NovelToon NovelToon
Dia Lagi Dia Lagi

Dia Lagi Dia Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Pelakor jahat / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Khodijah Lubis

Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanda

Pagi di rumah itu berjalan seperti biasa.

Ravindra mencium kening Tafana sebelum berangkat. Cepat, ringan, cukup. Tafana membalas dengan senyum kecil sambil merapikan kerah kemejanya. Tidak ada yang perlu dikomentari. Mereka sudah paham urutannya.

Di meja makan, dua piring tersaji. Ravindra duduk, membuka ponsel sebentar, lalu menyimpannya kembali. Tafana menuang teh. Sendok bertemu piring, suara kecil yang selalu sama tiap pagi.

“Hari ini pulang jam berapa?” tanya Tafana.

“Agak malam,” jawab Ravindra. “Nanti bilang aja, mau aku bawakan makan apa.”

“Iya.”

Itu sudah cukup.

Malamnya, Ravindra datang membawa dua kotak makan malam. Ia meletakkannya di meja tanpa banyak bicara, membuka tutupnya, lalu mendorong satu ke arah Tafana.

“Mumpung masih hangat,” katanya. “Makan, Sayang.”

Tafana mengangguk. Ia makan perlahan. Ravindra juga. Mereka duduk berhadapan, jarak yang dekat tapi aman. Seperti posisi yang sudah disepakati sejak awal.

Ponsel Ravindra bergetar.

Ia melirik layar, lalu berdiri. Tanpa menjelaskan, ia melangkah ke lorong dan menyingkir beberapa langkah dari meja makan. Tidak jauh, tapi cukup untuk membuat suaranya tidak jelas terdengar.

Tafana berhenti mengunyah sebentar.

Dulu, Ravindra menerima telepon di mana saja. Ia tidak pernah merasa perlu menjauh. Tafana tidak pernah mencampuri urusan itu, dan Ravindra tahu.

Telepon itu tidak lama. Ravindra kembali ke meja, duduk, dan mengambil sendoknya lagi.

“Maaf,” katanya singkat.

“Nggak masalah,” jawab Tafana.

Mereka melanjutkan makan.

Setelahnya, Ravindra mencium kening Tafana sebelum masuk kamar. Sama seperti pagi tadi. Sama seperti kemarin. Sama seperti yang seharusnya.

Rutinitas itu utuh. Lengkap. Tidak ada yang keliru. Justru karena itu, tidak ada yang benar-benar berkesan.

Tafana membereskan meja setelah makan. Ia mencuci piring, mengelap meja, lalu duduk di sofa dengan buku hariannya yang biasa ia pakai mencatat perasaannya.

Ia membuka halaman baru.

Bolpoin bergerak pelan.

"Ravindra menjauh saat menerima telepon. Pukul 19.42."

Tidak ada tanda seru. Tidak ada garis bawah. Hanya satu baris.

Televisi menyala tanpa suara. Tafana menaruh bolpoin, menutup buku, lalu menyelipkannya kembali ke laci samping sofa. Laci itu ditutup rapi.

Saat Ravindra keluar dari kamar, Tafana sudah berdiri, merapikan bantal.

“Kamu belum tidur?” tanya Ravindra.

“Sebentar lagi,” jawab Tafana. Nada suaranya sama seperti biasa.

Ravindra mengangguk dan kembali ke kamar. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang berubah.

Tafana mematikan televisi, berjalan menuju kamar, dan mematikan lampu. Di dalam gelap, ia mengulang satu hal dalam pikirannya, bukan untuk dipikirkan sekarang, tapi untuk diingat.

Bukan untuk diperdebatkan. Untuk dicatat.

-oOo-

Keesokan harinya, di sela istirahat kerjanya, Ravindra mendatangi sebuah tempat yang tidak jauh dari kantornya.

Coffee shop itu tidak pernah benar-benar sepi. Mesin kopi mendesis, obrolan tertahan, aroma pahit menggantung. Ravindra memilih meja di sudut, punggungnya menghadap jendela. Aman.

Yunika datang lima menit terlambat dan tidak langsung duduk.

“Aku cuma sebentar,” katanya. Wajahnya kaku. Tidak ramah.

Ravindra berdiri setengah. “Nika—”

“Duduk aja.” Yunika menarik kursi, meletakkan tasnya, lalu menatapnya lurus. “Kamu mau ngomong apa lagi?”

Ravindra menghela napas. “Aku minta maaf. Soal kemarin. Soal caraku jujur yang… terlambat.”

Yunika tertawa pendek. “Jujur tapi masih mau enaknya sendiri.”

“Aku masih cinta sama kamu, sejak SMP hingga kini nggak berubah,” ucap Ravindra cepat, seperti takut kalimat itu keburu hilang. “Aku nggak mau kamu marah, apalagi menjauh.”

