NovelToon NovelToon
DI SUDUT HATI AMARA

DI SUDUT HATI AMARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:233
Nilai: 5
Nama Author: Pena Arafa

Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bismillah

    Malam ini aku pulang ke rumah dengan mengendarai motor di antar oleh Arsaka yang mengendarai mobil di belakang ku. Tadi di taman kami sempat ngobrol macam macam. Tentang dia yang dari luar negeri dan juga aku masih tetap di sini.

    " Kamu selama ini deket sama seseorang nggak? ". Tanya Arsaka di sela obrolan kami.

    " Ada. kenapa? ".

     " Kalian pacaran ? ".

    " Aku masih sama seperti dulu, nggak mau pacaran".

    " Jadi nggak masalah nih kita jalan gini? ".

   " kayaknya sih nggak papa. Kalaupun dia marah ya nggak usah diambil pusing".

    " Kok kamu ngomongnya gitu? ".

   " Emang harus gimana? kan emang nggak ada ikatan apa pun di antara kami".

    " Iya... tapi kali kalian udah deket kan berarti ada sesuatu di antara kalian. Aku nggak enak kalau menganggu kalian. Nanti kamu marah lagi sama aku. Aku nggak mau, nggak sanggup".

    " Nggak sanggup apanya. Kan kamu gampang banget dapetin cewek. Dulu juga gampang banget tuh gonta ganti cewek*.

    " Itu dulu lho. Sekarang udak nggak bisa".

    " Kenapa? ".

    " Ya gara gara ku".

    " Kok aku?. Emang aku ngapain? ".

    " Kamu menahan hatiku tetap di sini bersama mu".

   " Idih.. ngomong apa sih? ".

    " Beneran. Kan aku udah bilang kalau aku nggak pernah bisa lupa sama kamu".

     " Ya iyalah.. Kan aku cewek bodoh yang bisa kamu tipu gitu aja".

    " Kpk nipu ? Aku sama sekali nggak nipu Ra".

     " Nggak nipu gimana? Kan kamu mau deket sama aku karena teman teman kamu. Bukan karena niat yang tulus Itu kan sama aja penipuan. Dan bodohnya, aku mau aja gitu.... Benar benar bodoh".

    " Maaf ya... Awalnya mungkin iya, tapi lama lama kenal sama kamu asik juga. Setelah kenal lama jadi nggak peduli lagi sama niatan awal".

     " Massa sih? ".

    " Beneran. Lama lama aku nyaman sama kamu. Jadi mulai pakai hati".

   " Hahaha... Kalau dulu kamu bilang gitu pasti aku dah klepek klepek deh. Tapi kalau sekarang, nggak akan mempengaruhi apa pun lagi".

   " Kamu masih sakit hati ya? ".

    " Ya iya lah.. Aku tuh dari dulu jaga jarak banget sama laki laki. Tapi giliran kamu yang deketin kok ya mau. Kamu tahu kenapa? Ya karena ada rasa untuk mu. Dan waktu tahu kalau kamu cuma pura pura sama aku, ya pasti sakit lah rasanya".

   " Maaf..... "

Arsaka berucap sangat lembut. Sepertinya memang tulus. Sampai aku tak kuasa menoleh.

  " Ya udah lah".

   " Kamu mau maafin kan? ".

   " Udah ku maafkan walaupun tak bisa di lupakan juga. Tapi daripada terus memendam rasa sakit kan lebih baik membuangnya jauh jauh. Jadi hati ku juga di jauh kan dari penyakit hati. Jadi lebih tenang deh hidup ini*.

   " Kamu memang terbaik. Semakin dewasa dan semakin bijaksana".

   " haha.. . Kamu pikir untuk sampai di titik ini mudah? Tidak semudah itu. Aku harus mengobati sakitku ini selama bertahun-tahun tahun. Bahkan sempat trauma dan nggak mau deket sama cowok lagi".

    " Maaf banget ya... Tapi sekarang pasti udah sembuh kan? buktinya aja udah deket sama seseorang".

   " Ya... dia banyak membantu ku untuk bangkit. Dia bisa membantu ku menghilangkan rasa trauma itu. Walau berlahan tapi pasti, aku mulai bisa mempercayai orang lain lagi".

    " Duh... pasti dia spesial? ".

    " Aku nggak mau terlalu menganggap seperti itu. Aku nggak mau kecewa lagi. Aku cuma mau deket, tapi ala kadarnya aja, nggak mau berlebihan"..

    " Sebenarnya gitu malah bagus. Kamu jadi nggak akan bucin kaya dulu ".

   " Duh... Emang kelihatan banget ya dulu? ".

    " Iya lah. Makanya dulu aku yakin bisa dapetin kamu. Eh kok ya sekarang malah kehilangan".

   " Gitu ya... ".

   Kini bersama dia pun sudah tak ada getaran lagi.Mungkin memang rasa itu telah mati.

 Dan aku bersyukur untuk itu, karena sakitnya juga berlahan hilang. Sekarang aku bisa memulai lembaran yang baru lagi tanpa ada bayangan masa lalu.

    Tapi kini saat sudah sampai di rumah dan mengingat dia, hatiku menghangat. Sepertinya rasa nyaman ini berbeda sama yang dulu. Kenapa ya?... Mungkin karena sudah tidak ada lagi kebohongan yang dia tutupi, jadi lebih nyaman. Ya sudah lah...

   Aku sudah membersihkan diri ketika keluarga kami berkumpul di ruang tamu. Seperti biasa kami membicarakan kejadian di hari ini.

