SEQUEL MY HANDSOME TEACHER
SEASON 1
Berawal dari pertemuan pertama mereka disebuah sirkuit. Hingga berlanjut pada pertemuan-pertemuan berikutnya yang tidak bisa dikatakan sebuah kebetulan.
Agyan merasa hidupnya semakin berwarna. Begitupun Freya yang selama ini kekurangan kasih sayang, dari keluarga maupun pacarnya.
Bagaimana jika ternyata mereka memiliki takdir untuk bersatu? Akankah keadaan berpihak pada mereka?
Atau halang rintang justru menghadang ketika sebuah fakta dari masa lalu mencuat ke permukaan?
16 Juli 2020
SEASON 2
Zeinn Ethan Maheswari tidak menyukai dunia entertaint sejak kecil. Tapi sang ayah memaksanya untuk mengurus perusahaan agensi dan membuatnya terjebak skandal dengan salah satu aktris yang bernaung di agensinya.
Hidup dan Citra Zoya Hardiswara yang semula tentram dalam menjalani kariernya sebagai aktris harus ternoda ketika ia tidak sengaja terjebak skandal dengan CEO perusahaan agensi yang menaunginya.
Mengharuskan keduanya terjebak sebuah pernikahan demi memperbaiki reputasi perusahaan.
31 Januari 2021
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Yulian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Moment
Makan siang berlangsung dengan penuh kehangatan, obrolan kecil dan tawa sesekali terdengar dari tiga orang di meja makan itu. Ketika ritual makan siang selesai, Grrycia mengajak Freya ke gazebo di taman belakang rumahnya, sementara Agyan duduk sendiri dikursi cekung pinggir kolam renang dengan laptopnya.
Dua wanita itu asik membahas koleksi buku novel mereka, mengobrol akrab seperti sudah lama saling mengenal.
"Kamu sejak kapan suka baca novel?"
"Udah lama Tante, mm SMP kayaknya."
"Kalo Tante, suka baca novel sejak kelas satu SMA, dari situ, Tante malah tertarik buat ngoleksi berbagai novel,"
Freya hanya mengangguk-anggukan kepalanya saat Grrycia banyak berbicara. Tidak salah penilaiannya saat Agyan banyak membahas tentang Grrycia padanya, Freya menarik kesimpulan jika mami Agyan adalah orang yang menyenangkan, dan pada kenyataannya memanglah begitu. Freya sudah membuktikannya sendiri dengan melihat bagaimana sesungguhnya Grrycia.
Melihat Grrycia dihadapannya, Freya justru mengingat sang mami yang jauh dengannya.
"Kenapa Sayang?" tanya Grrycia saat Freya menatapnya dengan sorot mata yang berbeda. Bahkan sekarang matanya sudah berkaca-kaca, membuat Grrycia cemas karena takut sudah salah berbicara.
"Freya cuma seneng aja, bisa ketemu dan ngobrol sama Tante," sahutnya yang membuat Grrycia lega, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Tante juga "
"Freya boleh peluk Tante?"
Grrycia tersenyum, kemudian merentangkan tangannya, sesegera mungkin Freya berhambur kepelukannya. Dan Freya merasa pelukan itu menghangatkan, sangat.
Ia merasa nyaman dan damai.
"Makasih Tante," sahutnya dalam dekapan Grrycia, Grrycia hanya mengangguk sambil mengelus punggung gadis itu.
Di pinggir kolam renang, Agyan tersenyum simpul melihat dua wanita itu, ia hanya tersenyum, perasaannya juga ikut menghangat. Pada akhirnya, ia tau siapa seoarang Freya.
Tidak lebih, dari sekedar gadis biasa yang sesungguhnya memiliki kehidupan yang tidak adil baginya. Mengingatnya, Agyan tersenyum. Ia kira, memang sulit mengenal gadis itu, tapi kini, justru mereka begitu dekat.