Yunika menyandarkan punggung. “Kamu enak bicara begitu.” Nadanya datar. “Posisiku terjepit. Kamu pulang ke istri kamu, status kamu aman. Posisi kamu dan istrimu dihargai orang. Aku gimana?”

Ravindra menunduk.

“Aku cuma perempuan yang nyempil di celah kalian,” lanjut Yunika. “Kamu tahu kan, yang bakal dirugikan itu aku? Bukan kamu. Posisiku yang bahaya, bisa ditinggal begitu aja, lalu hancur sendirian. Nggak ada jaminan dari siapapun.”

“Aku nggak akan biarin itu,” kata Ravindra cepat. “Aku janji. Aku bisa jamin hidupmu aman.”

Yunika menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Buktikan.”

Ravindra mendongak.

“Yakinkan aku,” sambung Yunika, suaranya tenang tapi menusuk, “kalau dekat sama kamu aku bisa tetap merasa aman, nyaman. Aku nggak akan merugi. Bahwa meski secara legal kamu sama istri kamu, aku tetap prioritas.”

Ravindra ragu sepersekian detik. Lalu bicara. “Aku bakal kasih semua yang kamu minta. Aku jamin.”

Ravindra menarik napas. “Tapi untuk cerai… kamu harus menunggu. Sekarang belum bisa, belum waktunya. Aku masih butuh dia sebagai tameng keluarga.”

Yunika tersenyum kecil. Bukan senyum lega. Bukan juga senyum senang.

“Jadi aku diminta sabar,” katanya. “Diminta percaya.”

“Iya,” jawab Ravindra. “Percaya sama aku.”

Yunika meraih kopinya, menyeruput pelan. “Baik,” katanya akhirnya. “Kamu buktikan aja dulu. Tapi ingat, aku bertahan bukan buat jadi pilihan kedua.”

Ravindra mengangguk cepat, seolah baru saja lolos dari sesuatu.

Sementara Yunika tahu satu hal dengan pasti: lelaki di depannya sedang kalut, bersalah, dan siap memberi apa pun. Dan di fase seperti itu, ia berada di posisi paling aman.

-oOo-

Butik Sierra ramai tapi tertata. Musik diputar pelan, rak-rak pakaian berjajar rapi, warna-warnanya konsisten. Tafana berdiri di tengah ruang, memegang satu gaun krem, memperhatikan jahitannya dengan teliti.

Jari-jarinya mengikuti garis sambungan kain, memastikan tidak ada benang liar.

“Batch baru ini lebih rapi,” katanya. “Cutting-nya sudah sesuai.”

Sierra mengangguk puas. “Penjualannya juga naik. Orang mulai kenal karakter Samara. Mereka tahu ini bukan baju asal cantik.”

Tafana melirik ke arah kasir, melihat dua pelanggan sedang membayar. Ada rasa lega yang tenang. Bukan euforia. Lebih seperti keyakinan.

Siang itu, Tafana duduk di ruang belakang butik, laptop terbuka. Sierra duduk di sampingnya, memberi isyarat jempol. Layar menampilkan wajah pewawancara dari media daring. Kamera Tafana dimatikan, namanya hanya tertulis inisal huruf: T.A.M.

Interview mengalir ringan. Tentang proses kreatif, tentang kenapa Samara memilih potongan sederhana tapi tegas, tentang perempuan yang ingin bergerak bebas tanpa harus menjelaskan dirinya pada siapa pun. Tafana menjawab jujur, tanpa perlu menjual kisah pribadi. Tawa kecil sesekali muncul. Tidak ada tekanan.

“Terima kasih,” kata pewawancara menutup sesi. “Ini menyenangkan.”

Tafana menutup laptop dengan senyum tipis. Sierra langsung memeluknya singkat. “Lihat? Lo tahu apa yang lo kerjakan.”

Sore menjelang ketika Tafana kembali ke rumah Ravindra. Gerbang terbuka otomatis. Rumah itu besar, bersih, dan sunyi. Tidak ada suara langkah, tidak ada aroma makanan, tidak ada dengung aktivitas.

Ia menaruh tas, melepas sepatu. Lampu menyala satu per satu, tapi tidak mengusir rasa kosong. Tafana berhenti di ruang tengah, berdiri beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Baru kali itu ia sadar: rumah ini bisa sedingin ini.

-oOo-

Ravindra pulang lebih malam dari biasanya.

Pintu terbuka dengan bunyi halus, disusul aroma yang tidak biasa, makanan hangat dan bunga segar.

Tafana yang sedang duduk di ruang tengah menoleh, alisnya terangkat tipis.

