Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Lima tahun kemudian.
"Sasa, hati-hati sayang. Jangan lari-lari seperti itu!"
Teriakan seorang wanita menggelegar, membuat anak berusia empat tahun hanya tertawa terbahak-bahak melihat sang ibu yang tampak kesal memandangnya.
"Kejar Sasa, Bun," goda sang anak.
"Awas ya kalau ketangkap, Bunda ciumin," ancamnya.
Sepasang ibu dan anak itu terlihat berlarian mengejar satu sama lain, hingga terdengar suara pintu terbuka.
"Aku pu—" Baru saja Intan ingin menyelesaikan kalimatnya, sebuah bantal melayang ke arahnya.
"Kalian berdua. Awas ya!"
Intan meletakkan tas jinjing ke sofa, lalu bersiap mengejar kedua wanita yang sudah bersamanya selama lima tahun itu. Intan bersyukur saat Sonya ingin mengakhiri hidup, ia bisa menyelamatkannya tepat waktu, meskipun kehidupan tak berjalan mulus, tapi mereka bisa sampai pada titik ini.
"Sudah, sudah, aku lelah," teriak Intan dengan napas tersengal.
"Yah, Mama Intan payah."
Sonya melihat gaya sang anak yang kini tengah meledek Intan dengan mengacungkan ibu jari dengan posisi terbalik.
"Em... Sayang, Mama Intan memang sudah tua. Jadi kamu yang muda sini duduk di pangkuan Bunda. Kita sudahi main kejar-kejarannya," ucap Sonya sembari mendaratkan pantatnya di sofa berdampingan dengan Intan.
"Duh ya, dah yang merasa masih sangat muda. Padahal kita cuma beda satu tahun," sahut Intan sambil memanyunkan bibirnya.
"Mama gak boleh ngambek sama Bunda, nanti Sasa sulap jadi kuda poni," ancam gadis kecil itu, membuat Sonya dan Intan menarik pipi gembilnya.
Merasa teraniaya, Yasya Khairunisa, yang kini sering disapa Sasa, langsung bangkit dari pangkuan Sonya sembari berkata, "Susah jadi yang paling muda, sering dianiaya."
"Astaga, Sasa." Sonya tercengang dengan sikap anaknya yang kini menjadi centil. Tak hanya itu, gadis itu juga meninggalkan dirinya memasuki kamar.
Meskipun demikian, tingkah laku bocah berusia 4 tahun itu menjadi sumber kebahagiaan bagi Sonya dan Intan. Mereka bersyukur hari-hari yang dilewatinya, meskipun sulit, terasa ringan karena kebahagiaan sang buah hati.
"Dek, bagaimana hasil pemeriksaan Sasa tadi?"
Pertanyaan yang dilontarkan Intan membuat senyum Sonya memudar. Ya, kebahagiaan tak mungkin bertahan selamanya, bukan? Yasya, gadis sekecil itu, menderita penyakit yang terus menggerogotinya. Enam bulan yang lalu, dokter memvonis Yasya mengidap penyakit leukemia.
Takdir memang lucu. Saat ia bisa melupakan Yudha, yang kini mungkin sudah memulai hidup baru, nyatanya ia dipaksa untuk bisa bertemu dengan lelaki itu jika ingin sang anak tetap bertahan hidup.
"Belum ada perkembangan, Kak. Jalan satu-satunya dia harus mendapatkan cangkok sumsum tulang belakang dari ayahnya," ucap Sonya tertunduk lesu.
Intan menarik napas dalam-dalam sembari mengusap punggung sang adik. Selama lima tahun terakhir, begitulah keduanya hidup saling mendukung. Untuk keluarga Prawira sendiri, sama sekali tidak memberikan dukungan lagi, jangankan berupa finansial, untuk sekadar bertanya kabar pun tidak ada. Kabar terakhir yang didapat adalah keluarga itu pindah ke London.
"Baiklah, kita bisa cari info Yudha sambil berjalan. Yang terpenting saat ini bagaimana mengumpulkan dana untuk pengobatan Sasa," ucap Intan menguatkan.
Sonya menarik tangan Intan, lalu menggenggam dengan lembut. "Terimakasih, Kak. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada Kakak di sisiku."
"Hemm... Mulai lebay lagi dah!"
Meskipun ucapan Intan menyindir dirinya, Sonya berhamburan memeluk wanita itu sembari berkata, "Kamu yang terbaik."
Di luar, Sonya terlihat begitu bahagia memiliki seorang Intan yang selalu berada di sisinya. Namun, ia tidak mungkin akan bersikap egois terus-menerus. Usia Intan semakin hari semakin bertambah, dan ia tidak mungkin terus bergantung padanya, karena sebagai seorang wanita tentu merindukan yang namanya keluarga sendiri.