"Kamu deket banget, sama Ggyan?" tanya Grrycia sambil menghapus lelehan air mata di pipi Freya setelah melepas pelukan mereka.
"Lumayan Tante,"
"Soalnya, selain anak perempuan temen Tante yang dateng kesini sama Gyan, kamu orang pertama yang Gyan kenalin ke Tante."
Freya hanya tersenyum menanggapinya, awalnya ia mengira Agyan adalah seorang cowok playboy yang seenaknya bergonta-ganti pacar dan membawanya ke rumah, tapi mendengar apa yang Grrycia katakan, nampaknya ia sudah salah menilai seorang Agyan.
"Tante juga nggak ngerti, kenapa sekarang ia lebih sering tinggal di apartement daripada di rumah."
"Mungkin biar deket sama Freya, Tante. Unit apartement kita deket,"
"Mungkin."
"Ngomongin saya?"
Dua wanita itu menoleh pada orang yang baru saja duduk disamping Grrycia.
"Kepedean banget. Ogah ah ngomongin, Gyan, jelek gitu!"
Freya yang menyahut, sementara Grrycia mengusap lengan putranya.
"Mi, masa katanya Gyan jelek, nggak tau Freya, Mi. Kalo tetangga kita aja pada naksir sama Gyan." sahutnya dengan sombong, Freya hanya mencebikan bibirnya, Grrycia nampak hanya tersenyum saja.
Agyan menatap gadis itu, beberapa detik kemudian Freya juga balik menatapnya, membuat senyum Agyan justru merekah.
Begitu waktu menjelang sore, Agyan dengan Freya pamit pulang, dengan berat hati Grrycia memang harus membiarkannya, termasuk membiarkan dirinya kesepian, lagi.
"Sering-sering dateng kesini, yah. Nanti, biar ketemu sama Papi Gyan "
"Malu," sahut Freyama setelah melirik Agyan sebentar, Grrycia tersenyum menatap gadis itu.
"Enggak perlu malu, Papi Gyan baik, sama kaya Gyan."
"Ganteng juga dong Tante?" Freya antusias, ia juga melihat beberapa foto Papi Agyan yang terpajang di ruang keluarga atau di ruang tamu, dan paras papi Agyan memang menawan. Wajar saja jika Agyan juga aangat tampan, kedua orang tuanya memiliki garis wajah yang nyaris sempurna.
"Tentu dong." Grrycia tertawa.
Setelah obrolan singkat itu, Freya dan Agyan benar-benar pergi. Grrycia hanya melambaikan tangannya dengan tatapan tidak rela, tapi bagaimanapun Agyan memang sudah dewasa, dan ia tidak harus selalu mengatur dan mengekangnya.
**
Freya mengalihkan tatapannya pada jendela mobil saat mereka melewati sebuah pantai, gadis itu tersenyum. Langit dengan gradasi warna jingga, juga begitu memanjakan mata. Membuatnya terpesona.
Hari ini, banyak kebahagiaan menghampirinya, membuat ia percaya jika bahagia itu ada dan nyata.
"Agyan, makasih yah. Udah ketemuin aku sama Mami kamu," katanya dengan lirih, tapi Agyan masih bisa mendengarnya, ia tak menyahut, hanya menanggapinya dengan senyum tipis, ia senang jika membuat Freya bahagia.
"Mami kamu bilang, sekarang kamu lebih sering tinggal di apartement, kenapa?"
Agyan menoleh, Freya masih seperti tadi, tatapannya masih terpaku pada jendela mobil dan jalan yang mereka lalui.
"Karena setelah deket sama kamu, jangan heran kalau aku lebih milih buat tinggal di apartement daripada di rumah."
Kali ini Freya menoleh, ia cukup merasa terkejut mendengar jawaban lugas Agyan yang dengan mudah dapat ia simpulkan.
Tapi ia tidak ingin merusak suasana, apalagi hari ini Agyan sudah memberikan hari terbaik untuknya, gadis itu hanya tersenyum.
