Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Sepatu
Pagi di BALLERINA MURDERER tidak pernah benar-benar bisa disebut pagi. Tidak ada sinar matahari yang menyusup melalui celah jendela, tidak ada burung yang bernyanyi menyambut hari, bahkan udara pun terasa enggan bergerak. Bangunan tua itu seolah hidup dalam waktu yang terpisah dari dunia luar—waktu yang stagnan, lembap, dan dingin.
Yang ada hanyalah bunyi dentingan besi yang dipukul keras.
Suara bel tua itu menggema ke seluruh sudut bangunan, bergaung panjang dan menyakitkan telinga, seperti lonceng kematian yang menandai dimulainya hari. Tidak ada pilihan selain bangun. Tidak ada kesempatan untuk menunda.
Bella Shofie terbangun dengan jantung berdegup kencang. Napasnya memburu, dadanya naik turun. Selama beberapa detik, ia hanya menatap kosong ke depan, mencoba mengingat di mana dirinya berada. Ketika kesadarannya sepenuhnya kembali, matanya menangkap langit-langit kayu gelap dengan retakan-retakan panjang. Retakan itu terlihat seperti bekas luka lama—bekas luka yang tidak pernah disembuhkan.
“Bangun.”
Suara Madam Doss terdengar dari lorong. Tidak keras, tidak pula berteriak, namun dingin dan tegas. Suara yang tidak memberi ruang untuk membantah atau menunda. Suara yang mengajarkan kepatuhan sejak nada pertamanya terdengar.
Bella Shofie segera duduk. Tubuhnya terasa berat, seolah malam tidak benar-benar memberinya istirahat. Ketika ia menurunkan kakinya dari kasur tipis itu, rasa perih langsung menjalar dari lutut hingga telapak kaki. Luka dari jatuh semalam masih terasa basah dan nyeri.
Pandangan Bella tertuju pada sepatu pointe yang tergeletak di lantai.
Sepatu itu terlihat indah. Putih, bersih, dan tampak ringan. Namun Bella sudah tahu, keindahan itu hanyalah kebohongan. Sepatu itu bukan alat untuk menari, melainkan alat untuk menguji seberapa jauh seseorang mampu menahan rasa sakit.
Tangannya gemetar saat memakainya kembali. Kakinya belum pulih. Kulitnya masih sensitif. Namun di tempat ini, rasa sakit bukan alasan untuk berhenti.
Di aula latihan, puluhan gadis sudah berbaris rapi. Ada yang masih sangat kecil seperti Bella, ada pula yang sudah beranjak remaja. Tinggi dan bentuk tubuh mereka berbeda-beda, namun satu hal sama: wajah-wajah mereka terlihat kosong. Mata mereka datar, seperti boneka yang telah lama kehilangan pemiliknya.
Semua mengenakan sepatu yang sama.
Lantai kayu tempat mereka berdiri terasa dingin dan keras. Bekas goresan dan noda gelap menghiasi permukaannya, seolah lantai itu menyimpan cerita penderitaan yang tak pernah diceritakan.
Madam Doss berjalan perlahan di depan barisan. Setiap langkahnya terdengar jelas, menggema di aula yang sunyi. Matanya menyapu satu per satu tubuh yang berdiri tegak di hadapannya, menilai, mengukur, dan mencari kelemahan.
“Balet bukan tentang keindahan,” ucapnya akhirnya.
Suaranya datar, tanpa emosi.
“Balet adalah tentang ketahanan.”
Tidak ada pemanasan. Tidak ada aba-aba lembut seperti yang diajarkan Cella semalam. Tidak ada kesempatan untuk menyiapkan tubuh.
“Relevé.”
Bella Shofie mengangkat tumitnya perlahan. Berat tubuhnya bertumpu pada ujung jari kaki. Seketika, rasa panas menjalar seperti api kecil yang dinyalakan di dalam tulangnya. Sepatu itu terasa kaku, menekan, dan tidak memberi ruang untuk bernapas.
Ia mencoba menyeimbangkan tubuhnya. Ia mengingat cara Cella mengajarkan penggunaan inti tubuh, bagaimana menjaga punggung tetap tegak dan bahu rileks. Namun semua itu terasa sulit ketika rasa sakit terus menyerang tanpa jeda.
“Tahan,” perintah Madam Doss.
Detik demi detik berlalu dengan lambat. Kaki Bella mulai bergetar. Napasnya tidak teratur. Otot-ototnya menegang tanpa ia sadari. Di sekelilingnya, gadis-gadis lain mengalami hal yang sama—ada yang menggigit bibir hingga berdarah, ada yang memejamkan mata, ada pula yang mulai kehilangan keseimbangan.
“Jangan turun.”
Tak!
