Seorang gadis yang memiliki kelainan jantung sejak lahir, harus bertahan hidup sendiri membesarkan kedua adiknya.
Kerja keras dan banting tulang sanggup dia lakukan demi masa depan adik adiknya. Bahkan masa depannya sendiri tak pernah dia pikirkan.
Hingga suatu ketika keadaan memaksanya untuk menggadaikan harga diri serta hidupnya.
Dan dengan terpaksa harus menikah dengan orang yang tak pernah mencintainya.
Nah, untuk mengetahui kisah selanjutnya? Simak saja di karyaku yang terbaru berjudul
" Harga Diri Yang Tergadaikan ".
Selamat membaca, jangan lupa subscribe, like, vote, dan semua dukungan. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewidewie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 16
Kania duduk di salah satu bangku yang berada di sebuah tempat hiburan malam. Wajahnya yang cantik dan imut sangat menarik kaum adam sehingga membuat beberapa laki laki datang menghampirinya.
" Kania, kamu sudah banyak minum sebaiknya om antar kamu pulang sekarang ya" Ucap seorang laki laki dewasa yang menjadi teman kencannya malam ini.
Seperti yang banyak dilakukan gadis gadis SMA lainnya mereka sering menemani om om mata keranjang untuk minum dan ngobrol dengan imbalan beberapa lembar uang sekedar untuk tambahan uang jajan.
Kania semakin meracau dan merasakan tubuhnya sangat panas. Ternyata om om yang dia temani malam ini memang sengaja memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya agar bisa mengambil untung darinya.
Om om itu pun sengaja membawa Kania ke dalam mobilnya agar bisa leluasa melakukannya.
Dan saat hendak membuka pintu mobil tiba tiba ada seseorang dari belakang yang memukul punggungnya.
Buks
"Brengsek! Lepaskan gadis itu!" Teriak Sean yang ternyata juga berada di tempat yang sama dan kebetulan melihat Kania di sana.
" Bocah sialan berani beraninya kamu mengganggu kesenanganku " Balas laki laki itu.
Buks
Buks
Buks
Perkelahian pun tak dapat dihindari.Mereka saling melemparkan pukulan dan hantaman.
Namun akhirnya laki laki setengah baya itu pun tersungkur dan menyerah hingga memohon ampun
" Ampun anak muda cukup jangan pukul saya lagi, saya serahkan gadis itu sungguh percayalah saya belum sempat ngapa ngapain dia percayalah"
Sean tersenyum tipis kemudian membersihkan jaketnya dan menarik tangan Kania yang masih meracau tidak jelas membawanya masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan tempat terkutuk itu.
Di sepanjang perjalanan, Sean fokus dengan kemudinya dan hanya sesekali melirik gadis yang saat ini berada di sampingnya.
" Aduh bagaimana ini, kemana aku harus mengantarnya? Apa aku bawa saja dia ke rumah, tapi kalau mamaku tahu aku pulang membawa gadis bisa bisa strok apalagi gadis itu mabok " Gumamnya sendiri.
Cekikk
Sean menghentikan mobilnya mendadak tepat di depan sebuah hotel.
" Apa aku bawa saja dia ke hotel, tapi kalau aku yang khilaf bagaimana? Bodo amat yang penting tidak tidur di pinggir jalan" Gumamnya kemudian mulai menepikan mobilnya dan masuk ke parkiran hotel,kemudian Sean mulai membuka pintunya mobilnya dan membawa Kania masuk ke dalam hotel.
Sean membawa Kania yang tidak sadarkan diri di dalam rangkulannya menuju receptionist untuk cek in.
" Mas ini kuncinya dan ini sebagai bonus karena sudah memilih hotel ini untuk menginap malam ini" Ucap receptionist cantik itu sambil menyodorkan sebuah kotak kecil kepada Sean.
Dengan senyum ramahnya Sean meraih kotak kecil tersebut dan segera membawa tubuh Kania masuk ke dalam kamar hotel yang sudah dia pesan.
Perlahan Sean merebahkan tubuh Kania yang terlelap karena efek minuman beralkohol dan obat perangsang.
Setelah menutupi tubuh Kania dengan selimut tebal, Sean pun duduk di sofa sembari merebahkan tubuhnya sendiri. Belum sempat dia terlelap, dia pun teringat dengan kotak kecil yang diberikan pihak hotel sebagai bonus. Dia pun bangkit dan mengambil kotak itu dengan terus menatap dan membaca semua tulisan yang berada di sana.
Awalnya Sean merasa biasa saja dan mengira isi di dalam kotak tersebut adalah tisu.
Tapi rasa penasaran Sean semakin besar ketika melihat gambarnya yang aneh, dia pun segera membukanya.
Dan setelah tahu isi di dalamnya, mata Sean juga membulat sempurna. Sean yang saat ini menginjak usia 20 tahun memang masih polos dan tidak pernah menyentuh benda benda seperti itu.
Sean mengambil satu buah karena di dalam kotak tersebut ada beberapa buah yang semua ukurannya serta modelnya sama.
" Tunggu tunggu benda ini tidak asing " Sean mencoba memikirkan di mana dia sering menemui benda ini.
" Ah gila ini adalah K****m ya betul sekali ini adalah alat kontrasepsi. Wah hotel ini memang gila sampai segitunya memberikan fasilitas. Mereka pikir aku orang mesum " Ucapnya lirih agar tidak membangunkan Kania yang sudah tertidur pulas.
Namun tiba tiba Kania terbangun dan membuka bajunya karena merasa sangat kepanasan dan tersiksa.