Sampai kemudian tak terasa, mobil sudah sampai di basemant. Agyan melepas sabuk pengamannya, sementara tangan Freya sudah siap membuka pintu mobil.
"Agyan,"
Agyan menoleh.
Dengan gerakan cepat, Freya mendaratkan kecupannya di bibir Agyan. Membuat sebagian saraf-saraf ditubuhnya berhenti berfungsi dalam seperkian detik, sampai ia tersadar jika Freya sudah keluar dari mobilnya.
Agyan tersenyum, tangannya terangkat untuk menyentuh permukaan bibirnya.
"Sialan. Ciuman pertama gue,"
"Mana nyiumnya bentar doang!"
**
Freya merebahkan tubuhnya di sofa apartemen, menyalakan televisi setelah tadi sudah mandi dan merapihkan diri.
Ia sempat tertegun saat mengingat kejadian tadi. Ia seakan lupa pada apapun saat dengan lancang mencium Agyan. Bahkan ia sempat melupakan satu hal penting, jika dirinya memiliki Arjun, pacar sekaligus calon suami masa depannya.
Sebenarnya, apa yang ia rasakan pada Agyan? Sekedar rasa terimakasih, suka, cinta atau apa?
Tidak, tidak, Freya menepis pikiran itu, ia menaruh satu tangan didadanya, hanya ada Arjun dihatinya, begitu yang ia pikirkan.
**
Agyan cukup merasa terkejut saat tiba-tiba saja Freya mendatangi apartementnya. Padahal, rasa penasaran dan tidak karuan masih menguasai hatinya karena ciuman Freya sore tadi, tapi gadis itu nampak biasa saja.
Ah, hampir saja Agyan mengumpat melihat tingkahnya yang seolah tidak merasa berdosa.
"Aku belum ngerjain tugas Biologi, mana tugasnya banyak, kita belajar bareng yuk," sahutnya yang diakhiri senyum manis.
"Aku udah ngerjain,"
"Aku nyontek aja, gimana?"
Agyan tersenyum, kemudian mengangguk dan mempersilahkan Freya untuk masuk. Gadis itu dengan santai memasuki apartement Agyan.
Agyan hanya menggelengkan kepalanya, menutup pintu dan memandang gadis itu. Meski tidak bisa dipungkiri, jika ia senang Freya ada dengannya.
Kini, Freya tengah mengerjakan tugas Biologinya diruang utama apartement Agyan. Sementara sang pemilik apartement sibuk bermain Play Station sendiri.
"Gyan, pegel nih," ia bersuara setelah cukup lama menyalin tugasnya
Agyan yang masih sibuk dengan stik ditangannya menoleh sebentar.
"Mau dipijitin?"
"Ihh,"
Agyan tertawa, kemudian mempause permainannya dan bangkit menghampiri Freya.
"Kalau minta tolong, tuh bilang!"
Ucapnya, lalu mengambil alih bolpoin dan buku ditangan Freya. Freya hanya tersenyum puas, kemudian ia bangkit dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum, berlaga seolah dirinyalah pemilik apartement.
Ia kembali dan duduk disamping Agyan, membuka kaleng minum dan menempelkan bibir kaleng ke bibirnya.
"Pacar kamu gimana, Frey?"
Freya membeku untuk beberapa saat dengan pertanyaan Agyan yang tiba-tiba. Dan apa katanya tadi, pacar? Agyan ternyata tau jika dirinya sudah punya pacar?
Freya mendekhem untuk menteralkan ekspresinya.
"Kenapa?" tanyanya pada Agyan, ia menatap pemuda itu lekat, tapi Agyan hanya terdiam.
"Udah selesai," ia justru mengalihkan pembicaraan.
"Eu, makasih."
Agyan mengangguk, suasana mendadak menjadi canggung. Keduanya hanya terdiam dan tenggelam dengan pikiran masing-masing.
TBC