Suara keras terdengar dari barisan belakang. Seorang gadis terjatuh. Tubuhnya menghantam lantai dengan bunyi yang menyakitkan. Bella Shofie refleks menoleh ke arah suara itu, namun Madam Doss bahkan tidak melirik.
“Berdiri,” katanya singkat.
Gadis itu mencoba bangkit. Tangannya menahan lantai, kakinya gemetar hebat. Ia berhasil berdiri… lalu jatuh lagi. Kali ini lebih keras. Dari sepatu putihnya, warna merah gelap mulai merembes keluar, membasahi kain yang seharusnya bersih.
Madam Doss akhirnya menoleh.
“Yang jatuh,” ucapnya dingin, “belum siap bermimpi.”
Latihan tidak dihentikan.
Plié dilakukan berulang-ulang hingga paha terasa seperti terbakar.
Tendu dilakukan tanpa henti sampai kaki terasa mati rasa.
Relevé kembali diperintahkan—lebih lama, lebih tinggi, tanpa ampun.
Bella Shofie tidak tahu berapa lama waktu berlalu. Yang ia tahu hanyalah rasa sakit yang terus bertambah, seolah tubuhnya perlahan-lahan dihancurkan dari dalam. Lututnya hampir menyerah. Keseimbangannya nyaris hilang. Namun ia menolak untuk jatuh.
Ia tidak ingin menjadi seperti gadis itu.
Ia tidak ingin dianggap tidak layak bermimpi.
Ketika latihan akhirnya dihentikan, aula terasa sunyi. Lantai kayu tidak lagi bersih. Noda-noda gelap terlihat jelas, namun tidak ada yang berani menatap terlalu lama. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang mengeluh.
Bella Shofie hampir roboh ketika latihan usai. Pandangannya berkunang-kunang. Namun sebelum tubuhnya jatuh, sebuah tangan cepat menangkap lengannya.
Cella.
“Jangan duduk dulu,” bisik Cella pelan.
“Kalau kamu duduk sekarang, kakimu akan mengunci.”
Bella mengangguk lemah. Napasnya pendek-pendek. Ia menunduk, menatap sepatu di kakinya. Darah tipis mulai meresap keluar, membasahi kain putih yang kini tak lagi suci.
“Apakah… ini normal?” tanya Bella lirih.
Cella tidak langsung menjawab. Matanya tetap menatap lurus ke depan, ke arah Madam Doss yang masih berdiri, mengawasi mereka seperti pemangsa yang belum puas.
“Di luar sana, tidak,” jawab Cella akhirnya.
“Di sini… ini baru permulaan.”
Kata-kata itu menghantam Bella lebih keras dari rasa sakit di kakinya.
Saat mereka berjalan kembali ke kamar, langkah Bella terasa berat. Setiap gerakan seperti menyayat kulitnya sendiri. Di sudut lorong, pandangannya tertuju pada sesuatu yang membuatnya berhenti sejenak.
Sepatu-sepatu pointe lama tergantung di dinding.
Semua ternodai warna merah kecokelatan.
Tidak satu pun terlihat utuh.
“Sepatu mereka,” ucap Cella lirih.
“Mereka yang tidak bertahan.”
“Ke mana mereka pergi?” tanya Bella dengan suara hampir tak terdengar.
Cella menatapnya. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matanya—bukan kosong, melainkan lelah yang dalam.
“Pergi dari sini bukan selalu berarti keluar.”
Malam itu, Bella Shofie duduk di atas kasurnya. Ia membersihkan kakinya dengan kain seadanya, menahan perih yang menusuk hingga ke tulang. Tangannya gemetar, namun ia tidak menangis. Ia menolak untuk menangis.
Ia menatap sepatu pointe yang tergeletak di depannya.
Sepatu yang dulu ia impikan.
Sepatu yang kini mengajarkan darah.
BALLERINA MURDERER.
Nama itu akhirnya masuk akal.
Tempat ini tidak membunuh dengan senjata yang tergantung di dinding.
Ia membunuh dengan disiplin.
Dengan rasa sakit yang dipeluk sebagai keindahan.
Dengan mimpi yang dipaksa menari meski jiwa ingin berhenti.
Bella Shofie mengepalkan tangannya.
Jika tempat ini ingin mematahkan tubuhku,
maka aku akan menguatkannya.
Jika tempat ini ingin mematikan jiwaku,
maka aku akan menjaganya tetap hidup—
meski harus menari di atas darahku sendiri.
Di luar, bel logam kembali berdentang pelan, seolah menertawakannya.
Namun untuk pertama kalinya sejak tiba di tempat itu,
Bella Shofie tidak merasa sepenuhnya takut.
Ia tahu satu hal dengan pasti.
Ia tidak akan pergi.
Ia akan bertahan.
...Bersambung ~...