Sean terdiam melihatnya.
Setelah berhasil membuka seluruh pakaiannya, Kania beranjak dan berjalan mendekati Sean yang gemetar.
" Tolong aku" Rengek Kania dengan mata merah dan tubuh penuh keringat.
" A a aku harus ngapain?" Jawab Sean sembari memalingkan wajahnya karena tidak mau matanya ternodai dengan pemandangan di depannya.
Kania menarik tangan Sean hingga tubuhnya berhadapan dengan tubuh polosnya " Kak, aku inginkan kamu".
Cup
Kania langsung mendaratkan ciumannya di bibir Sean.
Sean yang awalnya bingung akhirnya bisa mengimbangi permainan Kania yang lebih pintar karena sering menonton film biru serta membaca novel semi bersama teman temannya.
Kania terus menyerang Sean hingga keduanya terbaring dan berguling guling di kasur.
Sean semakin terbawa suasana hingga keduanya bersama sama mendaki puncak kenikmatan untuk pertama kalinya.
Kania melenguh merasakan sesuatu yang robek di bawah sana.
" Kania , maafkan aku tapi aku sudah tidak bisa menghentikannya lagi " Bisik Sean sambil terus menghujam tubuh Kania .
Dan mereka pun sama sama mendapatkan pelepasan pertamanya.
Entah berapa kali mereka melakukannya, yang pasti keinginan birahi mereka sedang besar besarnya.
Sedangkan ponsel keduanya sama sama kehabisan batrei jadi tidak ada yang mengganggu pergulatan mereka sepanjang malam.
🍁
🍁
🍁
Di rumahnya, Nabila sangat khawatir dengan kedua adiknya yang tidak pulang semalaman.
Pikirannya kacau, marah dan kecewa kepada kedua adiknya yang menurutnya tidak pernah menghargai pengorbanannya selama ini.
Tiba tiba Nabila terperanjat mendengar suara pintu rumahnya dikedor oleh beberapa orang warga.
" Nabila, buka pintunya Bil"
Nabila pun segera membuka pintunya.
Ceklek
"Kalian? ada apa ya? " Tanya Nabila penasaran karena ketiga pemuda yang merupakan warga setempat hanya diam dan saling menatap satu sama lainnya.
" Mas, katakan! Ada apa ini? "
" Bil, tenangkan dirimu. Kami datang ke sini untuk memastikan keberadaan adik kamu Felisa" Ucap salah satu warga yang sukses membuat Nabila bergetar dengan degup jantung yang mulai terasa nyeri.
Sambil memegangi dadanya, Nabila terus memaksa mereka untuk segera memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
" Kami melihat berita di media sosial ada sebuah kecelakaan di persimpangan lampu merah. Dugaan kuat sementara karena rem blong dan ada dua korban satu meninggal dan santunya lagi selamat. Kalau dilihat dari ciri ciri baju yang dipakai korban mirip sekali dengan adik kamu Felisa. Bil semoga saja dugaan kami salah " Ucap salah satu dari mereka.
Nabila tidak bisa lagi merasakan berat tubuhnya karena semua seakan lemas. Dengan dada yang semakin nyeri, Nabila pun luruh dan jatuh ke lantai yang membuat ketiga pemuda itu pun menjadi panik kemudian memanggil para tetangga yang lainnya
" Bil, kamu gak apa apa? Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang juga" Dan mereka pun segera bergegas membawa Nabila ke rumah sakit untuk memastikan korban kecelakaan itu bukanlah adiknya.
Sementara itu di bangsal rumah sakit tampak korban luka luka yang sangat parah dengan darah yang mengalir di mana mana.
Sekali lagi Nabila merasakan kakinya lemas dan jantungnya seperti berhenti berdetak ketika melihat gelang yang dipakai korban sangat mirip dengan yang dipakai Felisa dan menang dapat dipastikan dia adalah Felisa.
Ketiga pemuda tersebut pun senantiasa di dekat Nabila karena merasa iba dan sangat kasihan dengan keadaan Nabila " Kamu yang sabar ya Bil, Felisa pasti akan selamat dia akan baik baik saja" Ucap salah satu dari mereka yang bermaksud untuk menghibur Nabila.
Tepat saat itu beberapa perawat sedang mendorong tubuh seseorang yang terbujur kaku dengan luka yang memang sangat parah.
Tanpa sengaja Nabila menoleh dan melihatnya, nampak seseorang yang tidak asing baginya sedang terbaring dengan pucat dan luka di sekujur tubuhnya.
Nabila segera berlari menghampirinya dan menggoyang goyangkan tubuhnya yang dingin " Tuan Reno, bangun tuan, bangun ".
" Mbak, pasien sudah meninggal" Ucap salah satu petugas yang mendorong bankar tersebut.
Nabila hampir saja pingsan mendengar ucapan suster tersebut yang mengatakan Rono meninggal.
" Tidak Sus, tidak mungkin"
" Mbak, tenangkan dirimu. Tapi kenyataannya memang korban telah meninggal. Biarkan dia pergi dengan tenang mbak " Ucap suster tersebut.
Kemudian seorang dokter datang menghampiri Nabila yang lemas dengan deraian airmata dan menangis sesenggukan
" Maaf mbak, apakah anda adalah keluarga korban kecelakaan tersebut? ikuti saya mbak kami butuh persetujuannya untuk segera melakukan operasi untuk mengangkat gumpalan yang berada di otak besarnya ".
Deg
Deg
Deg