“Ada apa nih?” tanyanya.

Ravindra tersenyum cepat, senyum yang dibuat-buat agar terlihat ringan. Ia meletakkan dua kantong makanan di meja, lalu sebuah buket bunga menyusul, rapi dan terlalu dipikirkan.

“Tadi lewat toko bunga,” katanya. “Kepikiran kamu.”

Lalu cokelat serta camilan yang Tafana suka, bahkan yang jarang ia beli sendiri. Semua disusun di meja dapur seperti persembahan kecil.

Tafana tertawa pelan. “Kamu kenapa jadi manis begini?”

“Suami nggak boleh baik?” Ravindra membalas, sambil mengecup keningnya. Gerakannya tepat, seperti mengulang kebiasaan lama. “Sayang.”

Kata itu terdengar mulus. Terlalu mulus.

Mereka makan bersama. Ravindra bercerita soal kantor, soal klien, soal hal-hal ringan. Tangannya beberapa kali mencari tangan Tafana. Menyentuh, menggenggam sebentar. Hadir. Intens. Seolah tak ada yang bocor.

Tafana menikmati malam itu. Tidak menolak. Tidak bertanya. Ia merasa diperhatikan dan itu menyenangkan, tentu saja.

Tapi setelah Ravindra masuk kamar mandi, Tafana berdiri di dapur lebih lama. Ia memandang bunga yang belum dipindahkan ke vas, cokelat yang masih utuh, camilan yang ditata rapi.

Haruskah aku senang, atau harusnya aku takut? pikirannya berkecamuk tanpa bisa dicegah.

Ia membuka laci kamarnya. Buku catatan hariannya dikeluarkan. Bolpoin digerakkan tanpa ragu.

"Bunga. Cokelat. Perhatian berlebihan. Tanpa sebab jelas."

Ia menutup buku, mengembalikannya ke tempat semula, lalu mengambil vas dan mulai menata bunga. Gerakannya tenang. Wajahnya pun begitu.

Malam itu berjalan hangat. Dan Tafana membiarkannya, sambil menyimpan hitungannya sendiri.

1
Arin
Ternyata kenalan Tafana gak kaleng-kaleng, direktur tempat Yunika bekerja. Jika nanti perselingkuhan terkuak, habislah dia. Semoga di pecat dari tempat kerjanya
amilia amel
yessss...
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
kalea rizuky
lama ketauan cpet donk
kalea rizuky
moga cpet cerai males uda selingkuh tidur bareng jalang ogah klo. balik
nuraeinieni
bagus tuh tafana,kasi pelajaran sama pelakor biar merasa bersalah dan ketakutan.
Ni nyoman Sukarti
lanjut thor.... penasaran nih...😄🤭
nuraeinieni
bagus tuh tafana,bila perlu hampiri mereka dan ucapkan selamat atas selingkuhan mereka.
amilia amel
Alhamdulillah.... Tafana sudah tau dengan mata kepala sendiri
amilia amel
dahlah lepaskan Tafana saja
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
Arin
Kalau memang gak bisa tumbuhin rasa cinta sama Tafana..... udah ceraikan saja. Bersatulah situ sama selingkuhan mu. Biar tau kelakuan cintamu yang suka celap celup sama orang lain juga. Gedeg lihat laki model gini. Bikin naik darah....
nuraeinieni
ayo sierra bantu tafana selidiki hubungan yunika dgn ravind buar mereka terciduk sama tafana.
amilia amel
lepaskan salah satunya, jangan serakah
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅
nuraeinieni
dasar buaya buntung,obral janji,pembohong,bodoh,mau saja di kadalin sama pelakor.
Arin
Suami model gini boleh di getok pake palu gak sih kepalanya. Pura-pura lupa apa memang lupa ada istri dirumah. Kalau memang pilih Yunika, ya harus lepas salah satunya. Jangan main di belakang kayak gini. Perhatian dan semua tindakan sayang dibesarin buat selingkuhan....
amilia amel
jangan sampai Darren jatuh cinta sama yunika.... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Arin
Wanita manipulatif gini di perjuangin hadeuh🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️Ya udahlah namanya juga cinta keblinger. Udah punya istri, masih saja jalan dengan cinta pertama belum kelar
nuraeinieni
semoga saja nih yunika mencerita kan kebohonganya pada darren.
nuraeinieni
bodoh sekali ravindra,terlalu cepat percaya tanpa menyelidikinya,yunika berhasil membodohi ravindra,tp ingat yunika,sepandai pandainya kamu menyimpan rahasia,suatu saay akan terbongkar.
amilia amel
hemmmmm
nuraeinieni
modus ya darren,,,😃menyuruh yunika nginap di tempatmu,,,😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!