"Kakak, aku tahu kamu sangat memperdulikanku. Tapi aku juga ingin kamu peduli dengan dirimu sendiri."
"Aku tahu arah pembicaraanmu ini. Sudahlah, jangan kamu jadikan beban pikiran. Yang penting saat ini prioritas Kakak adalah Sasa, karena anak itu juga bagian dari hidupku," sahut Intan cepat.
"Tapi Kak—" Sonya belum menyelesaikan kalimatnya, ponsel yang sejak tadi tak berdering kini terdengar nyaring.
"Siapa? Reza ya?" Intan mengintip ponsel Sonya.
Sonya hanya menyambut pertanyaan Intan dengan senyuman, lalu menginstruksikan untuk diam.
"Halo," sapa Sonya setelah menggeser tombol hijau.
"Son, ada kabar bagus untukmu. Kamu tahu perusahaan Yandex Corp? Ada kabar jika mereka membuka cabang baru dan mereka membutuhkan catering untuk karyawannya," ungkap Reza penuh semangat.
"Kamu serius?" Sonya mencoba memastikan informasi tersebut.
"Kapan aku bercanda sama kamu? Dari lima tahun yang lalu aku juga serius kalau aku ingin menikah denganmu," celetuk Reza dari seberang sana.
Sonya tertunduk pilu. Dirinya sadar sejak awal sudah menyakiti perasaan Reza, dari lamaran yang dibuat kacau, dan kini justru lelaki itu yang menjadi suport sistemnya.
"Hem... Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi. Jadi apa kamu mau aku bantuin untuk mendapatkan tender itu?" ucap Reza lagi saat tak mendengar suara Sonya.
"Tidak perlu, aku akan mencoba sendiri mengajukan proposalnya. Terimakasih," jawab Sonya.
"Selalu saja seperti ini. Oke, tidak masalah, besok aku juga akan berada di sana untuk mengurus kerjasama kami. Jadi kita bisa bertemu."
"Reza!" Sonya menekan pita suaranya saat memanggil nama lelaki itu.
"Hahahah, jadi ingin melihat wajahmu saat memanggil namaku," goda Reza.
"Jangan menggodaku terus-menerus, nanti kamu jadi perjaka tua."
"Tidak masalah. Asal bisa menikah denganmu."
Jawaban itu ampuh membuat Sonya teriris hatinya. Seandainya saja ia bisa mengulang waktu ke lima tahun yang lalu, mungkin saja kini hidupnya sudah bahagia bersama lelaki pilihan keluarga. Terkadang Sonya membenarkan ungkapan orang zaman dahulu. Orang tua tahu betul yang terbaik untuk anaknya.
"Za, aku tutup dulu. Terimakasih atas informasinya." Tanpa mendengar jawaban dari Reza, Sonya menutup telepon itu.
Intan yang melihat gelagat Sonya segera mengambil segelas air putih lalu menyerahkannya pada Sonya sembari berkata, "Kamu yakin nggak suka sama dia?"
Tanpa banyak berpikir panjang, Sonya langsung menggelengkan kepalanya. Sonya sadar diri jika dia bukanlah wanita yang pantas bersanding dengan lelaki sebaik Reza. Selain kehidupanya yang kini berantakan ia juga tidak tahu asal usulnya.
Sonya melihat Intan ingin membuka mulutnya, ia pun segera menyela, "Aku siapkan proposal dulu untuk perusahaan Yandex, siapa tahu rejeki buat Sasa."
"Ta-tapi aku belum selesai bicara. Ka-kamu mau ke mana?" Intan menggelengkan kepalanya melihat Sonya sudah melarikan diri.
***
Pagi hari menjelang, sesuai rencana, Sonya datang ke cabang perusahaan Yandex Corp. Perusahaan ini terkenal hingga ke mancanegara. Jadi tak heran saat ini Sonya merasa seperti orang kerdil saat berada di bawah gedung pencakar langit ini.
"Apa mungkin cateringku yang masih berkembang ini bisa menang melawan pesaing yang lain?" ucap Sonya dengan gundah.
"Jangan berkecil hati. Ingat, menang atau kalah, yang penting sudah mencoba. Anggap saja ini rejeki untuk pengobatan Sasa," Sonya kembali memberikan motivasi untuk dirinya sendiri.
Sonya ingin melangkahkan kakinya masuk ke beranda kantor perusahaan. Namun, langkahnya terhenti saat ada iringan mobil berwarna hitam berhenti tepat di halaman gedung perusahaan. Sosok lelaki tinggi yang kini dihormati banyak orang keluar dari mobil.
"Di-dia?"