkan air matanya.
Selesai dengan urusannya, Aruna benar-benar dihadang oleh Kim agar tak segera kembali ke toko Acing.
"Run, om benar-benar minta maaf. Kekhilafan kemarin semoga tak membekas dihatimu ya, nak" ujar Kim jujur, penuh sayang dia mengutarakan.
Tapi telinga Aruna nampak jengah, perkataan itu malah terdengar mencela.
"Saya bukan anakmu, om. Dan untuk yang kemarin, entahlah bagaimana saya harus melupakan" ujar Aruna.
Mendengar itu, Kim seolah tertampar oleh kenyataan. Dirinya merasa sangat bodoh kali ini.
"Tapi, sungguh om sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri. Tolong bukalah hatimu untuk menerimaku sebagai orang tuamu juga" entah bagaimana malah berkata tak wajar.
"Hahaha, tolong jangan bilang begitu saat ada Mina ya, om. Bisa-bisa dia membunuhku" kata Aruna dengan tawa mengejek.
"Aku juga tidak mengerti kenapa Mina sangat membencimu. Nanti biar om nasehati dia" kata Kim.
"Sudahlah om. Jangan berkata omong kosong. saya harus segera kembali ke toko karena ko Acing sudah menunggu. Permisi" pamit Aruna.
"Tolong tunggu dulu Aruna. Maafkan bapakmu ini ya" kata Kim memelas.
Aruna terdiam, aneh sekali Kim ini. Apa coba maksudnya?
"Tidak usah mendramatisir keadaan ya, om. Jangan berusaha jadi bapakku" kata Aruna lantas pergi.
Menaiki Tossa seperti hari lampau saat ke tempat ini, lantas kembali ke toko untuk membersihkan diri karena dia harus ikut lagi di pelatihan yang Acing perintahkan untuknya.
Kembali Aruna harus menebalkan telinga karena sudah pasti akan bertemu dengan Dila yang sangat cerewet tapi baik hati.