   " Amara... "ayah memanggil.

   " Iya yah... ".

    " Tadi pagi ngapain si Adit? ".

    " Memang kenapa yah? ".

   " Datangnya pagi banget. Nggak biasanya. Pasti ada sesuatu".

   " Nggak papa yah.. ".

   " Jadi nggak mau cerita nih? ".

   " Emang nggak papa yah".

   " Ayah tenang aja, paling besok besok juga cerita sendiri". Lala ikut mengomentari.

    " Betul... Mana bisa dia sembunyikan sesuatu sama ayah". Ibu ikut mendukung.

   " Kalinya ini kenapa sih? ".

    " Kakak pikir kita nggak curiga apa".

   " Emang kelihatannya gimana? ".

    " Yah pake nanya lagi?... Semua juga lihat mata panda kakak saat pagi hari. Nggak mungkin nggak apa apa kan? ".

    " Yah.... Emang kalian paling tahu deh".

    " Jadi masih mau diam aja nih". Ayah mulai memancing ku untuk bercerita.

     "Ntar deh.... "

   " terserah kakak aja".

    "Oh ya Ra... Tadi teman SMA mu yang waktu itu di pantai datang ke tempat kerja ayah lho. Dia itu ternyata salah satu partner perusahaan. Hebat ya... ".

   " Terus kenapa yah... "

   " Ya.. ayah baru tahu aja dia keren. baik lagi".

   " Ayah kaya kenal dia aja".

    " Kan tadi ayah di ajakin makan siang sama dia".

    " Beneran? ". Aku dan Lala kaget bersama.

   " Ngapain bohong? Nggak penting".

     " Beneran baik. Tadi pagi aja setelah kalian semua berangkat dia ke sini. Tuh ngasih kue itu, yang kalian makan". Ibu menunjuk kue yang sedang aku dan Lala makan.

   " Dia ke sini mau ngasih kue doang? ".

    " Ya mau jemput Amara kah. Mau nganter kerja katanya, tapi Amara nya baru aja pergi ".

   " Cie.. kayaknya dia suka kamu kak. Seandainya dia sukanya sama aku, wah ... pasti aku seneng banget".

   * kamu suka dia? ".

   " Siapa yang suka, orang baik gitu, tampan lagi".

   Ada rasa aneh yang menjalar di hati ku. Mungkin aku tidak mau kalau Lala menyukai Arsaka. Takutnya dia saki hati kaya aku. Walaupun sepertinya tidak mungkin....

  " Hmmmm... Kayaknya mending aku cerita aja deh ya.... ".

    " Tuh.. Apa Lala bilang. Nggak sampai besok malah".

   " Ya.. Karena aku butuh restu ayah sama ibu".

   " Restu buat apa? *.

    Aku menarik nafas panjang dan mulai menceritakan tentang Adit dan kejadian malam itu. Pelan pelan aku ceritakan se detail mungkin, tanpa ada yang di tutupi. Aku berharap ada masukan dari mereka seperti biasanya. Biasanya saat aku ada masalah, pasti ayah akan punya solusi yang kadang tak bisa di tebak. Itulah mengapa aku selalu cerita sama mereka, khususnya ayah.

     " Jadi kamu mau di ajak kenalan sama mamanya? ". Tanya ayah swasta aku selesai bercerita.

  Aku hanya menangguk, menanti perkataan ayah selanjutnya.

    " Kamu yakin? ".

   " Akan ku coba yah... Apa pun nanti hasilnya, aku akan siap".

   " Kalau sudah masuk perjodohan pasti akan berat nak... ".

   " Aku tahu yah. Tapi.... ".

   " Ya sudah... Kamu berjuanglah jika memang Adit pantas di perjuangkan. Tapi jika Adit tak punya apa yang bisa membuatmu kuat untuk berjuang, maka lepaskanlah. Itu akan lebih baik buat kamu dari pada berjuang untuk hal yang semu".

    " Ayah kasih aku ijin kan? ".

    " Tentu. Asal kamu masih ingat batas. Dan jika kamu sudah lelah untuk berjuang maka berhentilah sejenak, serta pikirkan jalan lain yang membuatmu tidak lagi lelah. Yang pasti jangan paksakan diri karena mungkin ini akan berat".

   " Iya yah... Terima kasih". Aku memeluknya erat sehingga muncul lah kekuatan yang aku butuhkan.

   " Apa nggak sebaiknya kakak lepasin dia aja".

Lala menyela pelukanku.

   " Maksudnya? ".

    " Soalnya kalau untuk anaknya aja di carikan jodoh, pasti tidak percaya sama pilihan anaknya kan? kakak memang bisa membuat mamanya percaya? ".

    " hmmmm".

    " Mending sama kak Arsaka aja kak. Aku rasa dia orangnya tegas nggak plin plan kak.Jadi dia akan mempertahankan pilihannya".

   " Kok malah dia sih".

   " Kan itu pendapat ku".

   " Sudah lah... dukung saja keputusan kakakmu, asal itu baik". Ibu menengahi perdebatan kami.

    " Iya aku dukung kok. Tapi aku nggak mau lihat kakak sakit lho yah... ".

    " Iya dek.. Makasih".

  Benar saja, aku selalu mendapat kehangatan setelah menceritakan masalah ku pada mereka. Bismillah... sekarang aku sudah mantap untuk mencoba mengenal keluarga Adit lebih dalam lagi...

1
Jun
ceritanya bagus, tapi tanda bacanya di revisi lagi kak masih berantakan. semangat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!